Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Waria :×


__ADS_3

"Semoga aja di tempat barunya dia punya temen" kata Rafael.


"Maksud lo punya temen?" tanya Aska.


"Ayah gue posesif, dan selalu tegas. Kinan jarang dikasih pergi sama temannya. Dia punya temen beberapa. Tapi temannya munafik. Dia selalu di bicarain dibelakang, dibilang anak papi dan sebagainya. Gue kasihan sama dia, sejak tau itu gue selalu ajak dia tinggal di apartemen gue. Tapi dia bilang, dia mau jagain ayah disini"


"Ayah pergi ke Kalimantan aja dia mau ikut, tapi ayah gue suruh dia ikut sama gue, dibujuk lama dulu baru dia mau" jelas Rafael.


"Dia korban bully?" tanya Zia.


"Di SMP, dia dibully dikatain gak punya ibu. Tapi dia tetep santai, selalu senyum. Dia mikul bebannya sendirian"


"Dia pernah pengen punya kakak, dia suruh gue cari kakak ipar. Tapi gue takut malah, nanti kakak ipar dia kayak ibu tiri gimana? Makin tersiksa pula dia" jawab Rafael.


"SMA dia gak korban bully kan?" tanya Aska.


"Di SMA, dia gak dibully, tapi ya itu tadi, temennya munafik" jawab Rafael.


"Tenang aja, gue bakal masukkin dia ke universitasnya Zai. Biar Zai jagain dia" kata Aska.


"Zai bukannya semester akhir?" tanya Rafael.


"Dia mau ngambil S2 atau S3. Katanya pengen jadi dosen. Karena dia bilang jadi dosen enak, karena dosen selalu benar" jelas Zia. Mereka tertawa.


"Rap, kalau lo sama adek lo mau. Kalian bisa tinggal dirumah" ajak Aska.


"Iya rap" sahut Zia.


"Gak lah, kalian udah bantu banyak. Gue gak enak" balas Rafael masih sambil mengemudi.


"Yakin?" tanya Zia dan Aska barengan.


"Yakin, eh. Kelewatan ogeb! Gara gara kalian ngajakin cerita, kebablasan nih" keluh Rafael. Zia dan Aska malah ketawa.


"Ini kita mau ngapain emang?" tanya Zia.


"Eh iya, kenapa bawa kamu ya? Ini bahaya" sahut Aska.


"Bahayanya?" tanya Zia.


"Kita mau ringkus si waria. Aku gak mau kamu kenapa kenapa" Aska khawatir.


"Yah gak asik, aku ikut dong yaa" pinta Zia.


"Ck.. jangan ya."


"Rap, anterin Zia aja dulu" ajak Aska.


"Enggak rap, lanjut ke markas waria aja" suruh Zia. Aska menatap Zia, Zia cengengesan. Aska bertindak menggelitik Zia.


"Aaaa.. hahaha.. geli sayang.. hahahaha" Zia kegelian. Rafael yang membawa mobil cengengesan melihat mereka berdua. 'semoga aja gak ada duri di hubungan kalian' batin Rafael.


×××××


"Woi, dah sampe." teriak Rafael.


"Udah telepon polisi?" tanya Zia.

__ADS_1


"Kayaknya gak guna pake polisi." jawab Rafael.


"Jadi mau digimanain?" tanya Zia.


"Rap mau bunuh, rap kan Psychopath" bisik Aska.


"Hah??! Gila aja? Gak usah gitu dong. Masuk penjara gimana kalian?!!" tanya Zia ngegas.


"Nggak kok, santai. Dibelakang kita itu polisi, nyamar jadi bodyguard" jelas Rafael.


"Oiya, gue bukan psychopath. Mukanya aja yang kek psychopath. Tapi gue itu gud boy" ujar Rafael.


"Mabok gua dengernya" ledek Aska. Rafael dan Zia tertawa.


"Ayo tangkap" ajak Aska. Mereka turun dari mobil, masuk keruangan itu.


"Halo Hayr Frile" sapa Rafael. Hayr yang lagi menciumi jala*g terhenti.


"Kalian? Mau apa disini?!" tanya Hayr.


"Loh kok lesby, kemaren jadi Rere kan? Kok ini malah nikmatin jalan*g" sindir Aska.


"Sayang itu bukannya..." Zia berbisik ke Aska saat melihat jala*g itu.


"Gisell" Aska dan Zia terkejut.


"Wah, luar biasa, kalian masih kenal sama gue ya" kata Gisell


"Bebas dari penjara, jadi jala*g ya. Hahaha murah" ledek Zia.


"Meleset sayang, Zai tau gerak gerik gue" balas Hayr.


Aska bertepuk tangan.


Datang sekitar 15 orang berbadan tegap, beberapa dari mereka polisi yang menyamar.


Hayr senyum sinis. Dia bersiul. Sekitar 17 orang datang. Hayr si Waria, dia ketua mafia.


"Kita tarung?" tanya Hayr.


"Bener dugaan gue, lo yang jegat gue sama istri gue kemaren!" ujar Aska.


"Hahahaha.. bisa nebak juga lo." sahut Hayr.


"Kebanyakan bacot lo" Rafael bertindak menendang dada Hayr. Hayr tersungkur. Anggota Hayr sudah menyiapkan senjatanya.


"Sayang, keluar. Plis, aku gak mau kamu kenapa kenapa" pinta Aska.


"Jangan lupa, aku bisa tarung. Kita hadapi sama sama" balas Zia. Rafael melirik Zia Aska lalu mengangguk.


Mereka bertengkar disana, cukup lama sampai terdengar suara tembakan dari balik pintu. Tembakan tanpa peluru.


Ternyata itu Abdian, salah satu teman Aska waktu SMP. Dia ikut bertarung melawan waria. Semua terkejut dengan suara tembakan itu.


Dengan gerakan cepatnya polisi yang menyamar itu langsung meringkus Hayr. Dibantu dengan beberapa rekannya, Hayr dibawa ke penjara setempat.


"Thanks di kerja samanya" Aska bersalaman dengan Abdi.

__ADS_1


"Santai aja, makasih juga udah bantu tangkepin si pengedar sabu itu" balas Abdi.


"Kalau gitu gue pergi dulu, selamat liburan di Bali" Abdi pun masuk ke mobil samarannya.


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


"Kamu kenapa mau disini?" tanya Zai, Kinan tertawa.


"Eh kenapa ada yang salah?" tanya Zai.


"Nggak mas, mas lucu. Tadikan udah nanya, Kinan juga udah jawab" balas Kinan.


"Masa iya?" tanya Zai berfikir. Kinan mengangguk. Zai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu belom makan. Mau makan apa? Mas pesenin" tawar Zai.


"Nggak usah mas, Kinan belom lapar" jawab Kinan.


"Oh ayolah, kamu belom makan. Dari tadi kamu yang suapin mas, anggap aja balas Budi mas untuk kamu" kata Zai.


"Kinan tulus bantu mas, ini keinginan Kinan. Mas gak usah balas budi" Kinan berbicara menatap Zai sambil senyum.


'astagaa, senyum mu dek, moodboster banget. kenapa gak dari dulu aja gue ketemu sama lo Kinan. kenapa harus ketemu banci kaleng dulu' batin Zai.


"Mas? Mas? Mas Zai? Mas??" Kinan panik, dia mendekatkan telinganya ke dada Zai.


"Masih ada kok detak jantungnya" gumam Kinan.


"Ih mas, mas kenapa? Mass?!" Kinan melambaikan tangannya di depan mata Zai.


"Mas terpesona, senyum kamu manis banget" jawab Zai balas tersenyum. Kinan menunduk, dia merona.


'mas jangan gitu napa si eeeggwghhhh, malu kinan maluuu.. mana senyumnya mas Zai bikin kinan terbayang mulu lagi' pikir Kinan.


Kinan beranjak ingin pergi, tapi tangannya ditarik Zai.


"Mau kemana? Sini aja, mas langsung sembuh kalau kamu disini" cegah Zai.


"MODUS WOI MODUSS!! dasar fucekboy!" sindir Zia yang baru masuk ruangan. Aska dan Rafael tertawa. Kinan buru buru melepaskan tangannya dari cengkeraman Zai lalu menghampiri mereka yang duduk di sofa.


"Eh kak Zia, bang fael, kak Aska. Kalian darimana?" tanya Kinan sedikit gugup. Zai malah tertawa dari brangkarnya.


"Memberantas kedzaliman." jawab Rafael.


"Nih buat kamu" Zia menyodorkan paper bag.


"Makasih kak" Kinan tersenyum.


"Gue manaaaa?!" tanya Zai.


"Mas kan udah makan" Kinan nyambung.


"Wop, wop.. mau ngelangkahin lo nih rap. Kelamaan jadi bujang lapuk sih" ledek Aska. Zia tertawa.


"Langkahin gak apa apa. Abang restuin" balas Rafael.


"Ih bang, ngomong apaa sih?" tanya Kinan, dia keluar dari ruangan dengan rona merah diwajahnya. Yang di dalam ruangan tertawa melihat Kinan.

__ADS_1


__ADS_2