Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Go go goooo


__ADS_3

📞 Zai; ahh dinginnya.. bang lu dimana?


Aska; rumah Aksa, kenapa?


📞 Zai; gue rela bang keluar saat dingin dinginnya demi kerumah lu, eh lo nya malah kagak ada. Tega bener ya lo.


Aska; hahaha.. kabarin gue dulu makanya. Ada apa sih?


📞 Zai; sharelock deh, gue kesono. (mematikan teleponnya)


"Kenapa? Siapa?" tanya Zia.


"Zai, gak tau mau apa" jawab Aska sambil memainkan ponselnya mengirim alamat.


"Sepertinya ini yang akan diberitahukan Zai" sahut Aksa sambil menunjukan ponselnya pada Aska.


"Perusahaan SS mengalami kerugian besar akibat ThsHz dan FvZ menarik saham mereka" Zia membacanya.


"Zai benar benar menunjukkan ingin menjatuhkan Salsa dan membuatnya kembali tersiksa...."


"Perlahan-lahan" ujar Aksa.


"Seberapa besar saham ThsHz dan FvZ di perusahaan SS?" tanya Zia.


"Sekitar... 85%" jawab Aksa.


"Wahhh" mereka terkejut.


Ding dong...


"Biar kubuka" Refiona beranjak.


"Halo kak, Zai anan--"


"Dah kenal, masuklah" potong Refiona. Zai cengengesan lalu masuk.


"Welcome in my istana" sapa Aksa.


"Sebelas dua belas sama rumahnya bang Aska ini mah" puji Zai sambil melihat sekeliling.


"Sebelas dua belas matamui Zai. Jauhlah, rumah Aska lebih-lebih dari ini" protes Aksa. Zai cengengesan.


"Merendah untuk meroket, piu piuu" ledek Aska. Mereka tertawa.


"Minum apa Zai?" tanya Refiona.


"Ah gak usah repot repot kak, Zai cuma bentar doang soalnya mau samperin calon istri" jawab Zai.


"Gue udah tau, dah dikasih tau Aksa" ujar Aska saat Zai ingin menjelaskan.


"Serius? Bukannya ini berita belom menyebar?" tanya Zai.


"Eh iya. Lo tau darimana Sa?" tanya Aska.


"Orang dalam, asisten pribadi nya itu sepupunya tuan Takur" jawab Aksa.


"Pantesan" respon mereka serentak.


"Gue yakin Perusahaan SS bakal bangkrut. Mereka juga barusan kena tipu sekitar 2.5 miliar" ujar Zai.


"Serius?" tanya Zia. Zai mengangguk.


"Salsa bakal jadi gembel"


"Mika gimana?" tanya Zia.


"Gak tau, itukan kerjaan bang Zean" jawab Zai.


"Huftt.. sudah lah. Pertemuan ini bukan untuk membahas pekerjaannnn" keluh Refiona. Mereka cengengesan.


Zai menjelajahi rumah Aksa dengan matanya. "Koper?"


"Lo mau kemana bang?" tanya Zai pada Aska.


"Padang, Sumatera Barat" jawab Aska.


"Serius? Sendirian? Sama siapa? Zia?" tanya Zai bertubi-tubi.


"Serius, sama geng somplak, Zia ikut" jawab Aska.


"Kenapa gak ngajak gue?" tanya Zia.

__ADS_1


"Tuan Zai yang terhormat. Bukankah anda sedang mempersiapkan skripsi?" tanya Zia.


"Mau skripsi lo? Untung gak jadi diajak" sahut Aska. Zai cengengesan.


"Oke oke fine. Ntar juga gue honeymoon" balas Zai.


"Masih lama lagi" balas Aska. Zai menatapnya datar.


"Yaudah kalau gitu gue cabut dulu" izin Zai.


"Dih baper amat woii" ledek Aska.


"Gak dengerrr" teriak Zai lalu pergi. Mereka cengengesan di dalam.


__________


Keesokan harinya


"Ahhh yang benerr aja. Kenapa kita terlambattttt?!!" tanya Zia kesal. Mereka masih di dalam mobil menuju bandara padahal pesawat akan terbang sekitar lima belas menit lagi.


"Kenapa gak pake helikopter pribadi lo aja si ka? Ngebut gini bahayaaaa!!" keluh Aksa yang juga ketakutan karena Aska membawa mobil diatas rata rata.


"Nggak. Bakal beda rasanya. Gue juga merindukan rasa pesawat" jawab Aska cengengesan.


"Tenanglah. Tidak perlu takut" ujar Aska melihat mereka tegang.


"Sayang, bisa kamu hubungi Rap untuk menyuruh bandara menunda penerbangannya?" tanya Aska.


"Tunggu sebentar" Zia menghubungi Rafael.


"Cepatlah!! Gue gak mau berangkat terpisah!!"


"...."


"Cepat!!!" Zia langsung mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam saku hoodienya.


"Bagaimana?" tanya Aksa.


"Rap akan mencobanya" jawab Zia.


"Bukankah.. sebaiknya.. kamu mengendarainya dengan perlahan??" tanya Refiona yang menutup matanya.


"Ah sepertinya kakak ipar takut. Aku akan mengurangi kecepatannya sedikit" jawab Aska.


Pesan masuk ponsel Zia.


"Ada apa?" tanya Aska.


"Ditunda hanya lima menit" jawab Zia.


"Waktu kita tinggal tujuh belas menit atau pesawat akan berangkat" ujar Aksa.


"Tenang. Ada jalan pintas disini" Aska membelokkan mobilnya secara tiba tiba. Zia menatap Aska kesal. Aska cengengesan.


Tujuh menit kemudian mereka tiba di bandara. Mereka mengeluarkan barang dengan cepat lalu berlari menuju tempat dimana mereka berkumpul.


"Cepatt, tinggal sembilan menit lagii" ujar Aksa. Mereka masih berlari.


"Tidak usah terlalu cepat aksaa. Mereka juga sedang mengandung!!" kata Aska.


"Itu Icha" kata Zia. Mereka berlari kearah Icha dan kumpulan yang lain.


"Huh!! Yang benar saja. Kami kira kalian tidak jadi ikut!!" protes Alya.


"Maafkan... Kami.. hosh hoshh" ujar Refiona.


"Tidak masalah, setidaknya kalian tiba tepat waktu" jawab Qiara.


"Ayo pergi"


"Oke"


"Padang, We Will Coming!!!"


---


"Kita belom pesen hotel gubluk. Mo tidur dimana?" tanya Icha. Mereka di dalam pesawat. Mereka bisa seenaknya di pesawat karena pesawat ini khusus mengantarkan mereka semua ke Padang. Hanya mereka tanpa ada orang lain.


"Baiklah, waktunya browsing" Zia mengeluarkan laptopnya. Mereka mendekat ke Zia.


"Hotel Ibis Padang, hotel bintang tiga. Murah dan modern dengan kamar sederhana dan WiFi gratis, serta restoran di lantai atas, bar juga kolam renang"

__ADS_1


"Hotel Mercure Padang, hotel bintang empat. Kamar mewah di hotel kontemporer yang menawarkan restoran indah dan kolam renang outdoor, serta gym"


"Grand Inna Padang Hotel Convention & Exhibition, hotel bintang tiga. Hotel bisnis yang trendi dengan kamar nyaman dan suite, serta sarapan gratis, restoran dan aula"


"HW Hotel Padang, hotel bintang tiga. Hotel santai dengan pemandangan laut, restoran, toko roti Jepang, serta kolam renang outdoor"


"The Axana Hotel. Hotel bintang empat. Kamar dan suite mewah di penginapan elegan yang menawarkan kolam renang di atap, restoran terang dan gym"


"Top lima target gue. Kalian minat yang mana? Gue sih lebih tertarik di Mercure, atau HW" ujar Zia.


"Mercure bagus tuh" balas Dimas.


"HW aja gak? Pemandangannya laut kan agak gimana gitu" sahut Ivan.


"Liat peta coba" suruh Dimas.


"Nohkan Mercure lebih dekat sama pemandangan laut" ujar Dimas.


"HW juga dekett dimsa!" kata Ivan.


"Yak gelut gelut" sindir Samuel. Mereka berdua cengengesan.


"Kita cari artikel penduduk lokal atau para wisatawan, mungkin ada yang benar-benar recommended" usul Zia.


"Tes" suruh Ica. Zia menggerakkan jarinya di atas keyboard laptop.


"Kebanyakan mengarah ke Mercure. Haruskah disitu?" tanya Zia.


"Kita berapa lama disana? Hotel ini mahal hanya untuk satu malam" keluh Samuel.


"Hya!! Lo orang kaya bree" sindir Jimmy.


"Penghematan?"


Mereka tertawa.


"Kita hanya seminggu disana" jawab Ivan.


"Oke. Pilih yang itu!!"


"Guys.. menurut gue nih ya. Kan kita rame nih. Apa nggak lebih baik sewa apartemen atau villa gitu? Yaa biayanya patungan" usul Tania.


"Pinter" puji Alya.


"Tumben aja lu pinter Tan" ledek Qiara.


"Sebenarnyaa... Gue itu pintar. Ketemu sama orang kayak kalian. Jadi goblokklah gue" balas Tania.


"Hahahahaha"


"Okee.. kalau gitu kita searching lagi villa yang ada di padang" kata Zia yang mulai mencari lagi.


~π~π~π~π~π~π~


"Ahhh akhirnya sampai jugaaa" Jimmy merenggangkan otot-ototnya ketika tiba di luar bandara.


"Kemana kita sekarang? Naik apa?" tanya Alya.


"Emmmm.. panggil taksi lah" jawab Samuel.


"Wah gila aja, kita dua belas orang coy" sahut Aksa.


"Jadi naik apa? Mobil pariwisata?" tanya Dimas.


"Ka? Naik apa?" tanya Ivan pada Aska.


"Gue udah suruh Rap buat sewain tiga mobil. Ntah mana ini" jawab Aska.


"Kok tiga?" tanya Tania.


"Mau lu berapa ege? Satu mobil kan isinya bisa empat makhluk bumi" jawab Aska.


"Yauda ya tunggu bae dah" sahut Samuel.


Beberapa menit kemudian datanglah mobil yang disewa Aska.


"Gak pake supir?" tanya Dimas.


"Supirnya kalian sendiri. Ntar jalan ke villa dianter sama orang depan" jawab Aska.


Mereka mulai masuk ke mobil masing masing. Aska Zia, Aksa Refiona di mobil hitam. Jimmy Alya, Samuel Qiara di mobil putih. Dimas Tania, Ivan Ica di mobil silver.

__ADS_1


Mereka pun pergi menuju villa.


__ADS_2