Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Teror berlanjut


__ADS_3

Keesokan harinya, jam sudah menunjukkan waktu istirahat dan sekarang Zia dan teman temannya sedang dikantin.


"Aska mana sih? Akhir akhir ini gue gak pernah liat?" tanya Zia, seketika semua teman temannya menegang.


"Aska? Hm askaa.." jawab Ivan terhenti


"Aska kemana? Gue pengen ketemu dong" ujar Zia


"Zia dipanggil kak Bian dilapangan" ujar salah seorang mahasiswi.


"Eh ngapain? Kenapa gak kesini dia?" tanya Zia.


"Gak tau gue, gue duluan ya" jawabnya.


"Oh oke, thanks." kata Zia.


"Gue nemunin kembaran biawak dulu ya" pamit Zia lalu pergi menuju lapangan.


"******.. gimana ini?" tanya Ica, dengan cepat Ivan mengambil hpnya dan menghubungi Aska.


—Bigboskocak—


📞 Aska; assalamualaikum.


Ivan; waalaikumsalam, ka. Gimana ini??


📞 Aska; gimana apanya, Lo ngehamilin Ica?


Ivan; kalau Lo di Indonesia udah gue tabok sumpah


📞 Aska; ya jadi kenapaa? Ngomong yang jelass.


Ivan; Zia nanyain Lo muluu. Kita harus gimana?


📞 Aska; lo pada udah kasih tau?


Ivan; belom sih


📞 Aska; yaudah gausah kasih tau biar gue aja yang bilang, oke assalamualaikum.


"Kampret bener si Aska, pengen gue jotoss" ujar Ivan.


"Sabar bang sabar" kata Dimas.


"Terus ini gimana?" tanya Tania.


"Ahh, udah ntaran aja. Aska bilang jangan dikasih tau" jawab Ivan, mereka pun mengangguk setuju.


›→←‹


"Apaa?" tanya Zia saat tiba dilapangan


"Gue gak bisa ke kantin, Lo aja yang bayar nih uangnya" ujar Bian.


"Tau gitu mending Lo titipin ke orang aja Varo, dari sini ke kantin jauhhhh!" keluh Zia.


"Itung itung olahraga udah sono"


"Iya iyaaaa" jawab Zia lalu pergi meninggalkan Bian.


"Siapa Lo bi?" tanya teman Bian, Wisnu.


"Calon bini." jawab Bian.


"Halu aja terosss" sahut Kris.


"Tunggu aja ntar" balas Bian


"Iya serahloo?!" sahut Kris.


_


Zia sudah kembali dari lapangan sekarang dia sudah dikantin.


"Ngapain?" tanya Tania.


"Bian gak bisa kekantin katanya" jawab Zia sambil meletakkan uang diatas meja.


"Zi, ada yang lo tutupinkan dari kita?" tanya Ica.


"Gak ada" jawab Zia santai sambil memakan makanannya.


"Lo mau nikahkan sama Bian?" tanya Ica, Zia menghentikan tangannya yang ingin memasukkan makanan ke mulutnya.


"Lo tau dari..mana?" tanya Zia.


"Luis?" tanya Zia.


"Bukan Luis. Maaf sebelumnya, gue kemaren kerumah Lo. Dan gue denger Luis lagi cerita tentang teror itu. Gak lama papa Lo bilang, Lo harus dilindungi sama calon suami Lo, Bian" jelas Ica.


"Ma-af gue gak bermaksud buat nutupin itu dari kalian, gue juga gak siap buat nikah cepet cepet." ujar Zia.

__ADS_1


"Kita paham kok, tapi lain kali. Lo bilang sama kita, siapa tau kita bisa bantu" sambung Tania.


"Sekali lagi gue minta maaf," ujar Zia.


"Iya gak masalah kok" jawab mereka bersamaan.


"Kok Lo gak jadi masuk rumah gue ca?" tanya Zia.


"Gue gak mau ngerusak acara keluarga Lo" jawab Ica, Zia hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


"Gue mohon tutup mulut ya kalian" pinta Zia. Mereka hanya mengangguk.


"Luis mana?" tanya Ica


"Uks" jawab Dimas


"Sakit perut katanya," lanjut Dimas


"Bisa sakit ternyata dia?" tanya Ivan


"Ya bisalah egee" jawab Zia mereka pun berbincang seperti biasa dengan candaan disela selanya.


Dari kejauhan Hany mendengar semuanya.


"Lo mau nikah sama Bian? Gak bisa Zia gak bisa" ujar Hany. Dia pun pergi meninggalkan lokasinya. Dia berjalan menuju kelasnya dan mengambil kotak yang sudah lama disimpannya. Dia menyuruh junior untuk meletakkan kotak itu di motor sportnya Zia. Junior itu melakukan yang diperintah Hany, karena Hany membayarnya.


______


Kelas sudah berakhir, Zia beserta kelima temannya pulang bersama. Zia berjalan menuju parkiran dan saat tiba diparkiran dia melihat sebuah kotak.


"Apa itu?" tanya Luis yang kini sudah keluar dari UKS.


"I don't know" jawab Zia.


"Coba lo buka deh Zi" suruh Ica. Zia pun membuka kotak itu. Setelah dibukanya, Zia berteriak dan menjauh dari kotak. Luis yang melihat isinya langsung memeluk Zia dan Zia menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Luis. Teriakan Zia membuat beberapa mahasiswa lainnya terkejut.


"Woi buang woi!!" Suruh Luis


"Ini mainan coy, liat bukan asli" sahut Dimas.


"Mainan ataupun nggak sama aja itu ulat. Lo padakan tau Zia phobia sama tu hewan" jawab Ivan, Dimas pun beranjak ingin membuang kotak itu, tetapi terhenti karena Tania.


"Mas bentar, ada sesuatu kertas terselip disitu" pinta Tania, Dimas pun meletak kembali kotak itu. Sedangkan Zia masih saja memeluk Luis. Ica mengambil kertas itu dan membacanya.


"JAUHIN BIAN KALAU LO GAK MAU MATI" baca Ica.


"Eh kenapa ini? Zia kenapaa?" tanya Bian yang baru tiba bersama dengan Kris.


"Isinya apaan?" tanya Kris.


"Ulat mainan" jawab Dimas.


"Terus zianya kenapa gitu?" tanya Bian


"Gimana sih, Lo calon suaminya masa gak tau? Zia itu phobia sama ulat!!" Jawab Ica kasar.


"Kalian tau dari mana?" tanya Bian


"Tau apa?" Tanya Ivan.


"Zia calon istri gue?" tanya Bian.


"Gue gak sengaja denger pas mau masuk kerumah Zia, disitu lagi ngomongin teror dan gue denger bokapnya Zia bilang kalau Zia ada apa apa harus ngelapor ke Lo yang notabenenya bakal jadi suami Zia" jelas Ica. Kris terkejut mendengar jawaban Ica. 'jadi beneran yang dikatain Bian tadi?' tanya Kris dalam hati.


"Dan sekarang gue yakin bukan cuma kita yang tau, tapi si peneror Zia udah tau hal ini" lanjut Ivan.


"Maksud kalian?" tanya Bian.


"Lo baca kertas ini!" suruh Ica sambil mengasih kertas tadi.


"Ja-jadi ini gara gara gue?" tanya Bian.


"I don't know" jawab Ica.


"Kris?" panggil Bian


"Hany!" jawab Kris.


"Hany! Pasti dia gak mungkin yang lain." jawab Kris.


"Darimana dia tau kalau Bian mau nikah sama Zia sedangkan Lo aja gak tau" tanya Dimas


"Dia bisa nyuruh orang buat nyari tau semuanya" jawab Kris


"Gak mungkin Hany, masa iya Hany?" tanya Bian.


"Zia are you oke?" tanya Luis pada Zia yang masih dipelukannya.


"Zia gemetaran ini bgst!! Kalau gue ketemu orangnya liat ajaa bakal gue habisi tu orang!!!" ancam Luis


"Zi.. Zia" panggil Ica pelan. Perlahan Zia melepaskan pelukannya. Dan berbalik menatap temannya dengan tubuhnya yang masih gemetaran.

__ADS_1


"Zi, muka Lo pucet bangett" ujar Dimas. Gak lama setelah Dimas berkata seperti itu Zia pingsan, dan untung saja ada Luis dibelakangnya yang siap menopang tubuhnya.


"Ayok ke UKS" ajak Kris. Luis pun menggendong Zia dan membawanya ke UKS.


Dari kejauhan ada Hany yang tertawa puas melihat Zia menderita.


Dan disisi lain ada seorang pria yang memberitahukan ini pada Zeco, dia orang suruhan Zeco untuk memberitau semua hal yang terjadi pada Zia.


••


Saat di UKS.


"Ini asli Zia yang cerewet pingsan gara gara ulat mainan?" tanya Kris, semua orang menatap tajam padanya, terutama Luis dan Ivan.


"Eh astaga, apa salah gue?" tanya Kris. Mereka semua pun kembali menatap cemas Zia dan mengabaikan pertanyaan Kris. 10 menit kemudian Zia terbangun dari pingsannya.


"Gue dimana?" tanya Zia.


"Akhirnya Lo bangun jugaa" ujar Luis lega.


"Lo di UKS kampus" jawab Ica.


"Gue kenapa?" tanya Zia.


"Lo pingsan tadi" jawab Tania.


"Are you oke Zia?" tanya Luis, Ivan, dan Bian secara bersamaan.


"Hm, im fine. Gue mau pulang" pinta Zia.


"Naik mobil gue aja ya" tawar Luis.


"Terus motor kesayangan gue gimana?" tanya Zia.


"Gue udah gak kenapa kenapa kok, santai aja kalian" jawab Zia. Mereka pun menghela nafas bersamaan, sedangkan Zia tertawa melihat mereka.


"Malah ketawa, kita khawatir sama Lo Zii" sahut Dimas.


"Kalian lucu hehe. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Gue baik baik aja nih" ujar Zia lalu beranjak keluar dari UKS. Mereka semua menatap Zia.


"Ayok pulang, masih mau disitu kalian?" tanya Zia. Mereka pun mengikuti Zia. Saat tiba diparkiran ada kotak yang berbeda lagi.


"Gue aja yang buka" ujar Ivan.


"Ica tahan Zia. Tutup matanya" suruh Ivan, Ica pun melakukan apa yang disuruh Ivan. Ivan membuka kotak itu dan isinya ulat asli berukuran lumayan besar dan sudah terpotong badannya, dan jumlahnya bukan cuman satu, ada kertas yang terkena kotoran ulat itu, Ivan mengambilnya setelah itu berjalan membuang ulat di kotak itu.


"Sama?" tanya Luis.


"Iya" jawab Ivan singkat.


"Is, siapaa sihh iniii?!" tanya Ica kesal.


"Kertas apaan itu van?" tanya Kris.


"Gak tau" jawab Ivan. Ivan membukanya dan membacanya tanpa suara. Dia menarik kerah baju Bian dengan kasar.


"Ini gara gara lo brengsek!!" bentak Ivan pada Bian.


"Gue?" tanya Bian. Ivan mengacak rambutnya dan memberikan kertas itu pada Bian dan dirampas Kris.


"JANGAN DEKETIN BIAN ATAU TEROR INI AKAN TERUS BERLANJUT!" Kata Kris membaca isi kertas.


"Itu dari fans Lo pasti." Ujar Dimas.


"Zi, mending Lo pindah kampus aja deh" suruh Tania.


"Hah? Ogah! Peneror itu cuma pengecut yang gak berani menampakkan dirinya. Gue gak takut sama itu orang. Tapi kalau teror dia isinya ginian, lebih baik guee.." ujar Zia menjeda ucapannya.


"Lebih baik apaan?" tanya Mereka bersamaan.


"Lebih baik gue pulang," jawab Zia sambil cengengesan.


"Asli ni orang, kita serius kan ya. Lagian dia yang di teror. Bisa pula dia sesantuy ini" protes Kris.


"Kak Kris, Varo, Luis, Ivan, Ica, Tania, Dimas. Kalian santai aja, teroran dia masih sampe disini ja.."


"Masih sampe disini? Lo udah pingsan Zia. Oh astagaa" ujar Luis memotong ucapan Zia. Zia menuju Luis dan memeluknya. Kemudian dia melepaskannya.


"Kalian jangan khawatir, nanti gue bakal nyuruh beberapa orang buat nyelidikin ini semua," ujar Zia sambil tersenyum manis bahkan sangat manis.


"Kita bunuh orangnya sama sama" ujar Ica dan Tania berbarengan sambil memeluk Zia. Kris ingin bergabung memeluk Zia tetapi terhenti.


"Mau gabung pelukan, gue lempar lo ke kandang buaya" ancam Bian.


"Sinis amat bang" ledek Dimas, semua tertawa mendengarnya.


"Okee udah kann, gue mau pulang mau istirahat." pamit Zia.


"Lo harus dirumah beberapa hari ini! Jangan pergi ke kafe jangan ke haz...." Mulut Ivan dibekap Zia, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Gue gak bisa untuk itu. Semuanya tanggung jawab gue" ujar Zia lalu tersenyum, dia beralih menaiki motornya, memegang helmnya lalu berkata;

__ADS_1


"Jangan khawatir pelakunya pasti bakal ketemu" ujar Zia, kemudian dia memakai helmnya dan pergi meninggalkan kampus.


__ADS_2