
Hari ini mereka serentak kembali ke rumah menggunakan helikopter pribadi Aska. Kinan dan Rafael juga berada disana.
"Wahh.. kak Aska keren ya" puji Kinan.
"Baru tau?" tanya Aska sombong. Zia memegang mukanya dengan tangannya yang mungil.
"Sombong terossss, gabaek bosku" balas Zia. Aska menyingkirkan tangan Zia, lalu mencium keningnya.
"Nggak sombong kok" balas Aska sambil cengengesan.
"Jangan melupakan saya yang jones dipojokan" sahut Zai. Semua tertawa ngakak mendengar perkataan Zai.
"Masih jauh?" tanya Kinan.
"Bentar lagi sampe" jawab Rafael.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba tepat diatas atap rumah Aska.
"Kinan, kamu mau tinggal sama si rap, atau tinggal di rumah kakak?" tanya Zia.
"Bang Rafael kak. Kinan udah terlalu merepotkan kakak nanti" jawab Kinan sambil tersenyum.
"Yah padahal kalau kamu tinggal tempat kak Zia aku ikut" sahut Zai.
"Gue gak terima lu ya mon maap" Zia langsung turun ke bawah melalui tangga.
"Kakak laknattt" teriak Zai. Kinan dan yang lain tertawa.
"Mampir dulu rap," ajak Aska.
"Iya bos" balas Rafael. Rafael mengikuti Aska yang mau masuk ke rumahnya. Dia membawakan barang barang Aska.
"Minum apa kalian?" tanya Aska.
"Gak perlu repot-repot kak," jawab Kinan.
"Iya gak perlu repot-repot" sahut Rafael. Zai langsung nyelonong cari dapur.
"ABANG IPAR, DAPUR DIMANA?" teriak Zai.
"Lo baru pertama kali kesini apa gimana gblok?" tanya Zia yang baru turun.
"Gue lupa" Zai cengengesan.
"Belok kanan, lurus terus" aba aba Zia. Zai langsung pergi ke dapur. Sedangkan Zia bergabung dengan yang lain.
Saat Zia datang, Aska mencium keningnya lalu pergi menuju kamar.
"Kebiasaan, banyak jones nih. Termasuk reader" kata Zia. Aska malah tertawa lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
"Kalian balik diantar sopir aja ya nanti" ujar Zia sambil memakan cemilannya. Mereka berada di ruang keluarga.
"Gak usah lah Zi. Ngerepotin banget ah" balas Rafael.
"Gak usah sok segen" balas Zia. Rafael menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayok balik ke apartemen abang" ajak Rafael.
"Loh kek cepet banget" keluh Aska.
"Tau tuh, belom nonton film" kata Zia.
"Besok kerja bos, harus kuat nih" jawab Rafael.
"Ya udah iya" balas Aska.
"Eh si Zai ngapain di dapur?" tanya Aska.
"Ntah tuh, eh iya. Kalian laper gak? Biar dimasakin" kata Zia.
"Kagak mau" jawab Rafael dan Kinan bersamaan.
"Ya udah deh." jawab Zia.
"Hm.. kami pulang ya" pamit Rafael.
"Eh mau kemana?" tanya Zai.
"Lama kali lo curutt. Dari mana?" tanya Aska.
"Nyasar" jawab Zai cengengesan.
__ADS_1
"Adek gue gobl*k banget ya Allah" keluh Zia. Mereka tertawa.
"Gue juga mau balik deh" pinta Zai. Aska pergi mencari kunci.
"Nah bawa mobil ini, anterin rap sama Kinan sekalian" suruh Aska sambil menyodorkan kunci mobil.
"Yang mana ini? Putih, biru, silver, atau item?" tanya Zai.
"Biru" jawab Aska.
"Yahuuuuuuuuuu... Baik banget lo abang ipar. Gue bawak ngampus ya besok" pinta Zai.
"Eh fucekboy," cela Zia.
"Diem lu kak" suruh Zai.
"Yaudah sana" suruh Aska. Mereka pun keluar dari rumah. Zia dan Aska mengikuti.
Zai membuka garasi rumah Aska. Memencet tombol otomatis mobil Aska.
"Beneran biru njr, gue kira bohongan" kata Zai. Zai langsung menuju ke mobilnya. Dia terhenti saat melihat sebelahnya.
"Bang? Baru lagi???" tanya Zai saat melihat mobil berwarna kuning disebelahnya.
"Iya kenapa?" tanya Aska santai.
"Lamborghini Huracan Performante" ujar Zai kagum.
"Abang iparmu gila Zai. Demennya sama mobil." ledek Zia sambil bersidekap dada.
"Heleh helehh, mobil itu koleksi. Aku mah demennya sama kamu doang" goda Aska.
"Banyak cingcong" balas Zia. Mereka semua tertawa. Tiba tiba Zai berada dihadapan mereka.
"Hati hati, awas aja kalau sampe lecet gue putusin pala lu" ancam Aska.
"Aman bang" balas Zai. Kinan dan Rafael pun masuk mobil.
"Bang kapan kapan pinjem yang kuning" bisik Zai sambil cengengesan. Dia pun pergi meninggalkan rumah Aska.
★★
Keesokan paginya, Aska sudah keren dengan setelan ala bos. Zia sedang memasangkan Aska dasi waktu itu. Aska memandangnya terus menerus.
"Selesai" kata Zia. Aska mengecup kening Zia. Zia tersenyum.
"Ayok sarapan" ajak Zia. Mereka pun bergandengan menuju ruang makan.
"Eh sayang, sekertaris aku di Asz group gak ada. Kamu mau gantiin?" tanya Aska.
"Emmmm, nggak mau" jawab Zia.
"Loh kok gak mau?" tanya Aska.
"Ayolah, biar kita bisa berduaan terus gitu" rengek Aska.
"Ya udah iya, nanti aku datengnya nyusul" kata Zia.
"Ya udah, mas crush kamu pergi dulu" Zia menyalimi tangan Aska. Aska mengecup kening Zia. Zia mengecup kedua pipi Aska.
"Hati hati" kata Zia. Aska mengangguk lalu pergi. Dia menggunakan mobil sportnya yang baru.
~-
Sesampainya di kantor, Aska mendapat sambutan yang baik.
"Wes boss ku, welcome back" sapa Rafael.
"Kagak usah alay lu rap ah." balas Aska.
"Ada meeting gak?" tanya Aska.
"Ntar siang" jawab Rafael.
"Tau gitu gue kelonan dirumah" balas Aska sambil membuka jasnya.
Toktoktok...
"Nah ini sekretaris baru lo."
"Loh? Kok ada? Gue ngajak bini malah" balas Aska, dia sudah duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Masuk" teriak Aska. Masuk seorang gadis berpakaian kurang baha yang menampakkan belahannya. Aska mengalihkan pandangannya.
"Siapa? Ada apa dan kenapa?" tanya Aska.
"Saya sekretaris baru bapak" jawabnya yakin. Aska mendongak. Rafael pun juga.
"Loh kok ini?" tanya Rafael.
"Lindi? Ngapain lo disini?!" tanya Aska sedikit membentak.
"Cari kerja, kenapa?" tanya Lindi.
"Gak ada lowongan disini, silahkan angkat kaki," suruh Aska. Lindi malah mengangkat satu kakinya. Aska menekan tombol.
"Pak, kenapa ada orang gila di ruangan saya? Bawa keluar" suruh Aska lalu melepas tombolnya.
"Apa apaan? Kenapa aku dikatain orang gila. Aku kan mau jadi sekretaris kamu" kata Lindi.
"Gue ada yang lain, sana pergi" suruh Aska. Lindi tetap disitu.
"Apa ini, mana satpam gak datang datang" tanya Aska.
Drrtt... Drtt..
Ponsel Rafael berbunyi.
📞 Ada orang gila didepan pak. Saya tidak bisa keatas.
Satpam tidak satu! > Rafael langsung mematikan teleponnya.
"Kenapa hari ini pada gila? Hari gila apa?" tanya Rafael.
"Lo ngapain masih disini? Pergi" suruh Rafael.
"Ogah" balasnya.
"Lo kan pengusaha juga! Kenapa malah cari kerja, bangkrut?" tanya Aska. Lindi mengangguk pelan. Aska diam dan tidak memperdulikannya lagi.
Ceklek..
"Mas crushhhh" teriak Zia. Zia langsung memeluk Aska.
"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Aska panik.
"Di depan ada bian tadi. Kamu tau? Wah... Bener bener, dia itu aneh" balas Zia.
"Kamu gak apa apa kan?" tanya Aska.
"Gak apa apa, satpamnya jagain" jawab Zia melepas pelukannya.
"Nanti temenin aku beli makan flupy ya" pinta Zia. Aska mengangguk sambil mengelus pipi Zia.
"Flupy masih hidup? Kok gak nampak kemaren?" tanya Rafael.
"Flupy dikamar, olahraga" jawab Zia. Zia menoleh dan melihat Lindi.
"Dia kenapa disini?" tanya Zia.
"Katanya sekretaris baru. Tapi aku tolak kok, kan ada kamu" Aska duduk lalu menarik Zia. Zia duduk dipangkuan Aska. Aska meletakkan dagunya di pundak Zia.
"Jadi.. sekretaris nya aku atau dia?" tanya Zia.
"Kamu" jawab Aska cepat.
"Yakin?" tanya Zia.
"Yakin" jawab Aska tegas.
"Gemessh deh" Zia memegang pipi Aska.
"Eh lo kenapa belom keluar? Sana keluar" suruh Aska. Lindi pun keluar dengan muka songongnya.
"Enak pak bos cuci mata?!" tanya Zia pada Aska setelah Lindi pergi.
"Apaan sih" tanya Aska.
"Bos tadi mandangin terus Zi. Beneran" kata Rafael.
"Rap, gue putusin pala lu ntar" ancem Aska. Rafael tertawa lalu pergi.
"Ya udah lepasin. Ini dikantor pak" pinta Zia.
__ADS_1
"Nggak mau ah" balas Aska.
"Profesional dong sayang. Aku ke meja sekretaris dulu oke" Zia mengecup pipi Aska lalu pergi ke mejanya.