
"Lo?" Sahut Zia dan Aska bersamaan.
"Kak Zia? Kak Aska?" tanya perempuan itu.
"Kak Shinta, kakak ini tadi nemenin cila. telus dia beliin cila es klim." kata Cila. Perempuan itu adalah Shinta, adik kelasnya dulu, yang berpacaran dengan Eza.
"Wahh, terimakasih kak Zia, kak Aska"
"Yang beliin Aska, bukan gue" jawab Zia sambil tersenyum. Mereka berjalan ke arah kursi taman dan duduk disitu.
"Kok adek Lo bisa ketinggalan?" tanya Zia.
"Terlepas dari genggaman gue kak" jawab Shinta.
"Untung aja ada kakak, kalau gak, gue gak tau lagi Cila bakal gimana" lanjut Shinta.
"Lo punya adek ternyata"
"Adek keponakan kak " jawab Shinta, Zia hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
"Eh sumpret, ngapa diem aja loo?" tanya Zia pada Aska.
"Gak kenapa kenapa" jawab Aska.
"Kak Zia sama kak Aska pacaran?" tanya Shinta hati hati.
"Hah? Eh? Nggak kok" jawab Zia. Didalam hati Aska berkata 'nggak bukan pacar gue shin, tapi istri gue'.
"Lo masih pacaran sama Eza?" tanya Zia
"Hehe iya kak"
"Kuat nahan LDR?"tanya Zia.
"Cerewet banget lu yaa" ledek Aska. Zia hanya cengengesan.
"Kuat kak, lagian kami bisa bertahan sampe sekarang karena sama sama saling percaya kak" jawab Shinta. Aska pun tertegun mendengarnya. Tiba tiba ada pria datang.
"Ayahhhh" panggil Cila lalu berlari memeluk pria itu.
"Kenalin ini Abang gue kak, kak Sigit." Kata Shinta. Sigit pun tersenyum pada mereka.
"Kami pamit dulu ya kak, makasih tadi udah nemenin Cila"
"Eh iya, hati hati" jawab Zia.
"Bye bye kakak ganteng kakak cantik" kata Cila.
"Bye Cila" sahut Zia sambil tersenyum.
"Cute banget ya ampun" ujar Zia setelah Cila pergi.
"Lo mau?"
"Mau apaan? "
"Mau anak cute kayak Cila gitu?"
"Lah?"
"Kalau mau kita buat"
"Askaaa mesum mau gue tampollll?" tanya Zia sambil melihat sinis Aska. Aska hanya tertawa mendengarnya.
"Becanda guee becandaa" sahut Aska.
"Readers tu lagi puasa Aska! Jadi Lo gak boleh ngomong asal ceplos aja!" sahut Zia.
"Maaf readerrs" ujar Aska sambil menyatukan kedua tangannya lalu meletakkannya di dada.
"Pulang kuyy" ajak Zia.
"Yaudah ayok, om Zeco udah rindu sama Lo, yang gak pulang pulang seharian" jawab Aska. Merekapun berjalan menuju mobil Aska, dan pergi menuju rumah Zia.
__ADS_1
"Lah mobil gue?" tanya Zia.
"Tadi udah dijemput sama Luis" jawab Aska
"Serius?"
"Iyaaa mandaa"
"Hehe, ya kali Lo bohong kan"
"Mau makan gak?" tanya Aska.
"Kalau gue gendut gimana?"
"Emang lo bisa gendut hm?"
"Lo gendut itu makin imut malah, tapi gak bakal lah Lo gendut" Zia tertawa mendengarnya. Tak terasa mereka sudah tiba di rumah Zia. Aska membukakan pintu untuk Zia.
"Thanks buat hari ini, gue bahagia banget." saat mereka sama sama diluar mobil.
"Apapun masalah Lo, Lo bisa cerita sama gue. Jangan jadi Zia yang kalem, Lo pasti bisa ngelewatin ini. Mana Zia yang barbar, yang hobinya nendangin gue dulu waktu SMA?" tanya Aska. Zia tertawa mendengarnya.
"Besok mau gue jemput?" tanya Aska. Sepersekian detik dia baru sadar jika Zia sudah di booking sama orang lain, dan orang itu Bian.
"Oh iya ada laki Lo ya, yaudah gue pulang dulu" ujar Aska. Langkah Aska terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Nak Aska? Kenapa gak mampir dulu?" tanya Zeco. Iya! Yang manggil Aska adalah Zeco, papa Zia. Zeco dan Zeva tadinya ingin ke tempat tetangga untuk bersilaturahmi agar tidak dianggap sombong tetapi tidak jadi karena ada tamu. Dan kebetulan Zeva juga mager untuk menggibah di tempat tetangga.
"Zia. Kenapa Askanya gak di ajak masuk?" Tanya Zeva.
"Hah? Eh? Mama papa mau kemana?" Tanya Zia.
"Mau tempat tetangga, biar ga dikatain sombong" jawab mamanya.
"Masuk gih udah malam, Aska mampir dulu yuk" ajak Zeco.
"Tadi katanya mau tempat tetangga gimana sih?" tanya Zia.
"Ayok masuk Aska" tawar Zeva.
"Eh iya tante." jawab Aska lalu mengikuti Zeva dan Zeco. Zia yang membawa boneka berukuran sedang itu juga mengikuti mereka.
"Bujugile, kak sejak kapan lo doyan boneka?" tanya Zai saat mereka masuk.
"Eh ada bang Aska, dah lama gak jumpa" sapa Zai saat melihat Aska. Zia berjalan menuju kamarnya menaruh boneka yang tadi didapatkan Aska. Setelah itu kembali turun bergabung dengan yang lain.
"Aska kamu nginep disini aja ya. Udah malem soalnya" tawar Zeco.
"Mau tidur dimana pa?" tanya Zia.
"Kamar lo" jawab Zai.
"Enak aja, jangan jangan" jawab Zia.
"Dikamar tamu lah Zia, gimana sih kamu?" tanya Zeva.
"Lupa ma khilapp" jawab Zia.
"Eh jadi ngerepotin om, tante. Aska pulang aja deh" kata Aska.
"Eh udah disini aja, besok anterin Zia ke kampus. Dia lebih ceria kalau ada kamu" kata mamanya.
"Yaudah deh tante makasih maaf ngerepotin" ujar Aska. Zeva pun memanggil pelayan untuk menyiapkan kamar tamu yang disebelah kamar Zia untuk Aska.
"Om dan tante yang seharusnya mengatakan itu Aska, makasih kamu udah jagain Zia dari semalam. Dan maaf ngerepotin kamu yang kesusahan ngurusin anak perempuan om yang satu ini" kata Zeco.
"Astaghfirullah papa, tega banget emang" sahut Zia dramatis.
"Bang Zean mana ya om?" tanya Aska.
"Apa nyariin gue?" tanya Zean yang tiba tiba muncul dengan baju tidur.
"Wagilasii, kembaran dugong muncul. Bahaya image gue kalau gini" celetuk Zia.
__ADS_1
"Gak usah sok jaga image biasanya aja gak pernah" balas Luis yang tiba tiba muncul juga.
"Masyaallah, kedua kembaran dugong sudah muncul. Dan satu lagi pasti bakal nyamber" celetuk Zia lagi.
"Satu lagi siapa Zia?" tanya Zeco.
"Dia pa" jawab Zia memejamkan mata sambil menunjuk Zai
"Gue?" tanya Zai.
"Iya Lo jadi siapa lagi?"
"Wah wah wah.. ngajak buku hantam ni anak" sahut Zai.
"Baku hantam ege, ngapa Lo ganti namanyaa?" tanya Luis.
"Lah bang? Udah ganti ya?" tanya Zai.
"Emang gitu dari sananyaaaaaa" sahut Zean.
"Sejak kapan udah ganti?" tanya Zai dengan watados.
"Sejak lahir udah gitu namanya, dih pengen gelut gue jadinya" sahut Zia.
"Kok gue baru tau" tanya Zai lagi.
"Gebukin yok?" ajak Zean. Zai pun bersembunyi di balik papanya.
"Kalian, ada tamu juga. Tetep aja doyan ngebacot" ujar papanya.
"Dia mah bukan tamu pa, anggep aja bagian keluarga" celetuk Zean.
"Zia bacot comeback" seru Zai dan Zean bersamaan.
"Aku tidak peduli" jawab Zia sambil menuju ke kamarnya.
"Hei mau kemana kamu nak?" tanya Zeva.
"Nyari kak ipebb, mau minta bikin kue"
"Udah malem woi!!! Jangan ganggu kakak ipar Lo!!!" teriak Zean.
"Gue gak denger" jawab Zia.
"Adek kampret emang" balas Zean. Mereka tertawa mendengar pertikaian mereka yang isinya penuh candaan.
"Maap maap aja nih bang Aska, dimaklumi aja. Emang mereka tuh pada somplak gitu" kata Zai.
"Ya termasuk lo!!" sahut Luis.
"Bertengkar aja terus kalian. Papa suruh tidur diluar mau?" tanya Zeco. Zia turun membawa tas ransel yang berisi tenda berkemah.
"Eh Lo ngapain nyet?" tanya Zai.
"Papa nyuruh tidur diluar kan tadi, enak tuh sekalian berkemah. Nih buat Lo berdua" ujar Zia santai. Sontak mereka tertawa mendengarnya.
"Gini nih, kalau punya kakak sengklek" sahut Zai.
"Udah udah, udah malem ini. Kalian besok pagi beraktivitas kan?" lerai mamanya.
"Udah sana tidur! Masuk ke kamar masing masing!!" suruh Zeco.
"Ceilah si papa," cibir Zia lalu dia berlari menuju kamarnya.
"SELAMAT MALAMMM!" teriak Zia.
"Ya Allah, kasian tetangga kita. Tidurnya gak nyenyak gara gara itu anak" keluh mamanya. Aska hanya tersenyum melihat tingkah Zia yang abnormal itu.
"Aska, kamar kamu disebelah kamar Zia ya, nanti Zai yang nunjukin. Kamar Zia dan Zai depan depanan." ujar Zeco.
"Iya om" jawab Aska.
"Yaudah kalau gitu. Selamat malam dan mimpi indah" kata Zeco lalu pergi meninggalkan mereka. Mereka pun juga ke kamar mereka untuk menikmati mimpi yang indah.
__ADS_1