Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Zia sengklek?!


__ADS_3

Minggu pagi dia terkejut saat pakaiannya sudah berganti, dia ingat kalau sedang di mobil bersama Bian, tetapi kenapa dia dikamar. Dia menuruni tangga dan memanggil pembantunya bertanya apa yang terjadi semalam,


"Ohh.. kemaren ada pria yang tampan mengantar nona ke kamar, dia memanggil dan menyuruh bibi mengganti baju nona, setelah itu dia pulang" ujar pembantunya. Zia lega. Luis dan yang lain sudah kembali ke Jerman pagi pagi sekali karena ada urusan yang sangat penting. Zia pun menikmati hari minggunya dengan menonton film dan berbagai kegiatannya yang lain.


Hari ini hari Senin, hari paling membosankan menurut pelajar. Karena hari Senin sangat jauh dengan hari Minggu. Zia sudah bersiap ingin berangkat ke sekolahnya. Dia sedang bersarapan dengan keluarganya, keluarganya bertambah 1 karena adanya Febby. Zean dan Febby ingin membeli rumah baru. Tetapi dia tidak ingin terlalu jauh dengan keluarganya. Jadi dia masih mencari-cari untuk tempat tinggalnya. Dia ingin menetap dirumah besar keluarga Hitler. Tetapi Febby bilang jangan selalu bergantung dengan orang tua, Zean pun mengiyakan perkataan Febby. Zean sekarang bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan milik papanya.


"Aku pergi dulu ya sayang" pamit Zean pada Febby.


"Sok manis, pengen nampol" sahut Zia sambil memakan rotinya.


"Berisik, kawin sono lu sama Aska atau gak Bian" sambar Zean.


"Kepala lu peang. Udah sono sono pergi" usir Zia. Zean tetap duduk, Zia melihat arlojinya yang dibeli saat diJerman. Dia mengusir Zean tetapi dia yang pergi.


"Ma, pa, Zia berangkat dulu. Udah hampir terlambat ini" pamit Zia sambil menyalami tangan orang tuanya.


"Zia pergi dulu ya kak" pamit Zia pada Febby.


"Eh sama gue?" tanya Zean.


"Yaa gue pigi dulu. Lo pigi Sono!" usir Zia dengan tertawa kecil sambil berlari kearah pintu. Dia menggunakan mobil sportnya hari ini. Zia mempunyai 2 kendaraan khusus, pertama mobil sportnya dan yang kedua motor sportnya. Zean hanya memiliki 1 mobil, tetapi sudah di modif sangat cantik. Sedangkan Zai hanya memiliki 1 motor sport, dia belum diizinkan memili mobil, tidak tau mengapa. Papa dan mamanya masing² memiliki 1 mobil. Garasi mereka sangat besar, bisa menampung 4 mobil dan 2 kereta.


Zia sudah sampai di sekolahnya. Dia selalu memakai headphone atau terkadang menggunakan earphonenya. Dia berjalan menuju kelasnya, 30 detik lagi bel berbunyi tetapi Zia masih saja santai, kelasnya dilantai 2 bagian ujung karena dia kelas XII IPS 3.


Bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu, dan Zia baru sampai dikelasnya. Untung pak Roy belum masuk ke kelasnya. Sekarang semua temannya sedang berkumpul menggosip seperti biasa.


"Ziaaa.. gimana bisa hp lo dipegang sama Bian?" tanya Tania.


"Hah?" tanya Zia kebingungan. Tania menunjukkan chatnya.


"Eh?! Kenapa dia narsis banget jadi manusia?" respon Zia.


"Lo ngobrol apa aja sama dia?" tanya Qiara.


"Lo gak diapa apain kan?" tanya Ivan


"Gak ngobrol apa apa. Dingin kali manusianya sebeku kutub selatan."


"Eh betewe kalian tau gak dia siapa?" tanya Zia.


"Nggak" jawab mereka serentak.

__ADS_1


"Dia temen dari makhluk yang pernah gue tendang di sekolah pindahan kedua gue" jawab Zia.


"Anjayyy" sahut Tania.


"Tapi dia lebih tua tau dari kita, gue pernah denger katanya dia udah kuliah." lanjut Tania. Zia mengeluarkan eksesnya dan membuka aplikasi cacing yang lagi viral.


"Maybe, gue gak tau tentang itu." jawab Zia sambil terus memainkan gamenya. Dia terus memainkanya sampai cacingnya besar. Dia tidak sadar dari tadi kalau kepseknya yang baru, pak Adit sudah ada dikelasnya.


"Oh tidakkkk" teriak Zia saat cacingnya menabrak cacing lain. Dia melihat mereka yang melihat kearahnya. Ivan memberitahukannya kalau pak Adit dibelakangnya.


"Eh, pak Adit. Annyeongaseo. Apa kabar pak?" tanya Zia.


"Kamu saya hukum." titah Pak Adit.


"Eh tunggu pak, pak Roy kemana pak? Kok pak Adit yang ngajar kelas ini?" tanya Zia.


"Pak Roy ada urusan. Karena semua guru ada jam. Jadi saya menggantikan kelas yang anti diem ini. Apalagi ada kamu." kata pak Adit tajam.


Toktoktok, ceklek.


Ternyata Aska baru datang.


'****** gue. kacau' racau Aska dalam hati.


"Kalian berdua saya hukum. Bersihkan toilet sampai jam ini dan jam setelah istirahat?" suruh Pak Adit tegas.


"Tapi pak..-" ujar Zia dan Aska berbarengan.


"Tapi apa?" tanya Adit.


"Boleh ke kantin kan pak dijam istirahat?" tanya Zia dengan muka polos.


"Zia punya kelainan gak sih" racau Tania.


"Teman teman, kalau kita salah dan kena hukuman itu santuy aja. Tapi kalau kalian benar baru protes" jawab Zia.


"Hidup dia penuh kesantuyan dan kebarbaran" sahut Joshua.


"Santai ketua" balas Zia.


"Semerdeka kamu ajalah Zia. Kekantin lah jam istirahat. Saya tidak suka menyiksa murid." sahut Pak Adit.

__ADS_1


"Huwahh.. gumawo pak" ujar Zia. Lalu berjalan keluar kelas.


"Ehh tungggu zia. Duduk sebentar." suruh pak Adit.


"Saya ingin menyampaikan, Bu Lesta tidak mengajar lagi. Karena dia sudah pindah. Pak Roy sekarang menjadi guru tetap dikelas ini"


"Bapak juga akan mengingatkan. Sebentar lagi kalian akan melalui berbagai macam ujian. Jadwalnya nanti akan diberikan oleh wali kelas kalian, pak Roy" lanjut pak Adit.


"Kamu bisa pergi sekarang" suruh pak Adit pada Aska dan Zia. Zia sudah beranjak tetapi Aska masih didalam.


"Kenapa kamu masih disini Aska? CEPAT!" bentak pak Adit. Aska pun pergi dengan muka santuynya.


Setelah Selesai. Zia dikantin, dia sudah memesan menu favorit teman temannya dan tinggal menunggu mereka datang.


"Wah wah.. kerasukan apaan Lo? Lo kenapa hari ini kayak seneng banget gituu?!" tanya Qiara.


"Gue juga ga tau." jawab Zia sambil mengeluarkan hpnya dia kembali memainkan game cacing. Tetapi hpnya dirampas Ivan.


"Hp mulu kerjaan! Udah mau tamat ini. Quality time itu penting!" sahut Ivan.


"Iya iya gue salah, gue minta maapp" ujar Zia.


"Seorang Zia minta maap? Gak nyangka."sahut Sam.


"Terserah lo Sam, gue mah manusia terbaik sedunia" sahut Zia.


"Udah makan itu. Bayar sendiri²" suruh Zia, dia berbohong. Padahal makanannya sudah dibayar olehnya.


"Gue pikir gratis" sahut Dimas. Shinta dan Dimas selalu bergabung dengan mereka saat jam istirahat. Zia hanya diam.


"Eh tunggu woi!" suruh Eza.


"Apaan?" tanya Alya.


"Jangan jangan dikasih racun sama Zia"


"Dih otak lu sekecil ta*ii kelinci ya? YA GAK MUNGKIN LAH GOBLOKKKK" teriak Zia.


"Siapa tau" sahut Eza sambil cengengesan. Mereka pun kembali makan. Ketika mereka mau bayar, Buk kantin bilang makanan sudah dibayar oleh Zia.


"Zi Lo kenapaa? Aneh banget tau gak sih?" tanya Qiara.

__ADS_1


"Gue juga gak tau. Gue lagi baik hari ini. Makanya gue kekgini." jawab Zia.


"Terserah lo Zi terserah" sahut Jimmy.


__ADS_2