
"Kalian paling lama sumpah. Lebih dari 30 menit," protes Samuel. "Hwahahaha, bodo amatt cokk. Namanya jugaa menikmati kesempatan."
"Opp, ngeriii."
"Alahh bacott," sahur Tania mengundang gelak tawa. Kini mereka lanjut melihat Jimmy dan Alya dari kejauhan, saat Alya ingin naik tangga menuju meja, kakinya mendadak keseleo.
Jimmy yang melihat langsung membantu mengobati kaki Alya. Temannya yang lain pun sedikit mendekat ke arah Jimmy, ingin mendengar percakapan. "Lain kali hati-hati. Kaki lu jadi sakitkan ini."
"Iya-iyaa.. thanks udah bantuin gue," kata Alya melihat kakinya. "Al, gue mau nanya boleh?"
"Boleh, mau nanya apaa?" tanya Alya gantian. "Lu suka sama Aska?"
Alya sedikit terkejut. "Tiba-tiba tanya begituan? Nggak, gue gak pernah suka sama Aska." Jimmy tersenyum, "Serius lu?" Alya mengangguk.
"Kalau gue suka sama lu, gimana?" tanya Jimmy lagi memberanikan diri. "Hah? Apa gimana?"
"Gue udah lama suka sama lu, Alya. Lu– lu mau gak jadi pacar gue?" tanya Jimmy penuh harap. Samuel dan yang lainnya datang tiba-tiba. "Anjayy!"
"Terima.. terima.. terima!" sorak mereka bersamaan. Alya menatap mereka lalu menatap Jimmy lagi. "Sorry..." jawab Alya terjeda.
"Anjrit, dada gue sesek tetiba," sahut Dimas. "Orang lagi seriuss jugaa, meneng sek, Dim!"
"Tapi beneran sesek, gue jugaa nih. Ahh, penonton kecewaaa," sahut Ivan. "Kecewa kenapaa? Maksud gue kan sorry gue gak bisa nolak," sambung Alya.
"Kamprett di prank!!" Alya tersenyum menampakkan deretan giginya. "Hwehehehe." Jimmy sendiri tersenyum sumringah, ia mendekat dan langsung memeluk Alya.
"Wadoh wadohhh, bang rame, bang!" ledek Samuel. Jimmy melepas pelukannya. "Ganggu dah luu." Samuel tertawa.
"Yeayy jadiann! Akhirnya, kakak gue gak jones lagi!!" sorak Ica. "Adek lucknut lu berisik!" Ica cengengesan.
"Btw tadi gak nyuruh lu nolak, Al. Thanks udah nerima gue yaaa," kata Jimmy tersenyum lebar sambil memegang tangan Alya.
Alya membalas dengan senyuman. "Terimakasih kembali."
...—·—...
Sementara di Jerman. Zia sedang sudah bersiap untuk pergi berkeliling bersama sepupunya. Zia menuju kamar Luis dan membangunkan Luis dari tidurnya
"Luisss.. bangunn.. bayar utangmuu!" teriak Zia dengan bahasa Jerman sembari menarik kaki Luis. Luis terpaksa bangun. "Kau gila yaa?" Zia mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana jika aku jatuh dan mati tadi? Kau tidak akan punya sepupu yang gantengnya sepertiku!" Zia kini mengangkat sebelah kanan bibirnya. "Ge-er banget cokk!"
__ADS_1
"Kau punya penyakit ge-er yang cukup tinggi! Cepat bayar utang janjimu. Apa kau lupa kau be—" ucapan Zia terhenti karena hpnya berdering. "Siapa yang menelponmu? Di Indonesia ini jam 1 pagi."
"Ini dari bang Ze, sudah bersiaplah kau cepatt! Aku akan menunggumuu." Zia menunggu Luis di dalam kamar Luis sembari mengangkat panggilan video dari abangnya.
"Okee finee, udah di Jerman lupa sama abang."
^^^"Hwahahaha! Nggak gitu kok, bang. Gue gak sempet call ajaa. Gimana kabar kalian? Akurr?"^^^
"Jelas, enggak. Gue sama Zai baik-baik aja kok, dek. Lu lagi di mana sekarang?"
^^^"Di kamar Luis, ntu si Zai mana, bang?"^^^
"Zai udah tidur kayaknya, kan udah malem ini. Lu apa kabar? Grossvater dan grossmutter apa kabar?"
^^^"Semuanya baik, alhamdulillah. Btw lu kenapa call jam segini? Kan udah malem. Tidur sono besok kuliah."^^^
"Jiakhh, udah gede. Udah bisa nyuruh abangnya. Ini gue lagi rindu sama adek cewek gue yang paling nyebelin sejagat raya, makanya call."
^^^"Ceilehhhh, alay. Tidur sono, bang. Lu tuh gak boleh begadang. Ntar mata lu jadi item, jones lu makin akut karena gak ada yang mau sama lu!" ^^^
"Parah sih, adek lucknut. Gak kangen lu sama gue?"
"Kamprett! Gue tandain lu. Yaudah abang matiin dulu yaa, mau sleepcall sama ayang. Assalamualaikum."
^^^"Sokk punya ayaangg!! Yaudah wa'alaikumsalam."^^^
Panggilan langsung diputus oleh Zean. Zia diam di kamar, masih menunggu Luis selesai. "Lama sekali belio ini, lelah saya."
...—·—...
Kembali ke Indonesia, empat pasang anak sekolah menengah atas itu malah berpindah ke tempat karaokean. Masih belum mau pulang katanya.
"Anjirrr, Al? Yakali ini sepatu cantik harganya segitu?" tanya Qiara gak percaya. Mereka belum ada yang menyanyi sekarang. "Promo dong. Lu pada beli apaan?"
"Gue sama Ipann beli jam," jawab Ica menunjuk barangnya. "Ivan bukan Ipan. Bokap nyokap gue udah bagus bikin nama, lu ganti jadi jelekk," protes Ivan.
"Sama aja."
"Beda, sayangg."
"Ssttt. Gitu be ribut, gue doain jodoh."
__ADS_1
"Aamiin." "Najiss!"
"Awokawok, tidak sejalan."
"Tania sama Dimas beli apaaan? Qiara juga beli apaa?" tanya Alya mengganti topik. "Gue sama Dimas beli sweater. Ntar lu pada kalau liat vlog gue sama si Dimas pasti ngakak."
"Emang kenapa?" tanya Jimmy bingung.
"Udah ntar aja lu liatt."
"Gak sabar guee, jadi penasaran."
"Ngeditnya perlu bantuan gak, Sam?" tanya Dimas. "Bilang aja scenenya mau lu apuss!!" Dimas malah cengengesan.
"Udah gak usah biar gue aja ntar dibantu sama si Ivan. Lu nawarin bantuan tadi emang bisa ngedit?" tanya Samuel menatap Dimas. "Nggak sih."
"Kan anjirr. Buang manusia ini dari bumi, blacklist! Jengkel gue liatnya." Dimas malah tertawa ngakak.
"Qiara sama Samuel jadi beli apaan dehh?" tanya Tania gantian. "Baju doang tadi."
"Baju? Pasti duitnya kurangg, licik yaa?" kata Ica menatap curiga. "Nggak cokk. Duitnya pass banget malah. Liat aja nanti vlognyaa."
"Ouww."
"Okee syuda. Karena yang menang baru jadian, konsekuensi kalah menangnya adalah. Yang menang traktir kita besook. Yang kalah sama yang gak kalah dan gak menang menerima traktiran. Perfect!"
"Lahhhh?!"
"Tau gitu kagak usah menang kita, Jim," protes Alya. "Iya lu bener, Al. Jebakan ini namanya," sahut Jimmy mengundang gelak tawa.
"Tapi karena gue happy banget malem ini, okelah. Gue traktir makan besok," kata Jimmy lagi. "Hooouuuu! Yang baru jadiaannn~~"
"Traktirnya seminggu boleh gakkk??"
"NGELUNJAK ANYINGG?!"
"Becanda, jangan emosihh," kata Dimas bergurau. "Tapi kalau mau beneran sih gakpapa, gue siap nerima traktiran tiap hari. Hehehe."
"Bocah gratisann."
^^^Revisi, 2023.^^^
__ADS_1