
Disisi lain
Zia sedang menikmati minumannya didepan jendela, sambil memutar kamera cctv yang ada dirumahnya. Dia mendengar semua, tentang permintaan maaf Santi dan Zucky. Zia bingung, dia harus memaafkan atau tidak.
"Gue maafin aja kali ya, kalau ngulah jangan kasih ampun" ujar Zia bermonolog. Zia mendengar kepanikan Zean karena Zai kehilangan jejaknya.
"Untung kagak ada yang tau password apartemen gue, kecuali kang bersih bersih sama papa" kata Zia.
"Udahlah, malam ini gue nginap disini aja"
"Apartemen, apartemen. Kayak inget sesuatu gue tentang kata apartemen. Tapi apa ya?" tanya Zia. Dia berusaha mengingat ingat semuanya, sampai kepalanya sakit dan akhirnya pingsan.
Dari luar;
"Ayok buka cepetann!!!!!!" suruh Zeva.
"Sabar sayang" jawab Zeco. Zeva dan Zeco, mereka ikut mencari Zia, dan berfikir Zia ada di apartemennya. Saat pintu terbuka.
"Ziaaaaaaa" teriak Zeva.
"Astaga," sahut Zeco, dia mendekat ke Zia. Minumannya tumpah dari mulutnya, mereka mengira Zia minum racun. Tapi ternyata Zia meminum Sprite, dan sebelumnya dia aduk.
"Zia, bangun sayang. Kenapa kamu kayak gini sih? Tega banget kamu" ujar Zeco.
"Pa, ayok cepetan kita kerumah sakit!!" ajak Zeva. Zeco pun menggendong Zia dan membawanya ke mobil. Zeva pun menghubungi Zean dan yang lain untuk segera menyusul ke rumah sakit.
~~
"Kenapa anak saya dok?" tanya Zeva, mereka sudah sampai dirumah sakit.
"Nona Zia hanya pingsan karena memaksakan ingatannya. Tidak ada hal yang berbahaya" jawab dokter.
"Zia gak minum racun kan dok?" tanya Zeco.
"Haha, tidak tuan. Itu hanya minuman bersoda." jawab dokter.
"Ah syukurlahhh, jadi kapan Zia sadar?" tanya Zeco lagi.
"Sebentar lagi, bersabar ya. Saya tinggal dulu, permisi" pamit dokter lalu pergi.
Beberapa menit kemudian, Zia terbangun.
"Zia dimana?" tanya Zia.
"Kamu kenapa sih sayang? Jangan buat mama papa khawatir dong!" kata Zeva.
"Hah? Emang Zia kenapa?" tanya Zia.
"Astaga, mama sama papa kira kamu minum racun" jawab Zeva.
"Racun? Zia masih mau hidup kali ma. Zia kenapa disini?" tanya Zia lagi.
"Kamu pingsan di apartemen. Untung mama sama papa datang" jawab Zeco.
"Ziaa" teriak Zean dan Zai saat baru tiba.
"Dih apasih? Dirumah sakit gak boleh teriak beguk" tanya Zia.
"Setres lu, gilak lu, tega amat lu sama gue" cibir Zean.
"Apa sih kambing? Gue masih hidup kan" tanya Zia.
"Kagak usah kabur kayak gitu kek" suruh Zean.
"Siapa yang kabur ege, pas Lo bilang kayak gitu tadi itu cuma settingan. Gue emang mau ke apartemen." jawab Zia.
"Udel lu ijo dah!" cibir Zai.
"Ngaco!" sarkas Zia.
"Dah yuk pulang, gak enak bau obat obatan" ajak Zia.
"Makanya sehat sehat aja, jangan sampe kesini" suruh Zean.
"Bawel amat sih lu bapak bapak" balas Zia.
__ADS_1
"Zia, kamu gak apa apa?" tanya Zucky.
"No what what, I'm fine" jawab Zia, dia bangkit dari tempatnya.
"Maafin Oma Zia. Oma mohon" pinta Santi.
"Terserah, kalau mama sama papa maafin Zia ikut"
"Kita udah maafin kok sayang." sahut Zeva.
"Saya coba, saya harap ini bukan sebuah drama." balas Zia. Setelah itu, mereka pun pulang kerumah.
∆∆∆∆∆∆
Hari hari berlalu begitu cepat bagi Zia, tetapi begitu lama bagi Bian. Besok. Hari dimana Zia akan menjadi seorang istri dari pengusaha muda keturunan Mahendradatta. Zia gak tau akan gimana nantinya, dia cuma berusaha untuk mengikuti kemauan papa mamanya.
"Hollaaa, assalamualaikum" sapa Santi yang baru tiba di rumah Zeco. Mereka semua sudah berdamai, Zia juga sudah berusaha memanggilnya Oma.
"Waalaikumsalam" jawab mereka.
"Mana calon pengantin wanita nya?" tanya Santi.
"Apa Oma?" sambar Zia yang baru turun dari tangga.
"Tidak, tidak apa apa" jawab Santi.
"Mana ayah bu?" tanya Zeco.
"Diluar, tidak tau sedang apa dia" jawab Santi.
"Oma, ini coba" Febby menawarkan kue buatannya, Santi mencobanya.
"Wah, ini enak. Zean pintar memilih pasangan" puji Santi. Zean cuma tersenyum.
"Bagaimana keadaan kak Sonia?" tanya Zeva.
"Dia baik baik saja, berkunjung lah" suruh Santi. Zeva mengangguk angguk.
"Wah ada besan?" tanya Zorisya yang baru turun.
"Eh, halo nyonya Hitler" sapa Santi.
"Ah iya baiklah"
"Sudah lama?" tanya Zorisya.
"Tidak, baru saja. Kamu sudah berapa lama di Indonesia? Sepertinya sudah mahir dengan bahasa Indonesia"
"Mmmm... Sudah tiga bulan lebih kalau tidak salah."
"Ooo" balas Santi.
"Ck.. grossmutter sama Oma kayak baru ketemu sekarang. Kemarin apa gak jumpa?" tanya Zia.
"Tidak, grossmutter tidak jumpa dengan Oma mu" jawab Zorisya. Zia membulatkan mulutnya.
"Kak peb, requestannya Zia mana?" tanya Zia.
"Ambil noh di dapur" suruh Febby.
"Nah gitu dong, debes deh kak Febby" puji Zia lalu pergi ke dapur. Dia mengambil kue buatan Febby dan membawanya ke kamar agar tidak di colong Zai dan Zean. Yang lain pun kembali berbincang-bincang. Sebelum sampai dikamarnya Zia di palak sama adik laknatnya.
"Bagi dong, masa solo gitu" kata Zai.
"Di dapur banyak, jangan ngerecokin punya gue" suruh Zia. Dia berbohong sih, kue yang di dapur berbeda dengan kue miliknya. Zai pergi menuju dapur sedangkan Zia kembali berjalan ke kamarnya.
Sesampainya Zia dikamarnya. Dia mengambil ponselnya, membuka chat dari Ica.
—Icakku—
✉️ ; (Foto)
✉️ ; Bagus gak menurut lo?
Z ; Bagus, gue demen yang ini.
__ADS_1
✉️ ; Masih bimbang yang ini apa yang semalam.
Z ; Bentar bentar, gue cek dulu sama yang semalam. Gue bantuin vote deh.
Zia pun membuka galeri hpnya, melihat dan memilih yang mana yang bagus. Dia menggeser terus foto itu, sampai dia berhenti dan memperhatikan salah satu foto.
"Plat mobil? Buat apa gue simpan?" tanya Zia. Tiba tiba kepalanya pusing.
"Ja- jangan pingsan zi, ayolahhh!" Zia bermonolog.
"Plat mobilnya familiar, i- ini punya siapa?" Zia mencoba mengingat ingat.
"Ini bukan punya Hitler family." Kepala Zia semakin pusing, dia coba menahannya agar tidak pingsan. Lewatlah sekelebat bayangan kecelakaan dia dua tahun yang lalu. Semuanya. Dia mengingat semuanya sekarang.
"Ini.. ini plat mobilnya Varo" kata Zia setelahnya.
"Iya, ini punya Varo, mobil yang ngajak gue balapan dulu"
"Ja- jadi, Varo yang tabrak gue? Ca- calon suami gue? It's okay kalau dia gak sengaja. Tapi dia kan seharusnya bertanggung jawab."
"Ica bilang yang bawa gue ke RS bang Abi sama Luis. Berarti..."
"Gak! Gue gak mau nikah sama dia. Gue harus kabur!" Zia beranjak dari tempat tidurnya. Memasukkan semua baju bajunya ke dalam tas ransel big size miliknya, dia mengambil masker dan memakainya.
"Oke, gimana caranya gue kabur sekarang?!" Zia mengedarkan pandangannya, sampai mata Zia tertuju ke pinggir kamarnya, terdapat rak buku disana.
"Mana kuncinya mana?" tanya Zia sambil mencari. Dia pun menemui kunci itu.
"Naik apa gue? Mending gue ke ZiCF. Nyedot uang, baru pergi ke London." kata Zia, dia terus bermonolog. Sambil membawa tasnya Zia pun menghampiri rak buku itu. Di selipan buku itu terdapat tombol tersembunyi, dan yang mengetahuinya hanya Zia.
"Gud job, gak sia sia gue bikin ginian dulu." Zia pun masuk ke dalamnya kemudian menuruni tangga. Ruangan itu tembus ke gudang belakang dekat garasi. Kunci yang Zia pegang adalah kunci gudangnya.
"Sip! Berhasil kabur" saat Zia sudah sampai diluar gudang.
"Untung sepi,"
"Mending gue kesitu deh, baru itu pesan taksi onlen" Zia berjalan menuju sebuah toko, setelahnya dia memesan taksi online. Dia menyuruh si supir untuk ke arah ZiCF.
"Pak, tunggu disini ya" suruh Zia pada supir itu, setelah mereka sampai. Supirnya pun manut. Zia masuk ke kafenya. Banyak yang tidak mengenalnya, karena masker yang dia gunakan. Saat dia mau ke lantai tiga dan naik lift khusus, satpam menghentikannya.
"Mbak, tidak boleh lewat sini" kata satpam itu. Zia membuka maskernya sebentar, lalu memakainya kembali. Satpam pun mengijinkannya.
"Panggilin Mbak Ina keruangan saya" suruh Zia lalu masuk ke lift. Satpam itu pergi memanggil kepala pelayan.
"Ada apa nona?" tanya Mbak Ina saat sudah diruangan Zia. Zia sudah selesai mengambil uang dari kafenya. Lumayan banyak, cukup untuk biaya hidupnya di London.
"Saya mau kabur ke London. Mbak saya beri tanggung jawab menjaga kafe ini. Keuangannya jangan diberi pada siapapun kecuali saya. Gaji kalian, nanti melalui mbak. Bisakan mbak?" tanya Zia.
"Nona Zia kenapa kabur?" tanya Mbak Ina.
"Karena saya mau kabur." jawab Zia. Dia menyuruh Mbak Ina keluar lalu mengikutinya.
"Jaga kafe ini mbak. Kalau ada sesuatu laporkan ke saya. Saya pergi dulu" pamit Zia lalu dia pergi.
"Hati hati nonaa" teriak Mbak Ina. Mbak Ina kembali ke tugasnya.
Zia kembali ke taksi onlinenya.
"Pak, ke bandara ya" suruh Zia. Supir itu pun membawanya kebandara.
"Eh, gak jadi pak. Ke apartemen saya aja ya. Ini alamatnya" supir taksi memutarkan mobilnya lalu pergi menuju apartemen Zia.
★★
Zia sampai di apartemennya lumayan malam. Dia mengambil ponselnya, memesan tiket pesawat online yang menuju ke London. Dia menemukannya dan mengambil jadwal pagi sekali. Setelah itu dia beristirahat.
Keesokan paginya, dia bergegas menuju bandara. Dia kembali memesan taksi online untuk pergi ke sana.
"Jackpot!! London I'm coming" gumam Zia sambil tersenyum sangat lebar, dia sudah berada di dalam pesawat. Beberapa menit kemudian pesawat itupun terbang menuju London.
______________________________
Yuhuuuuuuu
Jangan lupa like, dan votenya dong 😁
__ADS_1
See you next chapter 🤩
______________________________