Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Tertypuu


__ADS_3

Di sisi lain


"Aaaaaaaaa"


"Sstt"


Seorang wanita dibekap mulutnya dengan tangan lalu dibawa masuk ke dalam mobil hitam.


"Tangan bau ikan asin asal pegang aja" protesnya.


"Anjim. Makhluk dari mana lagi ini" dia terkejut setelah melihat seorang pria yang sedang menghisap rokok di sebelahnya.


"Lo siapa?!" tanya wanita itu.


"Gak perlu takut sama gue. Gue orang baik. Btw, lo baru bangkrut kan?"


"Darimana lo tau"


"Gue tau segalanya. Gue juga tau kenapa lo bisa bangkrut"


"Gue tau siapa pelakunya. But, gue gak punya apapun buat ngelawan"


Pria disebelahnya mengeluarkan kartu nama.


"Kita punya satu tujuan. Hubungi gue kalau lo mau kerjasama" wanita ini menatapnya heran. Dan sang pria menatap luar jendela sambil terus menghisap rokoknya.


"Lo pikirin aja dulu baik baik. Lo mau diem aja jadi orang bodoh atau--"


"Gue gak perlu berpikir lagi" pria ini menatapnya heran.


"Kita kerjasama"


______________


"Maamaaaa.. Zai pergi dulu jumpa calon istrii" teriak Zai yang baru menuruni tangga.


"Ehh tungguuu" ujar mamanya menatap Zai.


"Kenapa ma?" tanya Zai, Zai menatap mamanya.


"Nggak jadi" mamanya kembali menonton televisi.


"M-- huh sabar Zai" Zai mengelus dadanya.


"Yaudah, Zai pergi dulu" Zai menyalami tangan mamanya.


"Woi sodara ondel-ondel" sapa Luis.


"Sodara ondel-ondel? Aaa.. berarti lo ondel-ondelnya" jawab Zai.


"Kampret" Zai tertawa.


Luis menghampiri Mama Zeva lalu menyalami tangannya. Setelah itu dia menghampiri Zai yang berjalan menuju pintu keluar.


"Kenapa? Eh, kok lo disini sih? Bukannya di Jerman?" Tanya Zai.


"Gue ngurusin perusahaan papa yang di Indonesia" jawab Luis.


"Itu? Kakak sepupu ipar?"


"Dirumah"


"Lo ngapain disini?"


"Konsultasi sama om Ze" jawab Luis.


"Terus lu sekarang mau kemana?" Luis menatapnya sinis.


"Nanya mulu, wartawan lo. Hah?!" tanya Luis sinis.


Zai tertawa melihat kesinisan sepupunya itu. "Sans bang"


"Lo mau kemana?" tanya Luis.


"Jemput Kinan, ada kelas siang dia. Kenapa?" tanya Zai balik.


"Lo kapan nikahnya si?"


"Gue gaprak juga lo ya!!" Luis tertawa.


"Sabar kek. Pernikahan itu sakral" jawab Zai.


"Gausah sok bijak deh plis" Zai gantian tertawa. Luis menuju mobilnya.


"Njib mobil baruu" ujar Zai.


"Yaiya dong" balas Luis sombong sambil senyum pepsodent.


"Dih dih dih" Luis tertawa.


"Zia dirumahnya kan?" tanya Luis.

__ADS_1


"Nggak. Dia di Padang"


"Serius jingan"


"Serius biba" jawab Zai.


"Nginep dimana mereka?"


"Lo mau nyusul?"


"Mungkin. Lo mau ikut?"


"Maulah, eh tapi gak jadi deh lo aja bang"


"Yaudah yaudah, gue juga besok besok aja deh" Luis masuk ke mobilnya lalu pergi.


"Njib? Gitu doang? Ck. Parah" protes Zai. Dia juga masuk ke mobilnya.


"Gara gara bang Lulu nih gue telat" Zai pergi menjemput masa depan.


ร—ร—ร—ร—


"Mas udah selesai skripsi?" tanya Kinan saat di jalan menuju kampus.


"Udah, tinggal sidang" jawab Zai santai. Kinan mengangguk.


"Kenapa? Gak mau ditinggal ya" goda Zai.


"Pede amat sii" Zai tertawa.


Cittt....


Mobil mereka berhenti mendadak, karena dihadang.


"Mas jangan keluar ya. Jangan yaa, nanti mas kenapa kenapa gimana?" tanya Kinan panik ketika melihat yang menghadang mereka keluar dengan pakaian serba hitam.


Zai mengelus tangan Kinan mengecupnya, lalu menarik kepala Kinan mengecup keningnya.


"Gak bakal terjadi apa apa" kata Zai.


"Di sini aja. Jangan keluar. Kunci otomatis setelah mas keluar. Oke?" Kinan mengangguk.


Zai keluar.


"Ada perlu apa?" tanya Zai. Tanpa menjawab, satu orang langsung meninju wajahnya. Kinan menjerit di dalam mobil lalu merunduk.


Zai yang terjatuh bangkit lagi sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. "Mau lo apa sih?!"


Dia mengode temannya. Pria di depan Zai meninju wajah Zai lagi. "Sialan!!"


Zai bangkit untuk yang kedua kalinya. Dia menendang perut pria didepannya. Baku hantam pun terjadi.


Tiba tiba, pria yang menyerangnya itu pergi begitu saja setelah mendengarkan sesuatu dari earpiecenya. "Ahh sialann!" Zai mengejarnya. Namun berhenti.


Dia berbalik menuju mobil menghampiri Kinan. Kinan melihat Zai langsung membukakan pintu lalu memeluk Zai. Zai membalas pelukannya.


"Gak apa apaa udah" Kinan melepas pelukannya. Menatap wajah Zai. Dia mengambil P3K dari belakang mobil kemudian mengobati luka Zai.


Zai diobati sambil melajukan kembali mobilnya. "Untung calon istri mas dokter" satu tangan Zai mengelus rambut Kinan.


"Siapa orang tadi mas?" tanya Kinan.


"Mas gak tau. Dijawab malah ninju, setelah mas lawan beberapa menit dia kabur gitu aja" jelas Zai.


Drtttt... Drtt...


Hp Kinan bunyi.


"Siapa?" tanya Zai.


"Kak Luis" jawab Kinan.


"Loud speaker" Kinan mengangguk lalu mengangkat panggilannya.


๐Ÿ“ž "Ki- Kinan?"


"Lo kenapaa?!" tanya Zai.


๐Ÿ“ž "Lo ke- kemana aja sialan?!"


Zai berhenti mendadak.


"Kemana apanya? Gue dihadang tadi. Lo kenapaa?!"


๐Ÿ“ž "Balik kerumah utama sekarang. Om sama Tante dalam bahaya. Gue ceritain nanti"


Zai memutar balik mobilnya, mengemudikan dengan cepat.


"Ada apa?? Kenapa sih?!"


Luis tidak menjawab malah mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu gimana?" tanya Zai.


"Ikut sama mas" jawab Kinan.


"Serius?" Kinan mengangguk. Zai melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata rata.


-----


Zai sampai. Dia langsung membuka pintu.


"Zai.." panggil Luis dari dapur. Zai menghampiri Luis. Luis terlihat banyak luka di wajahnya, tangannya tergores pisau.


"Lo kenapa?" tanya Zai. Luis mengisyaratkan Zai untuk mendekat. Luis membisikkan sesuatu.


"Kinan, obati bang Luis" Kinan mengangguk. Zai berlari menuju lantai atas. Semua berantakan. Dia menuju ruang kerja papanya.


Sebelum ke ruang kerja papanya, dia mengambil pistol dari kamar rahasia kemudian menyelipkannya di balik baju.


Zai masuk dengan tergesa-gesa. Dia menendang pintu saat masuk. Terlihat ruang berantakan karena diobrak-abrik. Mama papanya diikat dan mulutnya di selotip.


"Woi?!!" bentak Zai.


"Wah, cepat juga lo kesini. Padahal udah ditahan tadi" ujar salah satu preman. Zai tersenyum remeh lalu melemparkan flashdisk.


"Itu yang lo butuhin kan. Sekarang, pergi dari sini!!" suruh Zai.


"Zai!!" panggil papanya. Zai menunjukkan muka rasa bersalahnya pada papanya.


"Ternyata lo yang sembunyikan. Yaudah, gue balik dulu ya" preman itu keluar dan berjalan santai turun pintu.


"Bacot" orang yang terakhir menuruni tangga di tendang Zai. Dia terdorong, teman temannya yang lain juga ikut terdorong.


Ketika mereka ingin membalas, pistol sudah tertodong. Bodyguard Asz utusan Rafael datang dan membawa mereka pergi.


"Thank you bang" ujar Zai.


"Santai, bokap nyokap lo ada yang luka?" tanya Rafael. Zai menggeleng.


"Data yang lo kasih tadi?"


"Aaa.. itu isi flashdisk nya cuman cewek Amerika pake bikini" jawab Zai.


"Jadi Lo???"


"Eh nggak woi, kagak mesum guaa! Itu punya temen gue" kata Zai.


"Ntar temen lo marah tuh mampuss?!"


"Santai gue yang urus" mereka menghampiri Luis.


"Tunggu. Zai mereka siapa?" tanya Rafael yang mulai 'ngeh'.


โˆ†โˆ†โˆ†โˆ†


"Aaaaa, capek" keluh Qiara. Mereka berada di restoran setelah dari Lobang Jepang, dan Pantai Air Manis.


"Lo pada makan apa?" tanya Samuel.


"Lu yang bayar kan" tanya Dimas.


"Ni orang kaya, tapi hematnya NAUDZUBILLAH" cibir Aska.


"Ka, hemat sama pelit itu sebelas dua belas" sahut Ivan. Mereka tertawa.


"Bacot bener. Udah pesen mau apa, gue yang bayar" kata Dimas.


"Tertantang dia" ledek Jimmy.


"Hahahaha" mereka memanggil pelayan lalu memesan makanan dengan menu Rendang.


รท


"Kuy balik, gue capek" ajak Qiara.


"Kalian pulang duluan ya. Gue mau ke toko itu bentar" ujar Aska.


"Terus lu balik naik apa ogeb?" tanya Ivan.


"Gampang, ntar pake taksi online" jawab Aska.


"Yoda ya tiati" jawab mereka.


"Kamu ikut aku atau mereka?" tanya Aska pada Zia.


"Ikut.. mereka aja" jawab Zia.


"Yaudah, jangan bandel" Setelah mengecup kening Zia dia pergi.


..


Ketika Aska sibuk memilih milih sesuatu yang ingin dibelinya, tiba tiba ponselnya berbunyi. Panggilan dari Rafael. Dia mendengarkan penjelasan Rafael. Raut wajah tiba tiba berubah panik.

__ADS_1


"Mampuss gue"


__ADS_2