
Pagi harinya
Zia sedang membangunkan Aska dengan cara menoel-noel pipinya.
Memang, keduanya suka toel-toelan:v
"Bangun pak.. pak bapak bangun!!"
"Bangun woi!!"
"Sejam lagi" jawab Aska.
"Ngaco banget sejam"
"Bangun ayok" ajak Zia. Aska menarik tangan Zia dan memeluknya.
"Aska bangun.."
"Teros aja panggil nama" Aska melepas pelukannya lalu balik badan.
"Dih dih.. gitu aja ngambek"
"Sayang"
"Sayang.. jangan ngambek dong"
"Sa--"
Aska terlelap, tidur sambil mendengkur.
"Kecapekan ya ngeladeni istrimu yang bawelnya naudzubillah? Minta ke Korea pas sampe sana minta balik Indonesia. Capek banget pasti"
"Makasih udah pengertian bangett ya sayang" Zia memeluk Aska dari belakang.
"Kalau berterima kasih gak usah ngeyel dibilangin" sahut Aska.
"Eh apaaannn tidur pura-pura?!" Zia melepas pelukan.
"Siapa yang pura-pura? Kamu aja yang ngoceh mulu aku nya gak bisa tidur"
"Halah jujur deh, bilang aja tidur pura-pura" Aska berbalik menatap Zia sekilas lalu mengelus perut Zia yang sudah membuncit.
"Baby.. mommy itu ya, kenapa sih ngeyel banget dibilangin? Besok jangan kayak mommy oke"
"Bedosa woii!!" Aska cengengesan.
"Ayok bangun la.. kan mau liat baby nya Qiara" ajak Zia.
"Siap itu ke Korea lagi?" tanya Aska. Zia menggeleng.
"Maunya tidur di rumah" jawab Zia.
"Emang kamu tu ya.." Zia cengengesan.
"Yaudah sana siap-siap"
"Okee boss!!"
-·•·-
"Bacotnya di Korea" ledek Ica. Mereka di ruangan Qiara sekarang.
"Lo kagak liat kemaren gue emang di Korea? Gue balik demi baby handsome ini!!" jawab Zia.
"Sweet bangett" ujar Qiara. Zia tersenyum sok manis.
"Gue nggak yakin! Apaan baru sampe langsung balik lagi. Rugi banget" sahut Alya.
"Ya sama aja kayak lo yang baru ke Swiss udah balik ke Indonesia" kata Tania.
"Apa aja diributin emang betina ni" ujar Samuel.
"Diam!" Mereka kompak, Samuel terkejut.
Yang lain tertawa.
"Beneran ke Korea?" tanya Jimmy. Aska mengangguk.
"Cuma numpang lewat gitu disana??" tanya Dimas.
"Bisa dibilang begitu" jawab Aska.
"Holkay mah bebas bro!!" Aska tersenyum miring.
"Siapa namanya Sam?" tanya Aska.
"Shaka"
"Shaka tok?"
"Shaka tonik abc?" tanya Ivan.
"Uncle macam apa ini?!" tanya Samuel sinis. Ivan tertawa.
"Namanya Shaka Ibrahim Alexand" jawab Samuel.
__ADS_1
"Widih.. nyontek gugel pasti. Yakin seratus persen gue" cibir Jimmy.
"Tabok mau?" Jimmy tertawa.
"Licik kan qi?" tanya Ica.
"Licik kenapa?" tanya Qiara.
"Yang hamil lu, yang ribet lu, yang lahir mirip bokapnya" jawab Alya.
"Terima kenyataan, emang gitu kok seharusnya" jawab Samuel bangga.
"Tapi feeling gue gak enak sih. Kalau mirip bapaknya, kasian. Jelek banget" ledek Ivan.
"Kurang masalah hidup ni anak! Nyari masalah mulu" sindir Samuel.
Ivan tertawa lagi.
"Kalian tau nggak.."
"Nggak" mereka kompak.
"Belum siap ngomong gue anjirr!!" protes Jimmy.
"Lanjut bro" kata Dimas santai.
"Untung kawan" Dimas tertawa.
"Apaan dah buruan" suruh Ivan.
"Kepo ya kepo"
"Emang punya temen kek kalian darah tinggi bawaannya" kata Samuel. Jimmy tertawa.
"Jadi tadi tu, gue denger di ruang persalinan sebelah. Itu kudu milih tau" ujar Jimmy.
"Milih apaan?" tanya Aska.
"Milih emak atau anaknya" jawab Alya. Semua menatap Alya.
"Kasian banget"
"Terus milih siapa jadinya?" tanya Ica.
"Anaknya kalau gak salah" jawab Jimmy.
"Em... Aska, kalau kamu di posisi dia, kamu pilih yang mana?" tanya Zia menatap Aska.
"Gak bakal terjadi hal begituan" jawab Aska
"Harus dijawab?" Zia mengangguk.
"Ya jelas pilih Zia lah" jawab Aska.
"Alasannya?" tanya Zia.
"Kehilangan anak, kita bisa bikin lagi. Kehilangan kamu? Aku gak bakal sanggup jalanin hidup" jawab Aska.
"Aaaaashh sa ae kang kopi" ledek Dimas. Mereka tertawa.
"Eh betewe ya Sam, Qi. Lu pada kagak mau buat lagi?" tanya Aska.
_______
Seminggu kemudian..
"Jadi cuma bulak balik gitu doang kemaren?" tanya Zean.
Pagi ini Aska dan Zia berada di big home Hitler, mereka sedang sarapan di meja makan.
"Hm"
"Gila lo beneran, kok mau si nurutin manusia satu ini?" tanya Zean menunjuk Zia.
"Gak heran sih. Suami takut istri gak tu?" kata Zai.
"Gini nih kalau IQ jongkok. Bukan suami takut istri tapi suami yang ingin menyenangkan istri" ujar Aska.
"Halah taiiiii" Aska tertawa.
"Kasihan papa liat kamu ka" kata Zeco.
"Kasian kenapa pula? Aska kaya pa, gak usah dikasianin" sahut Zean.
"Iya untungnya gitu. Untungnya Aska yang jadi suami Zia. Kalau nggak, lebih kasian" jawab Zeco.
"Emang kasian kenapa si pa?" tanya Zai.
"Ya kasian. Ntar tinggal tulang suaminya. Gara-gara bengek ngadepin Zia" jawab Zeco. Zai dan Zean tertawa mengejek.
"Iya yakan. Coba aja kalau bukan Aska" kata Zeva.
"Tulah. Ditambah lagi anaknya bawel, barbar, rusuh. Papa salut sama Aska yang tahan punya bini begini" lanjut Zeco.
"Subhanallah sekali punya bapak sejulid ini" balas Zia.
__ADS_1
"Hahahaha"
Aska pergi ke kantor dengan mobil biru kesayangannya setelah sarapan bersama tadi.
Seperti biasa, dia selalu di sapa para karyawan. Aska tetaplah pria yang dingin anti wanita seperti waktu dia di SMA.
Aska tidak perduli dengan sapaan karyawannya, dia melewatinya dengan santai lalu pergi ke ruangannya yang berada di lantai paling atas.
Tok tok tok
Baru lima menit duduk di singgasananya, sudah ada saja yang ingin bertemu.
"Masuk"
"Aa.. permisi pak, saya orang utusan pak Rafael, katanya disuruh bantu bapak"
Yeah.. Rafael sedang tidak di posisinya hari ini karena sakit.
"Nggak perlu. Keluar"
"Tap--"
"Keluar atau potong gaji?" Karyawati nya itupun keluar.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Saya bilang nggak perlu ya nggak per--"
"Lo ngapa? Nggak perlu apaan begoo?" Aska melihat.
"Sialan lu bedua" Dimas dan Ivan tertawa.
"Stress ya?? Kenapa lu marah mulu?" tanya Dimas.
"Ketebak sih, kayaknya dia gak dikasih pintu tadi malem" jawab Ivan.
"Kasian" ledek Dimas. Dimas dan Ivan tertawa lagi.
"Sotoy lu bedua!" Dimas dan Ivan masih tertawa.
"Rindu sama gue ya? Seminggu gak ketemu langsung samperin lagi." Ujar Aska.
"Najissss woi asukk" Aska gantian tertawa.
"Astaga bos satu ini pelit sekali tidak menyuguhkan minuman" protes Ivan.
"Kerjaan gua banyak, ada lu bedua yang ada ngobrol mulu kagak siap dah"
"Kalau itu sih, derita lu" kata Ivan dan Dimas kompak.
"Tahan.. tahan jangan pukul. Aska kan penyayang tumbuhan"
"Setan lu!!"
"Hahahaha" itu tawa Aska. Seperti biasa Aska memencet tombol yang mengarah ke kantin dan menyuruh membawa minum untuk dua perusuh yang ada di ruangannya.
"Lu bedua mau apa?"
"Mau ngajakin lu ke suatu tempat, kuy" ajak Dimas.
"Dikata gue sibuk"
"Orang jenius kayak lo, setengah hari juga siap itu kerjaan" sahut Ivan.
"Mau apa dulu?"
"Liat ikan ******. Ayoklaaa, kemaren gue lihat yang lu pengenin waktu itu" ajak Dimas.
"Emang lu bedua, debes. Ayokla" mereka bertiga pun beranjak pergi.
Tiba tiba ponsel Aska berbunyi.
–Mami mertua–
📞 "Assalamualaikum Aska..."
"Waalaikumsalam mami? Ada apa? Mami kenapaa?" Aska panik mendengar suara gemetar sang mertua.
📞 "Zia.. ziaaa.."
"Zia kenapaa ma?"
📞 "Ziaa---" panggilan terputus.
"Kenapa ka?" tanya Ivan.
"Istri gue" Aska panik luar biasa saat ini.
"Kenapa? Ada apa? Jadikan?"
"Next time!" Aska pun pergi meninggalkan kedua temannya. Dimas dan Ivan saling tatap lalu tersenyum penuh makna.
__ADS_1