
Di sisi lain
"Kalau lo gak bisa sama gue, siapa pun gak bisa sama lo" batin Lindi. Sesampainya didepan pintu utama Lindi melihat pria yang berpenampilan aneh, dia adalah Bian.
"Lo Bian?" tanya Lindi.
"Lo siapa?" tanya Bian.
"Kenalin, gue Lindi Steffia"
"Bian Varo Mahendra"
"Eh, bukannya lo pebisnis muda ya? Sempat ditunangin sama Zia?" tanya Lindi. Bian mengangguk.
"Kita kerja sama, mau?" tanya Lindi.
"Kerja sama apa?" tanya Bian.
"Penampilan lo aneh, lo jadi orang gila, yang bikin Zia takut malah. Ayok ke salon" ajak Lindi sambil menarik tangan Bian. Mereka pun pergi.
-
"Lo waraskan?" tanya Lindi, dia menunggu Bian memangkas rambut di salon.
"Waras lah"
"Terus kenapa kek orang gila?"
"Gue juga bingung kenapa gue kayak orang gila"
"Udah mereng otak lo ya" ledek Lindi lalu dia menunggu di mobil. Bian cengengesan.
★
"Bos, ada pertemuan di kafe ylj jam setengah empat" ajak Rafael. Aska diam, dari tadi pandangannya menuju Zia yang berada di meja kerjanya. 'kalau kerja makin seksi, jadi gemes' batin Aska.
"Woi bos!" panggil Rafael lagi.
"Apaan?" tanya Aska.
"Ah elah lu mah. Udah sering lihat padahal" balas Rafael.
"Gak pernah puas gue. Ciptaan Allah yang paling sempurna bagi gue si Zia." ujar Aska.
"Ah bucin"
"Kenapa tadi?" tanya Aska.
"Pertemuan bos, sama perusahaan tetangga jam setengah empat" jawab Rafael.
"Ini jam?"
"Tiga lewat sepuluh menit" jawab Rafael.
"Ya udah ayok" ajak Aska. Dia pun memakai kembali jasnya lalu menghampiri Zia.
"Ayok ikut pertemuan" Aska mengajak Zia.
"Sekarang?" tanya Zia. Aska mengangguk. Zia pun keluar dari meja kerjanya, lalu menghampiri Aska dan membenahi dasi Aska yang berantakan.
"Rap, emang gini apa gimana sih bos lu? Berantakan kek gini masa?" protes Zia.
"Au ah" balas Rafael.
"Eh tunggu. Kalau pak Aska berantakan kek gini yang pasang dasinya siapa?" tanya Zia.
"Sekretaris lamanya" jawab Rafael.
"Cewek/cowok?"
__ADS_1
"Cewek" jawab Rafael.
"Hahh?!"
"Lu ngajak tempur emang rap" protes Aska. Rafael tertawa.
"Nggak kok, dia gak pernah berantakan kek gitu. Pas ada lu aja, big bos kan carper alias cari perhatian" jelas Rafael.
"Yaudah ayok, nanti kita terlambat" ajak Rafael. Aska menggandeng tangan Zia.
"Profesional pak. Gak boleh gitu" protes Zia. Aska pun melepaskan gandengannya lalu memasukkan tangannya disaku celana.
·—·
30 menit kemudian, mereka tiba disebuah kafe khas Jepang.
Mereka juga sudah memesan private room untuk pertemuan.
"Pertemuan kok sore, malem gitu loh" protes Aska.
"Protes ae cangkemmu. Iseh mendeng kae gelem ketemu karo koe" balas Zia dengan bahasa jawanya yang celemotan.
"Yowes iyoo" balas Aska. Mereka menunggu datangnya tamu itu.
"Ah, sudah datang maaf lama menunggu" ujarnya. Aska, Zia dan Rafael terkejut melihatnya.
"Perkenalkan saya Aksa Rayensyah, senang bertemu dengan anda" ujarnya.
Pria yang mengejutkan Aska, Zia dan Rafael adalah Aksa. Mukanya mirip dan sangat persis dengan Aska. Anehnya! Kenapa namanya serupa dengan nama Aksa abang kembar Aska?
Aska merasa tercekik karena terkejut, dia mengendorkan dasinya.
Zia dan Rafael terkejut. Bahkan sangat sangat terkejut.
"A- Aksa?" tanya Aska. Pria bernama Aksa itu mengangguk.
"Gue mimpi pasti" Rafael berkata. Rafael tau semua tentang Aska, dan keluarganya.
"Kenapa ya? Kok pada terkejut?" tanya nya.
"G- gak mungkin. Ini g- gak mungkin." lirih Aska.
"Oh iya tuan. Perkenalkan, ini istri saya sekaligus sekretaris saya."
"Refiona Patricia" ujar istri Aksa.
"Sa- saya Aska Radiansyah, silahkan duduk" suruh Aska. Mereka berdua pun duduk.
"Sayang, kalian berdua kok mirip banget ya?" tanya Refiona pada Aksa.
"Aku juga gak tau sayang. Namanya aja ketukar gitu. Iyakan tuan Aska?" tanya Aksa. Aska tersenyum kikuk.
"Perkenalkan ini istri saya, dia juga sekertaris saya." Aska menetralisir keterkejutannya.
"Zia Amanda" ujar Zia.
"Ah, nice to meet you" kata Refiona. Zia membalasnya dengan senyuman.
Mereka mulai berbincang seputar pekerjaan. Situasi yang dialami Aska, Zia, dan Rafael masih menjadi tanda tanya dibenak mereka.
Satu setengah jam mereka berbincang. Aksa pun pamit undur diri.
"Terima kasih atas waktu yang sudah diluangkan. Saya senang bertemu dengan pebisnis sukses yang handal seperti anda" kata Aksa.
"Ah.. saya juga mengucapkan terima kasih. Kita bisa berjumpa lagi bukan?" balas Aska.
"Of course" jawab Aksa.
"Kalau begitu saya pamit undur diri" Aksa dan Aska bersalaman. Zia dan Refiona juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Rafael hanya diam.
__ADS_1
Setelah bersaliman mereka berdua pergi. Tapi, Aska, Zia dan Rafael tetap disana dengan kebingungan yang luar biasa.
"Gak mungkin kan? Aku liat sendiri waktu itu kalau Aksa meninggal. Jasadnya juga udah dikuburkan meskipun mengalami kerusakan." ujar Aska. Aska benar benar bingung. Dia bahkan melepas dasinya dan membuka dua kancing bajunya, dia merasa tercekik dengan pertemuan ini.
"Refiona. Aku pernah ketemu dia sebelumnya. Tapi dimana?" Zia masih berfikir keras.
"Nama Aksa emang banyak, tapi kenapa ini sama banget sama kembaran lo. Dan juga.. ini perusahaan KSM group. Kalau dijabarkan bisa aja KSM itu Kusuma" jelas Rafael.
"Gue bingung banget sumpah" balas Zia.
"Ini mimpi?" tanya Aska.
"No, ini nyata" jawab Zia.
"Aska, kematian Aksa karena apa?" tanya Rafael.
"Dia korban pembunuhan" jelas Aska.
"Ditemukan di?" tanya Rafael lagi.
"Ditemukan setelah 3 hari di tepi sungai, dalam keadaan muka mengalami kerusakan" jawab Aska.
"Apa mungkin itu bukan Aksa. Bisa jadi itu orang yang jatuh dan masuk sungai. Sedangkan Aksa yang asli, terselamatkan penduduk setempat." sahut Zia.
"Nah iya bisa jadi" balas Rafael.
"Gak tau gue gak tau" balas Aska mulai pusing.
"Rap, bayar ini. Kita balik" ajak Aska, diapun keluar ruangan diikuti Zia. Sedangkan Rafael pergi membayar tagihan.
"Kenapa sama sama Rayensyah? Dan kenapa KSM?" tanya Aska mereka dijalan pulang.
"Kita perlu atur pertemuan lagi ka. Dirumah lu berdua, atau nggak dirumah tuan besar" ujar Rafael.
"Mami pasti syok pake banget kalau ketemu sama tuan Aksa," sahut Zia.
"Tes DNA"
"Kita butuh itu" ujar Aska.
"Pake rambut lo, rambut dia dan rambut bokap lo" balas Rafael.
"Cara dapetin rambutnya?" tanya Zia.
"Dipertemuan selanjutnya" balas Rafael.
•••
Aska dan Zia tiba dirumah jam setengah sembilan malam, Aska langsung menuju kamarnya dan mengganti bajunya. Dia mencari tau sendiri tentang Aksa.
Beda halnya dengan Zia yang baru saja masuk ke kamarnya. Melihat Aska yang fokus pada komputernya itu. Dia tidak ambil pusing, dan memilih tidur tanpa berganti baju.
Sedangkan Aska, masih mencari-cari tentang Aksa. Tiba tiba dia menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Goldar, tanggal lahir, umur dan segalanya. Sama kayak gue. Apa mungkin dia Aksa? Benar benar Aksa?" tanya Aska kebingungan. Dia mengalihkan pandangannya, sambil memutar kursinya.
"Astaga," Aska terkejut melihat Zia yang tertidur tanpa ganti baju. Aska menghampirinya.
"Maafin aku ya sayang. Aku cuekin kamu" Aska mengecup keningnya lalu membenahi selimut Zia. Dia ingin pergi, tapi Zia menahan tangannya.
"Istirahat dulu, jangan sampe kecapean" Zia berkata dengan matanya yang masih tertutup.
"Aku istirahat nanti ya" balas Aska.
"Ya udah sana," balas Zia. Zia berbalik dan melepas pegangannya.
Tidak kembali ke komputernya, tapi Aska malah tidur di samping Zia.
"Good night sayang" kata Aska sambil mengelus pipi Zia. Zia tersenyum meski matanya tetap tertutup.
__ADS_1