
Keesokan harinya
~Kampus Zai.
"Zee"
"Lu kira gue susu?!" tanya Zai ngegas.
"Lah ngamuk ni anak, aneh bener" cibir Ambri. Ambri dan Irsyad tertawa.
"Terserahh" jawab Zai.
"Eh, gue lupa, gue mau kasih undangan" Ambri mengeluarkan undangan VIP.
"Anjirr, undangan apa nih? Lo sunat?" tanya Zai.
"Pala kau lima! Gue nikah coy" jawab Ambri. Zai dan Irsyad tertawa.
"Tunggu tunggu, emang lo punya calon?" tanya Irsyad.
"Kalau gak punya gue gak nikah syaiton" Ambri kesal.
"Ya siapa tau cuma bagi bagi undangan" sahut Zai.
"Nah bener" Irsyad dan Zai bertos lalu tertawa.
"Mas Zai" panggil seseorang dari belakang.
"Eh sayang, kenapa?" tanya Zai. Zai menghampirinya.
"Hah? Apa ni? Lo udah jadian sama Kinan?" tanya Irsyad.
"Lo tau sendiri gue gak suka bertele-tele. Tunggu aja undangannya" balas Zai. Zai merangkul Kinan.
"Eh woi mau kemanaaa lo?!" Ambri berteriak.
"Ngapelllll" balas Zai berteriak juga.
"Laknat, emang iya laknat, laknat banget" umpat mereka berdua. Zai tertawa, sedangkan Kinan hanya diam tanpa suara.
…
Zai membawa Kinan ke taman dekat kampus. Mereka berdua jalan sambil bergandengan tangan. "Mas" panggil Kinan. Zai hanya berdehem.
"Kinan.. Kinan udah cerita sama ibu kalau mas mau serius ke Kinan" Zai berhenti, lalu menatap Kinan.
"Ja.. di? Apa kata ibu?" tanya Zai.
"Ibu bilang, ibu setuju. Tapi.."
"Tapi???"
"Ayah bilang, harus bang Rafael dulu yang nikah baru Kinan" lanjutnya Kinan. Zai menunduk satu menit lalu menatap Kinan kembali.
"Ayah sama ibu setuju kan?" Kinan mengangguk.
"Setuju banget malah. Ya tapi itu tadi, ayah maunya bang Rafael dulu yang nikah" Zai menghela nafas.
"Yaudah, kita pacaran aja dulu sekalian cari cewek yang pas buat bang Zai" Kinan mengangguk setuju sambil tersenyum.
"Makasih udah ngertiin Kinan mas" ujar Kinan. Zai memeluknya.
"Memang seharusnya gitu kan?"
…★…
"Ka, lo gak mau gue cariin sekretaris? Kasihan noh bini lu" ujar Rafael.
"Males gue. Lo kan tau jaman sekarang sekretaris sukanya godain bos" jawab Aska sambil berkutat dengan komputer didepannya.
"Ya yang cowok lah"
"Lo aja gimana?"
"Lah kalau gue jadi sekretaris lo, yang jadi asisten pribadi lo siapa?"
"Ya lo juga"
"Lah kok...."
"Gue tambah gaji dua kali lipat. Gaji lo berapa?"
"Gue jadi asisten pribadi lo dapet 15 juta"
"Nah dua kali lipat coy, tiga puluh juta! Gak minat?" tanya Aska.
"Hah?"
"Satu"
"Dua"
"Ya minat lah" sahut Rafael.
"Oke kalau gitu pintu keluar sebelah sana" ujar Aska.
__ADS_1
"Dih" Rafael berjalan menuju luar.
"Eh woi, balik lo!"
"Apaaa?!" tanya Rafael sambil berbalik.
"Setelah Zia keluar baru lo masuk jadi sekretaris. Oke! Deal?!" Aska menjulurkan tangannya.
"Deal" balas Rafael.
"Yoda sono lu!"
"Untung bos" Aska cengengesan.
"Eh cuy" Rafael balik lagi.
"Apaan?" tanya Aska.
"Gue lupa kasih tau. Ntar tuan James ngajakin pertemuan di restoran Jepang" ujar Rafael.
"Jam?"
"Sekitar jam satuan"
"Kok siang pula lahhh" keluh Aska
"Yaudah, acc-in. Kosongin jadwal gue jam segitu"
"Oke bos. Kalau gitu gue keluar dulu ya bos" Rafael menunduk lalu pergi.
Diluar ruangan Aska.
"Capek Bu?"
"Ah lo? Gak pala. Gantiin gue rap" pinta Zia.
"Lo mau kemana?"
"Rebahan plus drakoran" jawab Zia cengengesan.
"Yaudah, ntar gue kesini lagi. Gue ambil berkas dulu"
"Yop buruan" Rafael pergi. Zia menunggu sambil memutar kursinya.
Tiba tiba Aska datang memberhentikan putarannya. "Apa?" tanya Zia.
"Ngapain muter muter gitu? Pusing nanti kamu" ujar Aska.
"Dah keballl" jawab Zia.
"Merepetttt mulu kamu tu, heran aku"
"In--"
"Ini demi kebaikan kamu"
"Dah khatam" jawab Zia.
"Rapp, gue tinggal" Zia berjalan masuk ke dalam ruangan Aska.
"Buset dahh" Aska mengejar Zia dan langsung menggendongnya.
"Aaaa" teriak Zia. Rafael langsung keluar, beberapa satpam juga muncul.
"Gak ada apa apa" ujar Aska. Aska menggendong Zia masuk keruangan pribadinya. Ruangan pribadi Aska cuma bisa dimasuki Aska dan Zia, cara masuknya juga dengan sidik jari.
Setelah tiba di dalam, Aska meletakkan Zia perlahan di tempat tidur.
Aska melepas dasinya, lalu membuka satu kancing baju yang paling atas. Setelahnya dia merebahkan tubuhnya disamping Zia.
"Kenapa ikutan?" tanya Zia.
"Capek, ntar ada pertemuan lagi" Aska meletakkan satu tangannya diatas dahinya.
"Kamu disini aja, temenin aku oke" Zia mengangguk.
--
Setengah jam Zia dan Aska beristirahat di ruangannya.
Rafael yang di luar ruangan pribadi sedikit cemas karena kehilangan bosnya.
Rafael yakin Aska di ruangan pribadinya, namun apa daya dia tidak bisa masuk sekarang. Di gedor pintunya juga percuma, Aska tidak akan mendengar.
"Gue panik takut telat pertemuan, lah bos gue santai sambil *****" kesal Rafael.
Rafael pun mencoba menghubungi Aska. "Lah di reject, kampret emang"
Rafael menghubungi Zia.
–Istr bos–
📞 Zia; hm?
Rafael; dimana woi?! Bangunin Aska ada pertemuan sama tuan James!
__ADS_1
📞 Zia; hm (mematikan teleponnya)
"Laki bini sama sama ngeselin, anaknya lebih parah ni nanti yakin gue" dumel Rafael.
Di dalam private room Aska. "Sayangg, bangun" Zia menoel-noel pipi Aska.
"Sayang.. tiga puluh menit lagi ya, plis" Aska menarik Zia ke pelukannya. Zia yang masih ngantuk tidak berontak, dan ikut memejamkan mata.
-
"Astagaa dragonn, kemanaa si?!" tanya Rafael makin kesal. Dia mengambil ponselnya dan menelpon pihak tuan James.
"Maafkan atas ketidaktepatan kami. Bisakah pertemuannya diundur dua jam lagi tuan? Tuan Aska sedang ada masalah sekarang"
"Baik, tidak masalah. Saya tunggu dua jam lagi di restoran Jepang" ( mematikan teleponnya )
"Huh, sabar rapael sabarr. Lo ganteng jadi kudu sabar" Rafael mengelus dadanya lalu keluar dari ruangan Aska.
·…·
Satu jam berlalu, Aska terbangun dari tidurnya karena kelaparan. Dia melihat kesamping, ternyata Zia juga masih tidur.
Perlahan-lahan Aska turun dari kasur, dia tidak ingin membangunkan Zia. Tapi..
"Mau kemana?" Zia keburu bangun duluan.
"Hm? Mau keluar sayang, kok kamu bangun? Aku ganggu ya?" Aska berbalik menghampiri Zia, lalu mengelus pipinya.
"Nggak, aku laper makanya bangun" jawab Zia sambil senyum.
"Yaudah ayok cari makan" Aska menarik Zia kemudian menggendongnya.
"Ay turunin aku. Nanti kamu kecapekan" pinta Zia.
"Sstt"
Ceklek
Pintu private room terbuka.
"Akhirnya keluar juga loo!!" sahut seseorang.
"Ck.. masuk ruangan orang gak ketuk pintu. Kaget gue" Aska meletakkan Zia tempat kerjanya. Aska duduk ke sofa menemui Rafael.
"Ngapain lu rap?" tanya Aska. Rafael menatap tajam Aska.
"Ngapain apanyaa? Gue udah nunggu satu setengah jam disini. Lo malah ***** disana"
"***** pala lo"
"Lah itu baju kusut"
"Cetek ni otaknya! Gue tidur odong"
"Bodo amat dahh" balas Rafael.
"Pesenin makanan" suruh Aska.
"Pesen apaan? Burger atau pizza ya?" tanya Rafael.
"Yang ngenyangin ngapaaa" protes Zia.
"Nanti kan ada pertemuan sama tuan James. Makannya disana aja" usul Rafael.
"Astaga, gue lupa!! Lo ngapa gak bangunin gue?!" tanya Aska.
"Gue udah hubungin lo, tapi lo reject ooonn. Gue suruh Zia, eh Zia malah ikut ketiduran kayaknya" Zia cengengesan.
"Jadi gimana?" tanya Aska.
"Sejam lagi kesana. Tadi gue undur"
"Okee bagoss"
"Yaudah pesenin yang tadi"
"Eh gak usah deh rap. Lu langsung ke McD aja. Terus mampir ke toko beli baju buat Zia" suruh Aska.
"Ngapain beli baju?! Gak usah ah" sahut Zia.
"Nanti pertemuan sayang. Masa iya baju kamu kusut gitu" jawab Aska.
"Kan di private room kamu banyak baju. Aku pake aja salah satu dari situ. Gak apa apa kan?!" tanya Zia.
"Oiya, yaudah gak jadi. Lu ke McD aja. Buruan!!" suruh Aska.
"Eh? Beli berapa bos? Duitnya?" tanya Rafael
"Kamu apa sayang?" Aska tanya pada Zia.
"Terserah kamu" jawab Zia.
"Gue sama Zia beli yang Taste Of Japan, lo kalau mau sekalian beli. Nah uangnya" Aska mengeluarkan uang berwarna merah tiga lembar.
"Drive thru aja biar cepet" suruh Zia.
__ADS_1
"Yang dekat sini aja rap. Udah sono buruan!" suruh Aska. Rafael pun pergi sambil berlari kecil.