
Pagi hari nya..
Zia telah tiba di Jerman, Lee menyuruh mereka untuk kerumah besar sebentar. Tetapi karena tidak sabar, seluruh keluarga zia langsung menuju rumah sakit. Dan ternyata mereka semua dibuat terkejut dengan keadaan Luis dan Grossvaternya baik baik saja. Terlebih lagi semua keluarganya tersenyum bahagia.
"Wah wah.. apa apaan ini kak? Kami semua panik, kenapa kalian hanya tersenyum?" tanya Zeco pada Lee. Dia terlihat sangat kesal.
"Pa? Papa baik baik aja bukan? Kamu Luis, baik baik aja kan?" tanya Zeco.
"Aku baik baik saja Zeco"
"Luis baik baik aja kok om"
"Lalu kenapa kau menelpon ku dengan nada ketakutan seperti itu kak?" tanya Zeco menatap sinis Lee.
"Ikuti aku" ajak Lee,mereka semua mengikutinya menuju ruangan bayi.
"Eh kenapa disini?" tanya Zia. Mereka melihat bayi sedang tertidur yang mirip dengan Lee dan Yossie, tertulis disitu namanya.
"Frandelucas Hitler?" tanya Zia.
"Adik baru aku" ujar Luis sambil merangkul Zia.
"Hah??" tanya mereka terkejut.
"Gak ada yang bisa jadi pesaing kamu, kamu yang tercantik" ujar Lee pada Zia. Semua masih terheran karena saat pesta kemarin mereka tidak melihat Yossie sedang mengandung.
"Ini keponakan baru mu Zeco!"
"Papa?!" tanya Zeco pada Tuan Besar Hitler.
"Cucu laki laki papa yang kesekian" jawabnya sambil tersenyum.
"Dimana kak Yossie?" tanya Zeva.
"Diruangannya bersama mama" jawab Lee
"Wah wah, Onkel kamprettt!!! Liat mata Zia!" suruh Zia.
"Kok jadi sipit?" tanya Lee.
"Ulah onkel. Zia nangis kemaren takut kenapa kenapaa. Zia ninggalin Prom Night. Zia...-" keluhannya terhenti saat ada telepon masuk.
*Zia; hm ada apa?
📞 Ivan; Lo kenapa? Semua baik baik ajakan?
Zia; hm. paman gue ngeselin.
📞 Ivan; kenapa? Apa yang terjadi?
Zia; Biniknya lahiran. Gue udah nangis kemaren. Gue kira kenapa kenapa.
📞 Ivan; (tertawa)
Zia; ngapa Lo nelpon.
__ADS_1
📞 Ivan; hm, gak ada sih. Dimas udah jadian tau sama Tania.
Zia; wah wah wah. Lo sama Ica juga?
📞 Ivan; gue sama Ica belom sih.
Zia; gue kira udah.
📞 Ivan; yaudah gue matiin dulu, gue cuma mau nanya doang. gue kira ada apaan.
Zia; yaudah iya, byee.*
Zia langsung mematikan teleponnya, dan ingin memarahi onkelnya yang luar biasa membuatnya kesal.
"Gara gara onkel nih, Zia gak tau breaking news terkini di SMA. Zia lagi...-" hpnya berbunyi lagi.
"Duhh apaan sih, gangguin gue aja" ujar Zia, semua yang melihatnya tertawa.
"Cucu perempuanku yang paling cantik" gumam Tuan besar Hitler.
*Zia; apaan?
📞 Ica; wah wah, nyantuy donggg
Zia; lagi kesel gue tuuu, (menarik nafas dan tersenyum)
Zia; iya ada apa icakku
📞 Ica; eeh apaan sih iye kagakk
📞 Ica; ada manusia rusuh ini tadi, Lo dimana?
Zia; RS Jerman.
📞 Ica; siapa yang sakit?
Zia; emak Luis abis berojol. Gue dikerjain noh sama bokapnya, gue kira kenapa. Gue panik banget waktu itu.
📞 Ica; eh?
Zia; au ah, kesel gue sumpah. (Melirik tajam ke arah onkelnya, yang lain hanya tertawa.)
Zia; lu sama Ivan ngapain nelpon gue? abis jadian juga?
📞 Ica; kagakkk, gue rindu sama Lo. Yaudah gue matiin bye (sambungan terputus).*
"Gila semua kawan gue, heran liatnya" gumamnya. Ketika dia mau ngomel lagi, tapi mamanya duluan yang bicara.
"Ayok liat tante kalian!" Semua pun mengikutinya.
Di Indonesia.
Semua temannya sedang mengumpul di kafe sebelum berangkatnya Aska ke Amerika.
"Gak tega gue mau bilang sama Zia kalau lo mau ke Amerika" ujar Ivan.
__ADS_1
"Udah, gak kenapa kenapa." Ica mengambil teleponnya dan menelpon Zia.
"Jangan Lo bilang! Jangan Lo bilang!" suruh Aska.
"Eehhh apaan sih iyee kagakk!" jawab Ica.
"Pengen gue geplak ni anak" sahut Dimas.
"Gue jadiin sate Lo ntar" bela Ivan
"Waw waw waw, tanda tanda etaa" balas Jimmy.
"Lo berdua kapan ke Swiss?" tanya Ivan pada Jimmy dan Alya.
"Tanggal 31 Februari" jawab Alya santai. Semua orang pun berfikir.
"Tanggal 31 gak ada ogeb, pacar lu emang ngajak baku hantam" balas Qiara.
"Eh iya gue lupa kaga ada ye" jawab Alya sambil cengengesan.
"Gak lama lagi kami berangkat" jawab Jimmy.
"Van, ca, dim, tan" panggil Aska.
"Apa?" jawab mereka bersamaan.
"Kalian kuliah di kampus mana?" tanyanya.
"Big Bang University" jawab mereka bersamaan lagi.
"Ceilehhh, sok kompakk!" sahut Samuel. Mereka semua tertawa
"Pesawat Lo jam berapa?" tanya Tania
"Siang maybe, bodo amatlah. Bokap gue yang urus" jawab Aska.
"Aska, kita tau lo gak mau ke Amerika. Tapi apapun itu, bokap nyokap Lo pasti punya alasan untuk nganter Lo kesana. Semua itu pasti buat Lo ka." kata Qiara.
"Iya, nyonya Alexand" balas Aska sambil tersenyum.
"Sejak kapan?" tanya Alya.
"Apanya?" tanya mereka.
"Sejak kapan lo punya lesung pipi?" tanya Alya.
"Mata lo pada aja burem. Udah lama kali" jawab Ivan.
"Baru liat gue" sambung Tania.
"Udah berisik Lo pada, gue tau gue ganteng" kata Aska sambil membuang muka.
"Kepdan amat ini manusia" sahut Qiara.
"Dari lahir udah kepdan kalian aja baru nyadar" sahut Ivan dengan wajah tanpa dosa, Aska meliriknya tajam. Semua temannya pun tertawa karena mereka.
__ADS_1