
"Alhamdulillah udah mendingan" ujar Zia setelah memeriksa Aska.
Dua hari Aska mendekam di kamar, baru sekali dia keluar kamar. Selama Aska sakit Zia selalu menemani Aska. Sampai akhirnya, hari ini Aska sembuh dari sakit demamnya.
"Kamu sulap ya? Aku gak minum obat apapun loh" balas Aska.
"Kata siapa? Semua yang kamu makan udah dicampur obat" jawab Zia.
"Serius? Tapi kok gak pahit?"
"Gak pahit gimana, setiap makan selalu ngeluh pahit. Sampe aku pake cara rahasia baru kamu bisa makan" protes Zia.
"Iya maapp" Aska memeluk Zia. Tapi, Zia malah menjauh. Aska membiarkan Zia menjauh.
"Tiap malam mami kesini sama kak Fiona"
"Aksa?" tanya Aska.
"Juga ikut"
"Kamu kasih tau aku sakit?" Zia menggeleng.
"Gak ada bilang sama sekali, mereka datang sendiri." jawab Zia.
"Besok besok, kamu gak boleh mandi hujan lagi!"
"Iya sayang iyaa" balas Aska, dia ingin memeluk Zia, lagi lagi Zia menjauh.
"Kamu kenapa jauh jauh gitu sih?" tanya Aska.
"Kamu bau" jawab Zia. Aska mengecek wangi badannya.
"Sayang, yang bener aja deh. Aku baru selesai mandi loh"
"Kamu bau pokoknya. Aku mau naik mobil sendiri" ujar Zia.
"Sayang. Bau apa sih? Aku gak bau sayang"
"Kamu bauu ay, mandi lagi sana" suruh Zia.
"Kamu kenapa sih?" Zia tidak menjawabnya.
"Yaudah iya, aku mandi lagi. Tapi kamu tunggu aku, jangan pergi duluan" suruh Aska. Zia mengangguk.
Aska pun kembali ke kamar mandi untuk mengulang mandinya.
Saat dia ingin menyemprotkan parfum, Zia mencegahnya.
"Jangan pake ituuuu. Itu bauuuuuu" ujarnya.
"Sayangg, kan kamu yang pilih parfum ini. Ini wangi kesukaan kamu. Kenapa malah bilang bau?" tanya Aska.
"Gak tauu, emang bauu" jawab Zia. Aska menatap Zia bingung.
"Ya udah kalau kamu kira gak bau, pake aja. Aku naik mobil sendiri nanti" lanjutnya.
"Yaudah iya gak aku pake" Aska menghampiri Zia lalu menggandeng tangannya.
Mereka pun keluar dari kamar menuju meja makan untuk sarapan.
"Loh Kinan, tumben kesini?" tanya Zia heran.
"Hehe.. Kinan cuma mau antar sarapan untuk kak Zia sama kak Aska. Kinan juga mau bilang makasih udah mau bayarin biaya kuliah Kinan. Tapi sekarang udah ada ibu yang bayarin. Jadi kakak jangan bayarin biaya kuliah Kinan lagi ya," jelas Kinan.
"Kamu yakin?" tanya Zia. Kinan mengangguk.
"Tapi, Kinan bolehkan tetap kerja di cafe kakak?" tanya Kinan.
"Boleh kok," jawab Zia sambil tersenyum. Kinan menghampiri Zia lalu memeluknya, Zia membalasnya.
"Makasih ya kak" Zia tersenyum.
__ADS_1
"Eh iya, ini hadiah kecil dari Kinan buat kakak" kata Kinan.
"Ngapain kasih hadiah segala sih kamu" Kinan cengengesan.
"Yaudah kak, Kinan pulang dulu ya"
"Gak ikut sarapan?" tanya Aska.
"Kinan udah sarapan kak" Kinan menyalimi tangan Aska dan Zia lalu pergi. Aska dan Zia pun memakan sarapan yang dibawa Kinan.
★★
"Welcome back big bos. Udah sembuh?" sapa Rafael. Aska dan Zia sudah tiba di Asz.
"Ya kalau belom gak kesini gue" balas Aska.
"Wih ah, selo aja napa si bos. Lagi marahan apa gimana kalian?" tanya Rafael saat melihat Zia yang langsung keruangannya.
"Nggak marahan, cuma gue bingung aja. Kenapa Zia bilang gue bau coba?" ujar Aska. Rafael mencoba mencium wangi Aska.
"Lu gak pake parfum biasa?" tanya Rafael.
"Nah itu dia, kalau gue pake itu dia bilang gue bau" ujar Aska.
"Gue mau peluk, eh dia gak mau. Tapi giliran sama Kinan dia malah bales pelukannya" lanjut Aska.
"Itu berarti anak lo gak suka sama wangi ayahnya" sahut Aksa yang baru datang.
"Dih dih, sotoi"
"Loh, gue serius ka. Baby-nya gak suka sama wangi lo" jelas Aksa.
"Yang bener deh lu sa, yakali anak gue gak suka sama wangi gue"
"Gak percaya tanya mama. Tapi tenang aja, cuma beberapa bulan bini lu kek begitu. Abistu udah balik normal lagi" jelas Aksa.
"Eh iya, ati ati lu. ibu hamil itu sensitive"
"Dih ini percapakan antar bapak. Gue kan single. Cabut ah" ujar Rafael lalu pergi. Aska dan Aksa tertawa.
"Iya deh yang udah mau jadi ayah." Aksa tersenyum senang.
"Lu kan juga" balas Aksa. Aska tersenyum juga.
"Kenapa lo kesini?" tanya Aska.
"Gue cuma mo ajakin makan malem dirumah gue. Lagian lu belom pernah kerumah gue" jawabnya.
"Oke, kapan?"
"Kapan? Emm lusa aja. Terserah lu aja jam berapa, yang penting datang"
"Eh sa, gue mau tanya sama lo"
"Apaan?" Aksa duduk dimeja Aska.
"Gak sopan ni anak"
"Lah lu gak kasih gue kursi begoo"
"Yoda ke sofa" ajak Aska. Mereka pun pergi ke sofa.
"Lo punya musuh?" tanya Aska.
"Banyak. Kenapa?"
"Beberapa hari yang lalu, gue mimpi ketembak sama musuh. Tapi gue gak tau mukanya dan gak tau itu siapa. Gue takut itu beneran terjadi, lo tau kemaren tu gue sama Zia sempat tengkar gara gara itu"
"Bahaya ka. Kalau musuh gue celakain lo sama Zia gimana?!" tanya Aksa mulai panik.
"Nah itu dia"
__ADS_1
"Lo punya musuh?"
"Musuh dalam selimut sih" jawab Aska.
"Gue gak bisa maafin diri sendiri kalau sampe lo sama Zia kenapa kenapa"
"Gak usah alay. Udah sana lo. Gue mo kerja" Aska beranjak.
"Gak sopan ngusir abangnya"
"Beda lima menit, gak usah banyak cakap" balas Aska. Aksa tertawa.
"Gue balik dulu ya, jangan lupa datang. Assalamu'alaikum"
"Iyaaa, ntar gue datang sama Zia. Waalaikumsalam" balas Aska, Aksa pun pergi.
Setelah perginya Aksa, Aska berfikir keras tentang penembak dalam mimpinya itu. Dia berfikiran kalau itu Hayr. Tapi dia teringat kalau Hayr sedang di dalam penjara.
"Gak tau ah pusing" ujar Aska. Dia pun kembali ke komputer didepannya.
-
Di ruangan Zia. Dia sedang berfikir juga, siapa penembak yang dimaksud Aska. Zia mendengar semua yang diceritakan Aska pada Aksa tadi.
Tok tok tok
Salah satu karyawan menyadarkan Zia dari kebingungannya.
"Maaf mengganggu Bu. Ini ada paket untuk ibu" ujarnya.
"Ah iya, makasih," jawab Zia tersenyum. Karyawan itupun pergi. Zia mencoba membuka kotaknya.
"Aaaaa" teriak Zia. Aska yang panik langsung menghampiri Zia. Spontan Zia memeluk Aska. Rafael pun keluar dari ruangannya.
"Kenapa??" tanya Rafael. Aska menunjuk isi kotak itu. Isinya ulat bulu.
"Kerjaan siapa sih?!" tanya Aska kesal.
"Kenapa ulat bulunya?" tanya Rafael.
"Zia phobia!" jawab Aska.
"Rap buang jauh-jauh"
"Tunggu, ada kertas di balik tutupnya" Rafael mengambilnya dan membacanya.
"Lo masih phobia ini ya? Gue seneng liat lo teriak karena ketakutan makanya gue kasih ini buat lo. Ini sebagai sambutan untuk pertemuan kita berikutnya. Selamat menikmati paketnya yaa" Rafael membaca tulisan di kertasnya.
Tiba tiba Zia melepas pelukan Aska dan berlari ke toilet khusus Aska. Di memuntahkan semua makanan yang dimakan tadi pagi.
"Sayangg. Kamu istirahat aja ya" pinta Aska memelas.
"Aku gak apa apa kok, cuma mual aja" jawab Zia.
"Gak apa apa gimana?! Muka kamu pucet itu lo. Nurut napa sama suami" balas Aska. Zia memandang Aska dengan tatapan memelas, dia juga mengeluarkan puppy eyes nya.
"Istirahattt yaa.. aku gak mau kenapa kenapa" suruh Aska. Zia masih memandang Aska dengan tatapan serupa.
"Sayaaangg"
"Yaudah iya, dengan satu syarat. Kamu kerja di sebelah aku" pinta Aska. Zia mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun kembali keruangan Zia untuk mengambil beberapa berkas yang dikerjakan Zia.
"Dari siapa itu?!" tanya Aska.
"Gak ada nam.. eh ini ada." Rafael mempertajam matanya untuk melihat tulisan yang kecil itu.
"Gila kecil banget ni tulisan. Juling mata gue" protes Rafael. Dia masih mencoba untuk membaca tulisan itu.
"Namaanyaaaaa...."
"Gisella Isya"
__ADS_1