
"Wah, mata saya ternodai kalau begini" ujar seseorang yang baru tiba.
"Eh, ada tuan Bian" Zia ingin bangkit dari pangkuan Aska. Tapi Aska menahannya terus-terusan.
"Pak, pak. Jangan gini pak" bisik Zia, Aska diam pura pura tidak tau, sedangkan Bian malah tertawa.
"Ada perlu apa tuan Bian?" tanya Aska.
"Jadi canggung gini, balik kek beberapa tahun yang lalu gitu. Santai aja ngomongnya" kata Bian.
"Yaa.. kalau bisa" kata Aska.
"Sayang lepasin ih, ada tamu!" kata Zia yang masih memberontak.
"Lepasin sekarang atau nanti malam kamu tidur sama guling" Aska langsung melepaskan Zia.
"Gitu kek dari tadi" Zia membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Makin cantik aja lo ya" kata Bian yang mulai santai.
"Sa ae lu. Tapi gue mah emang cantik" Bian tertawa.
"Nambah cantiknya pake dress gini. Dah tobat jadi barbar?"
"Mungkin" jawab Zia santai.
"Woi!!" Zia tertawa sambil menatap Aska.
"Mau perlu apa?" tanya Aska dengan suara datar.
"Ni anak kenapa si?" tanya Zia heran.
"Masuk dulu kak Varo" ajak Zia menuntun Bian keruangan Aska.
"Ziaa," panggil Aska.
Danger!
Zia yakin, Aska sedang menahan amarahnya.
Zia cengengesan. Zia mendekat ke Aska lalu berbisik.
"Jangan marah marah, nanti cepet tua" bisik Zia. Setelahnya, Aska menatap datar Zia.
"Bukannya dibujuk malah di ledek. Parah kamu mah" Aska ngambek.
"Astaghfirullah mas Aska marah, subhanallah suami ku ganteng banget kalau marah" kata Zia sambil menunduk.
Bian berasa jadi nyamuk disitu.
"Kamu tu ya" Aska menghampiri Zia dan mencubit pipi Zia pelan.
"Mon maap pak buk, saya kenapa jadi nyamuk disini?" tanya Bian. Aska dan Zia pun tertawa.
"Masuk dulu bang" suruh Aska.
"Kan kan, dia kenapa sih sebenarnya?"
"Ya maap nih gue ganggu waktu kalian. Gue cuma mau kasih ini" Bian menyodorkan dua undangan VIP.
"Nikah? Siapa mau nikah? Lu?" tanya Aska. Bian mengangguk.
"Sama siapa?" tanya Aska lagi.
"Kepo banget manusia satu ini" ledek Zia. Bian tertawa.
"Datang aja, gue tunggu loh ya. Kalau nggak datang, berarti kita musuh" kata Bian.
"Dimana?" Tanya Zia.
"Di tengah danau"
"Gila lu emang, masih netep kagak waras" ledek Aska. Bian tertawa lagi.
"Disitu ada tempatnya, juga ada gps nya ntar. Pokoknya datang okee, kalian tamu penting. Gue sampe kesini nyempetin diri buat kasih undangan"
"Iyaa ntar kita datang" jawab Aska.
"Squad lu juga ntar bakal gue undang, sekretaris lo juga, ini undangannya" Bian menyodorkan dua undangan lagi.
"Oke oke, aman" balas Aska.
"Yaudah gue pamit," Bian nyelonong pergi.
"Mirip jelangkung ya dia" cibir Zia. Aska gak perduliin Zia.
"Dih, ngambek"
"Beneran ngambek?" tanya Zia. Aska tetap diam.
"Oyaudah"
"Emm.. karyawan yang tadi siapa ya namanya. Lumayan ganteng juga"
"Suka banget sih bikin aku cemburu kamu itu"
"Ya kamunya juga baperan" Zia mengerucutkan bibirnya. Aska maju menuju Zia lalu merengkuh tubuh Zia.
"Kamu masih sayang ya sama Bian?"
"Nggak!" Bantah Zia cepat.
"Terus?"
"Terus apa?"
"Varo? Varo kan nama kesayangan kamu untuk dia"
"Kesayangan apanya?!! Yaudah iyaa, tadi khilap panggil Varo. Besok besok panggil bebeb"
"HEH" Zia tertawa.
__ADS_1
"Becanda lo sayang. Kamu kenapa marah marah mulu si?"
"Ya kamu nya juga suka bikin aku marah. Pengen aku cepet tua?!"
"Nggak dong, pengennya kamu tetep muda kayak oppa oppaa"
"Oppa oppa udah tua dong"
"Belom ten-- cup~"
"Udah ah. Gak mau bahas oppaaaa"
"Bahas aja napasi. Em.. mau bahas oppa Korea atau oppa Upin Ipin?" tanya Zia.
"Kamu ngomong apa sih?"
16:45
"Balik yok" ajak Aska.
"Sekarang?"
"Dua tahun lagi aja gimana?"
"Kelamaan"
"Kamu kenapa jadi lemot banget sih?"
"Masa iya?"
"Makin ngeselin juga!"
"Kata siapa?"
"Sayang"
"Iyaaa sayang iyaa"
"Yaudah yuk balik" ajak Zia.
"Keruangan Rap bentar la yok" ajak Aska. Mereka berdua pun menuju ke ruangan Rafael.
Tanpa mengetuk pintu, ruangan terbuka sendiri karena disetting oleh Aska, ruangan mana pun bisa otomatis terbuka ketika mengenali Aska dan Zia.
"Woi, calon manten" sapa Aska.
"Ha apa?" tanya Rafael lesu.
"Gak semangat banget mau nikah. Kenapa sih?" tanya Zia.
"Keiko lagi ngambek" jawab Rafael.
"Kenapa?" tanya Aska.
"Ya debat debat kecil tentang resepsi dan sejenisnya" jawab Rafael.
"Gentle dikit, balik aja lu sekarang. Bujuk calon bini lu, bicara baik baik" usul Aska.
"Lo mau ambil cuti kapan? Kalau mau besok gue langsung izinin" kata Aska.
"Ya mungkin besok. Makanya gue selesaikan sekarang" jawab Rafael.
"Udah balik aja sekarang sana. Bujukin Keiko" suruh Aska.
"Oh iya rap, btw itu keyakinannya jadi gimana?" tanya Zia.
"Keiko mualaf" jawab Rafael.
"Serius? Alhamdulillah deh kalau gitu" kata Zia.
"Yoda balik sono lu" suruh Zia ikutan Aska.
"Lo berdua ngusir gue apa gimana sih?"
"Bukan gitu! Lo udah banyak banget berjuang di sini. Gue gak mau ngancurin hari per hari, jam per jam, menit per menit, dan detik per detik berharga yang harusnya lo nikmati" jawab Aska.
Setelahnya, dia mengambil hp Samsungnya. Aska seperti rundingan pada Zia. Mereka pakai isyarat mengangguk dan menggeleng.
Ting
Ponsel Rap berbunyi.
"Ka, jangan gila deh lo. Banyak banget anjim" kata Rafael.
"75 juta gak sebanding sama perjuangan lo buat bantu gue di perusahaan"
"Kalau lo butuh apa apa, bilang sama gue. Anggep aja gue adek lo atau gue abang lo. Jangan sungkan-sungkan" lanjut Aska.
"Gue gak tau mau bilang makasih berapa banyak sama kalian. Kalian baik banget sama gue. Banyak banget bantu gue ini itu. Sumpah, gue bersyukur ketemu lu bedua" kata Rafael.
"Selo aja bang selo" kata Aska menepuk pundak Rafael.
"Lo gue kasih cuti dua bulan. Cukupkan?" tanya Aska.
"Kelebihan goblokk" protes Rafael.
"Lo juga dapat dua tiket pesawat menuju Jepang!" sahut Zia. Rafael menatap Zia dan Aska.
"Serius??"
"Lu tinggal tentuin tanggal mau berangkatnya. Lo kabarin ke gue, gue beliin tiket buat lo sama Keiko" jelas Aska.
"Ah, sumpah. Gue utang budi banget sama kalian. Makasihh, makasihhh pokoknya makasihh" kata Rafael.
"Santai aja kali, udah ya. Pokoknya lu buruan pulang. Gue sama Zia mau balik duluan" Rafael mengangguk.
"Oke bye, selamat menikmati liburan" Kata Zia, Rafael senyum.
"Manusia baik kayak kalian berdua itu langka, gue bener bener bersyukur ketemu sama kalian" gumam Rafael sambil melihat kepergian mereka berdua.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam tuan, nyonya" mbak Jum membukakan pintu.
"Pulang cepat tuan, nyonya"
"Iya mbak, nih rewel mulu" jawab Zia sambil menunjuk Aska. Aska menatapnya sinis lalu pergi ke kamar.
"Zia duluan mbak, lagi mood mood-an tu si Aska" mbak Jum hanya tersenyum. Zia pergi menyusul Aska.
"Yoo, gantian ngambek. Dendam?" tanya Zia. Aska diam.
"Is. Ngambek kenapa lagi si ni anak?!" kata Zia kesal. Zia memilih pergi mengganti bajunya.
Setelah selesai, dia melihat Aska yang rebahan sambil nonton televisi di kamar.
Zia menghampiri Aska. Tidak berbuat apapun, Zia hanya menatap Aska terus menerus.
Aska tau dia sedang ditatap, namun dia berusaha memfokuskan perhatian pada acara di televisi.
Zia yang kesal di anggurin pergi mematikan televisi. Aska malah beralih ke ponselnya.
"Kamu kenapaa sii, kenapaa?"
"Aku salah aku minta maap" Zia menoel-noel pipi Aska.
"Sayangg" Aska menjauhkan tangan Zia.
"Yaudah terserah!!" Zia keluar dari kamar sambil membanting pintu.
--
Dibawah,
"Kenapa Lo?" tanya seseorang.
"Plis deh jangan kayak setan yang tiba tiba muncul!!" protes Zia pada lelaki didepannya ini.
"Sensi amat, mana lakilu?"
"Kamar" Zia cuek lalu menuju dapur mencari makanan. Yang ditemukannya hanya beberapa buah-buahan.
"Tawarin gue apa gitu anjimm! Laknat banget jadi adek"
"Dih"
"Yodah yoda, bang Zean mau apaa?" tanya Zia.
"Mauu.. opor ayam" jawab Zean.
"Ngaco lu ah" Zia pergi menuju lantai atas.
"Woi ailah"
"Bodoamat"
"Gue disini ngapain jadinya?!"
"Kenapa?" tanya Aska tiba tiba muncul.
"Ha kan" Aska tertawa.
"Kenapa bang?"
"Dipanggil papa noh, suruh kerumah" jawab Zean.
"Sekarang?"
"Tar malem. Kalau bisa nginep sampe seminggu" suruh Zean.
"Mau ngapain?"
"Bantu bantu persiapan lah. Nikahnya Zai barengan sama Rafael" jawab Zean.
"Ngaco lu! Kenapa jadi barengan?!"
"Papa maunya gitu, pihak perempuan juga setuju" kata Zean.
"Kok gue baru dikasih tau coba?!"
"Gue aja baru tau ini, bahkan baru balik dari Jerman. Btw, tu Zia kenapa?"
"Gue anggurin"
"Lah napa?"
"Bikin kesel mulu dia, gue kerjain lah. Eh, abang mau minum apa?"
"Nggak ah, next time. Gue mau balik, masih capeek banget" jawab Zean.
"Yaudah iya, hati hati lo" Zean pergi.
"Eh bang" Zean berhenti di tempat lalu berbalik.
"Zia mana?"
"Lantai atas" Aska langsung pergi menuju lantai atas.
"Adek ipar ataupun adek kandung, laknatnya sama"
...________________________...
...Hayooo, siapa sih calonnya Bian??...
...Xixixixi...
...Makasih yaa masih pada mau stay di Ciwi Barbar. Insyaallah author bakal bikin sekuel tentang anak Aska dan Zia....
...Ditunggu yaaa🤗...
...See you next chapter ❣️...
..._________________________...
__ADS_1