Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Paris


__ADS_3

Pukul 16:30, di Paris.


Mereka semua ketiduran di ruang keluarga Qiara. Zia yang tertidur di pundak Aska. Aska yang tidur tenang membiarkan pundaknya dipakai Zia. Ica tidur di pahanya Ivan. Dimas tidur dibawah bersama dengan Tania, Qiara, Samuel, Jimmy dan Alya. Zia, Aska, Ivan dan Icalah yang menguasai sofa. Apartemen Samuel sudah berantakan karena mereka. Tidur mereka pun terganggu karena handphone Zia bunyi berkali-kali. Zia meraba ponselnya dan langsung mengangkatnya tanpa melihat nama. Dia gak tau kalau itu panggilan video.


β€”Bang Zeβ€”


πŸ“ž Zean; Assalamualaikum adikkyu.


Zia; Alaynya subhanallah, kok mau kak Febby sama Lo. Waalaikumsalam apa. (masih terpejam)


πŸ“ž Zean; Jih, buka mata Lo kampret!


Zia; (memaksakan melek) apa sih? Eh panggilan video kampret lah.


πŸ“ž Zean; dimana?


Zia; hotel eh apartemen Qiara. Kenapa sih? Ganggu aja.


πŸ“ž Zean; papa cariin.


Zia; ngapain papa cariin?


πŸ“ž Zean; mana gue tau.


Zia; mana papa?


"Nih pa" kata Zean dari sana. Zia masih bersandar di pundak Aska.


πŸ“ž Zeco; Hai sayang.


Zia; haii papsky kenapa?


πŸ“ž Zeco; Papa abis transfer kamu, sekitar 10 juta cukup?


Zia; HAH?


Zia; ngapain sebanyak itu pa. Zia masih punya uang di ATM.


"Apa sih teriak?" tanya Jimmy sambil melempar bantal ke Zia.


"Diem lu Jim ah" suruh Zia. Mereka semua pun akhirnya terbangun karena Zia.


πŸ“ž Zeco; Ya udah gak apa apa kan?


Zia; kebanyakan tau pa.


πŸ“ž Zeco; Gak apa apa, buat kamu. Kalau butuh uang bilang papa oke.


πŸ“ž Zeco; itu tadi siapa? Kamu dimana?


Zia; Zia diapartemen Qiara pa. Udah sampe di Paris kok. Itu tadi si Jimmy.


πŸ“ž Zeco; itu lagi pada ngapain? Kamu nyandar di pundak siapa?


Zia; (tanpa melihat kesampingnya Zia langsung memindahkan kameranya. Dia kira itu Ica.)


Aska; eh halo om.


Zia; (melihat kesampingnya) 'pundak Aska ternyata, nyaman banget' batin Ziqaaaa melihat Aska. 'aska ganteng banget diliat sedekat ini' batinnya lagi.


πŸ“ž Zeco; kamu tidur dipundak Aska? Gimana enak?

__ADS_1


Zia; dih papa apaan sih.


πŸ“ž Zeco; hahaha


"Siapa sih Zi?" tanya Ica.


"Bokap gue" jawab Zia. Zia menghadapkan kameranya ke wajah mereka semua. Muka muka bantal.


Ivan; Eh, halo om


πŸ“ž Zeco; iya halo nak Ivan, maaf om ganggu waktu kalian ya.


Samuel; nggak kok om.


πŸ“ž Zeco; yaudah om matiin dulu ya. Selamat liburan kalian.


"Iya om, assalamualaikum" ujar mereka semua bersamaan.


πŸ“ž Zeco; waalaikumsalam (memutuskan panggilannya)


"Lo kenapa teriak tadi hm??" tanya Aska sambil mengelus rambut hitam panjang milik Zia. Zia masih bersandar di pundak Aska. Enggan untuk berpindah dari sana.


"Si papa, masa gue ditransfer kebanyakan" jawab Zia.


"Ini manusia to*lol apa gimanaaa?" tanya Dimas.


"Overdosis dim, uang di ATM gue ngalir terus dari ZiCF." balas Zia.


"Ya udah terserah apa itu. Sekarang siap siap kita jalan jalan" ajak Qiara.


"Kemana aja?" tanya Alya.


"Qiaraa, laki lu pms? Dia kenapa sih?" tanya Zia.


"Tau tuh" jawab Qiara.


"Kurang jatah" sahut Ica sambil pergi ke kamar nya.


"Kampret lu ca" balas Qiara, yang lain tertawa. Mereka pun bersiap siap.


β˜…β˜…


Mereka semua udah selesai dan tinggal berangkat. Seperti waktu pergi, Aska bersama Zia. Ica, Tania, Dimas, Ivan satu mobil. Qiara, Sam, Alya, Jimmy juga satu mobil.


Hari mulai gelap. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam disana. Sedari tadi Samuel dan Qiara mengajak mereka ke berbagai tempat, mereka juga banyak mencicipi makanan khas Paris. Sekarang mereka berada di Menara Eiffel.


"Gak lengkap rasanya kalau kalian ke Paris tanpa ke menara Eiffel" kata Samuel.


"Masih satu hari di Paris, udah kemana mana aja" cibir Tania.


"Ya gak apa apa, masih banyak tempat wisata lain" jawab Qiara.


"Mau naik ke puncak?" tanya Samuel sambil menunjuk puncak menara Eiffel.


"Hihh.. gue takut ketinggian" ujar Ica, Ivan langsung merangkul nya. Ica melihat ke Ivan sambil tersenyum. Ivan spesies manusia cuek untuk beberapa wanita, tapi dibalik cueknya dia punya jiwa yang perduli dan juga romantis. Semua muncul sejak dia menemukan Ica, wanita yang dicintainya.


"Gue juga" sahut Alya.


"Tenang sayang, kan ada gue" ujar Jimmy pada Alya.


"Zia? Kenapa diam aja Lo?" tanya Ivan saat melihat Zia yang diam. Berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Hah? Nggak nggak apa apa" jawab Zia. Padahal dia sangat kedinginan. Dia tidak memakai jaketnya, dia hanya memakai sweater yang cukup tebal tadi. Mereka semua berjalan ke arah menara Eiffel. Qiara memang sudah memesan tiket untuk sampai ke sana.


Skip..


Sesampainya di menara Eiffel.


"Hua, takutt" ujar Alya sambil memeluk Jimmy.


"Nggak apa apa ih" balas Jimmy sambil nyengir.


"Indah banget pemandangannya" ujar Ica.


"Tadi ketakutan" cibir Dimas.


"Ada Ivan" jawab Ica sambil senyum-senyum.


"Zia? Lo kenapa?" tanya Aska. Zia tidak menjawab cuma menggeleng sambil tersenyum.


"Kita harus turun, dia pucat banget kayaknya Zia kedinginan" ajak Samuel. Mereka pun kembali turun. Aska menggendong Zia sampai ke dalam mobil.


"Kita ke Champs-Γ‰lysΓ©esΒ beli jaket Zia sekalian makan" ajak Qiara. Mereka pun mengikuti apa kata Qiara.


Sesampainya disana Aska menyuruh Zia tetap di mobil, Aska langsung membelikan Zia jaket tebal panjang dan syal. Saat Aska selesai membayar dia melihat Zia yang diluar bersamaan dengan yang lain.


"Kan udah gue bilang dimobil aja" protes Aska. Zia cuma diam. Aska memakaikan jaket ke Zia dan memasangkannya syal.


"Kalau kedinginan bilang, jangan diem aja. Mau jadi es batu?" tanya Aska. Aska mencium kening Zia lalu mengelus pipinya.


"Jangan bikin gue khawatir oke?" tanya Aska lagi. Zia mengangguk, dia menggerakkan kakinya satu langkah lebih dekat dengan Aska dan langsung memeluknya, Aska membalas pelukan Zia.


"Nyaman" kata Zia pelan, tapi terdengar Aska. Aska tersenyum. Teman mereka yang lain cuma melihat Aska dan Zia sambil merangkul pasangan masing-masing.


"Boleh gak sih gue bilang duluan?" tanya Zia masih memeluk Aska.


"Bilang apa?" tanya Aska bingung. Sepersekian detik dia tau maksud Zia. Mungkin ini maksudnya.


"Jangan, biar gue aja." kata Aska.


"I love you" bisik Aska.


"I love you too" balas Zia. Aska tercengang karena Zia membalasnya tapi dia senang. Dia pun tersenyum lebar. Dia mengeratkan pelukannya dengan Zia. Begitupun dengan Zia.


"Udah? Udah belum? Gue laper?" tanya Dimas. Ivan menggetok kepala Dimas.


"Gak bisa liat orang romantisan Lo?" tanya Ivan datar, Dimas cengengesan. Zia melepas pelukannya lalu tersenyum ke Aska. Aska membalas senyumannya, dia mengambil tangan Zia dan menggenggamnya erat supaya tidak lepas.


"Ayok makan, gue traktir" ujar Aska.


"Nah gitu dong" balas Jimmy. Mereka semua tertawa, setelah itu mereka mencari tempat di sekitar Champs-Γ‰lysΓ©esΒ untuk makan.


____________________


Huaaa..


Author yang ngetik, author yang baper 🀣


Ini bonus hari ini yaaa 😁


See you next chapter 🀩


____________________

__ADS_1


__ADS_2