
Gak lama kemudian, Zia dan yang lain sampai dirumah.
"Kalian duluan aja ya, Zia mau cek cedera mobilnya. Sekalian bawain barangnya Zia." suruh Zia
"Kamu gak apa apa kan?, mobil tu bisa ntarann!" sahut Yossie.
"Nggak apa apa, tenang aja tante. Tante, mama sama kak ipeb masuk aja duluan" suruh Zia.
"Yaudah terserah kamu." jawab Zeva, mereka pun masuk duluan ke rumah sambil membawa banyak belanjaan.
"Assalamualaikum" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Zia mana tante?" tanya Bian.
"Loh sejak kapan disini Bian?" tanya Zeva.
"Belum lama kok tante, zianya mana?" tanya Bian.
"Diluar, masih ngecek mobilnya" jawab Yossie. Febby, Yossie, dan Zeva membawa barang mereka ke kamar masing masing, barangnya Zia dibawain sama Febby. Setelah selesai mereka turun.
"Zia belum masuk?" tanya Febby. Mereka menggeleng.
"Zean, Bian atau siapa cek keluar coba. Tadi Zia habis ngelawan preman" suruh Febby. Zean, Zeco dan Bian pun bangkit lalu keluar menuju garasi. Mereka mendapati Zia yang sedang bersandar di mobilnya, dengan muka yang pucat.
"Zia, Zia kamu kenapa?" tanya Zeco. Bian dengan sigap menggendong Zia keluar.
"Darah semua setirnya" sahut Zean.
"Pucat banget lagi ni anak" sahut Zeco. Bian pun langsung membawa Zia masuk.
"Zia kenapaa?" tanya Lee panik.
"Lah zia kenapa? Dia bilang gak apa apa tadi" tanya Yossie.
"Astaga, tangannya berdarah" sahut Febby, diapun berlari keatas mencari alat alat medisnya. Bian meletakkan Zia di sofa.
"Pucat banget asli" ujar Luis. Febby pun turun dan mengobati Zia.
"Itu lukanya yang di cakar kucing liar kena?" tanya Zeco. 'kucing liar?' batin Bian dan Luis. 'gak tau lagi gue zi, Lo ****** banget nyembunyiin luka Lo sama om dan tante' batin Luis.
"Iya pa kena" jawab Febby.
"Ini kenapa bisa terjadi??"tanya Grossvater, Tuan Lionard.
"Iya ini kenapa?" tanya Zeco dan Lee.
"Tadi ada 4 preman ngehadang mobil. Zia ngelawan mereka semua sendirian, dia menyuruh kami untuk tetap dimobil karena kami tidak bisa beladiri. Kami gak tau jika luka Zia parah" jawab Yossie.
"Darahnya menempel di setir mobil" ujar Zean. Disela sela bersihin Zia tersadar.
"Lah ini kenapa lagi? Zia gak apa apa" ujar Zia, dia menyingkirkan tangan Febby yang menyembuhkan sakitnya. 'asli ini perihh' batin Zia.
"Lah itu anak?" tanya Zeva.
"Dia jago nutupin rasa sakitnya" sahut Lionard.
"Atau jangan jangan dia selalu di giniin dan menghadapi sendirian?" tanya Zeco.
"Udah deh pa, Zia baik baik aja kok" balas Zia.
Dia berjalan menuju kamarnya dengan sempoyongan. Semua orang melihatnya, sampai di tangga terakhir Zia terpeleset dan menggelinding dari tangga. Pelipisnya pun berdarah, Zia kehilangan kesadaran.
"Ziaaaa" teriak mereka bersamaan.
"Zai, ambil kunci mobil papa. Dia harus kerumah sakit" ujar Zeco. Diapun menggendong Zia, dan memasukkan Zia kedalam mobil. Setelah itu mereka pergi kerumah sakit.
›››
__ADS_1
"Berikan yang terbaik buat anak saya dokter" suruh Zeco. Mereka sudah tiba dirumah sakit pribadi keluarga Hitler. Mereka semua menunggu Zia di luar.
"Harusnya gue ikut tadi" ujar Zean.
"Kalian kenapa gak nelpon kerumah???" tanya Lee.
"Kami gak kepikiran, maaf" jawab Zeva.
"Udah udah, jangan saling menyalahkann!" suruh Lionard.
"Semoga Zia baik baik aja" sahut Grossmutter mereka, Zorisya. Bian merogoh kantongnya mencari hpnya, lalu menelpon seseorang.
"Kejadiannya dimana Tante?" tanya Bian.
"Jalan P" jawab Zeva. Bian pun melanjutkan teleponnya.
Bian; Cari pelaku secepatnya! Data harus akurat. Bunuh orang itu perlahan!! Dia udah buat calon istri gue celaka!!.
Suruh Bian pada penelpon itu, yang tak lain adalah orang suruhannya. Tak lama kemudian dokter keluar.
"Bagaimana dokter??" tanya mereka bersamaan.
"Zia sudah tidak apa apa. Lukanya sudah di perban. Luka yang ditangan kirinya lumayan dalam karena dua kali terluka" tutur dokter.
"Bisa kami masuk?" tanya Lee.
"Jangan terlalu banyak ya tuan,"
"Baiklah" jawab mereka.
"Kalau gitu saya pergi dulu" ujar dokter lalu pergi. Mereka pun masuk. Lionard, Zorisya, Lee, Yossie, Zeco, Zeva, Zean, Febby, Luis, Zai dan Bian mereka masuk bersamaan.
"Perasaan gue tadi katanya jangan terlalu banyak, ini sekampung malah" sahut Zai.
"Gak masalah" balas Zeco. Mereka mendekati brangkar Zia. Zia tertidur pulas, wajahnya yang kalem dan tingkahnya yang bar bar selalu bisa menyembunyikan segala keluh kesahnya.
-
Zia mulai membuka matanya perlahan. Dia melihat ada Bian yang tertidur di tepi brangkarnya sambil memegang tangan Zia. Perlahan lahan Zia melepaskan tangannya agar Bian tidak bangun. Tapi nyatanya Bian terbangun dari tidurnya.
"Eh udah bangun?" tanya Bian.
"Gue kenapa disini? Kenapaa.. pada disini?" tanya Zia.
"Udah itu gak penting. Lo laper? Mau makan?" tanya Bian.
"Bi? Lo gak pulang? Besok kuliah?" tanya Zia
"Besok kita bolos oke! Ogah gue kuliah kalau Lo lagi sakit disini" balas Bian.
"Mau makan? Laper gak?" tanya Bian terulang. Zia hanya tersenyum, tangannya berusaha memegang pipi Bian.
"Gue gak laper, gue bisa sendiri. Lo tidur lagi aja gih" suruh Zia. Bian memegang tangan Zia yang ada dipipinya. Memindahkan tangan Zia dan menggenggam tangan Zia.
"Kenapa lo gini sih hm? Banyak yang sayang sama lo, Lo juga harus sayang sama diri sendiri." kata Bian.
"Zia kamu udah bangun nak?" tanya Lee yang baru terbangun. Suaranya yang sedikit berteriak membangunkan yang lain.
"Ongkel sih, pada bangun kan jadinyaa" sarkas Zia.
"Ada yang sakit?" tanya Zean.
"Kagak bang" jawab Zia.
"Ayok pulang Zia besok kuliah" ajak Zia dia hendak beranjak tetapi ditahan.
"Lo masih sakit! Jangan macem macem!" sahut Bian dengan kata kata seolah tidak ingin dibantah.
__ADS_1
"Ngga macem macem, cuma satu macem" jawab Zia sambil tersenyum pepsodent.
"Jangan bebal kalau dikasih tau calon suami!" suruh Zeva. Zia merengut mendengar penuturan mamanya.
"Kuliah Zia ma?" tanya Zia.
"Kamu gak kuliah juga bisa kelola HzIn sayang. Sehari bolos juga gak masalah kan?" jawab Zeco. Zia ingin menjawab papanya, tetapi jari telunjuk Bian sudah berada di bibirnya.
"Jangan bebal dikasih tau. Sehari aja" suruh Bian.
"Sekarang, kamu cerita! Kenapa kamu kayak gini?" tanya Lee.
"Kenapa Zia dirumah sakit coba? Cuma luka ginian doang" sahut Zia.
"Luka ginian apanya, luka lo serius Zia." balas Luis.
"Serius apanya?" tanya Zia polos.
"Udahlah Lo ngeyel banget kalau dibilangin. Lo laper gak?" tanya Luis.
"Nggak" jawab Zia.
"Nggak apa? Daritadi makan juga ngga" sahut Febby.
"Lah?"
"Sekarang jelasin kronologi nya!" suruh Lionard
"Emmm.. jadi tadi ada 4 preman ngehadang mobil Zia. Abistu Zia keluar, gelut deh jadinya" jawab Zia.
"Jari tangan kenapa?" tanya Zeco.
"Emm.. tadi premannya gores mobil Zia, Zia singkirin pisaunya tangan Zia ikutan kena" jawab Zia.
"Luka tangan kiri?" tanya Lee
"Kena gores apa tadi Zia gak tau"
"Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Zeva.
"Lah kalau Zia bilang kita bakal lama sampe rumah ma, mama sama yang lain kan gak jago naik mobil Zia"
"Udah kan? Zia baik baik ajaa, jadi Zia boleh kuliah yaa ya" bujuk Zia.
"Sekali nggak tetap enggak!!" sahut grossvater tegas, sontak Zia langsung diam. Karena perkataan grossvater lionard sangat tidak ingin dibantah.
"Entschuldigung" balas Zia sambil menunduk. Grossvater mendekati Zia.
"Kita gak mau kamu kenapa kenapa, jangan kayak gini lagi oke, kalau ada masalah bilang. Jangan bandel kalau di kasih tau" sahut grossvater sambil mengusap rambut Zia.
"Iya grossvater.. kalian istirahat lah, dari tadi gak ada tidurkan?" tanya Zia.
"Kamu juga!" suruh Lee.
"Lo makan dulu kenapa sih Zi!" suruh Luis.
"Gue udah makan" jawab Zia.
"Kapan? Tadi siang pas di kafe? Ini udah malem sayang. Makanlah!" bujuk Zeva.
"Makanan rumah sakitkan gak enakk" jawab Zia. Bian mengambil jaketnya dan memakainya.
"Yaudah bentar gue pergi cari makanan" sahut Bian.
"Eh gak usah, gue gak laper" balas Zia.
"Laper ataupun nggak, Lo harus tetep makan!" Ujar Bian lalu pergi mencari makanan.
__ADS_1