
"Mereka berdua macem orang pacaran anjj. Jadi curiga gue," kata Joshua menyipitkan mata. "Patah hati gueee."
"ALAY EJAK!!"
"Tenggelamkan Eza aja bisa gak sih?"
Aska sendiri yang tadinya meringis kesakitan kini menghela nafas panjang dan rebahan di lantai. "Hadeh." Aska bangun, ia meletakkan tasnya lalu pergi menyusul.
"WOII, KAA. LU MAU KEMANAA?!" Aska mengabaikan teriakan itu dan lanjut berjalan mengikuti Ivan. "Aneh ya mereka, udah mau masuk malah cabut."
"Itu Aska kek cemburu deh, iyakan?"
...—·—...
Ternyata, Ivan membawa Zia ke kantin. "Van, Ngapain kesinii?" tanya Zia. "Gue laper, temenin makan yaa, Ci."
"Yaudah deh, terserah."
"Mau makan juga gak?"
"Nggak, gue udah sarapan tadi pagi." Ivan berohria, ia memesan makanan lalu kembali membawa cemilan. "Van, bentar lagi masuk kelas."
"Iyaudah sih, gak kenapa-kenapa juga kok. Makan aja nih jajannya," jawab Ivan sangat santai. "Ck! Lu mah iya santai-santai aja karena emang dasarnya udah sering bolos. Lahh gue masih pemulaaa."
"Iya ini kan Bivan ajarin pemula biar jadi pro."
"Gak baik emang. Sesat, sesat." Ivan tertawa.
"Walah kacau. Bolos gak ngajak-ngajak lu kampret," ujar Dimas datang tiba-tiba. "Nggak penting banget ngajak lu."
"Ivan bajingan. Ini Aska mana? Eh wait, lu Zia ya?" tanya Dimas beruntun. "Iya, gue Zia. Kenapa?"
"Kenalin gue Dimas, tetangga sebelah."
"Gue Zia, temen Ivan."
"Ada gue ya jangan lupa lu pada," sindir Ivan kesal. "Ceile... ye maap hehe. Aska mana dah?"
"Di kelas, abis di hajar sama warga kelas gue." Dimas tampak terkejut. "Ngaco lu! Siapa yang berani ngelawan Aska di kelas lu? Mana ada. Kalau ada sini berhadapan sama gue."
__ADS_1
"Yakin lu mau ngehajar orangnya? Aska aja kalah apa lagi luu, begeee," ledek Ivan membuat Dimas tertantang. "Sepele banget lu anyingg. Ini Dimas ye, Dimass."
"Gue yang ngehajar dia, ayok baku hantam." Dimas terkaget-kaget mendengar jawaban Zia. "Yakalikk. Masa dia, Van? Kalau cewek gak mau dah. Gak berani gue berantem sama cewek, ntar salah pegang." Dimas menciut.
"Alahhlahh, takut bilang." Dimas langsung menatap datar Ivan. "Kentut. Tapi ini beneran dia?"
"Iya, emang dia nih org nya. My princess."
"Pacar lu??"
"Bukan pacar gue, this is my princess. Temen kecil gue," kata Ivan sambil tersenyum ke arah Zia. "Mana ada cewek sama cowok temen tok."
"Lah ngeyel! Ada gue sama Zia nih."
"Karep lu bedua deh. Baku hantam aja sekalian, gue mau beli cemilan dulu," ujar Dimas beranjak pergi. "Pake duit gue nih."
"Dih, kagak usahh. Gue punya uang kok."
"Yaudah, hati-hati."
"Cuma di situ doang geblek." Ivan cengengesan. Melihat Dimas pergi, Zia juga pergi ke warung sebelah.
"Gue gak tau. Gue kira lu udah duluan," sahut Dimas takut kena amuk. "Iyain. Manusianya mana Van?" tanya Aska.
"Siapa? Cici? Noh lagi beli cemilan," kata Ivan sambil menunjuk ke arah Zia. Tak lama setelahnya, Zia kembali.
"Hai?" sapa Aska pada Zia dengan senyumannya.
"Astaghfirullah, kok lu di sini?" ucap Zia sinis.
"Gue laper."
"Van, gue balik ke kelas aja deh yaa?" Ivan menggelengkan kepala. "Ngapain? Udah, gak usah. Sini aja, agak tanggung kalau mau masuk kelas," Aska yang menjawab.
"Gue izin sama Bivan yang nyaut anak dugong," gumam Zia pelan, tapi ternyata masih di dengar yang lain. "Gue denger, Zia Amanda," protes Aska dengan suara lembut.
"Tadi di kelas nyolot banget, urat sampe bekeluaran. Lah sekarang sok lembut," gumam Zia lagi. Ivan dan Dimas tertawa.
"Udah bener kata Aska. Sini aja, tanggung bentar lagi ganti jam pelajaran." Zia menatap Ivan, "Tapi kan baru masuk?"
__ADS_1
"Mapel ini cuma sejam." Zia berohria, ia kembali duduk dan makan cemilan yang Ivan beli dan dirinya beli. "Sering-sering gabung bareng kita yee, Zii."
"Gak mau gue, ada anak dugong."
"Mana anak dugong?" tanya Aska pura-pura gak tau. Zia menatapnya dengan senyuman, "Kan lu dugongnya."
"Seganteng ini dikatain anak dugongg. Lu katarak?" Zia cengengesan mendengarnya, "Tapi lu mirip anak dug—"
"Haduh. Baru berapa hari masuk udah bolos aja, lu tu murah apa gimana sih?" Tamu tak di undang muncul tiba-tiba memutus pembicaraan.
"Lagi cosplay jadi setan?" jawab Zia menantang. "Jaga omongan lu!!"
"Ya harusnya lu juga. Jangan ngira gue juga takut sama lu karena lu anak kepala sekolah. Inget, gue gak takut sama sekali. Dan tadi lu bilang apa? Gue murahan? Atas dasar apa lu bilang begitu?" Zia menatapnya sinis.
"Loh buktinya ada, belum beberapa hari aja lu udah gabung sama Triplebad. Sering ngasih jatah ya?" Merasa tak dapat menahan lagi, Zia langsung menggebrak meja.
Nabila dan Mika terkejut dan sedikit takut. "Ci.. sabar!" pinta Ivan menenangkan. Zia menghela nafas panjang. Tahan, Zia, tahan katanya dalam hati.
"Lu berdua tau gak? Sebenernya ada yang lebih murah... itu harga diri lu berdua."
Plak! Tamparan keras menghantam pipi putih Zia yang kini memerah. Zia langsung memegang pipinya, terasa sedikit sakit.
"Mau lu berdua apa sih?" tanya Dimas kini bersuara. Belio ini tidak suka dengar cewek direndahkan. "Nggak ada mau apa-apa sih, cuma ngasih pelajaran aja sama cewek gatel."
Ivan tersenyum sinis, "Perlu gue bawain kaca segede dosa lu? Gue yang ngajak Zia kesini. Gue saudaranya Zia. Gatel darimananya gue tanyaa?" Nabila dan Mika terdiam.
"Lu kalau gak tau apa-apa diem aja makanya. Gak usah nyocot!" cibir Dimas kesal. "Sebelum kesabaran gue habis, mending lu berdua pergi sekarang." Kini Aska ikut bersuara.
Agak menakutkan nada bicaranya. Tegas dan terkesan ngegas, tapi menurut Aska sendiri itu sudah di level biasa aja. Karena merasa takut, Nabila dan Mika pun pergi tanpa berkutik lagi.
"Kasian. Gak tau kali ya dia ngeganggu macan. Macannya nyeremin pula, di ganggu dikit langsung jadi singa! Bisa mati sih nanti dia kalau berurusan sama macan," kata Aska setelah mereka berjalan menjauhi kantin.
"Berisik!"
Aska tertawa. "Udahh tenang, yang lain lagi belajar. Jangan berisik juga," kata Aska melembut. "Iya-iyaa, bawel lu."
Ivan dan Dimas yang di sana saling bertatapan sejenak lalu melihat Aska. "Sumpah, Aska akhir-akhir ini agak cair, kan?"
^^^Revisi, 2021.^^^
__ADS_1