
Di Jerman, Zia sedang menyusun semua barangnya, dan Luis hanya melihatnya tanpa membantu.
[Bahasa Jerman]
"Bukankah terlalu cepat?" tanya Luis.
"Ini sudah hampir seminggu Luis. Datanglah ke Indonesia." ajak Zia.
"Kau butuh tas lagi? Aku akan meminjamkannya padamu." tawar Luis.
"Wah.. aku pergi hanya membawa sedikit barang. Kenapa sekarang menjadi banyak."
"Ntahlah, kita bahkan belum mengunjungi tempat yang lain."
"Lain waktu, aku akan kembali kesini."
Toktoktok..
"Zia, cepat keluar, mari makan" ajak Yossie dari balik pintu.
"Iyaaa, Zia datang." teriak Zia
"Ayok." ajak Zia pada Luis.
Dimeja makan, semua sudah menunggu Zia dan Luis.
"Maaf Zia terlambat" ujar Zia.
"Kamu sudah berkemas?" tanya Grossvater.
"Sudah grossvater."
__ADS_1
"Sering seringlah kemari oke."
"Tidak tidak.. grossvater, grossmutter, onkel, tante dan Luis lah yang ke Indonesia."
"Ma.. Luis akan kuliah di Indonesia dengan Zia. Bolehkah?"
"Lalu bagaimana dengan kami disini? Kamu anak semata wayang sayang." ujar Yossie.
"Tante.. buatlah adik untuk Luis, agar Luis bisa kuliah disana." ujar Zia asal, pipi Yossie memerah.
"Jangan mengganggu tantemu Zia" ingat Zeco. Zia pun hanya cengengesan.
"Jam berapa kalian berangkat?" tanya grossvater.
"Jam sembilan pa." Jawab Zeco. Mereka pun kembali makan dengan tenang.
Jam sembilan kurang sepuluh menit, Zia sekeluarga pamit untuk pulang. Mereka bersama sama mengantar Zia sekeluarga ke bandara.
"Baiklah.. kami akan mengunjunginya kapan kapan." Balas Lee.
"Kalau begitu.. Kami pergi dulu Pa, ma, bang, kak, dan Luis. Belajar yang benar ya, bujuk papa mamamu untuk membuat adik agar kau bisa ke Indonesia." suruh Zeco sambil memasuki mobil dengan cengengesan.
"Hati hati." Ucap mereka bersamaan.
Beberapa Jam kemudian, Zia sekeluarga tiba dibandara. Papa Zia menelpon supir karena papa Zia tau kalau anak anaknya sedang menuntut ilmu atau nggak lagi nongkrong, mereka sampai jam tiga sore.
Beberapa menit kemudian tibalah mereka dirumah.
"Akhirnya.. Indonesia." keluh Zia saat memasuki kamarnya. Dirumahnya sepi, karena tidak ada Zai dan Zean hanya ada pembantu mereka. Zia keluar kamar dan turun kebawah mencari makanan. Setelah menemukan cemilan dan membuat minuman dia membawa semuanya ke kamarnya. Membongkar tasnya, yang isinya penuh dengan oleh oleh, padahal Zia hanya membawa baju sedikit.
Beberapa menit kemudian Zai pulang. Dan menuju kamarnya, dia fikir Zia masih di Jerman, karena rumahnya sepi. Zia pun menjahilinya. Mengetok pintunya kemudian kabur. Zai pun merasa ketakutan. Ketukan ketiga Zia, Zai ragu ragu membuka, ketika dibuka Zia sudah stay didepan pintu. Zai pun terkejut.
__ADS_1
"Ahh halusinasi.. gak mungkin nggak, yakali gara gara gue rindu Zia sampe halu gini." kata Zai sambil masuk. Zai pun cemberut, dan mengikuti Zai.
"Woi adek monyet. Gue udah pulang kampret, gak mau oleh oleh yaudahh." Zai pun tercengang.
"Kapan lo pulangnya kak?"
"Udah dari tadi. Lo rindu kan sama gue, aduuwww. Diem aja jangan bilang orang lain dulu kalau gue udh balek!"
"Oleh oleh gue?" pinta Zai, Zia pun memberikan Zai oleh oleh sepatu idaman Zai khas Jerman.
"Waw kerenn, tau aja yang gue pengen." kata Zai sambil mencubit pipi Zia.
"Sakit geblek, kita kembar bertiga"
"Banyak amat duit lu kak kak." Zia hanya tersenyum. Zia pun keluar dari kamar Zai dan masuk ke kamarnya.
Jam setengah lima sore, Zean baru pulang. Zia sudah bersiap di balik pintu untuk memberikan Zean kejutan. Zean yang masuk kekamar terkejut, saat Zia teriak surprise.
"Gaib adek gue." gumam Zean.
"Kapan pulang? Mana oleh oleh?" tanya Zean
"Uda beberapa jam yang lalu. Noh!" kata Zia menunjuk meja Zean.
"Kita kembar bertiga. Cantikkannnn."
"Kereeenn.. maaciii adekk" kata Zean lebay.
"Kumat alaynya, cabut ahhh" kata Zia sambil keluar dari kamar Zean. Setelah beberapa langkah Zia kembali ke dalam kamar Zean.
"Jangan bilang sama siapa siapa bang gue udah pulang" bisik Zia, Zean pun hanya menggunakan isyarat tangan.
__ADS_1