
"Bian Varo Mahendra" ujar lelaki itu menoleh dan menjulurkan tangannya. Bian yang tadinya dingin, entah kenapa saat bertemu Zia sikap dinginnya menghilang.
"Ehh.. Zia Amanda Hitler" balas Zia tersenyum sangat manis dan membalas uluran tangan Bian.
"Papa sama om Mahen kesana sebentar ya nak, kamu temenin Bian disini" suruh papanya.
"Pa, tapi.." kata zia
"Tiada tapi tapian oke." Sahut Zeco kemudian mereka meninggalkan Zia dan Bian dimeja itu. Tidak ada percakapan, aura cuek dan dingin dari bian melemah. Dia pun akhirnya buka suara.
"Lo kelas berapa?" tanya Bian
"3 SMA" jawab Zia, dia sibuk memainkan hpnya.
"Lanjut kuliah di Jerman?" tanya Bian lagi.
"Nggak, saya mau kuliah di Indonesia" jawab Zia
"Oo.. di universitas mana?"
"Belom tau, kalau anda?" tanya Zia.
"Bisa gak jangan pake bahasa Formal gitu?" tanya Bian.
"Aura cuek yang anda pancarkan membuat saya berhati hati dengan perkataan saya" jawab Zia jujur.
"Benarkah?"
"Iya anda begitu dingin" jawab Zia sambil terus memainkan hpnya.
"Kalau gitu saya hilangin aura ini, jangan gunakan bahasa formal, dan tatap saya saat berbicara, saya tidak suka jika lawan bicara saya sibuk dengan urusannya sendiri." suruh Bian
"Nyuruh gue gak formal dia ikutan formal," gumam Zia terdengar oleh Bian. Zia meletakkan hpnya dan melihat Bian.
"Lo liat apaan dihp?" Tanya Bian
"Liat apapun yang gak buat gue bosen" jawab Zia.
"Lo tau siapa gue?"
"Ya.. Lo anak tuan Mahendradatta rekan bisnis bokap gue" sahut Zia.
"Bukan, bukan itu."
"Lalu?"
"Gue kenal sama lo. Cewek yang pernah nendang temen gue sewaktu SMA." jelas Bian.
"Lo orangnya atau Lo temennya?"
"Gue temennya" jawab Bian
"Gue tau lo cerdas, pinter dan lo cucu perempuan satu satunya di keluarga Hitler." jawab Bian lagi.
"Lo stalker?" tanya Zia sambil menyipitkan matanya.
"Bukanlah! Gue tau lo, lo tau gue?" tanya Bian.
"Kan gue udah jawab tadi. Lagian gue gak nyuruh lo buat tau tentang gue" jawab Zia.
"Lo benar benar gak kenal sama gue?" tanya Bian lagi
"Ziaaa" panggil Ica
"Eh, lo pada mau kemana?"
__ADS_1
"Kak Bian" sapa Tania, Bian senyum sekilas lalu kembali cuek.
"Mamp*s gue, gue ikut balik aja ya. Ini manusia serem bjirr" bisik Zia pada temannya
"Lo tau itu siapa?" bisik Tania
"Anak rekan bisnis bokap gue"
"Lah gobl*k udh ah, gue balik dulu! Selamat menikmati"
"Tan.. tania. Gue tunggu besok lo dikelas" kata Zia dengan suara agak keras karena temannya sudah sedikit menjauh.
"Besok Minggu" sahut Bian, Zia menepuk jidatnya. Dia lupa kalau hari ini hari Sabtu.
"Lo kenapa ikut keluarga lo disini?" tanya Zia.
"Sebelum itu, Lo tau gak siapa gue?"
"Gue gak tau Bian. Yang gue tau lo anak om Mahen!"
"Gue pengusaha muda yang memiliki banyak perusahaan baik dalam dan luar negeri" jelas Bian
"Lalu?" tanya Zia cuek, membuat Bian terkejut.
"Teman Lo kenal sama gue kenapa Lo nggak?"
"Gue sibuk. Gue banyak kerjaan. Kepoin orang dan menjadi stalker cuma ngabis ngabisin waktu gue dan gak ada untungnya di gue" jawab Zia.
"Good" sahut Bian. Zia melihat dengan heran.
"Apaa kita dijodohkan?" tanya Zia
"Gue gak tau" jawab Bian
"Lo punya pacar?" tanya Bian lagi
"Jadi Lo gak pernah pacaran sekalipun?"
"Gak, kenapa?"
"Serius?"
"Lo pikir gue bohong? Gue gak kayak lo Bian yang setiap saat ganti kekasih."
"Gue juga gak pernah pacaran." jawab Bian
"Semua cowok emang selalu bilang kayak gitu."
"Orang yang lo suka ada?" tanya Bian
"Gak ada" jawab Zia.
"Orang yang suka sama lo?"
"Banyak ,dan berserak" ujar Zia sombong. Bian hanya tertawa kecil.
"Lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo datang di pernikahan Abang gue?" tanya Zia
"Gue diajak bokap gue, katanya biar dia tau siapa rekan bisnisnya yang paling dekat dengannya" jelas Bian Zia hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O
"Ahh.. mereka sedang apa? Mengapa lama sekali."
"Kenapa? Lo gak suka semeja sama gue"
"Bukan gitu, gue udah capek. Pengen balik, acaranya gak selesai selesai." Keluh Zia.
__ADS_1
"Ikuti aku" ajak Bian dan menarik tangan Zia. Zia hanya mengikuti. Zia dibawa menuju parkiran.
"Kenapa kesini? Gimana kalau mereka nyariin?" tanya Zia.
"Nanti gue yang ngasih tau, Lo bilang Lo capek, tidur aja dimobil gue. Gue gak bakal ngapa ngapain Lo." suruh Bian.
"Awas aja Lo nodain gue. Lo taukan sikap gue" tanya Zia Bian hanya mengangguk. Karena lelah Zia benar² tidur di mobil Bian. Dengan kegugupan Bian menggeser posisi Zia agar nyaman, merapikan rambutnya yang berserakan. 'cantik' batin Bian. Hpnya berbunyi, telepon dari papanya.
"Hm ada apa?" tanya Bian
"Kau dimana? Bersama Zia atau tidak?" tanya Mahen khawatir.
"Aku diparkiran, Zia bilang dia kelelahan menunggu kalian terlalu lama, aku mengajaknya kedalam mobil dan membiarkan dia istirahat." Jelas Bian
"Antarkan saja Zia pulang nak Bian. Kamu tau rumah omkan?" tanya Zeco, telponnya berpindah ke Zeco.
"Baiklah Bian akan mengantarkan Zia om. Bian tau" jawab Bian. Bian tau rumah Zia karena dia pernah kesana, tetapi saat itu Zia sedang tidak dirumah.
"Om percayakan Zia padamu. Om tutup, hati hati" ujar Zeco dan mematikan teleponnya. Bian menyetir mobilnya dan mengantar Zia kerumahnya.
Di perjalanan hp Zia terus berbunyi. Bian mengambilnya dan membukanya ternyata tidak menggunakan pin ataupun pola di hpnya.
"Ceroboh, bagaimana bisa dia tidak memberikan keamanan di hpnya" ujar Bian. Dia membuka chat dari teman Zia.
Gibah yahuttt TAQIZ✨🖤
Taniaput: @Ziamanda nyonya Zia yang terhormat kemana kecerdasan andaaa.
Alyakyut: @Taniaput Najisun, Lo ngapa ngegas gitu ******?
Qiarasan: Recok kalian.
Taniaput: Kasian Zia. Kak Bian bener² cuek. Aura dinginnya bikin gue merinding. Tapi dia ganteng bingit.
Alisyaica: Udah malem manusia tidur gak usah gosip woi tololllllll
Alyakyut: @Alisyaica adek kamu harus sopan.
Alisyaica: Bacot ah kak, tidur Lo Sono, gue bilangin bokap ntar.
Alyakyut: Foto (foto mereka bersebalahan)
Alyakyut: Lihatlah betapa tololllnya dia, dia disebelah gue padahal.
Qiarasan: Tidur tidur woi besok mulung!!
Taniaput: Lo aja gue gak minat @Qiarasan.
Taniaput: Ehh?! Zia nyimak tau, kenapa dia gak ngebalas. Atau jangan²..
Alisyaica: Jangan² apa aputt?
Taniaput: Jangan² hpnya dipegang kak Bian, mamp*s gue. Mon maap kak Bian.
Ziamanda: Foto (Muka bian)
Alyakyut: Astaga Bener, mangfus
Taniaput: Mon maap lahir batin kak Bian.
Ziamanda: Saya maafkan, jangan bilang Zia hal ini oke. Saya tau kamu fans saya, simpan saja foto saya, saya ikhlas.
Qiarasan: Kenapa kadar kepdannya melonjak?
Bian meletakkan hp Zia. Dan lanjut menyetir.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Zia, Bian menggendongnya karena tidak tega membangunkan Zia yang tidur sangat tenang. Dia masuk dan bertemu dengan pembantu yang menunjukkan kamar Zia.
"Gantikan bajunya ya bi, saya pulang dulu" ujar Bian lalu pergi.