Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Vlog dadakan [2]


__ADS_3

Di kamera Qiara dan Sam.


"Haii, guys. Jadi di sini gue sama pacar gue lagi keliling cari barang, buat menangin challenge. Say hi dong, sayang," ujar Sam layaknya seorang Youtuber. "Haii haiiii!"


"Menurut kamu kita menang gak ini?" tanya Samuel sembari menatap Qiara. "Menang gak menang harus menang! Ayok coba ke situu," ajak Qiara sambil menunjuk sebuah toko.


"Okeyy, let's goo!" Keduanya berjalan bersama dengan tangan yang bergandengan. "Apaan ini??" tanya Samuel melepas gandengan untuk menata rambutnya.


"Hilihh sok ganteng. Kesel gue liatnya," protes Qiara. Samuel tertawa. "Emang ganteng lhoh akuu."


"Ge-er bangettt!!"


"Terus di sini kita ngapain?" tanya Sam saat di toko aksesoris. "Nyari barang dongg, coba lu pake itu, pasti makin ganteng."


Qiara menunjuk bando pita, Samuel mencoba mengambil dan memakainya, Qiara yang melihat tertawa terbahak-bahak. "Ganteng banget sumpah hahahaha!"


"Beli ini aja yang buat aku, kan jadi tambah gantenggg akunyaa," Qiara menggeleng. "Kek banciii yang iyanyaa!" Samuel mengambil hp Qiara lalu selfie di ponsel Qiara.


"Ganteng juga gue."


"Pede banget yaa, pak!! Dahh, gue capek ketawa, ayo yang bener carinya cepetan, waktu tinggal dua puluh tiga menit lagi ini," ajak Qiara, Samuel meletakkan bandonya dan pergi ke toko yang lain bersama mbak pacar.


"Jadi kemanaa ni??"


...—·—...


Di kamera Ivan dan Ica.


"Si Samuel gila emang. Mau beli apaan dua barang seratus ribu," keluh Ivan sambil memegang kamera. "Mana ribet lagi nyarinya, kalau gue gak menang awas aja lu, Sam."


Ica geleng-geleng kepala. "Ngedumel terus lu. Kita cari aja dulu, gak usah kebanyakan ngoceh."


"Iya, sayang."


"Dih?"


"Brivant Alexand, gue bukan cewek yang gampang dibaperin, jadi lu gak usah pake kalimat-kalimat baper gak penting kaya tadi, gak mempan di gue!"


"Kalau mempan gimana?"


"Mimpi aja sonoo! Daripada buang waktu yang tinggal dikit lagi ini, mending cari barang. Mau menang kan lu? Ayo cepetan!" Ica menarik tangan Ivan agar jalannya lebih cepat.


"Mau beli apa ini jadinya?" tanya Ivan yang sedari tadi pasrah ditarik. "Udah ayok ikutin gue aja, ntar bakal nemu yang pass."

__ADS_1


"Yaaa tapi yang jelas duluu, mau beli apaaa?" Ica diam tidak menjawab. "Beli apa, Icaa??"


"Ish, udah ikut aja. Bawel mulu, heran!"


...—·—...


Di kamera Jimmy dan Alya.


"Mau beli apaan dahh?" tanya Alya bingung. Mereka berdua berhenti di tengah jalan. "Kagak tau gue. Gila si Sam, mana ada dua barang jadi satu harganya seratus."


"Nothing is impossible, babang Jimmy."


"Uwuu jimayuuu."


"Hahaha! Napa alay bangett sii, lucu kalau lu kayak gituu," Jimmy merasa hatinya berbunga-bunga sekarang. "Malu guee beneran, salting ini mahh."


Alya mengabaikannya, mereka berjalan dan memasuki salah satu toko. "Auto ngemirror kalau ketemu kaca," kata Alya bergaya dan membawa kamera, Jimmy mengikuti sambil mencubit pipi Alya.


"Sakit begeee!" protes Alya, Jimmy tertawa kecil. "Lu lucu bangett, gue gemess liatnyaa."


"Halaah! Ayok kesitu... siapa tau ada yang langsung dapat seratus ribu dua barang," ajak Alya. "Eh, Al, itu empat barang gak sih jadinya?"


"Enggak lah. Kalau misalnya nih ya ini satu doang dikatain barang, berarti bukan untuk sepasang, bener kan?" Jimmy berpikir sejenak. "Iya juga. Jeniuss banget kamuu, makin cinta deh."


"Bagus, cantik kayak lu."


"Prettt! Lu yang mana? Cepetan pilih. Keburu waktunya habis," titah Alya. "Gue gak pinter milih tu barang, pilihin dong."


"Ini aja nih. Sama warnanya kayak punya gue, tapi beda modelnya. Promo juga, ini aja ya?"


"Okeeee."


...—·—...


Di kamera Dimas dan Tania.


"Mas, ayok kesituuu," ajak Tania antusias. Dimas yang memegang kamera menatap sekilas. "Gue kayak kang ojek ya di panggil Mas," keluh Dimas.


"Orang mah seneng dipanggil mas. Lagian nama lu tuh Dimas, gak enak manggilnya Dim. Dahlah, perkara nama nanti abis waktunyaaa!"


"Iya-iya terserah lu dah ya. Kalau lu manggil gue mas, gue panggil lu Yaya. Kalau manggil Tan jadinya kayak manggil tante atau mantan. Lu kan bukan mantan yaa tapi masa depan," goda Dimas sambil mengedipkan mata.


"Hahaha, bacott lu kang ojek!" Dimas cengengesan. Tania dan Dimas sama-sama berjalan. Namun, tiba-tiba saja Tania hampir terjatuh karena jalannya sedikit licin.

__ADS_1


Hanya sebatas hampir, Dimas yang sigap tadi menangkapnya, untung saja kamera yang di tangan Dimas tidak jatuh. "Hati hati, Taniaa. Udah dua kali lu begini," kata Dimas. Tania berdiri lagi, ia agak gugup sekarang.


"Yee mana gue tau, ketemu lu bawaannya mau jatuh mulu. Btw, thanks yaa," kata Tania dengan senyuman. "Iya, sama-sama. Mau pilih yang mana ini jadinya?"


"Mencar aja, Mas. Lu cari punya lu, gue cari punya gue. Nanti kalau ketemu, pake di ruang ganti," Saran Tania.


Mereka sama-sama memilih sekarang. Sampai akhirnya menemukan pilihan yang cocok, Dimas mencoba di ruang ganti.


Setelah keluar ternyata dia mencoba sweater wanita lengan panjang hoodie crop yang nampak perutnya, terlihatlah roti sobek punya Dimas. Beberapa orang yang melihat Dimas tertawa, termasuk Tania yang terkekeh.


"Gimanaa, bagus gakk??"


Tania masih terkekeh. "Sumpee ya, Mas, lu tuh kayak banci hahahaha!" ledek Tania masih sambil terkekeh.


"Tapi gue ganteng, kan? Yakan?"


"Ganteng banget gilaa, sangking gantengnya gur mo muntaahh. Udah ganti sono, kagak malu apa diliatin orang." Dimas menatapnya kesal. "Jahatt. Lu juga udah dong, jangan ketawa lagii."


"Abisnya lu buat bengekk. Gue udah serius pilih baju, lu malah becanda. Udah cepet ganti sono. Biar gue ambilin baju yang lain, yang bagusan dikit. Eh itu bajunya gak koyak, kan?"


"Kagakkk. Itu ukuran lumayan gede tadi. Lu jangan ngambil baju yang kek gini lagi."


"Daster aja kali ye, Mas?"


"Boleeeeee~"


...—·—·—·—...


Setelah dua puluh sembilan menit berlalu, Jimmy dan Alya yang tiba duluan di tempat awal. "Wow, kita pertama cuyy," kata Jimmy antusias.


"Kira-kira menang dapat apa ya?" tanya Alya membayangkan hadiahnya. "Gak tau dahh. Paling gak dapett apa-apaa."


"Tidak boleh su'udzon anak muda."


Gak lama kemudian, Ivan dan Ica tiba di tempat. Tapi tiba-tiba keduanya menghentikan langkah, membiarkan Jimmy dan Alya berdua. Setelah Ivan dan Ica, muncullah Samuel dan Qiara.


"Kita di sini aja. Biarin si Jimmy berduaan sama Alya. Dia udah lama naksir sama itu anak," ujar Sam dan di angguki ketiga temannya.


Lima menit kemudian muncullah Dimas dan Tania. "Wee, ini ngapa pada ngumpul di sini?" tanya Dimas heran. Ivan menunjuk ke arah Jimmy. "Oohh, pacaran."


"Kalian paling lama sumpah. Lebih dari 30 menit," protes Samuel. "Hwahahaha, bodo amatt cokk. Namanya jugaa menikmati kesempatan."


"Opp, ngeriii."

__ADS_1


^^^Revisi, 2023.^^^


__ADS_2