Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Prank?!!


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan vote:\)


"Bisakan om? Hari ini sama besok aja" bujuk Aska memelas. Dia sudah berada di tempat kerja omnya.


"Ka, bandara gak cuma ditempat om"


"Aska tau, tapi penerbangan pelaku dari sini om" jawab Aska.


"Ya sudah, gak masβ€”"


"Nanti Aska ganti rugi" potong Aska.


"Gak perlu Aska!" tolak Dirga, omnya Aska, adiknya Hans.


"Serius nih om?" tanya Aska, Dirga berdehem. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi orang suruhannya.


"Berhentikan aktifitas di bandara selama dua atau tiga hari" ucap Dirga pada penelpon lalu mematikannya.


"Uhuyy.. Makasih om, om itu baik banget, ganteng lagi. Tapi.."


"Tapi apa Aska?" tanya Dirga.


"Tapi sayangnya jomblo. Kapan om mau kasih Aska sepupu?" tanya Aska.


"Hah? Udah sana, om banyak kerjaan" jawab Dirga.


"Dih apaan masa jawabannya kayak gitu" keluh Aska, Dirga menatapnya sinis.


"Hehe yaudah yaudah, Aska pergi dulu. Sekali lagi makasih ya om. Assalamualaikum" pamit Aska lalu dia pergi.


"Waalaikumsalam" jawab Dirga.


~~


Ditempat lain, Bian baru saja tiba dirumahnya.


"Kenapa kamu lamban Bian? Kemana saja kamu hah?" tanya Mahen tegas dan sedikit emosi.


"Maaf pa" jawab Bian.


"Pertunangan kamu batal" ujar Mahen.


"Bian tau" jawab Bian.


"Pikiran kamu isinya apa sih Bian?" tanya Mahen.


"Pa, jangan gitu sama anak sendiri" sahut Lita.


"Otak kamu isinya cuman pekerjaan? Kamu benar benar mau pertunangan ini batal? Kamu punya cewek lain selain Zia, iya?" tanya Mahen dan menghiraukan Lita.


"Nggak pa, gak mungkin Bian khianati Zia. Bian sendiri yang minta perjodohan ini" jawab Bian.


"Baguslah kalau kamu sadar itu. Kemana saja kamu tadi? Berita tentang kecelakaan Zia sudah populer di manapun. Kenapa kamu lamban? Kamu mau Zia diambil orang?"


"Nggak gitu pa, Bian taβ€”"


"Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Tanpa papa suruh, tanpa papa minta. Papa mau tau, kamu memang niat atau tidak bersanding dengan Zia" potong Mahen, dia pun pergi meninggalkan ruang keluarga.


~~


"Zia.. ayok bangun! Ayok bacot, gue kangen celotehan lo. Buka mata Lo Zia, gue mohon. Gue sama Jimmy udah di Indonesia nih. Kita bisa reunian, liburan dan lain lain. Tapi Lo harus buka mata dulu. Bangun yaa," pinta Alya. Alya dan Jimmy baru sampai di Indonesia, tanpa mengganti baju mereka langsung kerumah sakit dengan koper yang masih tergenggam ditangannya.


"Al, udah sayang. Zia pasti bangun kok" sahut Jimmy.


"Al, Lo balik dulu gih. Ntar kesini lagi" suruh Qiara.


"Ica, siapa yang lakuin ini?" tanya Alya.


"Gue gak tau kak, semua masih diselidiki" jawab Ica.

__ADS_1


"Mending Lo pulang dulu Al" sahut Dimas.


"Jim, anterin Alya balik gih. Kalian ganti baju dulu atau mandi" suruh Luis.


"Eh anak anak, kalian disini?" sapa Zeco yang baru tiba.


"Eh Om" balas mereka lalu menyalimi tangan Zeco dan Zeva.


"Sejak kapan kalian disini? Kalian pasti capek kan? Pulang gih." suruh Zeco.


"Nggak om, gak masalah. Kami disini saja jagain Zia" balas Qiara.


"Aska dimana? Bian juga ada dimana?" tanya Zeco.


"Pergi om, mereka ada panggilan" jawab Samuel. Zeco hanya mengangguk, dan menghampiri brangkar Zia.


"See, temen temen kamu disini nunggu kamu. Mereka yang dari Paris, Swiss dan Amerika, juga ada disini demi kamu. Jadi buka mata kamu ya sayang. Jangan kecewakan mereka." suruh Zeco sambil senyum terpaksa.


"Zia" panggil Zean.


"Eh kamu disini Ze?" tanya Zeco, Zean mengangguk.


"Dek, bangun yuk. Kamu bakal punya temen baru sekarang. Kamu bakal jadi Tante, bangun ya, abang mohon" pinta Zean pada Zia.


"Maksud kamu Febby??" tanya Zeva.


"Iya ma, Febby hamil" jawab Zean.


"Congratulation kak" ujar mereka, Febby hanya tersenyum.


"Selamat ya, kamu jangan sampai setres" suruh Zeva.


"Iya ma" balas Febby tersenyum.


Tiba tiba dokter masuk dengan tergesa-gesa.


"Ada apa dok?" tanya Luis. Ivan menelpon Aska dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit dengan cepat.


"Dokter, anak saya kenapaa?!" tanya Zeva ngegas.


"Dok, Lo bisa ngomong gak sih? Zia kenapaa?!" tanya Ica. Dokternya tidak menjawab.


Brukk


"Ada apa? Zia kenapa?" tanya Aska yang baru datang. Dia yang menendang pintu ruangan Zia secara kasar dan masuk dengan ngos-ngosan.


"Gak nyantuy masnya" sahut suster.


"Nona.. nona Zia tadi kritis dan sekarang nona Zia..."


"Apa dok apaa, adik saya kenapa??!" tanya Zean.


"Nona Zia sudah meninggalkan kita" ujar dokter itu.


"Gak mungkin dok! Zia masih hidup. Zia masih hidup dok!!!" balas Aska.


"Zia, ziaaaaa" panggil Aska, air mata mereka menetes. Semuanya menangis.


"Ini Zi? Ini kenapa Lo minta maaf sama kita dikantin? Zi bangun jangan tinggalin kitaa!!!!" teriak Tania kesal sambil terisak-isak, Dimas menenangkannya.


"Zia, jangan tinggalin gue! Gue cinta sama Lo Zi! Jangan buat gue kehilangan orang yang gue sayang untuk yang kedua kalinya" kata Aska mendekat ke Zia. Seluruh keluarga Zia sudah mundur dari brangkarnya. Mereka duduk di lantai sambil tertawa, eh ralat menangis maksudnya. Aska mendekat dan meletakkan kepalanya tidak jauh dari kepala Zia, dan Aska mendengar sesuatu.


"Dokter, Lo mau gue pecat?" tanya Aska sambil menghapus air matanya.


"Aska, jangan gila Lo" sahut Samuel.


"Lo ngeprank kita hah? MANA KAMERANYA MANA? " tanya Aska emosi.


"Ngeprank?" tanya Ica.

__ADS_1


"Kamera?" tanya Tania.


"Maksud Lo apaan?" tanya Dimas gantian.


"Gue denger, gue denger detak jantungnya Zia! Zia masih hidup!!" jawab Aska.


"Aska,"


"Jangan, jangan bilang gue halusinasi! Lo test sendiri kalau gak percaya!!" suruh Aska. Dokter mendekat ke brangkarnya Zia dan memeriksa kondisi Zia.


"Ahh, syukurlah. Suatu keajaiban, Zia hidup kembali." ujar dokternya.


"Syukurlah" sahut mereka bersamaan.


"Tapi saya tidak tau, kapan Zia akan terbangun" lanjut si dokter.


"Lain kali periksa yang bener dokter!! Kalau mau ngeprank gak gini. Ini gak lucu!" cibir Aska.


"Saya minta maaf, tadi saya sudah periksa dengan baik. Sebelumnya, detak jantung nona Zia menghilang. Dan sekarang muncul keajaiban dari sang maha kuasa, detak jantung nona Zia kembali" balas dokter tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi. Jika terjadi sesuatu, panggil saya" ujar dokter itu lalu pergi.


"Dokter doyan ngeprank. Gue pecat juga Lo ntar" cibir Aska lagi.


"Udah woy" balas Dimas. Aska kembali ke Zia.


"Akhirnya, Lo masih hidup. Jangan tinggalin gue, kalau Lo nikah sama Bian sih gak masalah, yang penting jangan tinggalin gue ya" ujar Aska lalu mencium pipi Zia.


"Gue balik dulu, jangan lupa panggil gue kalau ada apa apa. Tugas negara gue belom selse" pamit Aska pada temannya.


"Om, tante, bang, kak. Aska pergi dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan. Aska pun pergi dari sana.


"Aska pernah kehilangan seseorang?" tanya Jimmy.


"Aska punya kembaran, namanya Aksa. Dia udah pergi dari dunia dan tenang di surga" jawab Ivan.


"Kami gak pernah cerita sama kalian, karena keinginan Aska, Aska gak mau jika kalian berteman dengannya hanya karena rasa kasihan" sahut Dimas.


"Apa penyebab meninggalnya Aksa?" tanya Zean.


"Dia terbunuh oleh wanita yang terobsesi dengannya. Makanya sebelum Zia datang ke SMA Kebangsaan Aska anti dengan wanita. Gak tau kenapa setelah Zia masuk dia jadi kembali seperti sedia kala." jawab Dimas.


"Awalnya Aska bilang itu karena Zia berbeda dari cewek lainnya. Kita udah nebak dari awal, Aska pasti demen sama Zia, dan ternyata dugaan kita bener. Aska cuma bisa pendem perasaannya, karena dia belum punya apa apa, beda dengan Bian yang udah mapan dan bisa menghidupi kebutuhan Zia" sahut Ivan.


"Seharusnya dia bisa bilang cinta kan ke Zia?" tanya Samuel.


"Aska gak mau pacaran urusan hati itu ribet katanya. Lagian dia juga di Amerika, susah baginya untuk pacaran jarak jauh" jawab Ivan


'ntahlah, gue lebih suka sikap aska daripada bian, meskipun dia brandal.' batin Zean.


"Urusan hati memang rumit" sahut Zean.


"Zean, bawa Febby pulang. Kasihan dia disini, papa takut dia kelelahan" suruh Zeco.


"Zia bakal baik baik aja kok," ujar Zeco menenangkan.


"Zean pulang dulu, gue balik dulu" kata Zean pada papanya, lalu ke teman teman Zia.


"Iya, hati hati bang." balas mereka.


"Kalian juga pulanglah, om sama tante yang jagain Zia gantian" suruh Zeco. Mereka diam saja, tanda penolakan.


"Nanti om kabarin kalau ada apa apa" lanjut Zeco.


"Baiklah om, kami pulang dulu" sahut Samuel. Mereka salim pada Zeco dan Zeva lalu pergi.


_________________________________

__ADS_1


; Jangan ngamuk setelahnya πŸ˜‚


__ADS_2