Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Aska dimarahin


__ADS_3

"Sayang"


"Where are you?"


"Aaw" Aska berlari menuju Zia yang ternyata berada di tepi kolam renang.


"Kenapa? Kamu kenapa?" Tanya Aska panik. Zia tidak menjawab tapi sibuk mengemut jari telunjuknya.


"Jari kamu kenapa?" Aska menarik tangan Zia. Darah segar mengalir.


Dengan cepat, Aska mengambil ponselnya untuk menghubungi mang iruh.


📞 "Ke lantai atas sekarang bawa P3K. CEPAT!!"


Aska langsung mematikan teleponnya.


Aska panik melihat darah yang terus mengalir.


"Kenapa ini??" tanya Aska menatap tajam Zia.


"Pisau" jawab Zia pelan.


"Ck, gimana bisa ceroboh si sayang?" Zia menunduk.


"Tuan"


"Lama kali!" protes Aska. Mang Iruh menunduk. Aska mengambil kotak P3K itu. Dia mengobati jari Zia.


"Dalem banget goresannya. Hati hati kenapa si kamu sayang"


"Maafff"


"Salah sendiri diemin aku" jawab Zia sambil menunduk.


"Jadi ini sengaja?"


"Ya nggaklah, sakit tau!" Aska tidak membalas lagi, dia fokus membalut jari Zia.


"Selesai"


"Ngapa setebel ini balutannya?! Lebay banget" cibir Zia.


"Ssstt"


"Masih mau makan buah ini?" Zia mengangguk. Aska mengupaskan kulit buah itu.


"Kamu kenapa cuekin aku tadi?" Tanya Zia kesal.


Aska cengengesan, "Hukuman. Kamunya ngeselin"


Zia memanyunkan bibirnya.


Cup~


Kecupan bibir dari Aska.


"Nih makan" Aska memberikan potongan buahnya. Zia langsung melahap buah itu.


"Tadi bang Ze kesini ngapain?" tanya Zia.


"Ntar malem kita disuruh ke rumah papi" jawab Aska.


"Eh ngapain? Bukannya nanti malem kita pergi ke nikahannya Bian?"


"Besok nikahnya sayang"


"Nanti malem"


"Besok malem"


"Nan-- eh iya deng besok" Zia cengengesan.


"Ngapain ke rumah papa?"


"Bantu bantu persiapan nikah Zai" Zia tersedak.


"Pelan pelan sayang, kamu tu ih" mata Zia memerah.


"Zai kapan mau nikah??"


"Kata bang Zean, nikahnya barengan sama Rap"


"Jahat ni mereka, kasih tau dadakan" protes Zia.


Aska cengengesan, "Bang Ze aja baru tau setelah balik dari Jerman"


"Is bener bener gajelas manusia satu itu"


"Dah yok masuk, istirahat" ajak Aska.


"Gendong boleh?" Zia cengengesan.


"Depan apa belakang?"


"Belakang"


"Manja banget sii kamu" kata Aska sambil mengecup pipi Zia.


"Ayok" Aska menggendong Zia.


"Sarangheo.. sarangheo.. sarangheo.. sarangheo.. sarangheo.. sarangheo.. sarangheo.. sarangheo.." ujar Zia terus menerus. Aska yang mendengarnya senyum senyum sendiri.


"Woy" panggil seseorang dari ruang tamu.


"Eh ada Aksa, turunin sayang" pinta Zia. Aska pura-pura tidak mendengar Zia.


"Mau apa?" tanya Aska.


"Ngomongin pekerjaan, konsultasi sama senior" jawab Aksa.

__ADS_1


"Bacotnya gak nahan" Aska meninggalkan Aksa.


"Eh kok ditinggal?" tanya Zia.


"Ntar mandiri dia. Kamu istirahat aja dikamar oke"


"Oke"


-


Aska kembali turun ke bawah menemui Aksa yang duduk santai di ruang keluarga sambil meminum jus yang dibuatkan mbak Jum.


"Dah lama?" tanya Aska.


"Belum terlalu"


"Kenapa gak panggil?"


"Katanya lagi cekcok lu bedua, jadi ya gue biarin aja dulu"


"Oh"


"Tuan Aska mau minum?" tanya mbak Jum.


"Nggak" Aska beranjak menuju dapur mengambil minuman kaleng, lalu kembali ke ruang keluarga.


"Gitu amat si sama pembantu, gak berperikemanusiaan" protes Aksa.


"Dia cewek, bukan mahram"


"Bacot nya naudzubillah" Aska tersenyum miring.


"Ada apa?" tanya Aska.


Aksa merubah arah duduknya jadi menghadap Aska.


"Gue cuma mau tanya satu hal, karena gue kepikiran sama satu hal itu"


"Tentang apa?"


"Mimpi! Mimpi lu beberapa hari, aa.. ralat minggu. Beberapa minggu lalu kayaknya ntah juga bulan gue lupa" jawab Aksa.


"Gajelasss!! Mimpi yang mana sih?"


"Yang waktu itu lu sempat tengkar sama Zia gara gara mimpi"


"Aaa iya inget"


"Yang punya mimpi siapa yang paling ingat siapa" cibir Aksa. Aska tertawa.


"Terus pertanyaannya apa?"


"Kejadian di Padang. Itu bukan?"


"Bukan. Jelas bukan. Yang serang di mimpi gue itu cewek. Dan juga Zia udah hamil sekitar lima atau enam bulan. Disitu juga gue udah kena tembak. Pokoknya bukan yang kemarin"


"Aneh. Masa bukan?"


"Ck. Gue beneran takut kalau ntar itu musuh gue"


"Udah santai aja"


"Yaudah deh kalau bukan. Gue mau balik ke kantor"


"Cuma tanya itu doang?" Aksa mengangguk.


"Ya makanya tadi gua gak mau ganggu lu bedua di atas"


"Bagus bagus, pengertian lu nya" puji Aska.


"Dari dulu kalau itu mah" Aksa cengengesan.


"Gue pergi dulu ya"


"Oke, tiati lu"


Setelah perginya Aksa dari rumah. Aska mulai was was, dia berfikir keras siapa pelakunya?


Tanpa sadar, Zia sudah ada disampingnya dan bersandar di pundak Aska.


"Woi, ailah mikir apa si?" tanya Zia.


"Hah?"


"Nggak" jawab Aska.


"Oo gitu ya? Rahasian sama istri. Padahal setau aku masalah suami itu masalah istri juga" kata Zia.


"Nggak gitu sayang. Aku gak mau kamu kepikiran"


"Lebih kepikiran lagi kalau kamu buat aku penasaran" Zia menatap Aska.


"Ja---"


"Aska!!!"


"Itu suaranya mama" kata Aska.


"Waduh gaswat" Aska panik. Aska dan Zia sama sama kedepan menghampiri mama Alice.


"Eh mami" Zia menyalami tangan mama mertuanya. Mama Alice tersenyum melihat Zia. Seketika ekspresinya berubah saat melihat Aska.


"Apa salah Aska ma astaghfirullah" tanya Aska yang ditatap tajam mamanya.


"Gak disuruh masuk?" tanya mamanya sinis pada Aska.


"Eh iya, masuk dulu mi" mereka pun masuk. Mama Alice duduk di sofa ruang keluarga, begitupun dengan Zia dan Aska.


"Mami mau minum apa? Zia buatin" Zia hendak bangkit Alice menahannya.

__ADS_1


"Nggak usah, nanti mami ambil sendiri"


"Ya gak bisa gitu dong mi. Emm.. jus jeruk kesukaan mami ya? Oke, tunggu dulu" Zia pergi kedapur.


"Eh ziaa" Zia pura-pura tidak mendengar lalu pergi ke dapur.


Di ruang keluarga itu hening, Alice terus menatap sinis Aska tanpa berkata sepatah katapun.


Sepuluh menit kemudian, Zia datang membawa jus jeruk untuk mama Alice.


"Busett dah, mama kenapa tatap Aska kek gitu?? Aska ganteng iya Aska tau" kata Aska.


"Dih, ganteng apa?! Muka kayak pan*at wajan gitu" Zia menahan tawanya.


Sedangkan Aska menatap mamanya.


"Diminum dulu mi, biar gak gerah body" suruh Zia. Mama Alice meminum jus jeruknya jadi tinggal setengah gelas.


"Tadi pagi, mama kesini mau liat mantu sama calon cucu. Eh, pas sampe rumah malah gak ada siapa-siapa. Mbak Jum bilang, kalian berdua ke kantor" mamanya berbicara tenang.


"Abistu?" tanya Aska, dia sedang meminum minuman kalengnya yang belum habis.


"Kamu itu gimana sih Aska?! Zia kan lagi hamil, kenapa kamu ajakin mulu ke kantor?!" tanya Alice.


Aska menyemburkan minumannya.


"Hah? Eh? Nggak mami, itu Zia yang mauu. Aska udah suruh gak usah ikut, tapi Zia kekeh pengen ikut. Bosen dirumah mi" bela Zia.


"Gak usah belain Aska sayang, biar mami marahin dulu anak nakal satu ini"


"Astaghfirullah mama ini berdosa banget" kata Aska tanpa sadar.


"APA?!" nadanya sangat tinggi.


"Hah? Apa ma? Nggak tadi, em.. Iyaa ma iya besok gak Aska ajakin lagii"


"Is kok gitu" Zia menatap Aska dengan puppy eyes nya.


"Gininih ma gini, yang bikin Aska gatega" kata Aska.


"Mi, gapapa ya? Kan di kantor kerjanya duduk" kata Zia.


"Ya kalau dirumah bisa rebahan" jawab mamanya.


"Kamu dirumah aja pokoknya! Jangan kemana-mana, istirahat yang cukup. Kalau bosan ya kamu main kerumah mami. Udah gitu aja mami mau pergi" mamanya beranjak.


"Eh mamiii" mama Alice melihat ke Zia.


"Minum dulu mami, is mami masa cuma sebentar. Baru berapa menit" keluh Zia.


"Mami ada urusan sayang" Alice meneguk sisa jusnya dengan cepat.


"Udah ya, mami pergi dulu. Kamu Aska, awas aja kalau sampe bawa Zia ke kantor lagi!!" Alice menatap tajam Aska.


"Iya ma iyaa" mereka berdua salam ke Alice. Lalu mengantarkan Alice ke depan pintu.


"Mami naik apa? Gak mau dianter?"


"Ada supir mami di depan. Dah ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aska menatap Zia. Zia terlihat cengengesan.


"Kabur ah kaburr" Zia lari ke kamarnya.


Aska ikut berlari, kali ini lari Zia pelan jadi Aska bisa mengimbanginya. Setelah dekat, Aska langsung bersiap menggendong Zia dan terangkat lah Zia.


"Issss kampret emang bos satu ini"


--


"Aaa seneng deh" mereka berdua dikamar sambil menonton televisi. Dengan posisi kepala Zia yang berada di dada bidang Aska.


"Seneng kenapa? Seneng suaminya diomelin?" tanya Aska.


"Nggak juga sih"


"Jadi?"


"Ya seneng aja punya mertua yang baik gak judes gitu" jawab Zia.


"Oh, jadi istri barbar ku ini takut punya mertua judes?" Zia cengengesan.


"Mama itu udah naksir ke kamu lama banget. Kamu inget tragedi kita nugas dan waktu itu aku mau ngerokok di cafe kamu larang?" Zia mengangguk.


"Itu mama liat pas kamu larang. Nah, dari situ mama tertarik sama kamu. Kalau dilihat-lihat sekarang, mama malah lebih sayang ke kamu dari pada anaknya sendiri"


"Dih baperan dihh," ledek Zia. Aska menatapnya datar. Zia mendongak sambil cengengesan.


Cup~


Kecupan mendarat di pipi Aska.


"Siap siap yok sayang" ajak Zia.


"Mau kemana?"


"Ya kan bentar lagi mau kerumah mama. Sebelum itu kita ke butik dulu yaa, beli baju couple buat besok"


"Untuk ke pestanya Bian?"


"Iyaaa dongg, pokoknya harus couple"


"Dulu kamu gak mau deh diajak couple-an. Kenapa sekarang mau banget?"


"Hidup itu pasti ada perubahan, dan ini perubahan dari seorang Ciwi Barbar" kata Zia bangga.


"Oo gitu" Aska menatap Zia dengan senyuman.

__ADS_1


"Dah ah, aku mau mandi duluan"


__ADS_2