
Senin pagi, pukul 05:07 di kediaman Aska dan Zia.
Mereka sudah kembali dari Padang dua hari yang lalu.
Pulang bukan langsung kerumah, melainkan kumpul dirumah besar keluarga Hitler.
Mereka membagi oleh-oleh yang dibawa dari Padang dan menginap satu hari.
Minggunya mereka balik kerumah, memilih diem dirumah dalam selimut seharian.
Dan pagi ini, Aska berniat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga kasihan melihat Rafael yang meng-handle semua urusan kantor padahal dia juga bakal married.
Aska pastikan, Rafael dapat cuti dua bulan dan gaji tambahan plus bonus.
Betapa baiknya bos satu ini.
"Sayang," Aska sedang membangunkan Zia, mengajaknya untuk sholat subuh terlebih dahulu.
"Yang, sayang" Zia tak berkutik sedikit pun.
"Sayang bangunn" bisik Aska. Kali ini Zia sedikit terganggu tapi tetap saja dia tidak bangun.
"Kebo banget. Padahal udah rebahan mulu kemaren" Aska bermonolog. Aska menatap Zia yang tidur sangat kalem.
Aska mengelus pipi mulus Zia, lalu mengecup keningnya.
Entah Zia sadar atau masih dalam mimpi? Zia tersenyum setelah mendapat kecupan dari Aska.
"Mimpi apa sih, pulas banget"
"Sayang, bangun. Sholat subuh yuk" ajak Aska. Zia mulai bergerak.
Tapi, bukannya bangun. Malah, tangannya memeluk erat Aska yang disampingnya. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Aska lalu melanjutkan tidur.
"Dasar kebo. Bukannya bangun malah nyari posisi enak" cibir Aska sambil mengelus rambut Zia.
Dengan keterbatasannya kecerdasan Aska di pagi hari, otaknya hanya bisa berfikir untuk membangunkan Zia dengan pancingan makanan.
"Sayang.. bangun yok. Kita beli bubur ayam, cilok, martab--"
Zia langsung bangkit.
"Buset, dari tadi pura pura tidur apa gimana?!" tanya Aska heran.
"Tidur beneran, cuma lagi laper jadi paksa bangun. Ayok beli" ajak Zia.
"Liat jam" suruh Aska.
"Ya Allah sayangg! Masih jam lima, mana ada yang jualan bubur ayam jam segini" kata Zia kesal.
"Ya tunggu jam tujuh belinya" jawab Aska sambil mengelus pipi Zia.
"Kelamaan" Zia kembali baring.
"Jangan tidur lagi. Ayok sholat subuh" ajak Aska.
"Sayang!!" Zia bangkit lagi menuju kamar mandi. Matanya sayup, bahkan masih terpejam.
"Melek!! Ntar nabrak" Zia hanya menunjukkan jempolnya.
--
Setelah selesai sholat subuh berjamaah, Zia kembali ke kasurnya. Seperti ada magnet yang menarik Zia.
Ketika Zia ingin ke kasurnya, Aska menarik Zia.
"Jangan tidur lagi, mager banget sih" cibir Aska.
"Ay capek tau"
"Capek gimana? Kita udah rebahan seharian semalam. Gak boleh males ah. Siap siap kita lari pagi" suruh Aska.
"Sekarang?" tanya Zia.
"Tahun depan"
"Yaudah" Zia merebahkan tubuhnya lagi. Aska melongo melihat istrinya saat ini.
"Sekarang sayang ih, ayok!" Ajak Aska lagi.
"Besok yaa, janji besok"
"Sekarang"
"Besok ya mas yaa, yaa papa yaa" pinta Zia.
"Sekarang sayang, gak ada besok besok" Zia pasrah. Dia menuruti suaminya kali ini.
Zia pergi mengganti bajunya dengan baju olahraga. Setelah selesai, Zia menghampiri suaminya.
"Udah?" tanya Aska. Zia cuma mengangguk tak semangat.
"Ayo dong semangat, gimana sih? Masa iya mau mager mageran mulu" kata Aska. Zia cuma memejamkan mata semenit lalu membukanya kembali.
Aska langsung mengecup bibirnya. "Semangat bundaa" bisik Aska.
__ADS_1
•••
Mereka mulai lari secara perlahan mengelilingi taman yang biasa mereka lewati saat olahraga.
Sambil berlari, sesekali Aska menggoda Zia, memberikan lelucon pada Zia, hingga Zia tidak terlalu lesu saat lari.
"Sayang sayang" panggil Zia, dia sudah berjalan sekarang. Terlalu lelah padahal baru beberapa kali berlari. Yaaa, maklum aja ibu hamil kan cepat lelahnya:v
"Kenapa?" tanya Aska menatap Zia. Bukan menatap balik, tapi Zia malah mengalihkan pandangannya menuju tukang bubur ayam.
"Sekarang?" Zia mengangguk antusias.
"Baby-nya laper ayah" rengek Zia.
"Ck, alesan aja kamu mah" Zia cengengesan.
"Satu kali putaran lagi, ayok" ajak Aska.
"Isshh, sayang. Capekk" jawab Zia.
"Satu kali lagi, abistu aku beliin deh apa mau kamu" kata Aska. Zia menuruti Aska. Tapi dia hanya berjalan dengan pelan.
Satu putaran taman sudah terlewati, sesuai perkataan Aska, dia membawa Zia menuju mamang bubur ayam.
"Bubur ayamnya dua mang" kata Aska. Mamang itu hanya mengangkat jempolnya. Aska kembali menghampiri Zia.
Dia sedang duduk di kursi yang disediakan mamang buryam (bubur ayam).
"Kamu kerja hari ini?" tanya Zia. Aska mengangguk.
"Kasihan si rap, udah mau nikah masih ngurusin kerjaan" jawab Aska.
"Ikut ya" pinta Zia.
"Nggak! Nanti kamu tempat mami atau mama aja. Apa nggak, tempat Refi, Syifa, atau kak Febby" balas Aska.
"Ih ngapain, nggak mau. Aku ikut kamu aja. Yaaa"
"Mas askaa kan paling baik"
"Giliran ada maunya panggil mas" dumel Aska.
"Nggak jugaa, sayang. Ikut kamu aja yaa"
"Saa--"
"Hi" sapa seorang cewek.
Sumpah demi rumah batunya Patrick, Zia bosan jika harus meladeni pelakor lagi.
"Oh hai" jawab Aska santai.
"Silah--"
"Kursi lain banyak mbak" Zia jawab sambil senyum.
Mereka sama sama mengedarkan pandangan, kecuali Zia.
"Kursinya belom dibersihin mang buryam" katanya ngeles.
Zia bodo amat, dia mengeluarkan ponselnya dan memilih bermain game terbaru, game merusak pertemanan.
"Kamu inget aku nggak?" tanya wanita itu pada Aska.
Siapa lagi ini?!' batin Zia makin kesal.
"Siapa?" tanya Aska cuek.
"Novita"
"Novita?" tany Aska. Novita ini mengangguk cepat sambil senyum.
"Ah.. lo! Novita temen SMP kan?" Tanya Aska. Novita mengangguk.
"Masih inget ternyata, kirain udah lupa" jawabnya sambil malu malu.
Zia yang di sana berasa tidak dianggap sama sekali. Tapi Zia memilih diam, dia tidak ingin baku hantam sekarang.
"Oh iya Nov. Kenalin, istri gue" Aska menunjuk Zia.
"Zia" jawab Zia cuek.
"Sayang" tegur Aska. Zia diam.
"Maklum ya, emang lagi sensi dianya" kata Aska. Novita cuma senyum.
"Sayang jangan main hp mulu" tegur Aska kedua kalinya, ini tujuh belas menit sesudah Zia memperkenalkan diri.
"Jadi? Aku ngapain? Ngeliatin kamu sama dia nostalgia gitu? Aku aja disini ntah dianggap ntah nggak" Zia membanting hp nya lalu pergi.
"Astaghfirullah" Aska mengusap wajahnya.
"Gue tinggal dulu"
"Oh iyaa, hati hati. Bujukin terus ya, biar bisa dapat jatah" balas Novita. Aska cengengesan, dia mengambil hp Zia lalu mengejar istrinya itu.
__ADS_1
••
Aska keliling mencari Zia, sampai akhirnya kedua mata Aska melihat Zia yang ingin nyebrang tanpa lihat kanan kiri.
Aska langsung berlari sekuat tenaganya lalu menarik Zia. Tadinya Aska ingin marah pada Zia yang ceroboh.
Tapi, di urungkan niatnya karena melihat air mata mengalir dan hidung Zia yang memerah. Zia nangis.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aska panik.
Zia melepas pegangan Aska lalu pergi. Aska menariknya, lalu memeluk Zia.
Zia terus memberontak, Aska melepas pelukannya dan melihat Zia. Hanya sebentar.
Karena tanpa aba aba Zia berlari menuju rumahnya sendirian. Aska mengejar Zia yang berlari.
"Kenapa bumil larinya secepat ini?!" tanya Aska heran, Zia benar-benar lari dengan cepat.
Sampai akhirnya mereka sampai dirumah, Zia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Dok dok dok
Aska menggedor pintu kamar.
"Sayang, jangan gitu dong. Ayo bicara baik baik" pinta Aska. Tidak ada jawaban. Yang didengar Aska hanya isak tangisnya Zia.
Aska makin khawatir, takut jika masalah ini akan membuat Zia ngedrop karena terlalu kepikiran.
"Sayang, buka ya"
"Sayang"
"Janji deh bakal beliin kamu ice cream"
"Nggak mau?"
"Kalau aku ajak liburan ke Swiss mau nggak nih?"
"Sayang, udah dong. Buka pintunya yaa"
"Dia cuma temen SMP aku doang sayang"
"Kamu dengarkan tadi kalau dia udah punya suami"
"Sayang"
Aska menghela nafas lalu kembali ke bawah.
"Kenapa tuan?" tanya Mang Iruh ketika melihat Aska yang membongkar seluruh laci.
"Kunci serep mana mang?" tanya Aska.
"Kunci serep teh dikamarnya tuan Aska" jawab Mang Iruh.
"Yang bener???"
"Iya den, ada apa emang?"
"Nggak" Aska pergi.
--
Aska bolos kerja lagi hari ini. Dia gak mau kerja karena melihat Zia yang masih belum keluar kamar padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Sayangg, buka pintunya. Kamu belum makan dari pagi! Sayang!!"
"Sayang, ayolah. Pliss, aku mohon. Aku takut kamu kenapa kenapa di dalam"
"Aku janji deh, janji bakal turutin apa maunya kamu. Apapun itu apapun"
Ceklek
"Janji?" tanya Zia. Dia hanya mengeluarkan kepalanya. Aska langsung mendorong pintu dan memeluk Zia erat.
"Jangan kek gini lagi, aku takut kamu kenapa kenapaa" rengek Aska masih sambil memeluk Zia, Zia juga membalas pelukan Aska.
Setelah puas melepas rindu karena lima jam lebih tidak bertemu, Aska mulai melepas pelukannya. Menatap Zia yang matanya bengeb, dan idungnya yang memerah.
"Jeleknya ya ampun" ledek Aska lalu memeluk Zia lagi. Zia tidak membalas malah memberontak.
"Ya bercanda sayang, udah dong jangan marah lagi" pinta Aska.
"Novita itu punya suami, dia juga lagi mengandung tadi. Kamu nggak denger?" Zia menggeleng.
"Berapa kali aku bilang sama kamu? Aku nggak pernah selingkuh sama siapapun, aku cuma cinta sama kamu. Percaya sama aku ya" Aska memeluk Zia.
"Maaf" lirih Zia.
"Aku tau kamu cemburu kok" kata Aska sambil tersenyum lebar.
"Nggak! Kata siapa"
"Aku barusan" Zia menatap datar Aska. Aska tertawa.
"Kamu bilang mau turutin kemauan aku kan?" Tanya Zia mulai cerah sekarang.
__ADS_1
"Hm, kamu mau apa?"
"Sate Padang"