
"Rap. Panggil semua ketua tim" suruh Aska.
"Lah ngapain?" tanya Zia.
"Rapat," jawab Aska.
"Sekarang?" tanya Rafael.
"Lo mau ACC?" tanya Rafael.
"Gak tau" jawab Aska.
"Gak jelas lu dora" Rafael pergi.
"Ehh tunggu kuyang"
"Apaa?" tanya Rafael.
"Gue yang bos lu yang ganas" cela Rafael.
"Ada apa bos?" tanya Rafael.
"Dalah gajadi" Aska memejamkan matanya..
"Eeeee... Sabar Rafael sabarrr. Atasan lo emang gila!" Ujar Rafael sambil mengelus dadanya. Zia tertawa ngakak dari mejanya.
"Rap, lu kapan nikah?" tanya Zia.
"Ini, laki bini bener bener pengen gue bunuh" balas Rafael. Aska dan Zia tertawa bersamaan.
"Gimana mo nikah, cewek aja gak ada" ledek Aska.
"Mau gue rekomendasiin gak?" tanya Zia.
"Yang genah tapi ya" jawab Rafael.
"Santai. Lu sih, bukannya nyari malah gila kerja'' balas Zia.
"Sukses dulu la bre, kalau gue belom sukses mana ada cewek yang deket. Modal tampang mana bisa" jawab Rafael.
"Halahlah, cowok pun kebanyakan liat cewek yang cantik, glowing, mulus, seksi. Wajarlah kalau cewek cari yang berduit. Glowing itu susah bro!" balas Aska.
"Wih, lakikku emang debess" ujar Zia.
"Baru tau?"
"Au ah" Rafael hendak pergi.
"Eh gua belom rekomendasiin rapaella" kata Zia.
"Lama sih"
"Yaudah, lu ikuti kata kata gue" Rafael berdehem.
"Readers ciwi barbar"
"Readers ciwi barbar"
"Ada gak yang mau jadi istriku?"
"Ada gak yang mau jadi istriku?"
"Kalau ada komen dibawah ya"
"Kalau ada komen dibawah ya"
"Senyum lu, jangan kusut mukanya" suruh Aska. Rafael pun senyum.
"Dih, gila. Senyumnya sok manis" ledek Aska. Padahal, Rafael emang ganteng, punya lesung pipi dannn ditambah sama gingsul. Perfect boy:)
Makin makin aja halunya author:)) 🤣
Next!
"Gue emang manis. Lu aja yang gak tau," balas Rafael lalu pergi.
"PEDEAN WOII" teriak Aska sambil cengengesan. Rafael melambaikan tangannya tanpa berbalik. Zia tertawa.
~
Rafael berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di Asz group. "Jauh kalilah kantin. Capek gue" keluh Rafael. Di sepanjang jalan dia disapa para karyawan yang berada disana.
__ADS_1
Rafael bukan orang yang sombong, jadi dia membalas semua sapaan para karyawan. Namun, keramahannya malah memiliki dia gelar playboy. Padahal, Rafael belum pernah pacaran sekalipun. Hidupnya berfokus dengan kata ‘Sukses’ dan juga selalu berfokus pada adek dan ayahnya.
"Rafael" teriak seseorang dari belakang. Rafael berbalik. Betapa terkejutnya ia melihat seseorang yang memanggilnya saat itu.
Kesal, marah, kecewa, semua jadi satu melihat wanita itu. Dia, dia si pecinta karir. Ibu Rafael.
Rafael memilih berbalik kedepan dan berjalan menuju kantin, sedangkan wanita itu masih menghampirinya dengan sedikit berlari.
Kenapa perempuan itu tidak tampak tua sedikit pun? Batin Rafael bertanya tanya.
"Rafael.. long time no see sayang" ujarnya sambil memeluk Rafael. Rafael diam dan tidak membalas sama sekali.
Wajah ibunya benar benar terlihat sangat muda. Banyak yang mengira itu adalah kekasih Rafael.
"Buat apa kemari? Pergilah" suruh Rafael sambil melepas pelukan ibunya. Dia beranjak pergi.
"Maaf" ujarnya sambil menahan tangan Rafael.
"Bisa kita minum kopi, atau teh. Kamu punya waktu senggang bukan?" tanya Wanita bernama Karin itu.
"Aku sibuk,"
"Ayolah, ibu tau kamu kecewa, kamu marah. Tapi, ibu mohon. Ibu ingin bertemu denganmu dan Kinan"
"Tidak perlu bertemu Kinan. Dia cukup menderita karena kepergian mu mengejar karir" jawab Rafael lalu benar benar pergi dari sana.
"Ibu minta maaf" lirih Karin.
·–—–·
"Eh.. ibu itu tadi siapa ya?"
"Gak mungkin kan kalau itu pacarnya. Ya meskipun cantik tapikan dah tua"
Gosip para karyawan.
Toktoktok,
Meja mereka digetok Aska.
"Kenapa gosip di jam kerja? Mau dipecat?" tanya Aska tegas.
"Saya meng-gaji kalian bukan untuk menggosip"
"M- maaf pak" jawab keduanya.
"Apa yang kalian gosipkan tadi?" tanya Aska. Mereka diam.
"Jawab!! Sebelum saya marah"
"A- anu pak, tadi ada ibu ibu cantik manggil pak Rafael" jawab salah satunya.
"Terus, dimana Rafael?" tanya Aska.
"Ng- nggak tau pak" jawabnya.
"Lain kali jangan menggosip di jam kerja! Saya tidak suka" Aska berbicara sambil menunjuk papan peraturan.
"I- iya pak" Aska pun pergi sambil berlari.
·
"Dimana sih, betingkah banget sampe ngilang kayak gini" keluh Aska sambil mencari Rafael. Dia sudah mencoba menghubungi tapi tidak tersambung.
Dia memutuskan menelepon Zia, karena ruangan mereka tidak terlalu jauh, jadi Zia bisa tau kalau Rafael ada di ruangannya.
—My Wife ❤️—
📞 Zia; Assalamualaikum, iya sayang kenapa?
Aska; ( hosh hosh ) waalaikumsalam. Rap diruangannya nggak?
📞 Zia; sebentar
📞 Zia; nggak ada, kenapa?
Aska; gak tau nih, rap ilang. Tadi ada karyawan bilang ada ibu ibu cantik manggil rap. Bisa jadi ibunya.
📞 Zia; kamu cek di kantin coba. Tadikan mau kekantin.
Aska; nggak ada sayang.
__ADS_1
📞 Zia; atap. Siapa tau dia disana.
Aska; oh iya aku belom cek, yaudah aku matikan. Semangat kamu kerjanya ( mematikan teleponnya )
"Lah, lift jauh dibelakang lagi. Masa iya naik tangga. Capek dahh" keluh Aska. Dia pun memilih menaiki tangga meskipun sudah kelelahan.
·
"Woi!" teriak Aska.
"Loh bos?" tanya Rafael.
"Gila, gue capek rap. Lu... ngapa ngilang mulu si.." keluh Aska sambil ngos-ngosan.
"Lah lu kenapa ngos ngosan?"
"Gue pake tangga tadi sambil lari"
"Suruh siapa lari?"
"Lo mau gue tabok?" tanya Aska. Rafael menggeleng lalu cengengesan.
"Gue takut lu kenapa kenapa. Ntar kalau lu mati gue kagak punya asisten yang elite kayak lu," jelas Aska. Rafael tertawa.
"Gue tau"
"Tau.. apa?"
"Nyokap lo datangkan?" tanya Aska. Rafael terpaku. Dia pun mengangguk.
"Lo temuin?" Rafael menggeleng.
"Kenapa?"
"Buat apa nemuin orang yang udah bikin gue, Kinan sama ayah menderita" jelas Rafael.
"Rap, gue tau kepedihan lo. Gue tau deritaan lo. Gue tau lo kecewa. Tapi, nyokap lo tetap nyokap lo. Dia yang lahirin lo, dia yang ngerawat lo. Dia bawa lo kemana mana sampe 9 bulan lamanya. Dari semua perjuangan dia, lo bisa hidup. Dia ketemu sama lo tadi, itu butuh keberanian rap. Dia rela di caci maki lo demi nahan rindu sama lo, sama Kinan, mungkin juga rindu sama bokap lo,"
"Lo tau, gue sering buat kesalahan sama nyokap, tanpa sengaja gue sering buat hati nyokap terluka, tapi nyokap tetep senyum dan rawat gue semampunya. Gue yakin nyokap lo juga kayak gitu, dia pasti tetap senyum didepan lo meskipun ada luka yang tanpa sengaja lo ukir."
"Manusia tempat salah dan khilaf rap. Gue saranin sama lo, kejar dia sekarang sebelum lo nyesel nantinya" ceramah Aska. Rafael dan Aska sama sama menitihkan air mata.
Rafael mengikuti perkataan Aska lalu pergi mencari ibunya.
·
Rafael berlari dengan cepat. Ntah karena ibunya lama, atau dia yang terlalu cepat. Dia menemukan ibunya yang ingin menyebrang, tapi ibunya tidak melihat kanan kiri dan tetap menunduk.
Rafael berlari sekuat tenaga untuk menghindari kecelakaan. Dia pun berhasil menyelamatkan ibunya. Rafael memeluk ibunya dan menangis di pelukan ibunya.
"Maafin ibu nak, maaf"
"Rafael udah maafin ibu. Rafael juga minta maaf karena kasar dan berfikiran macam macam tentang ibu"
"Ibu mengerti, jika ibu diposisi kamu. Ibu pasti akan melakukan hal yang sama"
Rafael melepas pelukannya lalu mengelap air mata ibunya.
"Darimana ibu tau Rafael disini?"
"Ibu tanya tetangga"
"Ibu mau pulang ke apartemen Rafael? Ibu mau ketemu Kinan?" Ibunya mengangguk.
"Ibu tunggu sebentar"
Rafael menghidupkan ponselnya.
—Bos sengklek—
Rafael; bos, gue balik boleh?
📞 Aska; mobil udah siap tuh. Pake aja sono. Gue gak terima penolakan ( mematikan teleponnya )
"Kalian emang baik" gumam Rafael.
"Kenapa?" tanya ibunya.
"Bukan apa apa bu. Bos Rafael baik, dia mau pinjemin mobil barunya untuk antar kita" jawab Rafael.
"Ibu tau, dia emang orang baik. Makanya dia bisa sukses seperti ini" balas ibunya. Rafael tersenyum lalu mengajak ibunya mendekat ke mobil Rafael.
__ADS_1