Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Balik kerja


__ADS_3

Selasa pagi di kediaman Aska dan Zia.


Jika kalian bertanya-tanya bagaimana sate Padang yang diinginkan Zia kemarin, Aska membelikan sate Padang itu melalui pemesanan online di ponselnya.


Ya walaupun tidak sate Padang asli dari Padang, tapi Zia tetap memakannya. Karena dia menghargai perjuangan suaminya yang juga sempat berkeliling mencari pesanannya


.


"Sayang, kamu dirumah aja ya" pinta Aska. Mereka masih sama sama di dalam selimut.


"Gak mau, bosen" jawab Zia.


"Ya nonton drakor atau apa biar nggak bosen" Zia menatap Aska dengan puppy eyes nya.


"Nanti kamu kecapekan sayang" kata Aska. Mati-matian dia untuk tidak luluh dengan tatapan mematikan dari Zia.


"Kamu sayang nggak sama aku?"


"Kok tanya gitu? Kalau nggak sayang, nggak mungkin ada anak kita disini" Aska menatap Zia sambil mengelus perutnya.


"Ya kali aja kamu nggak sayang sama aku, terus ini cum-- cup~"


"Kebiasaan, kalau ngomong suka ngaco. Jangan mikir yang nggak-nggak deh" kata Aska.


Saat Zia ingin membalas perkataan Aska. Suara perut terdengar begitu jelas dari perut Zia.


Zia menatap Aska sambil cengengesan.


"Gemesin bangett sihh kamuu" Aska mengecup pipi Zia berkali-kali.


"Is udah, kamu bau" Aska mengerucutkan bibirnya.


Cup~


"Kamu mau makan apa, biar aku masakin?" Zia bangkit sambil mengikat asal rambutnya.


"Aku aja yang masak, kamu diem aja oke"


"Kok gitu?"


"Ya karena gak gini"


"Dih" Aska tertawa.


"Yaudah aku kebawah dulu ya" kata Aska.


"Aku ikut kantor ya nanti"


"Nggak"


"Sayang, kan kamu banyak kerjaan nanti. Mau tukeran sama Rap, pasti capek kalau kamu kerjakan sendiri. Biarlah istrimu ini membantu" bujuk Zia. Aska tertawa mendengar perkataan Zia.


"Aku bisa sendiri sayang" jawab Aska.


"Tau ah, gak asik" Zia menenggelamkan diri dibalik selimutnya.


"Eh kok gitu"


"Ya, karena gak gini"


"Kok ikut ikut?"


"Ya, bodo amat" Aska gemas melihat Zia. Dia menarik selimut itu. Terlihat Zia yang meringkuk. Zia mendongak melihat ke Aska dengan mata yang berkaca-kaca.


"Loh, kok nangis? Yaudah iya ikut. Tapi jangan capek capek. Oke" Zia mengangguk antusias.


Lagi lagi suara perut terdengar jelas, Aska terkekeh lalu mengajak Zia pergi ke dapur.


.


Di dapur, Aska benar benar memasak layaknya chef handal. Sedangkan Zia duduk di meja makan sambil memperhatikan gerak-gerik Aska.


Zia menghampiri Aska dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa sayang?" tanya Aska.


"Gak apa apa" jawab Zia santai. Pelukannya makin erat.


"Aku cinta kamu" bisik Zia lalu pergi. Aska cengengesan sambil melihat Zia yang pergi.


"Jangan lari lari"


"Iyaaa mas crushnya ziaaa" teriak Zia.


Lima belas menit kemudian, masakan Aska selesai. Dia menatanya di piring dan meletakkan dimeja makan.


Setelahnya Aska pergi ke kamar untuk mandi dan bersiap.


Setibanya di kamar, dia tidak melihat Zia. Dia mencari Zia ke seluruh penjuru kamar tapi tak bertemu juga.


"Sayang kamu dimana?" Aska panik.


"Aku disini, udah kamu mandi aja buruan" Aska pun memilih mandi.


Setelah selesai mandi, dia juga tidak menemukan Zia. Dia kembali ke meja makan namun sama aja Aska belom melihat Zia.


"Kemana dia sembunyi?" tanya Aska bingung.


"Sayanggg, kamu dimaanaaa, buruan sinii" teriak Aska.


"Iyaa bentarr" balas Zia. Zia turun dari tangga.


Untuk kesekian kalinya Aska dibuat takjub dan kagum ketika melihat Zia. Istrinya itu memang selalu bisa mencuri perhatian Aska.

__ADS_1


Hari ini Zia memakai dress selutut berwarna pink pastel, pakai stocking bening dan memakai high heels yang tidak terlalu tinggi.


Zia juga menggerai rambutnya dan sedikit memoles wajahnya.


Super cantik' itu yang ada di benak Aska ketika melihat wanitanya tersenyum.


Aska menatap Zia yang berjalan menuju meja makan. Matanya gak lepas menatap Zia, bibirnya juga tidak lepas dari senyuman. Begitupun dengan Zia.


"Sayang, kamu cantik banget. Banget banget malah" kata Aska. Zia tersenyum.


"Gak apa apa kan aku pake baju kayak gini ke kantor?"


"Siapa yang ngelarang? Kalau ada yang larang, lapor sama aku" kata Aska.


"Iya ya. Ntar laporin deh sama mas suami"


"Apa? Ulangi" pinta Aska.


"Hah? Apa? Yaudah yok makan" Aska menatapnya kesal, Zia hanya cengengesan.


Mereka memulai makan masakan Aska. Mata Aska tetap tak lepas dari Zia.


Aska berfikir anak nya cewek, karena semenjak hamil Zia lebih sering dandan, Zia juga suka warna pink dan hal hal yang cenderung feminim lainnya.


Itu masih dugaan Aska saat ini.


--


"Wah wah, parah. Nona Zia cantik banget anjirr" puji karyawan saat melihat Zia yang sedang sendiri lewat.


"Beruntung banget noh pak Aska"


"Iya. Udah cantik, profesional, terampil lagi. Duh jadi pengen duplikat nya nona Zia"


Tok tok tok


Mereka menoleh kebelakang.


"E- eh pak Aska" kata salah satu dari mereka. Aska menatap dingin karyawannya.


"Kalian digaji bukan buat gosip, ataupun buat liatin kecantikan istri saya! Kalian mau saya pecat?"


"Ma- maaf pak" mereka kompak.


"Halo pak, kenapa kejam banget si sama karyawan?" tanya Zia.


"Apaan sih kamu" kata Aska.


"Makasih loh ya udah puji saya" kata Zia pada karyawannya.


"Sayang" panggil Aska. Zia tertawa.


"Gitu aja cemburu, dah ah ayok" Zia tarik tangan Aska. Tapi Aska nggak bergerak sama sekali.


"Ayokk" Aska tetap diam.


"Yaudah deh" Zia pergi gitu aja. Belum terlalu jauh, Aska sedikit berlari dan langsung menggendong istrinya ala bridal style.


"Mata gue ternodai" ujar satu karyawan. Temannya tertawa.


Disisi lain, Aska membawa Zia ke private roomnya. Dia meletakkan Zia di kasur.


"Nakal banget" Zia tertawa.


"Mau dihukum?" Zia menggeleng sambil cengengesan. Aska mengecupi pipi Zia berkali-kali.


"Udah ih, kerjain pekerjaan kamu. Aku ke mejaku dulu yaa sayang" izin Zia.


"Jangan capek capek" Zia mengangguk lalu pergi.


"Emang gini resiko punya istri cantik"


--


Pukul 11:23


"Kenapa pegangin perut terus hm?" Tanya Aska sambil menghampiri meja kerja Zia.


"Laper tuan" jawab Zia.


"Apaan cobak tuan tuan, panggil mas kayak tadi pagi gitu biar sweet dikit"


"Yang ada aku geli manggil kamu mas"


Aska tertawa. "Tapi tadi sama semalem manggil gitu"


"Khilap" jawab Zia cengengesan.


"Hm.. makan beli di kantin apa beli di luar?"


"Luar," Aska menarik Zia untuk bangkit. Zia berdiri dari kursinya. Aska duduk di kursi Zia lalu menarik Zia duduk di pangkuannya.


"Ini di kantor sayang"


"Kan kantor aku" jawab Aska


"Bos kurang akhlak ini mah" Aska tertawa


"Mau makan apa jadinya?"


"Makan kamu"


"Yaudah yok sekarang ke kamar"

__ADS_1


"Eh apaan sih ngaco banget"


"Kebalik. Harusnya aku yang makan kamu" Aska mulai mengendus-endus Zia.


"Kumat kan kumat" Aska cengengesan.


Aska memencet tombol memanggil rap.


"Gila lu, parah" kata Rafael melihat Aska yang romantisan di tempat terbuka. Rafael juga kagum lihat kecantikan Zia.


Namun, dia mencoba untuk menetralkan semuanya agar bos-nya ini tidak ngamuk besar-besaran.


"Protes gue pecat" Zia tertawa.


"Ada apa bos?"


"Beli makanan. Emm.. Rendang khas Padang"


"Lu lagi nggak di Padang, kagak usah ngaco" Rafael emosi.


"Yaudah yaudah beli apa aja serah lo"


"Duit?"


"Yang ambilkan dikantong celana aku" bisik Aska pada Zia. Zia tertawa sambil kegelian.


"Kanan apa kiri?"


"Kiri" jawab Aska. Zia mengambilnya. Zia membuka dompet itu.


Pemandangan luar biasa, segala macam kartu berjejer disana. Didalamnya juga ada berlembar-lembar uang berwarna merah. Zia mengambil tiga lembar lalu memberi ke Rafael.


"Kebanyakan somplak" protes Rafael.


"Bawel banget dih" kata Aska, Rafael memilih pergi.


"Baperan banget woi" Rafael tidak perduli. Zia dan Aska tertawa.


Aska kembali ke zia. Dia meletakkan dagunya di pundak Zia, dan melingkarkan tangannya di perut Zia.


"Anak Daddy udah gede kayaknya" Aska mengelus perut Zia.


"Daddy? Tapi kemaren katanya ayah?" tanya Zia.


"Ayah berat kali. Kalau Daddy kan berasa masih ya gitulah" jawab Aska.


"Kalau panggil kamu Daddy, panggil aku mommy dong yaa"


"Nggak, panggil kamu omma aja"


"Ngaco" Aska tertawa.


"Awas"


"Ih ngambek"


"Bodo"


"Dosalo"


"Maaff" Aska tertawa lalu mengecup pipi Zia.


"Sayang, aku pengen sesuatu deh" kata Zia.


"Apaan?" tanya Aska.


"Pas tujuh bulanan, aku pengen ngadain acara gitu" jawab Zia.


"Masih lama lagi"


"Iyaa, tapi pengennya nggak disini acaranya"


"Ya masa dikantor" kata Aska.


"Udah enceng"


"Bodo amat"


"Los"


"Gak perduli" Zia ingin beranjak namun ditahan Aska.


"Lepas"


"Nggak" Aska cengengesan.


"Ngeselin banget sih!!" Aska mengecup pipi Zia sekilas.


"Makasih sayang"


"Kamu gak normal"


...____________...


...Guys, guys, guys, mau tanya dong....


...Kalau misalnya author bikin sekuel Ciwi Barbar tentang anak Aska dan Zia, pada mau baca nggak??...


...Dijawab yaa xixi:v...


...See you next chapter ❣️...


...___________...

__ADS_1


__ADS_2