Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Tadaaaaaa


__ADS_3

"Pake baju apa gue kalau gini, ribet amat. Gak perlu formal kan ya" kata Zean berbicara sendiri saat memilih bajunya untuk menghadiri pertemuannya dengan calon 'istrinya'. Dia pun mengambil baju santainya berlengan pendek, dibaluti jaket favoritnya, memakai celana jeans berwarna hitam dan sepatu berwarna putih.


"Ganteng amat lo" puji Zia.


"Gue emang ganteng"


"Yaiyalah, papa kan juga ganteng." Sahut Zeco.


"Kami berangkat dulu ya," pamit mamanya. Zai dan Zia mengikuti mereka sampai didepan pintu.


"Tolak aja bang kalau gak suka, ntar gue ikut cabut sama lo semisalnya dikeluarkan dari keluarga Hitler" bisik Zia sambil nyengir. Mereka pun pergi menuju tempat perjanjian.


"Belum sampe pa, mereka" ujar Zeva. Mereka memasukki kafe dan menuju ruangan VIP.


"Eh sudah datang kalian" sapa Fernando


"Ah iya baru saja" sahut Zeva.


"Dimana putrimu?" tanya Zeco.


"Ah dia sedang ke toilet sebentar." sahut Natera. Zean pun sibuk memainkan game onlinenya dan tidak memperdulikan yang lain.


"Eh om??" tanya Febby. Zean pun mendongak mendengar suara pujaan hatinya.


"Feb.. Febby" ujar Zean sambil berdiri


"Zean?" sahut Febby.


"Mau nolak perjodohan ini Zean?" tanya Zeva.


"Wah wah wah.. jadi papa mama ngerjain Zean. Udah nangis darah kemaren tau" kata Zean sambil melihat orangtuanya.


"Lebayy!" sahut Febby, Zean pun memeluk Febby.


"Eh ehhh. Zeann belum sahhh!" ingat Zeva.


"Kalau gini Zean gabakal nolak lah!" ujar Zean.


"Liat tuh calon mantu kalian, tadi dateng kesini mukanya datar amat dingin lagi" ujar Zeco pada Fernando.


"Gaada bedanya sama Febby" sahut Fernando.


"Febby kamu mau?" tanya Natera.


"Nggak" jawab Febby. Seketika Zean melesu.


"Gak bakal nolak maksudnya" lanjut Febby. Zean kembali sumringah.

__ADS_1


"Dasar kamu!" sahut Zean.


"Papa bilang perjodohan? Ini mah perencanaan" kata Zean.


"Kalian itu udah dijodohin waktu umur 5 tahun." jelas Fernando.


"Lah kok bisa?" tanya Febby.


"Kalian dulu pas kecil kalau main susah dipisah. Apalagi Febby kalah disuruh tidur siang, gak bakalan mau kalau gak ada Zean." jelas Natera.


"Yang bener tante?" tanya Zean


"Iya, bener. Si Zean juga gabakal makan kalau gak barengan sama Febby."sahut Zeva.


"Intinya, jodoh, rezeki, dan maut. Hanya Allah yang menentukan" sahut Zeco. Zean hanya manggut-manggut. Mereka terus berbincang dan membahas pernikahan, setelah selesai. Mereka ingin pulang.


"Om tante, Febby tidur dirumah Zean ya. Ntar dikamarnya Zia." bujuk Zean.


"Kalau Febbynya mau yaudah gapapa" sahut Fernando.


"Febby mau kok pa, ma" jawab febby.


"Yaudah papa mama pulang duluan, kamu pulang sama calon mertua. Jangan malu maluin mama" ujar mamanya.


"Iya iyaa maa iyaa" ujar Febby, Febby pun pulang bersama Zean, Zeva dan Zeco. Disepanjang perjalanan, Febby dan Zean selalu berpegangan tangan.


Sesampainya dirumah.


"Tadaaaaaa" teriak Zean mengejutkan Zia.


"Astaga, manusia normal kalau masuk ngucap salam ini kagak" jawab Zia sambil terus menonton tvnya diruang keluarga. Padahal di kamarnya juga ada tv.


"Dia mah bukan manusia normal" sahut Zai tanpa menoleh.


"Nonton apaan dek?" tanya Febby, Zia dan Zai pun langsung melihat.


"Kak pebyy?" tanya Zia


"Iya kakak, kenapa?" tanya Febby.


"Bang lo ngapa sama kak pebyy, dikeluarin dari KK Hitler lo ntar, gue gajadi ikut ya." teriak Zia.


"Itu calon bini gue ****" sahut Zean.


"Hahaha.. halu." sahut Zia, Zean pun melemparkan bantal pada Zia.


"Sakit monyet" kata Zia.

__ADS_1


"Zean gak boleh kasar ih, adek sendiri juga" nasihat Febby. Kedua orangtua Zia pun masuk.


"Paaaa.. maaaa. Bang Ze pasti kabur kan?" teriak Zia.


"Nak Febby, maklumi ya. Kamu tau sendiri omelannya Zia bikin telinga sakit" ujar mama Zia.


"Ini kenapa gue yang kenak?" gumam Zia.


"Papa handsome. Ini beneran ?" tanya Zia


"Iya bener Zia itu yang dijodohkan sama abangmu lima tahun yang lalu Febby yang akan jadi kakak ipar kamu" sahut Zeco tanpa titik dan koma.


"Astaga, pa laju amat. Wadidaw, akhirnya kakak ipar gue kak pebyy. Allah baik bener sama gue" ujar Zia.


"Bacot lo dek, yang aku ke kamar dulu ya" pamit Zean.


"Gausah sok cakep sok manis lo bang. Jiji gue liatnya" sahut Zia. Febby pun hanya tertawa melihat adik dan kakak yang sedang adu mulut berisi candaan.


"Kak Febby beneran kakak ipar gue?" tanya Zai lagi.


"TELINGA LO TAROK MANA GOBLOKKK" teriak Zia.


"ZIA BERISIKK UDAH MALAMMM" teriak mamanya.


"Zai ma yang duluann bikin kesel" jawab Zia berteriak juga. Tiba tiba ada lemparan dari atas, ternyata Zean yang sedang melempar bantal dikamarnya pada Zia.


"Berisik goblokk, gak bisa diem. Anteng gitu Lo kayak Kakak ipar Lo!" suruh Zean. Zia menatap sinis Zean, Zean pun langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kak peb, tidur dimana?" tanya Zia berbisik.


"Jangan bisik bisik juga bodo" ujar Zai


"Gue serba salah ya Allah. Yaudah gue diem" balas Zia. Febby hanya tertawa melihat tingkah lucu calon adik iparnya itu.


"Tidur dikamar kamu gak papakan?" tanya Febby.


"No problem kak, santuy ajaa. Mau tidur sekarang?"


"Kakak duluan ya, kalau kamu mau nonton lanjut aja oke" suruh Febby dia pun menaiki tangga dan memasuki kamar Zia. Febby sangat suka wanginya Zia, apalagi wangi kamarnya.


Hp Febby berbunyi, ada telepon dari Zia, dia mengangkatnya.


Zia: Kak peb kalau mau nonton di kamar, remotenya didalam meja sebelah tempat tidur. Kalau panas idupin ac-nya


Febby: Iya dekk.


Telepon pun terputus. Febby memilih tidur dan memasuki alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2