
Pagi harinya, Zia baru saja selesai mandi. Ponselnya berdering terus menerus. Dia mengambilnya dan mengangkatnya. 'ternyata kontak dia gue save, namanya juga akrab. gobloknya gue bisa kelupaan sama dia.' batin Zia.
βAska ogebbβ
π Aska; haluuu, assalamualaikum.
Zia; haluuu, waalaikumsalam.
π Aska; ngikutin lu ya!!
Zia; Ada apa bapak Aska?
π Aska; Loh. Kan gue gak ada kasih tau nama.
Zia; gue peramal.
π Aska; Halah prett.
Zia; Hahahahah, jadi?
π Aska; Share lokasi hotel Lo, gue jemput.
Zia; Lo udah dimana?
π Aska; baru mau keluar, udah cepet kirim. Kita di tunggu sama mereka.
Zia; hm
π Aska; cepat! Assalamualaikum
Zia; hm! waalaikumsalam. (memutuskan panggilannya, lalu mengirim lokasinya).
Zia kembali bersiap siap. Gak lama kemudian, Aska telepon dan bilang kalau udah sampe, Zia keluar kamar lalu check out.
"Tuan Kusuma," panggil seseorang, Zia melihat mereka dari kejauhan.
"Oh, hai" kata Aska dingin. Dia adalah Lindi Steffia. Rekan bisnisnya, dan salah satu fans Aska waktu dia sekolah di Amerika.
"Lagi apa disini?" tanya Lindi.
"Nunggu, calon istri" jawabnya dingin. 'calon istri udel lu ijo' batin Zia.
"Loh? Mana?" tanya Lindi lagi. Zia mencoba memberanikan diri untuk muncul.
"Eh, halo" sapa Zia dengan senyumannya. 'cantik sih, manis, mukanya blasteran. emm, tapi masih seksian gue, bisalah diembat' batin Lindi.
"Ah.. Halo, my name is Lindi, from Indonesia." ujar Lindi mengulurkan tangannya.
"Gue juga orang indo kok" jawab Zia.
"Zia" Zia membalas uluran tangan Lindi.
"Ohh, tapi mukanya blasteran gitu." ujar Lindi.
"Blasteran Jerman." jawab Zia sambil tersenyum.
"Udah? Ayok sayang" ajak Aska. 'asal ceplos aja nih anak, gue baper jadinya' batin Zia menatap sinis Zia. Aska menarik tangan Zia membukakan pintu untuk Zia. Zia pun masuk. Setelahnya, dia meletakkan tas ransel big size nya Zia di tempat duduk belakang.
" Gue duluan lin" ujar Aska lalu masuk ke mobilnya. Setelahnya mobil itu jalan.
"Heh kang rusuh, member OpTb yang palβ"
"Lo ingat? Ingat gue?????" potong Aska.
"Udah diem dulu lo. Gue mau marah!" Aska meminggirkan mobilnya.
"Ngapain berhenti?!!!" tanya Zia. Aska maju ke hadapan Zia. Dengan jelas dia mendengar detak jantung Zia yang tidak karuan, Aska tersenyum. Sebenarnya jantung Aska juga gitu. Dia mencium pipi Zia, lalu mengambil seat belt dan memasang ke Zia.
"Lanjutin marahnya, gue dengerin" ujar Aska sambil memandang Zia. Zia, jadi salah tingkah.
"Ehm hm.. gak jadi. Udah cepat. Yang lain udah tungguin" suruh Zia. Aska tidak bergerak dan tetap memandang Zia.
"I Miss you, really Miss you." ujar Aska pelan. Zia pura pura tidak mendengar.
"Detak jantung Lo emang lagi lari gitu?" tanya Aska lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Hm.. lagi maraton biar sehat" jawab Zia asal.
"Bisa gitu?" tanya Aska.
"Hm"
"Yang tadi siapa?" tanya Zia. 'ngapain kepo Zia goblk?!' batin Zia.
"Rekan bisnis, dan fans gue waktu dikampus" jawab Aska.
"Pret, orang rusuh kayak lo bisa punya fans?" tanya Zia.
"SMA Kebangsaan aja fans gue banyak sayang" jawab Aska.
"Gue tabok mau?" tanya Zia. Aska menggeleng sambil cengengesan. Tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Angkatin, gue nyetir." suruh Aska.
"Manjaa" cibir Zia, dia mengambil ponselnya dan membuka kodenya, Zia tau. Dan ingat.
"Ivan" ujar Zia, dia pun mengangkat dan mendekatkan ke telinga Aska.
βIvan setresβ
π Ivan; dimana sih? Lama amat, capek kita tungguin ini. Jangan buat produk pula kalian!!
Aska; Gigi lo somplak bikin produk! Sabar njrrr sabar!! Udah deket ini.
π Ivan; Zia mana?
Zia; apa?
π Ivan; Lo tadi buat produk.
Zia; Ka, masih lama? Gue mau tampol nih orang.
π Ivan; (memutuskan panggilannya)
"Semprul" cibir Zia.
"Gak boleh ngeluh sayang" sahut Aska.
"Sayang sayang udel Lo pink!!!" balas Zia. Aska mendekatkan wajahnya ke wajah Zia.
"Sa~yang" bisik Aska. Zia merona, Aska tertawa. Bertengkar dan menggoda Zia adalah hobi baru Aska. Baginya itu menyenangkan, apalagi kalau lihat Zia malu malu.
"Nyetir yang betulll, gue belum mau mati." suruh Zia. Aska kembali kejalanan yang ada dihadapannya.
"Makasih udah mau bangun dari koma Lo. Maaf gue gak jadi first people yang Lo liat" ujar Aska setelah mereka diam 5 detik.
"Iya iya, gue tau. Kalian emang nolep kalau gak ada gue" balas Zia. 'keceplosan mulut lu Zia!!' batinnya.
"Lo gak galau gagal nikahkan? Jangan galau. Oke? Sekarang kita senang senang diparis" kata Aska.
"Yang galau siapa? Gue? Gue biasa aja kali" balas Zia.
"Baguslah" jawab Aska sambil tersenyum lebar. 'tunggu sampai waktunya tepat zi' batin Aska. Gak lama kemudian mereka sampai ditempat perkumpulan. Di hotelnya Ivan.
"Lama kali kalian sumpah deh" cibir Ivan.
"Lo cewek apa cowok si pan? Ica Tania aja diem aja loh" balas Zia.
"Kami mau protes keduluan Ivan" jawab Tania.
"Masih mau ngeromet atau kita berangkat?" tanya Aska.
"Tania, Ica masuk" suruh Aska.
"Dih, jiwa bapak bapak nya keluar" cibir Zia.
"Hey" panggil Aska. Zia tidak merespon dan masuk ke mobilnya Aska.
"Gak ada yang ketinggalan kan? Udah jam 7 nih kita berangkat" ajak Dimas. Mereka pun masuk ke mobil masing-masing dan memulai perjalanan menuju Paris.
Didalam mobil Ivan.
__ADS_1
"Ingatan Zia udah balik sepenuhnya, dia udah ingat si Kusuma" ujar Ica membuka suara.
"Serius?" tanya Tania, Ica mengangguk.
"Gue sengaja sih, rada maksain dikit. Tapi gue takut juga dia kenapa kenapa. Jadi gue suruh aja si Qia kirim foto foto mereka waktu di Filipina. Yang pas teleponan itu loh yang" kata Ica pada Ivan yang menyetir.
"Emmm, iya iya gue tau, si Zia pusingkan. Habis itu dia ingat semuanya" jawab Ivan. Ica mengangguk.
"Kita kan sengaja pake mobil biar mereka bisa berdua supaya Zia ingat" balas Dimas.
"Si Aska kegirangan gue rasa" lanjut Tania.
"Eh, aska udah tau?" tanya Tania.
"Gue gak tau," jawab Ica.
"Kita harus suruh Aska gercep. Kalau gak Zia pasti diambil orang lagi" ujar Ivan.
"Nah iya bener, Lo pada ngerasa gak sih? Waktu kuliah itu, bang Kris kayak suka sama Zia tapi dia seakan-akan mundur gara gara Zia calon bini Bian?" tanya Dimas.
"Gue gak terlalu peka" jawab Tania.
"Gue ngerasa sih, ya tapi gue kira sebatas abang adek gitu" jawab Ica.
"Nampak emang gerak geriknya bang Kris. Dia demen sama Zia" sahut Ivan.
"Udah skip, gue punya ide supaya Zia sama Aska deket. Telepon Sam atau Qia suruh..................." Ica berbisik pada Tania, lalu pindah ke Ivan. Tania kasih tau ke Dimas.
"Ntar lepas gimana?" tanya Dimas was was.
"Gak gob*lok gob*lok amat kok si Aska" jawab Ivan.
"Ya tapikan, eh. Ide bagus sih sebenarnya. Telepon yang" suruh Dimas pada Tania. Tania menelepon Qiara lalu mengatakan ide gila mereka.
Di mobil Aska.
"Gue mau ngomong apa coba tadi? Lupa kan!" ujar Zia.
"Ngomong apa?" Tanya Aska.
"Gak tau gue lupaaaaaaaa" jawab Zia.
"Masih muda, belum jadi emak dari anak anak gue" balas Aska. Zia menyubit Aska.
"Eh akhh akhh.. sakit! Gue lagi nyetir" keluh Aska.
"Kebanyakan omong kosong sih Lo" kata Zia.
"Oh iya, Kok lo bisa mimpi tentang kecelakaan gue dua tahun yang lalu?" tanya Zia.
"Tau darimana?"
"Baby Zap" jawab Zia asal.
"Baby Zap? Anaknya bang Ze maksud lo? Lo waras atau gila?" tanya Aska.
"Iyyaa gila" jawab Zia.
"Pantesan"
"Ih ngeselinn!!!" keluh Zia.
"Sini sini deket" suruh Aska.
"Ngapain?" tanya Zia ketus.
"Udah sini" suruh Aska lagi. Zia pun mendekat ke Aska. Aska mengecup kening Zia. 'aska beg*o, kok nyosor mulu sihhh?! oke tenang, calm down.' batin Aska.
"Jangan marah marah gitu kek sama suami Lo" suruh Aska. Zia gak terlalu sadar dengan perkataan Aska, tapi dia terkejut karena Aska mengecup keningnya. Udah kedua kalinya dalam hari ini.
"Aska, Lo kenapa seromantis ini sih?"
"Jangan buat gue melayang kemudian terbanting karena kata kata Lo. Jangan buat gue salah paham. Gue punya dinding pertahanan yang tebal, biar gak gampang baper. Tapi, setelah ada Lo semua berbeda, pertahanan gue runtuh." ujar Zia tanpa sadar, Aska tersenyum.
"Tenang aja, gue tanggung jawab kalau Lo baper" balas Aska mengelus pipi Zia masih sambil menyetir.
__ADS_1
"Udah sana balik ke tempat Lo." suruh Aska. Zia kembali ke tempatnya dengan kebingungan. Aska cengengesan melihatnya.