
"Udah tiga puluh menit Zia ke toilet, kenapa gak balik balik?!" tanya Dimas. Luis sudah berfikiran negatif karena perasaannya juga begitu. Dia mengambil laptopnya, dengan cepat dia melacak keberadaan Zia.
"Aduhh ahh! Ini kenapa susah banget?!!" ujar Luis kesal.
"Cari pelan pelan ege, jangan emosi. Lo gak bakal nemu kalau emosi gitu" suruh Ivan. Luis pun mencoba untuk rileks.
"Oke ketemu" ujar Luis.
"Dimana?!" tanya Ica.
"Gudang belakang kampus" jawab Luis
"Bjirr, itu jauh anying sumpah" sahut Kris.
"Ngapain tu anak disana?" tanya Tania. Luis meletakkan kembali laptopnya kedalam tas, mengambil ponselnya lalu berlari tak menentu. Mereka mengikuti Luis.
—BangZezo—
Luis; Gawat!! Zia ngilang. Gue lacak, dia di gudang belakang kampus. Sesuai perkataan gue kemarin. Cepat gak pake lama !! (Memutuskan panggilannya)
"Luis, Lo salah jalan!! Gudang gak lewat sini!!" ujar Kris
"Lah iya?" tanya Luis sambil ngos-ngosan.
"Tunjuin cepat, keburu kita telat!" suruh Luis, Kris pun menunjukkan jalan menuju gudang.
Di tempat lain.
"Ayok om, buruan!" ajak Zean
"Lah iya sabar Zeco!" jawab Mahen.
"Saya Zean om bukan Zeco"
"Itu lah pokoknya, ayok!!" ajak Mahen lalu mereka pergi ke Big Bang University.
"Kamu tau darimana saya pemilik kampus itu?" tanya Mahen saat dalam mobil.
"Di kasih tau Luis om, Luis jago nyari gituan. Sebelas dua belas sama Zia" jawab Zean.
"Emang ada apa? Kenapa kita harus ke kampus?" tanya Mahen lagi.
"Ya allah, om. Calon mantu om lagi dibully dikampus" jawab Zean.
"Hah? Yang bener kamu? Pak, lebih laju ya!" suruh Mahen pada sopirnya.
Sesampainya di sana, semua heboh karena kedatangan Zean yang seperti pangeran.
'Iss, ganteng banget.'
'CEO ThsHz kan? Duh ngapa ganteng sekali diaa'
'Oh iya, dia CEO ThsHz. Ngapain dia ke kampus?'
'Cariin gue pasti dia'
__ADS_1
'Pd amat lu kampret, jelas jelas cariin gue'
'Gak usah pada kegeeran deh! Dia itu dah punya istri, mo jadi pelakor kalian?'
'Yah, sakit hati gue'
'ALAYY!!'
kata para mahasiswi jelalatan.
Karena keributan itu dekan keluar.
"Tuan Radatt ada apa?!" tanya Dekan.
"Tunjuin saya gudang belakang kampus!" suruh Mahen tegas.
"Untuk apa ya p—"
"Jangan banyak tanya, cepat!" suruh Mahen
Dekan masih kebingungan, tetapi dia tetap menunjukkan jalan menuju gudang. Di perjalanan mereka melihat Zia yang di gendong dalam keadaan pingsan, bajunya basah dan koyak tetapi sudah di tutupi oleh bajunya Luis. Rambutnya juga sudah tidak beraturan karena dipotong asal asalan.
"ADEK GUE ASTAGAA" teriak Zean.
"Adek?!" beo mahasiswa mahasiswi lain, mereka itu tau kalau Zean adalah CEO ThsHz.
Zean tidak memperdulikan mereka, yang terpenting baginya adalah Zia. Dengan cepat Luis menggendong Zia menuju UKS. Sesampainya di UKS, Zean mengambil ponselnya dan menghubungi Febby, menyuruhnya untuk memeriksa sekaligus membawakan baju untuk Zia.
"Siapa pelakunya?!" tanya Zean.
Zean pun pergi, karena tidak tau jalannya dia meminta salah satu mahasiswa untuk menunjukkan jalannya. Sesampainya di gudang belakang, Zean melihat dua wanita yang diikat dan dijaga oleh Ivan dan kawan kawannya.
"Anak tuan Hitler?!!" ujar Gisell.
"Apa?! Lo kaget?!" tanya Zean.
"Van, bawa ke lapangan kampus Lo! Ikat di tiang bendera, kita permalukan dia seperti dia permaluin Zia!" suruh Zean.
"Oke bang" jawab Ivan, mereka pun membawa Gisell dan Hany menuju lapangan.
~
Sedangkan di UKS, ada Luis, Ica, Tania, Dekan dan Mahendradatta.
"Zia... Zia bangun. Hey! Bangun Ziaa!!!" suruh Luis.
"Zi bangun zi, harusnya kita temenin Lo kan tadi." ujar Ica.
"Zia ayolah, bangun!" sahut Tania. Setelahnya masuklah Zean bersama Febby.
"Astaga, Zia. Gimana bisaa?!!" tanya Febby terkejut. 5 menit kemudian Zia tersadar. Dia melihat keramaian di ruangan serba putih.
"Zia dimana?" tanyanya.
"Akhirnya" pekik Luis dan yang lain.
__ADS_1
"Syukurlah, akhirnya kamu bangun" sahut Febby.
"Zia kenapa kak?" tanya Zia lagi
"Ini ganti baju kamu ya, keburu kamu masuk angin" suruh Febby tanpa menjawab pertanyaan Zia. Zia menuruti perkataan Febby dan berganti baju. Setelah selesai, Zia melihat ruangan itu sepi, dan dilapangan ramai. Zia menghampiri lapangan dengan sedikit oleng seperti orang mabuk.
"Bang Zean?! Om Mahen?!" ujar Zia saat tiba di lapangan. Zean menghampiri adeknya.
"Lo ada yang sakit?!" tanya Zean.
"Enggak" jawab Zia.
"Kalian ngapain di kampus?" tanya Zia, tetapi mereka menghiraukan pertanyaan Zia.
"Kenapa bisa ada pembullyan di kampus ini?! BAGAIMANA BISA?!!" tanya Mahen tegas dan penuh emosi.
"Saya minta maaf tuan, saya tidak tau mengenai hal ini" ujar dekan.
"Dan kalian berdua. Kalian gak tau dia siapa?! Kalian semua gak tau dia siapa?!" tanya Mahen lagi, semua menjawab tidak. Saat Mahen mau berkata Zia berteriak.
"Om Mahen!!!!" teriak Zia..
"Kenapa?! Gak usah disembunyikan lagi. Lo udah kayak gini. Kalau terus ditutupin dua jala*g ini bakal terus ngincer Lo!!" sarkas Luis.
"Sebenarnya Zia siapa?" tanya para mahasiswa mahasiswi.
"Mungkin selama ini kalian kira, Zia bener bener simpenan om om. Tapi asal kalian tau, Zia adalah Putri tunggal kesayangan keluarga Hitler. Yang punya perusahaan bercabang dan memiliki perusahaan it tersukses" jelas Zean. Zia menepuk jidatnya karena perkataan abangnya. Sedangkan mahasiswa mahasiswi lainnya terkejut termasuk Hany dan Gisell.
"Busettt" ujar mereka terkejut.
"Gisella Isya, kamu baru berapa hari masuk sudah berulah?!" Peringatan Dekan, Gisell dan Hany hanya diam, Widya yang melihat Hany menatap dengan tatapan iba.
~
"Lo sebenarnya kenapa bisa kek gini? Kenapa Lo jadi gak tau apapun waktu bangun?" tanya Zean saat disamping Zia.
"Gue tadi pergi ketoilet sendirian, setelah itu pas waktu mau gabung sama yang lain, dia muncul" jawab Zia menunjuk Gisell dan Hany. Dengan isengnya Hany menunjukkan senjatanya, membuat Zia berteriak dan memeluk Zean.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Zia.
"Kenapa?" tanya Luis. Zean mengikuti pandangan Zia sebelumnya.
"Mau gue patahin tangan Lo? Buang itu cepat!!" suruh Zean. Hany menyembunyikan kembali.
"Udah gak ada, lanjutlah" suruh Zean.
"Setelah itu mereka muncul nunjukin gue kotak isinya penuh sama ulat, gue kan phobia, jadi gue pingsan. Setelah itu gue gak tau apa apa udah di UKS aja malah, kepala gue nyut nyutan berasa rambut gue ditarekin" lanjut Zia.
"Kepala Lo emang ditarikin, dijambak sama mereka. Baju Lo di guntingin, rambut Lo di potong suka suka ati mereka. Tau gitu bagus gue ikut sama Lo ke toilet" sahut Luis
"Gila Lo ya?! Ya kali Lo ngikutin gue ke toilet" balas Zia.
"Malah bertengkar" kata Febby sambil menepuk jidatnya.
"Eh eh eh,, itu tangan Zia berdarah lagi" ujar Tania.
__ADS_1
"Kok gak bilang?!! Ayok ke UKS" tarik paksa Luis. Zia pun hanya diam dan mengikuti Luis.