
Warning!!
Chapter ini mengandung bawang :v
Saat Zia dikamar, Zai masuk dan langsung memeluk Zia. Matanya memerah.
"Kenapa Lo?" tanya Zia.
"Gue khawatir sama Lo, gue takut kehilangan Lo. Kali ini gue bener bener takut kehilangan Lo, bukan karena amanat dari papa atau apapun itu, gue bener bener takut" ujar Zai.
"Gue gak apa apa dek" jawab Zia.
"Jangan nangis gitu ih, kayak cewek" pinta Zia setelah melepaskan pelukannya.
"Awas aja Lo ya buat gue khawatir lagi!!" suruh Zai. Zia tertawa kecil.
"Iya iya nggak," jawab Zia.
"Janji?"
"Iya janji!" jawab Zia.
"Yaudah.. Gue keluar dulu" pamit Zai.
"Iyaa, jangan nangis"
"Iyaaaaa" jawab Zai lalu keluar, Zia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Tiba tiba ponselnya berbunyi.
—Ivan laki Icak—
Ivan; jadi ikut?
Zia; jadii
Ivan; di izini?
Zia; iyaa
Ivan; pergi sama siapa?
Zia; Luis.
Ivan; jangan lama lama, gue sama yang lain duluan.
Zia; oke tihati.
Ivan; iya Assalamualaikum
Zia; Waalaikumsalam (memutuskan panggilannya)
Zia pun bersiap siap, saat dia mau keluar kamarnya Luis mau mengetuk pintunya.
"Gue udah selesai, ayok berangkat" ajak Zia. Luis menggenggam erat tangan Zia. Lalu mereka turun.
"Eh Om sama Tante masih disini, Zia pergi dulu ya" pamit Zia lalu menyalimi tangan mereka.
"Hati hati ya Zia" ujar Lita.
"Iya tante" jawab Zia.
"Jangan macem-macem, kalau ada apa apa telepon papa. Jangan jauh jauh dari Luis, ngerti kamu?" tanya Zeco.
"Iya papa" jawab Zia.
"Assalamualaikum" ujar Zia lalu keluar.
—-—
"Gue ke supermarket itu dulu bentar" tunjuk Luis.
__ADS_1
"Mau beli apaan?" tanya Zia.
"Aqua, gue haus, lupa minum tadi." ujar Luis, mobilnya pun sudah berhenti didepan supermarket.
"Lo mau coklat?" tanya Luis.
"Mau mau mau" jawab Zia.
"Ya udah tunggu disini, jangan keluar!" suruh Luis, Zia mengangguk. Luis pun turun dari mobilnya. Karena panas Zia turun dari mobil Luis. Bukan sebuah kebetulan, melainkan memang sebuah rencana. Gisell dan Hany ada disampingnya.
"Hai" sapa Hany
"Eh? Hai" jawab Zia santai.
"Jijik gue liat muka Lo yang sok polos" ujar Gisell.
"Kagak usah diliat! Susah amat hidup Lo" balas Zia.
"Sialan lo!" ujar Gisell menarik tasnya Zia.
"Eh jangan jingan!!!" bentak Zia. Gisell membuka tasnya Zia mengambil handphone Zia, dan mencampakkan tasnya Zia.
"Dih Lo mau ngapain si Gisell? Gue salah apa sama Lo hah?!" tanya Zia.
"Salah Lo banyak, Lo yang udah buat Abang gue masuk penjara!!" jawab Gisell.
"Eh besok kalau udah masuk kuliah lagi di luar negeri. Belajar yang bener!! Masa yang salah dibela, ****** apa gimana Lo?" sahut Zia.
"Banyak bacot Lo!" balas Gisell, kemudian dia melempar hp Zia ke jalan aspal.
"Ahhhhh hp gueee" teriak Zia. Zia melihat sekeliling ternyata jalanannya sepi. Jadi Zia berniat mengambil hpnya yang berada di tengah tengah jalan beraspal itu.
"Sialan lo Gisell" umpat Zia. Saat dia ingin kembali ke mobil ternyata ada mobil yang melaju sangat kencang. Zia tidak menyadari hal itu, dia tetap saja berjalan. Pemilik mobil pun sepertinya tidak melihat ke arah jalan.
Brukkkkkk ..
Zia tertabrak, dia melayang, kemudian terbanting dan terpental. Darah bercucuran dimana mana. Zia masih membuka matanya dan melihat dengan jelas plat mobil yang sudah menabraknya, dan sempat memfotokannya sebelum hpnya mati, hpnya dia genggam erat erat. Mobil itu terus saja berjalan tidak memperdulikan Zia yang tertabrak. Gisell dan Hany tertawa puas, lalu pergi.
"B-bang Abi" panggil Zia.
'apa yang akan terjadi setelah ini? apa aku bisa melihat dunia kembali? apa aku bisa melihat papa, mama dan yang lain? apa aku masih bisa tertawa lepas dengan teman temanku? ini salahku karena tidak mematuhi mu Luis, kuharap kau tidak menyalahkan dirimu sendiri untuk tragedi ini. Zai maaf,, aku telah melanggar janjiku. bang Abi, aku berterimakasih karena kau telah menolong ku. papa, mama dan yang lain, jangan tangisi aku jika aku pergi, selamat tinggal du-nia' lirih Zia pelan sambil melihat Abi yang berlari, setelah itu dia tak sadarkan diri. Abi menghampiri Zia yang sudah tidak sadarkan diri dan menggendongnya.
Gak lama kemudian Luis keluar dari supermarket dan melihat Zia yang bercucuran darah di gendongan Abizar.
"Ba... Bang Abi, Zia kenapaa?!" tanya Luis panik.
"Zia korban tabrak lari. Ayok cepat ke rumah sakit!!!!!" ajak Abizar. Dengan cepat Luis membawa mobilnya menuju rumah sakit. Air matanya mengalir tanpa disuruh. Ponsel Luis pun berbunyi.
—Aska—
Luis; ha-halo apaa?
Aska; Zia mana? Gue mimpi buruk, gue mimpi Zia korban tabrak lari. Bilang sama gue Zia baik baik aja kan?
Luis; mimpi Lo nyata ka nyataa
Aska; ma- maksud Lo apa??
Luis; nanti gue cerita, gue lagi dijalan menuju RS. (memutuskan panggilannya)
"Zia dek, Lo kuat, bertahan yaa abang mohonn!!" pinta Abizar.
Ponsel Luis pun berbunyi lagi.
—Ivan—
Ivan; Lo dimana?
Luis; Zia... Zia kecelakaan, korban tabrak lari. Gue mau ke RS. Susul!
Ivan; APAAA?!
__ADS_1
Luis; (Memutuskan panggilannya)
"Zia bertahan gue mohon Zi!!" pinta Luis. 5 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.
"SUSTER DOKTER!! CEPATT TOLONG! WOI JANGAN BUDEK KALIANNN!!!" teriak Luis. Tim medis pun muncul dan membantu membawa Zia menuju UGD. Luis dan Abizar meneteskan air mata. Baju Abizar penuh dengan darah.
"Luis, telepon om Zeco" suruh Abizar, Luis pun mengambil ponselnya dan menghubungi Zeco.
—OmZeco—
Luis; Om (terisak-isak)
Zeco; Luis ada apa? Kenapa?
Luis; Zia Om, Zia kecelakaan. Korban tabrak lari.
Zeco; APAA?!!! KAMU DIMANA SEKARANG?
Luis; RS biasa om.
Zeco; Om kesana (memutuskan panggilannya)
"Gue harap Zia gak apa apa, Zia kuat Zia pasti bisa" ujar Abizar.
"Ini salah gue bang, salah gue. Om Zeco yang kasih amanat ke gue jaga Zia hari ini. Tapi Zia malah kayak ginii" sahut Luis sambil menangis sesenggukan.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Luis! Zia kuat Zia pasti bisa ngelewatin ini semua." balas Abizar.
———
Disisi lain.
"Ada apa? Kenapa Ze?" tanya Hans.
"Papa mama, Febby yang lain cepat bersiap kita harus kerumah sakit!!" teriak Zeco. Mereka semua turun.
"Kenapa? Siapa yang sakit?" tanya Lionard.
"Zia kecelakaan, korban tabrak lari." jawab Zeco dengan keringat sudah membanjiri mukanya, dan seluruh tubuhnya bergetar.
"APA?" teriak mereka semua bersamaan. Termasuk Hans, Mahen dan istrinya.
"Sudah, lebih baik kita cepat pergi" saran Hans. Mereka pun pergi menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Luis dan teman teman Zia yang lain. Zeco mengelus kepala Luis yang menangis tanpa suara sambil menunduk. Luis mendongak, tangisnya pun makin parah ketika melihat Zeco.
"Maaf... Maafin Luis om, Luis... Luis bukan sepupu yang baik untuk Ziaa, Luis... gak bisa jagain Ziaa" ujar Luis sambil menangis.
"Jangan salahkan dirimu Luis" balas Zeco, dia juga sedikit meneteskan air mata.
"Luis.. Luis minta maaf om" sahut Luis lagi. Gak lama kemudian dokter keluar. Mereka menghampiri dokter itu.
"Nona Zia mengalami benturan yang sangat keras, otak kecilnya cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi. Cedera berat yang dialaminya mengakibatkan nona Zia koma" jelas dokter.
"Ko- koma? Koma dok? Anak saya koma?" tanya Zeva. Dokter mengangguk angguk.
"Nona Zia juga sedang kekurangan darah, tapi persediaan darah dengan golongannya nona Zia sudah habis" lanjut dokter.
"Ambil darah saya dokter" ujar Luis, Zeco, Zean, dan Hans bersamaan.
"Saya bingung memilih yang mana, golongan darah nona Zia adalah O" kata dokter itu lagi.
"Darah saya saja dok" ujar mereka berempat lagi secara bersamaan.
"Yasudah, kita cek satu persatu." tawar dokternya.
"Mari ikut saya pak" ajak susternya, mereka pun mengikuti suster.
Jangan lupa like, koment dan vote 🤩
'Ini bukan akhir dari segalanya:)'
__ADS_1