
Sore harinya di Big Home Hitler.
π£οΈ Breaking news!! Pesawat yang menuju Bali mengalami oleng dan jatuh ke laut!
Brukk....
Cemilan Febby jatuh.
"Zia.. Ziaa... gak mungkin.. Zia.. Askaa..."
"Ayyy!!! Ay!!!" teriak Febby, air matanya mulai mengucur.
"ZEANNN!!!! Hiks.. hiks ZEANNN!!!!!!!!!" Febby teriak berkali kali. Satu persatu keluarga datang. Dia masih berada di rumah besar Hitler, ada juga Hans dan Alice disana.
"Kenapa? Ada apaaa?" tanya Zean. Febby langsung memeluknya sambil terisak. Zean mengelus punggung Febby.
"Tenang sayang tenang, oke tenang. Cerita kamu kenapa?" tanya Zean lagi. Febby menunjuk ke tv masih sambil memeluk Zean. Kaki Zeva melemas, Zeco mencoba menahannya. Alice juga tampak shock. Hans membantu Alice duduk di sofa. Setelahnya Hans bertindak, mengambil ponselnya mencoba menghubungi Aska.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Hans panik, dia sedang menelepon Aska.
"Mama papa, kakak..." Zai baru datang langsung terisak.
"Tenang, oke tenang. Zai gak boleh lemah" kata Hans menenangkan Zai.
"Kita belum tau kabar Zia, santai" suruh Zeco.
"Santai gimana sih pa? Karena kita belum tau itu makanya kita gak bisa tenang" cela Zean yang masih memeluk Febby.
"Positif thinking AYOO!! Jangan negatif thinking!!" ujar Hans. Hans mencoba menelpon Aska sedangkan Zeco menelpon Zia.
"Zai! Ambil laptop abang di kamar. Cepat!!!" suruh Zean. Zai berlari ke kamar Zean mengambil laptop lalu turun.
"Sayang, tenang ya. Oke? Tenang, kamu duduk. Sebentar, aku mau lacak keberadaan Zia sama Aska" Zean mengelus rambut Febby, Febby mengangguk.
Setelah mengecup kening Febby, Zean beralih ke dapur melacak mereka berdua. Cukup lama dia mengotak atiknya tapi tidak menemukan apapun. "Ah sial!! Kenapa gak bisa sih?!" tanya Zean kesal. Zean kembali keruang keluarga.
"Bagaimana?" tanya Hans. Zean menggeleng.
"Zean gak bisa ketemuin" jawab Zean.
"Pa, panggilin helikopter papa ya. Zai ke Bali sekarang" kata Zai.
"Gue ikut" sahut Zean.
"Jangan bang!! Kak Febby ?" tanya Zai.
"Zai benar, sebaiknya kamu tidak ikut, jaga Febby disini" sahut Alice.
"Zai sendiri aja, Zai bisa nemuin kak Zi" kata Zai. Zeco pun mengambil ponselnya.
Beberapa menit kemudian, helikopter berada di atap.
"Zai gak bawa baju?" tanya Alice.
"Zai beli aja Bu," jawab Zai. Dia menyalimi tangan Zeco, Zeva, Alice, Hans, Febby, dan juga Zean.
"Kamu hati hati, jaga kesehatan" kata Zeva. Zai mengangguk. Dia berlari menuju helikopter. Gak lama kemudian helikopter itu terbang.
Β·β ββ Β·
Beberapa menit kemudian, Zai tiba di Bali.
"Ahhh gue kemanaa sekarang?" tanya Zai pada dirinya. Papa Zai membawakannya dua bodyguard untuk berjaga-jaga.
"Tuan, kita mau kemana?" tanya salah satu bodyguard.
"Saya tidak tau, saya bingung. Kalau saya ke tempat jatuhnya pesawat. Pasti disana bakal runyam. Saya juga punya feeling, bang Aska tidak memakai pesawat" jelas Zai.
"Jadi bagaimana?" tanya bodyguard satu lagi.
"Kita cari di seluruh hotel disini dan check nama mereka berdua disetiap hotel" suruh Zai.
__ADS_1
"Siap tuan!!" jawab mereka berdua. Salah satu bodyguard papa Zai menelpon seseorang untuk membawakan mobil.
βββ
Zai dan kedua bodyguard itu sudah mencari keseluruh hotel Bali. Tapi hasilnya nihil. Zai kelelahan, mereka pun berhenti disuatu tempat.
"Tuan muda, saya hendak mencari makanan. Tuan muda ingin apa?" tanya Bodyguard itu.
"Kalian makan saja berdua, saya tidak lapar" jawab Zai.
"Tapi dari tadi, tuan muda hanya memakan roti.. saya takut terjadi apa apa"
"Saya baik baik saja, pergilah makan. Gunakan uang ini" Zai memberikan mereka uang berwarna merah sebanyak 5 lembar.
"Ini terlalu banyak tuan"
"Tidak, pergilah" suruh Zai
"Terima kasih tuan muda" mereka menundukkan badan lalu pergi.
Dari tempat duduknya, Zai melihat orang yang mirip dengan Zia. Body, sepatu, rambut, bahkan bajunya.
"Itu.. itu baju yang pernah gue belikan untuk kak Zi. Itu kak Zi" Zai bersemangat. Dia berlari ke arah orang itu. Setelah dekat dia merasa tidak yakin 'semoga ae bener' pikir Zai.
"Kak Zii" panggil Zai takut takut. Orang itu berbalik.
"Zai?" tanya nya. Zai langsung memeluknya.
"Hiks.. Lo kemana ajaaa?! Kenapa hp Lo mati?! Semua orang panik?! Kami kira kalian berdua kecelakaan pesawat" omel Zai. Zia memeluk Zai.
"Gue gak apa apa? Lo kok bisa disini?" tanya Zia.
"Kabar buruk tentang kecelakaan pesawat, buat banyak orang down, panik dan uring uringan. Ditambah sama lo yang gak ada kabar sama sekali. Lo kenapa gak angkat telepon hah?!" Zai kesal, dia sudah melepas pelukannya.
"Hp gue mati. Tadi lo bilang apa? Kecelakaan pesawat?" tanya Zia. Zai mengangguk.
"Firasat gue gak pernah salah. Untung aja kita naik helikopter pribadi Aska tadi" kata Rafael.
"Lo mau gue tampar disini? Selingkuh udel lo."
"Jadi dia siapa?"
"Dia sekertaris Aska."
"Bang Aska mana?"
"Aska lagi pergi cari cemilan tadi" jawab Zia.
"Gak bilang sih" cela Zai sambil cengengesan.
"Makanya jangan asal jeplak, beneran pengen gue tabok tadi tuh" kata Zia.
Drtt...
"Papa"
"Angkat lah" suruh Zia.
βPapaβ
π Zeco; bagaimana?
Zai; ketemu pa
π Zeco; ahhh.. syukurlah.
"Sini" pinta Zia, Zai memberikan ponselnya.
Zia; pa, di loud speaker ya.
π Zeco; udah nak.
__ADS_1
Zia; Assalamualaikum semua, maaf Zia sama Aska gak kasih kabar ke kalian, maaf udah buat kalian panik. Tadi tuh ponsel Zia mati, begitupun ponsel Aska. Zia sama Aska naik helikopter tadi kesini. Dan alhamdulillahnya mendarat dengan selamat.
π Alice; ah syukurlah kalian baik baik saja.
π Zean; bener bener lu ya, Febby udah nangis nangis gara gara panik.
Zia; maaf bang, kak.. gue juga tadi gak tau kalau ada kecelakaan pesawat.
π Zeco; sudahlah, yang penting kalian baik baik saja.
π Zeva; jaga kesehatan kalian ya.
Zia; iya ma..
Zai; ah iya ma pa, Zai disini sementara ya. Mau cuci mata.
π Zean; mesum!
Zai; hahahahaa.. lu tuh bang yang mesum. jauh amat pikiran.
π Zean; hahahah.. iya iya serahlu Zai.
π Hans; Aska mana?
Zia; itu Pi, lagi beli makanan.
π Hans; oh ya udah, kalau gitu. Papi sama papa kamu cuma mau bilang satu hal.
Zia; apa pi?
π Hans; jangan lupa buat cucu!!
Zia; (merona) astaga papiii.
Zai; Zia malu malu oi, astaga tumben. hahahaha
π Bersamaan; hahahaha
Zia; ya udah, Zia matikan dulu ya, assalamualaikum (mematikan teleponnya)
"Belum di jawab udah dimatiin" cela Zai. Zia cengengesan.
"Koper lo mana?"
"Gak bawa, gue buru buru tadi. Capek ngecheck seluruh hotel cariin lo"
"Eh, gue sama Aska tinggal tempat rap"
"Rap?" tanya Zai. Zia menunjuk Rafael.
"Rafael Anji Pangestu, sekertaris Aska." Rafael menjulurkan tangannya.
"Ah.. Zai Ananta Hitler" balas Zai.
"Lo sama siapa?" Zai menunjuk bodyguard yang melindunginya dari kejauhan. Mereka juga melihat Aska berjalan sambil tersenyum.
Tiba tiba..
DORRRRRR!!!!
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH"
______________
Kuy ramein π€ͺ
Up 2 chapter kalau rame βπΌπ
See you π
______________
__ADS_1