
Setelah perginya Zai.
Lontong yang dibuat Aska pun sudah jadi. Zia mencoba memakannya.
"Emmmmmm.. enakkk, pinter banget kamu bikinnya" puji Zia.
"Enakkan?" tanya Aska, Zia mengangguk.
"Aaaaaa" Zia menyuapi Aska.
"Ini asin sayang" keluh Aska setelah mengunyah habis suapannya.
"Lidah kamu bermasalah. Ini enak, rasanya pas. Mantepp. Aku suka." Zia memakannya dengan lahap.
'ini lidahku yang salah, atau lidah istriku yang salah sih?' batin Aska bingung.
Tak mau ambil pusing, Aska pun membiarkan Zia memakannya dan menatap Zia makan begitu lahap.
"Aku seneng liat kamu lahap gitu" ujar Aska.
"Hehe, enak sih. Papa Aska the best" puji Zia lagi. Aska tersenyum, lalu mendekat ke Zia.
"Baby kita perempuan atau laki-laki ya? Manggil aku Daddy, ayah, papa atau papi?" tanya Aska.
"Emm.. Abi aja gimana?" tanya Zia. Aska tertawa.
"Ada ada aja kamu ya" Zia cengengesan.
"Ayah aja deh, kan lebih mantep. Kalau papa sama kayak aku panggil papa. Kalau manggil Daddy fotokopi bang Ze. Kalau papi itukan panggilanku ke papa mertua." pilih Zia. Aska manggut-manggut.
"Perempuan atau laki-laki? Kamu mau yang mana?" tanya Zia.
"Laki-laki"
"Kenapa?"
"Karena.. nanti dia yang bakal jadi penerus ku, dan yaa semoga aja bisa lindungi adek adeknya kayak bang Ze lindungi kamu"
"Kalau kamu?"
"Bukan ikut ikut sih. Tapi pilihan kita emang sama" balas Zia.
"Kita sehati" ujar Aska. Mereka berdua tertawa.
Drrttttttttt drtttt..
"Gak bisa biarin orang tenang gitu ya?! Mau quality time juga!" romet Aska kesal. Dia meraih ponselnya lalu mengangkat teleponnya.
—Aksaa—
📞 Aksa; AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA CEPAT KE KANTOR SEKARANG!!! FANS LO GILA SEMUA, GUE YANG DISERBU NIH!!
Aska; ( tertawa ngakak )
📞 Aksa; Plis deh, jangan laknat gitu jadi adek.
Aska; ( masih tertawa ) Lo handle aja dulu kek. Gue butuh quality time sama istri nih. Lagian ngapain lu ke kantor?
📞 Aksa; mau demo lu! Gue tungguin kemaren dirumah kenapa gak dateng peak?!
Aska; astaga, gue lupa sa. Beneran! Kerumah gue aja sini lo.
📞 Aksa; gak usah nyuruh yang tua gitu dah. Dalh, mendingan lu sekarang ke kantor. Cewek cewek gila itu serbu gue. Gue jadi ikutan gila.
Aska; Lo mah emang udah gila sejak lahir.
__ADS_1
📞 Aksa; kelaknatannya bertambah. CEPAT KEMARI WOI! assalamualaikum ( mematikan teleponnya )
"Waalaikumsalam" Aska masih cengengesan.
"Kenapa sih?" tanya Zia bingung.
"Gak tau nih, katanya ada cewek datang ke kantor. Ribut jambak jambakan" jawab Aska.
"Emmm.. bisa kutebak, salah satunya ada Lindi" ujar Zia.
"Mungkin"
"Kamu mau ke kantor?" Aska menyandarkan kepalanya di bahu Zia.
"Ngapain ngeliatin cewek berantem? Mending liatin bumil kalem"
"Hilihh gayanya. Eh tapi, masa iya aku kalem?" tanya Zia.
"Kalem banget malah" jawab Aska.
"Hiii gak mungkin seorang Zia kalem. Zia itu BARBAR"
"Barbar kamu ngilang setelah nikah sama aku"
"Nggak yaaaaa" balas Zia.
"Iyainnn" Aska mencubit pipi Zia gemas.
"Sakittt" keluh Zia.
"Tuhkan, udah gak barbar lagi, di cubit dah kesakitan"
"Yaaaa kamu nyubitnya pake tenaga ekstra" Aska cengengesan.
"Males ah"
"Iss ayolaaa" rengek Zia. Aska menepuk pipinya.
"Kebiasaaaan" balas Zia, Aska cengengesan. Zia mendekat ingin mengecup pipi Aska tapi Aska berbalik, jadinya kissing scene.
"Kusukaa" Aska langsung berlari menuju kamarnya.
"Dasar papa muda" ledek Zia cengengesan.
-------
"Loh, mas mau kemana kok malah keluar?" tanya Kinan bingung.
"Abang ipar sama kak Zia gak mau diganggu katanya. Jadi mas pergi aja" jawab Zai.
"Terus sekarang kemana? Balik?"
"Mau kamu?"
"Kinan belum mau balik sih, hehe" Kinan cengengesan.
"Pasti mau deket deket terus sama mas" goda Zai.
"Gak usah ge-er mas" Kinan menutup muka Zai dengan tangan mungilnya.
"Jujur deh jujurr" goda Zai lagi. Dia menyingkirkan tangan Kinan.
Lalu memegangnya dan mencium punggung tangan Kinan.
"Apaan sih" Kinan cengengesan sambil mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? Kita ke pantai, taman, mall atau... Kemana gitu?" tanya Kinan.
"Emmm... Kinannn.."
Kriuk kriuk
Perut Kinan berbunyi.
Kinan cengengesan.
"Kenapa malu maluin si, kan tadi udah makannn" keluh Kinan pada perutnya. Zai tertawa, dia menggandeng tangan Kinan lalu membawanya menuju pintu penumpang.
Zai membukakan pintu untuk Kinan.
Setelahnya dia masuk ke pintu pengemudi.
"Pake seat belt sendiri, atau mas pakein?" tanya Zai. Kinan memasang seat belt nya.
"Jadi... Kamu mau makan apa ni?" tanya Zai menatap Kinan.
"Terserah" jawab Kinan.
"Okee.. kalau gitu kita berangkat" Zai mulai mengeluarkan mobilnya perlahan dan melaju di jalanan.
Empat puluh lima menit tiga puluh dua detik kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang sangat mewah.
"Masss, kok disini? Ini tu pasti mahal. Gak mau disini ahhh" pinta Kinan. Zai mengeluarkan kartunya, kartu dari Aska.
"Mas udah dapat modal dari bang Aska. Jadi santai aja. Ini dihabisin bang Aska juga gak bakal marah" jelas Zai. Zai keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu Kinan.
"Boros bangett si" ledek Kinan. Zai cengengesan lalu mengambil tangan Kinan untuk di genggam. Mereka pun masuk ke restoran itu.
--
'mas Zai kalau makan tenang, gak main hp. dah gitu ganteng banget lagi, kiyuttt' batin Kinan.
"Kenapa liatin mas terus?" tanya Zai sambil makan.
"Hah? Em? Enggak" jawab Kinan. Zai cengengesan.
"Makanlah, habiskan, setelah itu kita pergi kemana pun kamu mau" tawar Zai, Kinan mengangguk.
'apaaa aku keliatan matre ya? aku takut di hujat karena dekat sama mas Zai. takut mereka berfikir aku cuma mau uangnya' tanya Kinan dalam hatinya.
"Nggak kok, kamu nggak matre" ujar Zai.
"Mas.. bisa baca pikiran?" tanya Kinan.
"Baca pikiran orang sih gak bisa, tapi kalau baca raut wajah kamu mas bisa" jawab Zai jujur.
"Gak usah dipikirin apa kata orang. Manusia selalu mengatakan hal hal tidak penting untuk menjatuhkan. Kadang, mereka mengatakan hal yang tidak ia ketahui dari suatu kejadian yang sebenarnya"
"Mereka selalu berbicara tanpa berfikir bagaimana kedepannya dan bagaimana dampaknya, jadi.. gak perlu dengerin omongan mereka yang cenderung gak berguna. Anggap aja angin lalu."
"Eh tapi, gak semua omongan orang gak berguna, ada juga beberapa yang berguna meskipun yang mereka katakan menyakiti hati kamu. Intinya, kamu harus pinter-pinter dengerin omongan orang dan jangan mudah loyo hanya karena omongannya. Oke" tanya Zai.
"Okesip" Kinan mengangkat jempolnya
"Lanjut makan la" suruh Zai. Kinan pun menyetujuinya dan melanjutkan makan.
"Jadi abis ini kita kemana?" tanya Zai.
"Nggak tau" Kinan cengengesan.
"Kamu gemesin banget sihhh, mas takut khilaff" Kinan malah senyum pepsodent.
__ADS_1