Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Pembalasan


__ADS_3

Disisi lain..


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Mahen.


"Maaf pa,"


"Sepertinya kamu tidak pantas dengan Zia"


"Bukan begitu pa"


"Cepat cari Bian! Kamu lamban, sangat sangat lamban!"


"Maaf" lirih Bian.


"Jangan minta maaf padaku"


"Pa, jangan terlalu keras pada anakmu!" ingat Lita.


"Semua tergantung padanya, cepat cari tuan muda Mahendra! Jangan kecewakan saya" ujar Mahen lalu pergi.


"Kacau," lirih Bian.


"Gue bingung nyari yang mana duluan, gue kagak tau kronologinya, kagak tau tempat kejadiannya" keluh Bian.


"Pergi cari, bukan mengeluh dan ngedumel!" teriak Mahen.


"Iyaaa paaaa iyaaaa"


Bian pun pergi, dia malah ke kota Xxx mengganti mobil Algi dengan mobil miliknya.


—·—·—·—·—·—·—·—·—·—·—·—·—·—·—


"Detektif kita punya sesuatu untuk hiburan" jawab Hans, Zeco dan Hans sedang bersama dikantornya Hans. Tadi Hans yang meminta Zeco untuk datang kesana.


"Apa itu?" tanya Zeco.


"Lihat ini" tunjuk Hans pada laptopnya. Disitu memperlihatkan Gisell dan Hany, ada juga Aska yang pake blangkon dan ada orang suruhannya. Mereka bisa tau karena melihat kamera cctv yang diletakkan di tempat tersembunyi, dan tersambung dengan laptop Hans.


"Itu Aska?" tanya Zeco.


"Iya, Aska" jawab Hans.


"Terlihat berbeda dengan blangkon itu" balas Zeco. Mereka pun melanjutkan menonton itu.


/


"Hai mbak" sapa Aska.


"Eh hai" balas Gisell.


"Lo orang yang pernah anterin Zia ke kampus kan?" tanya Hany.


"Masih ingat aja mbaknya" jawab Aska. 'gantengan ini lah daripada Bian. tapi gue kagak bisa bedain sih dua duanya sama sama ganteng' batin Gisell.


"Mbak berdua mau ikut saya gak?" tanya Aska kalem.


"Mau kemana?" tanya Gisell dengan nada genitnya.


"Kerumah saya" jawab Aska.


"Gak bakal di apa apain kok mbak" ujar Aska menenangkan.


"Saya cuma mau tunjukin sesuatu buat mbak mbaknya" lanjutnya.


"Nunjukin apa?" tanya Hany.


"Ada deh mbak, emm.. kalau gak mau ya sudah gak apa apa" jawab Aska.


"Nggak, kita mau kok" sahut Gisell.

__ADS_1


"Ayok mbak" ajak Aska. Mereka berdua pun mengikuti Aska.


Skip..


Mereka pun sampai di rumah sederhana, rumah yang sengaja disetting oleh Aska.


"Maaf mbak rumahnya kecil" kata Aska saat mereka masih diluar.


"Nggak apa apa kok," jawab Hany.


"Lewat sini mbak" ajak Aska menunjukkan ke arah belakang rumah. Mereka mengikuti Aska tanpa curiga. Mereka memandangi Aska dari belakang, tanpa sadar kepala Gisell menabrak sarang tawon. Tawon pun berkeliaran lalu mengentup Gisell dan Hany, tapi tawon itu tidak banyak, karena sedang bepergian mungkin. Aska pura pura tidak tahu tentang itu, padahal dia sudah menahan tawanya. Bibir Gisell terkena entup tawon itu. Sedangkan Hany bagian jidatnya.


"Auww.. auww sakit" keluh Gisell.


"Ehh.. mbak mbaknya kenapa? Kok kesakitan?" tanya Aska polos.


"Kena entup tawon tadi, lo gak tau?" tanya Gisell.


"Lah, saya gak ketemu tawon dari tadi mbak" jawab Aska.


"Aduhh" keluh Hany.


"Ya sudah mbaknya ikut saya lagi, nanti saya obatin" ajak Aska. Mereka pun terus mengikuti Aska. 'perangkap satu berhasil, next' batin Aska sambil tersenyum sinis. Aska terus berjalan, diikuti Hany dan Gisell. Didepan mereka ada semak belukar yang tinggi. Tanpa diketahui Hany dan Gisell, Aska memakai sesuatu untuk melindungi kulitnya.


"Mbaknya beranikan?" tanya Aska tanpa menoleh.


"Mau kemana sih? Ini aman gak?" tanya Gisell.


"Aman kok mbak, tenang aja" jawab Aska.


"Mari mbak" ajak Aska. Mereka mengikuti Aska lagi. Didalam semak belukar itu terdapat ulat ulat kecil yang tidak diketahui Hany dan Gisell. Saat mereka keluar tangan dan kaki mereka gatal gatal. Saat itu Hany memakai celana pendek baju lengan panjang, paha dan kakinya bentol bentol. Berbeda dengan Hany, Gisell menggunakan celana panjang baju lengan pendek dan tidak menutupi perutnya, tangan dan perutnya pun bentol bentol. Lagi lagi Aska menahan tawanya. 'perangkap dua, berhasil. Next' batin Aska.


"Lo bilang aman, tapi ini? Bentol bentol semua badan gue!" keluh Hany.


"Saya gak tau mbak, badan saya gak kena apapun" jawab Aska dia sudah melepaskan pelindung tubuhnya.


"Lah iya" sahut Gisell.


"Sedikit lagi sampe kok mbak, bentar lagi ya. Tapi kalau gak mau ya sudah, balik saja tidak apa" balas Aska.


"Ayok, cepet. Badan gue gatal semua ini" keluh Gisell. 'iya sama kayak Lo yang gatal!' batin Aska.


"Gini aja deh, mbak nya didepan. Nanti saya teriak untuk petunjuk lurus beloknya." saran Aska.


"Oke," jawab Hany. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Aska sengaja menyuruh mereka didepan karena di depan ada kolam kecil yang isinya sambal sama ada cabenya sekalian, semuanya bercampur dengan air. Tapi sebelum itu masih ada sarang tawon lagi. Saat Hany mengangkat kedua tangannya, dia menyentuh sarang tawon itu. Tawonnya lumayan banyak dari yang tadi, tawon itu keluar dan bersiap memberi pelajaran pada Hany yang menggangu sarangnya. Hany dan Gisell pun terkejut, mereka lari.


"Eh ada kolam" ujar Gisell saat melihat dari jauh.


"Ayok nyebur aja pasti tawonnya gak bakal ngejar lagi" ajak Hany. Gisell pun mengikuti ajakan Hany. Tapi sebelum nyebur, mereka menggunakan sesuatu, untuk menggantungkan kepala dan menutup wajahnya setelah itu mereka menyebur, tawon itu pergi tapi badan mereka panas.


"Ahhh, kamprett. Ini kenapa sial banget hari inii?" tanya Gisell. Gak lama kemudian Aska muncul bersama satu abang abang ganteng, abang abang itu adalah sepupunya Aska yang menjabat jadi polisi. Blangkon yang digunakan Aska telah berganti menjadi topi, dan dia juga memakai kacamata. Keren tampan dan luar biasa, itulah kata kata yang tepat untuk Aska.


"Gimana? Enak gak petualangannya?" tanya Aska setelah tertawa.


"Sialan lo ya" umpat Hany.


"Inilah pembalasan Zia melalui saya,"


"Anda yang menerornya," Aska menunjuk Hany.


"Anda yang menyebabkan tangannya terluka," Aska menunjuk Gisell.


"Dan kalian berdua yang membuatnya koma."


"Saya tidak menyangka kalian sebodoh ini karena bisa masuk perangkap saya,"


"Tadinya saya mau membunuh kalian, tapi sepertinya tidak bagus karena saya yang akan ditahan nantinya."


"Sekarang nikmati hukuman kalian dibalik jeruji besi!"

__ADS_1


"Bang, lo bawa gih mereka ke sel. Kasih hukuman yang berat ya" suruh Aska.


"Oke, serahkan aja sama gue" jawabnya. Mereka pun diborgol dan dibawa ke penjara.


"Gud bay" kata Aska sambil melambaikan tangannya. Mereka hanya menatap penuh kebencian.


"Misi selesai" ujar Aska.


"Keluarkan kamera cctvnya" suruh Aska, pria suruhan itu pun mengeluarkannya.


"Pa, gimana? Keren kan? Ya jelas lah." ujar Aska pada kamera itu.


"Ya udah, kita bicara lagi nanti. Aska capek mau pulang. Assalamualaikum." lanjutnya lalu mematikan kamera. Cctv terputus.


"Yok pulang, gaji Lo ntar gue kasih dirumah" ajak Aska, mereka pun pulang.


~


Di kantor Hans.


"Detektif pilihanmu luar biasa Hans. Aku senang punya teman sepertimu" puji Zeco.


"Tidak perlu sungkan, anggap saja kita bersaudara" balas Hans.


"Aku berhutang budi padamu dan Aska" kata Zeco.


"Sudah ku katakan tak perlu sungkan Zeco."


"Bagaimana kabar Zia?" tanya Hans.


"Tidak ada perubahan. Dia tetap tidur" jawab Zeco melesu.


"Sepertinya dia butuh istirahat meskipun sudah terlalu lama. Dia lelah menghadapi dunia yang penuh kekejaman" balas Hans sambil melihat keluar jendela.


"Sang pemeran utama masih beristirahat dari keluh kesahnya" lanjut Hans.


"Wohoooi.. assalamualaikum" sapa Aska saat baru tiba diruangan Hans, dia menyalimi tangan Hans dan Zeco.


"Luar biasa, papa bangga padamu" puji Hans.


"Bagaimana? Kalian puas? Sebenarnya Aska belum puas, bahkan Aska ingin membunuhnya. Tapi seperti yang Aska katakan tadi, jika Aska membunuhnya Aska yang berakhir di jeruji besi" jelas Aska.


"Tidak perlu membunuhnya, azab buatan mu itu cukup menghibur papa dan om Zeco." balas Hans.


"Hans benar, itu cukup menghibur. Ngomong ngomong, dimana blangkon mu? Kamu terlihat tampan dengan itu" ujar Zeco.


"Ahh tidak om, aduh itu memalukan" kata Aska sambil menutup mukanya dengan tangan. Mereka tertawa melihat tingkah malu malunya Aska.


"Mengapa kamu cepat sekali sampai disini ka?" tanya Hans.


"Lokasi itu sebenarnya tidak jauh dari kantor papa" jawab Aska.


"Oooo"


"Terimakasih ya Aska" ujar Zeco.


"Aduhkan Aska jadi malu, jangan kayak gitu kali om. Biasa aja, om kan baik, orang baik pasti bertemu dengan orang baik juga. Aska contohnya."


"Ini benar benar duplikat mu Hans, dia tampan, jenius, bengis dan juga kegeeran" puji Zeco.


"Itu pujian atau bukan?" tanya Hans.


"Terserahmu menganggap nya apa" jawab Zeco. Mereka berbincang-bincang dan sesekali tertawa tawa.


____________________________________


Allo author mau tau nih, siapa sih pemeran favoritnya readers? Komen di bawah yaaa 😁


See you next chapter 🤩

__ADS_1


____________________________________


__ADS_2