
"Gak disangka ternyata Lindi istrinya Bian" ujar Zia di jalan balik ke rumah Hitler.
Aska, Zia dan Zafran pulang terlebih dahulu. Zeco dan Zeva bilang, mereka akan pergi ke suatu tempat, atau mungkin akan menginap.
"Emang bener kata pepatah, jodoh gak kemana" balas Aska sambil menyetir.
"Iyaa"
"Eh sayang, kamu cemburu nggak tuh? Mantan kamu loh nikah" tanya Zia.
"Sejak kapan aku punya mantan?"
"Kok nggak ngaku sih? Lindi, Salsabila, Hany, kan mantan kamu"
"Ngaco. Mana punya aku mantan. Mantan aku ya istri aku. Aku cuma pacaran satu hari, besoknya berubah status jadi tunangan aku" balas Aska.
"Masa sih? Siapa emang?" tanya Zia.
"Masa kamu gak kenal? Namanya itu Zia Amanda sekarang jadi nyonya Kusuma"
"Mm.. kenapa bisa suka sama Zia Zia itu? Kapan mulai suka?"
"Kenapa bisa suka? Karena dia istimewa, dan cuma ada satu di hidup aku"
"Kapan mulai suka? From first meet. Tragedi tendang pintu" jawab Aska.
"Masa iya selama itu? Dan bisa-bisanyaa kamu akui pas kita di Paris?" tanya Zia. Aska mengangguk santai.
"Jago kan aku pendem cinta ke kamu? Nahan cemburu kamu deket sama cowok lain, nahan cemburu kamu mau nikah sama Bian. Untung gak jadi nikah sama Bian"
"Dan akhirnya perjuangan aku berusaha dapetin kamu membuahkan hasil. Bahkan, udah ada calon copycat aku di perut kamu. Makanyaa.. gak mungkin aku main dibelakang kamu" Aska mengelus rambut Zia dengan satu tangan.
"Makasih sayang, kamu udah mau berjuang untuk mendapatkan Ciwi yang Barbar ini" tangan Aska berpindah menggenggam tangan Zia.
Aska menarik tangan Zia lalu mengecupnya.
"Aku gak butuh ucapan terimakasih. Yang aku butuhin, kamu selalu ada disisi aku sampai kapan pun"
"Aku bakal selalu ada disamping kamu, sampai kapan pun! Tapi, kamu juga selalu ada di sisiku sampai kapanpun kan?" Aska mengangguk.
"Promise?"
"I'm promise you" Zia dan Aska berpandangan sambil tersenyum.
"Sekarang aku tanya deh"
"Kamu cemburu gak tuh, MANTAN tunangan kamu nikah?" Aska sengaja menekankan kata mantan di ucapannya.
"Cemburu? Sorry la yaa, tuan putri gak akan cemburu kalau punya pangeran lebih ganteng dari MANTAN nya"
"Ahahahahahah.. gayanyaaaa" Aska mengacak rambut Zia. Zia tertawa.
"Bener loh aku"
"Iyain dehh"
__ADS_1
–—·—–
21:27
"Ngamuk gak lu disana?" tanya Zean pada Zia sembari mengangkat Zafran yang tidur di gendongan Aska.
"Nggaklah, gila aja. Ngapain juga? Kurang kerjaan banget gue" jawab Zia santai.
"Tapi gue yakinnya sih dalam hati kak Zia tu panas membara gitu ngeliat Bian sama istrinya" sahut Zai dari tangga.
"Sotoy amat si lu nyet! Ni gue kasih tau"
"Cemburu itu untuk orang yang sedang tidak percaya diri. Dan gue? Sangat sangat sangat sangat sangat percaya diri, paham?!" tanya Zia ngegas.
"Dahlahh bacot bangett," balas Zai. Zia menatap Zai sinis. Zai pun cengengesan.
"Siapa istrinya kak?" tanya Zai yang sudah di sebelah Aska.
"Lindi, lu kenal kan?" tanya Zia.
"Wait! Lindi? Lindi yang itu?" Zia mengangguk.
"Aaaa.. berarti yang harusnya cemburu itu bang Aska. Kan mantannya bang Aska" ujar Zai santai.
"Pala kau petak!! Istri gue lebih cantik juga, ngapain cemburu??!" balas Aska.
"Oh ya, mon maap kamu salah ya adik ipar, abang iparmu yang tampan ini gak punya mantan" lanjutnya.
"Halah, pasutri bacot" Zai pergi.
"Heh adek laknat!!" "Heh adek ipar laknat!!" Aska dan Zia kompak.
"Heran banget!! Punya adek kok begitu coba?" tanya Zia kesal.
"Gue lebih heran punya dua adek gak ada yang genah satu pun" sahut Zean.
"Salah abang mah!! Adek abang yang cewek genah kok, cantik lagi, imut, lucu, isssstimewa" balas Zia. Zean dan Aska tertawa.
"Pede amat bini lu ka" bisik Zean pada Aska.
"Gak tau dah kok bisa begitu" balas Aska.
"Bini lo kan?" tanya Zean.
"Iya kayaknya" balas Aska.
"O kayaknya ya?? Kayaknya? Tidor diluar!!!" Zia beranjak.
"Eh sayang kok gitu?" Aska membujuk Zia.
"Bodo amat!! Aku gak perduli!!" Zia pergi ke kamarnya.
"Kacau, auto remuk badan" keluh Aska.
Zean tertawa ngakak, tertawa puas, tertawa mengejek melihat adek dan adek iparnya itu. Terlebih lagi melihat muka melasnya Aska.
__ADS_1
"Woi, malah ketawa lu! Gara gara lo ya ini bang" Aska menatap kesal Zean.
"Lah kok gue?! Lo yang salah pake bilang kayaknya" jawab Zean santai.
Bwammm!!!
Zia membanting pintu kamarnya.
"Ajib!! Mampuss lo beneran tidur diluar.. Ahahahah" ledek Zean.
"Mati gua" Aska mengejar Zia.
"Sayang, sayang, buka ya pintunya.. aku nggak bermaks--" pintu terbuka.
Aska senyum merayu ke Zia. Zia membalasnya dengan senyum datar lalu melempar bantal ke Aska. Zia masuk lagi ke kamar dan langsung menguncinya.
"Sayang.. bener tega ini hm? Sayang.. bukain dong" rengek Aska.
Zia di dalam kamar tidak perduli, malah menghidupkan laptopnya dan menonton drama Korea.
"Say--"
"Widihh.. kena karma ya pak?" Zai memotong dialog pembujukan Aska.
"Diam!" balas Aska ketus.
"Aww takut aww" Zai pergi.
"Tandai lo, ntar juga bakal ngerasain rasanya jadi gue" ujar Aska menunjuk Zai.
"Anak baik-baik mah gak bakal kena karma kayak lo bang" jawab Zai.
"Sialan" Zai tertawa.
"Sayangg, ampun deh gak bakal ulangi"
"Sayang, mau es krim gak?"
"Emm.. martabak durian atau martabak coklat?"
"Sate Padang deh aku beliin"
"Kamu mau apa? Tas branded import? Mobil sport baru, atau apa? Apapun aku beliin asalkan buka pintunya deh??"
Zia tetap diam.
Satu cara di otak Aska agar Zia membuka pintunya. Berat hatinya mengatakan hal ini. Namun, jika tidak Zia tak akan membukakan pintu.
Aska menghela nafas, "Sayang? Buka yaa, kalau kamu bukain.. kita ke Korea. Ketemu sama oppa oppa kamu itu" pintu kamar Zia masih setia tertutup.
Wah? Tahan bener? Tetap gak buka pintu' batin Aska.
"Takdir lo malam ini ka, udah tidur aja diluar. Sofa bawah noh yang di ruang keluarga" sahut Zean.
"Astaghfirullah, tadi adeknya sekarang abangnya, kenapaa manusia ganteng seperti hamba selalu diganggu makhluk halus ya Allah" Aska sok dramatis.
__ADS_1
"Makhluk halus pulak?! Laknat benerrr dah lu" Aska tertawa.
Ceklek..