Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Pasrah


__ADS_3

Pagi harinya dikediaman Kusuma. Keluarga Aska sedang menikmati sarapannya.


"Setelah ini kita keruang keluarga" suruh Hans disela sela makannya. Mereka pun mengiyakan perkataan Hans.


"Ada apa pa?" tanya Aska.


"Kamu gak lupa kan? Perjanjian setelah Prom Night?" tanya Hans.


"Pa..-" keluh Aska.


"Why did you do that to me?"


"Why?" tanya Hans.


"I do not want to go to America" sahut Aska.


"But why? Awalnya kamu mau kan. Terus sekarang?" tanya Hans.


"Bisakah aska memilih jalan aska sendiri?" tanya Aska


"Aska gak mau ke Amerika pa." pinta Aska.


"Why? Kasih tau papa apa alasan kamu?" tanya Hans.


"Kenapa aku harus ke Amerika?" tanya Aska.


"Papa dan Kakekmu punya perusahaan yang besar di Amerika. Perusahaan yang selalu diperebutkan banyak orang. Perusahaan itu yang akan papa wariskan ke kamu setelah papa gak ada nantinya. Kamu harus ke Amerika untuk bisa mempelajari seluk beluk dunia perbisnisan." ujar Hans.


"Tidak bisakah Aska mempelajari semuanya di Indonesia?" tanya Aska


"Aska came on! Kamu kenapa?" tanya Hans.


"Kenapa kamu gak mau? Papa lakuin semua ini buat kamu, buat kehidupan kamu di masa depan. Papa gak mau kamu jadi gelandangan diluar sana" ujar Hans.


"Perusahaan itu, kakek kamu membuatnya dengan susah payah. Dan sekarang menjadi perusahaan paling sukses se Amerika. Gak mungkin papa kasih ke orang lain sedangkan papa punya kamu. Anak semata wayang papa yang papa sayangi" lanjut Hans.


"Kenapa kamu sekarang berubah pikiran?" tanya Hans.


"Kamu sekarang enak. Disana kamu ada kakek, nenekmu. Saat papa dulu, Papa tidak punya siapapun di Amerika."


"Kenapa harus papa yang mengurus semua itu? Tidak bisakah paman Fadel atau Tante Luke?" tanya Aska.


"Aska, papa anak terakhir. Itu memang tradisi di keluarga kita. Anak terakhirlah yang harus mengurus urusan bisnis"

__ADS_1


"Jadi papa mohon, jangan kecewakan papa. Jangan kecewakan Mama. Jangan kecewakan kakek, nenek dan yang lainnya?"


"Lalu siapa yang akan bersama mama nantinya jika papa sedang tidak dirumah?" tanya Aska.


"Anak paman Fadel, Yuka yang akan disini, dia akan SMA disini." jawab Alice. Aska tertawa receh. Matanya sudah memerah sejak tadi.


"Yuka? Yuka ke Indonesia dan aku dibuang ke Amerika?" tanya Aska sambil tertawa receh.


"Aska, kami tidak membuang mu nak. Kami menginginkan yang terbaik untukmu. Ayolah" bujuk Alice.


"Terserah, terserah kalian. Lakukan apapun yang kalian mau. Aku pasrah" jawab Aska sambil meninggalkan orang tuanya.


"Bujuk dia, dia yang harusnya mengurus semua perusahaan ayah di Amerika. Aku tidak ingin perusahaan yang ayah buat dengan susah payah berpindah tangan pada orang yang tidak bertanggungjawab." suruh Hans.


"Aku tidak mengekangnya bukan? Selama ini dia hidup dengan bebas melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Aku sayang dengannya, dia darah dagingku. Aku tidak mau dia salah jalan dan akhirnya menjadi gelandangan." ujar Hans pada istrinya. Aska tidak benar benar pergi, dia dibalik tembok mendengarkan semua perkataan orang tuanya.


"Fine. Aku akan ke Amerika. Aku benar-benar pasrah sekarang." ujar Aska lalu pergi meninggalkan tempatnya. Dia berjalan menuju markasnya. Tidak lupa memanggil Ivan dan Dimas.


_____________


"Gimana?" tanya Ivan.


"Gue gak bisa ngelawan sekarang. Gue pasrah" jawab Aska sambil meneguk minuman kalengnya.


"Jadi lo akan tetap kuliah di Amerika?" tanya Dimas.


"Gue bakal ganti hp nanti setelah disana."


"Kenapa harus?" tanya Ivan


"Untuk memudahkan gue hidup disana." jawab Aska sambil senyum terpaksa.


"Gue bakal sering ngabarin kalian kok santuy" lanjut Aska.


"Lambat laun kalian juga bakal ngelupain gue. Dan Zia pasti akan bersanding dengan Bian. Jagain dia buat gue."


"Aska. Lo tuh astaga, Lo ngomong kayak mau mati aja sumpah" ledek Dimas.


"Lo mau ke Amerika bukan ke neraka. Lo bisa balik ke Indonesia kan? Ayolahhh!" rengek Dimas.


"Sampai kapan pun, kita gak bakal ngelupain Lo. Badboy!" bentak Dimas dan Ivan.


"Lo cepet jadian gih sama Ica." Suruh Aska pada Ivan

__ADS_1


"Lo juga sama Tania, cepet di embat" suruh Aska pada Dimas.


"Nanti malam Prom Nightnya dimana?" tanya Aska mengalihkan pembicaraan.


"Gedung mewah. Masuknya juga gak sembarangan" ujar Dimas.


"Kalian berangkat bawa cewek masing-masing kan?"


"Gue udah booking Tania" ujar Dimas.


"Lo kira apaan booking booking." sahut Ivan.


"Gue sama Zia deh ya kalau gitu" ujar Aska.


"Udah gue bilang sama Zia sebelumnya" ujar Ivan.


"Wah wahh kacau." sahut Aska Ivan hanya cengengesan.


"Thanks ya bro"


"Gak perlu. Jangan lupa balik ke Indonesia. Gue tunggu Lo sukses" sahut Ivan. Mereka pun merebahkan diri di sofa sambil menonton tv.


•><•


Kembali ke kediaman Keluarga Kusuma.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia menolaknya?" tanya Hans setelah dia pergi.


"Dia tidak bisa meninggalkan anak gadis tuan Hitler. Mama rasa dia menyukai gadis itu" jawab Alice.


"Benarkah? Akhirnya dia kembali seperti semula."


Flashback hidup Aska.


Aska dulu adalah anak kembar, dia terlahir sebagai adik. Dia punya kakak bernama Aksa Rayensyah Kusuma. Namun, kakaknya sekarang sudah tenang di surga. Dia dibunuh oleh wanita gila yang terobsesi dengan Aksa. Dan semenjak saat itu Aska jadi pendiam, dingin dan sangat tidak menyukai wanita. Namun semua berubah ketika datangnya Zia. Yang mengetahui kisahnya ini hanya Ivan, dan Dimas.


Flashback Off*


"Mama juga senang pa, banyak perubahan di hidup Aska setelah adanya gadis itu. Papa tau beberapa bulan yang lalu dia merokok. Seminggu berselang dia berhenti merokok karena paksaan gadis itu. Saat itu mama memang tidak menyuruhnya, mama hanya berpura pura tidak tau, karena seperti yang papa ketahui, kita tidak bisa melarang apapun keinginannya yang salah" jelas Alice.


"Wah, dia benar benar gadis yang berbeda"


"Pa.. apakah setelah dari Amerika, Aska akan dijodohkan?" tanya Alice.

__ADS_1


"Perjodohan ya? Hmm"


"Papa sudah banyak mengatur jalan hidup untuk kesuksesannya. Papa akan biarkan dia memilih pasangan hidupnya sesuai yang dia inginkan." jawab Hans Alice pun hanya tersenyum.


__ADS_2