
Pukul 07:10. Mereka sudah di jemput oleh James. James bilang pesawat mereka akan pergi jam 08:00 pagi. James mengajak mereka untuk sarapan pagi. Setelah sarapan pagi mereka menuju bandara. Zia, Aska, Ivan dan Dimas mereka selalu memakai jaket kebanggaan mereka.
Saat tiba dibandara.
"Terimakasih waktu yang anda sisihkan pada kami setiap harinya tuan james" ujar Zia saat dibandara.
"You're welcome. Saya melakukan semua ini dengan keikhlasan" balas James.
"Tidak bisakah kami bertemu dengan tuan Radatt?" tanya Qiara.
"Saya minta maaf, tetapi tuan Radatt sangat sibuk. Beliau tidak bisa bertemu dengan kalian" ujar James.
"Pesawat kalian akan segera berangkat. Pergilah, hati hati" ujar James.
"Thanks mr. James" ujar pak Roy. James hanya tersenyum. Mereka pun masuk menuju pesawat.
____________
Setelah mengantar mereka menuju bandara, James menemui Radatt.
"Sudah selesai?" tanya Radatt
"Sudah tuan, tetapi mereka selalu berkata ingin menemui anda"
"Mereka baik, pintar, namun sedikit nakal. Aku suka mereka, mereka sopan bukan?" tanya Radatt.
"Mereka sangat sangat sopan tuan, terutama gadis yang memiliki mata albino"
"Iya kau benar, dia memang gadis yang sopan. Tetapi tingkahnya lah yang paling barbar dan selalu membuat temannya tertawa" ujar Radatt.
James adalah tangan kanan Mahendradatta (Radatt) saat dia berada di Filipina. Dia mengetahui seluk beluk Filipina, oleh karena itu Radatt menyuruhnya untuk menjadi tour guide rombongan Zia saat mereka disini.
"Kalau begitu saya pamit tuan"
"Aku ingin ke Turki, perusahaan Bian sedang tidak baik disana, tetapi dia tidak bisa keturki karena urusan mendesak. Saya akan kesana, tolong kamu siapkan keperluan saya" suruh Radatt.
"Baik tuan, semuanya akan saya persiapkan" jawab James lalu keluar dari ruangan Radatt.
____________
Rombongan Zia sudah tiba di Indonesia. Mereka sampai di Indonesia siang hari. Saat ini Zia Aska Ivan dan Dimas masih menunggu jemputan dibandara. Ternyata jemputan Aska sampai lebih dulu, Aska pun menyuruh mereka untuk ikut. Aska mengantarkan Zia pulang sampai kerumahnya. Mereka bertiga disambut hangat dengan tuan dan nyonya Hitler, namun mereka tidak ingin berlama lama. Mereka pamit dan pergi dari rumah Zia.
"Pak, saya ingin pergi kesuatu tempat, bisa tidak jika anda menaiki taksi untuk pulang kerumah? Katakan kepada tuan saya sedang di apartemen." suruh Aska pada supirnya. Supirnya pun mengikuti keinginan Aska. Aska memutar balik mobilnya menuju ke basecamp OpTb.
__ADS_1
"Kenapa lo ka?" tanya Dimas, Aska hanya diam. Banyak yang ada dipikirannya.
Sesampainya di markas. Mereka beristirahat di sofa kecuali Aska, dia meminum alkohol untuk menenangkan pikiran.
"Aska lo kenapa? Gila Lo ? Siang siang Lo mau mabuk?" tanya Ivan.
"Cerita ke kita lo kenapa?" tanya Dimas.
"Prom Night" ujar Aska, dia masih sadar walaupun sudah meneguk banyak alkohol.
"Kenapa prom Night?" tanya Ivan.
"Amerika" jawab Aska.
"Ka?" tanya Dimas.
"Gue bakal ke Amerika setelah Prom Night" jelas Aska.
"Lo bener bener ke Amerika? Lo gak bisa bujuk bokap Lo?" tanya Ivan.
"Gue pasrah" jawab Aska sambil meneguk alkoholnya lagi.
"Lo tau kan?" tanya Aska
"Tau apa?" tanya Dimas
"Lo bujuk bokap lo Aska, gue tau. Gue tau lo suka sama Zia, maka dari itu lo harus berjuang." suruh Ivan.
"Gue gak yakin" jawab Aska dan meminum alkoholnya yang kesekian.
"Stop, Lo bakal mabuk kalau gini." ujar Ivan.
"Dim, ayok anter Aska balek" ajak Ivan.
"Gue pulangnya gimana?" tanya Dimas.
"Ntar gue anter" jawab Ivan. Mereka mengantarkan Aska menuju rumahnya.
._._._._._.
Dirumah Zia
"Putri papa tercantik udah pulang?" tanya Zeco.
__ADS_1
"Udah pa."
"Istirahat sana" suruh Zeva.
"Nanti aja ma, Zia masih fit kok"
"Jadi keputusan kamu gimana?" tanya Zeco.
"Zia bakal di Indonesia pa. Big Bang University." jawab Zia.
"Kamu yakin?" tanya Zeva.
"Zia yakin ma. Zia.. Zia.."
"Kenapa??" tanya Zeco.
"Zia gak mau jauh dari kalian"
"Yaudah kalau gitu kamu istirahat ya. Kita bahas lagi nanti" suruh Zeva.
"Spadaaaaaaa" teriak Zai.
"Berisik Zaii pusing kepala gue dengernya!" teriak Zia.
"Kakak gue udah pulang, masyaallah makin imut" bujuk Zai, Zai masih berfikir Zia marah padanya.
"Bacot. Gue mau tidur"
"Ma, pa zia ke kamar dulu ya" ujar Zia. Orang tuanya hanya mengangguk.
Malam harinya dia membagikan oleh oleh yang dibawanya dari Filipina. Tapi dia mengecualikan Zai. Dia masih berpura pura marah.
"Gue?" Tanya Zai.
"Maap Lo siapa ya?" tanya Zia menahan tawanya. Seketika Zai menunjukkan muka melasnya.
"Gak usah kek gitu muka Lo, sok ganteng amatt!" sahut Zia sambil tertawa.
"Nahhh! Buat adek laknat yang paling gue sayang" muka Zai pun sumringah.
"Wahh, makasih kakak laknatttt" ujar Zai sambil cengengesan.
"Kamu gak ada minta duit ke papa?" tanya Zeco.
__ADS_1
"Zia aja jarang keluar duit pa, semua udah dibayarin pak Radatt, cuman di hotel terakhir baru bayar sendiri"
"Ooh gitu " jawab Zeco. Setelah selesai mereka kembali ke aktifitas masing masing.