Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Balapann??


__ADS_3

"Zia nginep di apartemen yaa" izin Zia pada mama papanya. Kedua orang tuanya pun hanya mengangguk setuju.


Zia dan Luis pun berangkat menuju kafe tetapi bukan kafenya Zia. Zia dan Luis mengendarai mobil yang berbeda, Luis sudah tau tempat menuju ke kafe itu, dan dia sudah berada jauh didepan mobil Zia. Saat Zia membawa mobilnya, ada sebuah mobil disampingnya yang mengkode untuk berbalapan. Zia pun mengikuti kemauan si pemilik. Terjadilah balapan diantara mereka. Tiba tiba saja, mobil pemilik itu menyerempet mobil Zia, dan meninggalkan goresan disana. Zia yang marah menghadang mobil itu, kebetulan keadaan disana sudah sepi, dan ternyata Zia sudah sampai didepan kafe. Karena para temannya duduk di dekat dinding berlapis kaca, jadi mereka bisa melihatnya. Mereka pun keluar melihat Zia.


"Keluar!!"suruh Zia. Si pemilik mobil itupun keluar dengan songongnya. Membuat Zia berdecak kesal. Zia terkejut melihat si pemilik mobil adalah manusia yang selalu ditemuinya.


"Varoo?!" panggil Zia. Teman temannya pun menghampiri Zia.


"Kenapa zi?" tanya Luis, Zia menunjuk mobilnya yang tergores.


"Astaga" ujar Tania, Ica dan Dimas bersamaan.


"Ya maap gue gak sengaja," pinta Bian.


"Ck. Lo sih pake nantanginn!!!" kata Zia kesal.


"Terus gue harus gimana biar Lo gak se kesel itu sama gue?" tanya Bian


"Gue tantang Lo balapan!" seru Zia, semua temannya terkejut.


"Zia" panggil Dimas dan Luis bersamaan


"Zi—a" panggil Ica dan Tania juga bersamaan


"Ciciii" panggil Ivan.


"Santuy mas mas" suruh Zia sambil cengengesan.


"Balapan? Nggak deh nggak, takut gue ntar om Zeco ngamuk" tolak Bian.


"Ngapain Lo nanya cara bikin gue gak kesel, kalau giniii yang ada gue tambah kesell!!!!! Lagian tadi Lo duluan yang ngajakinnn." kata Zia semakin kesal.


"Oke oke terserah, kalau gue menang gimana?" tanya Bian.


"Terserah lo"


"Oke, kalau gue menang. Lo jadi pacar gue" tantang Bian, Zia mengangakan mulutnya. Teman temannya juga terkejut.


"Jangan gila lo Varo! Gak ada yang lain apa?" tanya Zia.


"Lah lo tadi nantangin"


"Yang ada gue cuma Lo jadiin babu buat ngusir fans fans Lo!" jawab Zia.


"Oke deh gue terima! Tapi kalau gue menang mobil Lo buat gu—, eh gajadi lah. Taruhan ini tu NAMANYAA" kata Zia lagi.


"Dih emang aneh banget ni anak" protes Dimas.


"Gini aja, gini aja. Kalau gue menang Lo tunangan sama gue. Kalau gue kalah Lo jadi pacar gue" ujar Bian.


"Ok— Eh, ogahhh!!!!!" Tolak Zia.


"Gak waras ni anak" cibir Zia.


"Gini aja deh, kalau Lo menang sesuai sama yang Lo bilang tadi. Nah, kalau gue yang menang. Lo obatin mobil gue sampe sembuhh, dannnn...." Zia menjeda ucapannya


"Dan apa?" tanya mereka bersamaan.


"Penasaran yaaa" ledek Zia lalu tertawa.


"Sumpah, gilanya udah kumatt!" Ledek Dimas.

__ADS_1


"Dan, Lo bayarin kita ber.. enam makan di kampus selama sebulan gimana?" tanya Zia sambil tersenyum.


"Hah??" tanya mereka bersamaan.


"Jadi pacarnya Zia Amanda itu gak gampang broo." Ujar Zia


"Oke okee, gue terima."


"Eh tunggu, jangan Lo kira kita berenam misquen ya, itukan cuma tantangann!" suruh Zia


"Iya ribet amat dah" protes Bian.


"Terus mau dimana kalian balapan?" tanya Dimas.


"Ci, ntar lu kenapa kenapa gimana?" tanya Ivan.


"Nyantuy nyantuyyy! Kalau mati ya ajal. Udah takdirr" jawab Zia.


"Ini ngomong gak pernah dipikir emang, heran gue" ujar Luis sambil mendorong jidat Zia.


"Sakit ege," cibir Zia.


"Zia lu yakin?" tanya Ica


"Ntar kalau Lo gak ada di bumi gimana?" tanya Tania gantian.


"Ntar kalau gak ada lo gak ada lagi manusia yang narsis di hidup gue selain gue" lanjut Tania.


"Ntar gak ada lagi yang doyan bacot gimana?" tanya Ica.


"Ck. Emang kalian gak bisa hidup tanpa gue" ujar Zia kepdan.


"Yaudahlahhh balepan aja Lo sonoo!" Suruh Ica.


"Okee" jawab Zia.


"Kamprett" protes Ica, Zia tertawa mendengarnya. Bian kagum melihat pertemanan mereka yang luar biasa tanpa drama.


"Jadi tuan Bian Varo Mahendra, dimana kita akan memulai?" tanya Zia.


"Arena balapan tempat gue biasa gimana?" tanya Bian.


"Oke terserah, jangan lu setting apapun ya! Jangan main curang! Gue kubur idup idup ntar Lo kalau licik!" Cibir Zia.


"Hahaha, iya iya. Gue orangnya adil kok, gak main licik" jawab Bian.


"Yaudah ayok kesana" ajak Bian, mereka semua pun pergi menuju ke arena balapan tempat biasa Bian berlaga.


_


_


30 menit kemudian mereka pun sampai disana. Zia dan Bian sudah bersiap dimobil masing masing.


"Jangan lupa sama perjanjian ya kak" ujar Zia.


"Mobil gue sampe sembuhhh!" lanjutnya.


"Iya bawel amat sih princess kecil"


"Gue tabok deh lu setelah ini" ancam Zia, Bian hanya tertawa. Dimas memberikan aba aba, untuk mereka memulai pertempuran itu. Aksi saling salip menyalip pun terjadi diantara Zia dan Bian. Sampai pada akhirnya Zia lah yang menang. Zia tersenyum senang dan keluar dari mobilnya dengan gembira. Seketika kegembiraannya sirna karena wajah teman-temannya.

__ADS_1


"Lo Zia bukan?" tanya Dimas.


"Bukan, saya jin" jawab Zia berpura pura. Zia pun menyentil jidat Dimas.


"Gue Zia begee! Temen sendiri lupaa" protes Zia.


"Sejak kapan lo jago ginian?" tanya Luis.


"Eh iya, sejak kapan ya?"


"Lo padahal baru pertama ke sini kan?" tanya Bian.


"Iya, is kalian kok gitu sih? gak seruuu" protes Zia, sambil cemberut. 'Makin imut aja ni bocah' batin Bian.


"Iya iya, kita minta maap, kita kaget kok lu bisa Jago ginian??" sahut Ivan.


"Congratulation may besplenkuuuu" ujar taniaaa sambil memeluk zia, ica pun ikut ikutan. Terjadilah pelukan seperti di Teletubbies.


"Kayak gak jumpa 5 tahun" protes Dimas.


"Mulut lo pengen gue sumpelin protesss Mulu dari tadii." sahut Zia. Mereka kemudian tertawa bersama.


"Varoo?!" panggil Zia.


"Sembuhin mobil gue sampe kembaaaaali seperti semula okee" pinta Zia sambil tersenyum manis. 'diabetes gue mandangin Lo zi' batin Bian.


"Dan jangan lupa satu bulan" lanjut Zia lagi.


"Oke oke fine." jawab Bian, Zia tersenyum puas mendengarnya.


"Zi Lo baik baik aja kan?" tanya Ica.


"Iye, kaga lecet gue mah, sehat wal afiat" jawab Zia.


"Syukurlah, yaudah kalau gitu, ipaann anterin gue pulang" pinta Ica.


"Ivan ca ivann, bukan ipannn" keluh Ivan.


"Ye sama aja, ayok pulang" ajak Ica lagi.


"Hahaha, ayok kita pulang. Besok kita bakalan nerima teraktiran dari holang kayaa" ujar Zia.


"Eh tunggu, uang halal ya. Lo kasih kita makan pake uang haram gue jeburin Lo ke kolam buaya" lanjutnya.


"Iya iya, cerewet amat sih!" ujar Bian.


"Wah gak ikhlas, dalah mending gausahhh!" ujar Zia. Bian merasa kesal karena Zia, dia mencoba menghilangkan rasa kesalnya dan mencoba tersenyum manis yang jarang diperlihatkan pada orang lain.


"Gue ikhlas kok," ujar Bian masih tersenyum.


"Oke gud, yaudah gue mau pulang dulu. Gudbay" pamit Zia. Semua temannya termasuk Luis sudah duluan meninggalkannya. Setelah pamit, dia pun masuk ke mobilnya, saat dia mau jalan Bian menghadangnya.


"Lo mau mati?" tanya Zia.


"Tadi katanya mau diobatin, gimana sih?" tanya Bian.


"Terus gue pulang naik apaan? Luis sama yang lain udah pulang" tanya Zia.


"Lo bawa mobil lo dan ikutin gue, ntar gue anterin Lo pulang" jawab Bian.


"Oke terserah" jawab Zia. Sesuai perkataan Bian tadi, dia mengikuti mobilnya Bian yang menuju bengkel langganannya. Kemudian dia mengantarkan Zia pulang kerumahnya.

__ADS_1


__ADS_2