
"Gila si Bian! Luka Lo panjang banget ini" protes Ica sambil mengobati tangan Zia.
"Sepanjang apa sih kuku dia sampe lukanya kek gini?" tanya Dimas.
"Mana gue tau dim" jawab Zia.
"Jangan ngeromet napa pelan pelan kek ca. Sakit ini" keluh Zia.
"Iya iya maap" kata Ica.
"Gak habis fikir gue. Kerasukan apa manusia satu itu" sahut Tania.
Ceklek!
Pintu terbuka, muncullah pria yang mukanya luka, dan sudut bibirnya berdarah. Orang itu adalah Bian Varo Mahendra.
"Apa lagi?" tanya Luis.
"Luis, santai!!" ujar Zia.
"Gue minta maaf, gue gak bermaksud—"
"Mau apa lo narik Zia kayak gitu?" tanya Ivan.
"Siapa cowok yang semalam?" tanya Bian.
"Cowok yang semalem?" tanya Zia.
"Jadi, Lo narik Zia dengan sangat sangat kasar, karena Lo cemburu sama orang yang semalam antar jemput Zia? Lo gak tau siapa dia tapi Lo langsung bersikap kasar sama Zia? ***** banget ya Lo!" sahut Ica.
"Ca, santai ca" suruh Dimas.
"APA? Santai? Gue gak bisa." balas Ica.
"Lo mau tau cowok yang kemaren?" tanya Dimas.
"Siapa orang itu?" tanya Bian.
"Dia temen kita, Aska namanya. Dia juga hadir waktu di pesta bang Ze kemaren. Dia kuliah di Amerika." jawab Zia santai. Luis yang tadinya diem, berjalan menuju Bian dan menarik kerah bajunya. Sampai Bian tersandar di dinding UKS.
"Gue tau Lo calon suami Zia, tapi Lo gak bisa kasar gitu sama dia! Lo belum tunangan aja kasarnya kayak gini. Gimana kalau LO jadi suaminya?" tanya Luis dengan muka yang marah.
"Gu- gue minta maaf, gue gak sengaja. Suer!" elak Bian. Luis melepaskan tarikannya.
"Tan, Tania. Ambilin es batu cepet gue mohon!!" suruh Zia,
"Buat apaan?" tanya Tania.
"Udah cepetan cariin" suruh Zia, Tania pun pergi mencari es batu. Setelah dapat, Tania kembali ke UKS dan memberikan es batu pada Zia. Zia menggenggam es batu itu cukup lama. Hingga tangannya kedinginan. Setelah itu dia menghampiri Luis dan memegang pipi Luis.
"Lo gak boleh se emosi ini Luis. Tahan diri Lo okee" ujar Zia. Mereka semua terheran melihatnya. Luis memegang tangan Zia yang ada dipipinya, dia melepaskan tangan itu, dan memeluk Zia.
"Gue gak mau lo kenapa kenapa Zia! Gue takut. Gue sangat amat takut!" Sahut Luis.
"Gue baik baik aja kok. Jadi Lo tenang aja okee" suruh Zia. Luis pun melepaskan pelukannya.
"Lo berdua ngapain sih?" Tanya Dimas
"Satu satunya cara peredam emosinya Luis" jawab Zia.
"Gue tau Lo gak sengaja bi, tapi gak perlu sekasar itu!! Lo bisa celakain gue lebih dalam!" ujar Zia berpindah pada Bian.
"Gue kelepasan, gue minta maaf Zi. Maaff" pinta Bian.
"Gue minta maaf sama kalian semua" ujar Bian lagi. Zia berjalan menuju kotak P3K. Dia berniat membersihkan luka Bian, tetapi semua itu bukan atas dasar cinta. Dia hanya kasian melihat Bian yang dijotos terus menerus oleh Luis.
"Mau ngapain Lo?" tanya Luis.
__ADS_1
"Bersihin luka dia," jawab Zia. Luis keluar UKS dan memanggil seorang mahasiswi.
"Ada apa bule?" tanya mahasiswi itu.
"Lo bisa obatin orang kan? Obatin manusia yang didalam" suruh Luis, mereka berdua pun masuk.
"Tangan Lo sakit, biar dia aja" menunjuk mahasiswi tadi. Si mahasiswi terkejut karena yang akan diobatinya Bian, cowok terfamous. Tapi dia tetap mengobati Bian.
Gak lama setelahnya, hp Ivan berbunyi, panggilan dari Aska. Dia pun mengangkatnya.
—Bigboskocak—
📞 Aska; Lo dimana?
Ivan; kampus kenapa?
📞 Aska; gue mau balik ke Amerika.
Ivan; gausah bacot! Lo bilang 10 hari disini.
Mereka semua pun tau Ivan teleponan dengan Aska karena kata 10 hari.
📞 Aska; panggilan mendadak.
Ivan; Lo sekarang dimana?
📞 Aska; masih dirumah, ketemu di bandara aja gue tung—
Ivan memutuskan teleponnya.
"Ayok ke bandara. Aska mau balik ke Amerika" ajak Ivan
"Hah? Bukannya dia bilang 10 hari disini?" tanya Tania.
"Gak tau gue. Ayok cepetan." Ajak Ivan mereka pun mengikuti Ivan, termasuk Bian.
Mereka pun sampai di bandara. Aska juga telah tiba disana.
"Tangan Lo kenapaa?" tanya Aska panik.
"Hah? Gak kenapa kenapa kok" jawab Zia santai.
"Van kenapa?" tanya Aska.
"Kena cakar kucing" sahut Zia.
"Kenapa harus ditutupin segala? Begonya sampe ubun ubun" sahut Luis. Zia menatapnya sinis. Bian hanya diam mendengar mereka.
"Eh Lo Bian ya? Calon suaminya Zia kan?" tanya Aska kalem, padahal di hatinya menolak mengatakan itu.
"Eh, iya gue Bian" jawab Bian.
"Muka Lo kenapa?"
"Nyungsep di selokan" jawab Zia.
"Kok Lo terus yang jawab?" tanya Aska curiga. Zia hanya cengengesan.
"Sorry, kemaren gue bawa zia. Jangan salah faham. Gue sama Zia cuma temenan, cuma temu rindu gitu doang. Anggep ajalah gue abangnya." kata Aska.
"Hah? Oh iya" jawab Bian. Aska hanya tersenyum lalu melihat kearah Zia.
"Gue balik dulu ke Amerika. Jangan nakal! Jangan jadi lemah! Lo gak boleh jadi kalem! Kasihan om Zeco sama Tante Zeva. Jangan berubah okee?" tanya Aska. Zia memeluk Aska. Yang lain hanya melihat mereka.
'*aska cinta lo bukan cinta bertepuk sebelah tangan' batin Ivan.
'kecepatan pulang sih lo ka' batin Dimas
__ADS_1
'begonya zia, kenapa dia mau terima pernikahan sama Bian, sedangkan dari gerak geriknya aja dia demen sama aska' batin Luis.
'gue harap lo berdua berjodoh' batin Ica.
'aih elah gue baper liatnya,' batin Tania*
"Thanks semalam waktunya. Makasih udah pulang ke Indonesia. Jangan lupa balik lagi! Hp Lo gak boleh mati lagi!" ujar Zia. Aska membelai rambut Zia.
"Iya, yaudah lepasin. Calon suami Lo ngeliatin itu" balas Aska. 'tenang ka, tenang. hati lo jangan memanas' batin Aska. Zia melepas pelukannya.
"Jangan cengeng! Jangan lemah yaa" sahut Aska lagi.
"Eh woi, van, dim. Gue balik ke Amerika dulu yaa" pamit Aska. Memeluk Ivan dan Dimas ala pria.
"Iya, take care! Jangan lupa balik! Biar bisa reunian sama Sam dan Jimmy" jawab Ivan. Aska tersenyum.
"Gue balik luisss. Jagain nih sepupu Lo baik baik!" suruh Aska.
"Iya bawel" jawab Luis. Aska tertawa kecil mendengarnya.
"Tania, Ica gue balik" pamit Aska.
"Jangan lupa Indonesia!" jawab Ica. Aska mengangguk.
"Gue balik dulu ya bro. Jagain tu Zia. Emang sering bacot orangnya jadi Lo sabar aja ngadepin dia. Dia emas dimata gue, Ivan, Dimas, Ica, Tania, Samuel, Qiara, Alya, dan Jimmy. Jadi Lo harus jaga baik baik oke" ujar Aska pada Bian. Bian hanya mengangguk. Aska pun pergi meninggalkan mereka.
•
"Masih berfikiran negatif sama dia?" tanya Luis pada Bian
"Sorry, gue minta maaf" jawab Bian
"Mikir sebelum bertindak!" sahut Ivan.
"Untung Zia nutupin segala kelakuan Lo tadi. Kalau nggak Lo bakal jadi mangsanya" sambung Tania.
"Udah! Gue mau pulang" ujar Zia lalu pergi meninggalkan bandara. Mereka juga ikut pergi.
___________
Sesampainya Zia dirumah.
"Zia tangan kamu kenapa dek?" Tanya Febby.
"Emm... Kecakar kucing kak" jawab Zia.
"Kakak obatin." ajak Febby, Zia hanya menuruti perkataan kakak iparnya itu. Febby naik ke kamarnya mengambil alat alat untuk mengobati Zia. Disaat Febby naik mama papanya turun.
"Apa lagi ini Zia? Teror lagi hah?" tanya Zeco panik.
"Bukan pa, dicakar kucing tadi dikampus" jawab Zia.
"Kucing?" beo Zeva
"Iya ma, kucing liar." jawab Zia.
"Mama papa mau kemana?" tanya Zia.
"Ada urusan bentar, mama papa pergi dulu ya" pamit Zeva. Zia hanya mengangguk 'duh untung aja' batin Zia yang melihat Febby. Zeco dan Zeva sudah pergi meninggalkan mereka.
"Ini bukan dicakar kucing dek" ujar Febby .
"Jangan bilang siapa siapa kak pliss" pinta Zia.
"Siapa yang lakuin?"
"Tadi gak sengaja kena kuku orang" jawab Zia.
__ADS_1
"Yaudah iya gak kakak bilangin. Lain kali hati hati!" suruh Febby. Zia hanya mengangguk. Dengan telaten dia mengobati lengan adik iparnya itu.