Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Kinan


__ADS_3

"Astaghfirullah kak Zia. Kakak kemana aja sih? Kinan panik tau, udah balik babak belur gini, sini Kinan obatin. Kak Aska minta obatin sama bang fael aja" suruh Kinan, saat ini mereka berada dirumah Rafael.


——


Kinanti Syahira Pangestu, adik perempuan kesayangan Rafael. Kepulangan Rafael ke Bali karena Kinan sakit malarindu. Eh bukan deng hehe.. Kinan sakit malaria. Sakit yang dideritanya hampir satu minggu, sedangkan Rafael berada di Bali sudah seminggu lebih.


Papa dan mama Kinan sudah berpisah sejak Kinan berusia lima tahun. Perpisahan itu karena mama Kinan lebih mementingkan karir dari pada keluarganya. Saat ini mama Kinan tidak di Indonesia, melainkan di Jepang. Kinan tinggal di Bali bersama dengan Papa kandungnya. Tapi dua hari yang lalu papa Kinan dipindah tugaskan ke luar kota. Kemungkinan, setelah Rafael kembali kerja, Kinan akan ikut dengannya.


——


"Kamu cerewet banget sih dek ah" protes Rafael.


"Abang tu ya, bukannya perhatiin kak Aska sama kak Zia malah diem dirumah. Kan jadi gini. Babak belur," protes Kinan lagi sambil membersihkan luka Zia. 'mas crush bener, Kinan cocok sama si blangsak, dia perhatian' batin Zia.


"Kamu udah sembuh Ki?" tanya Zia.


"Udah kak, Kinan udah sembuh" jawab Kinan.


"Kamu sakit malaria selama itu ya? Hampir satu minggu kan?" tanya Zia.


"Iya kak, emang selalu kayak gitu sih." jawab Kinan masih telaten merawat Zia.


"Kamu kayaknya cocok jadi dokter deh Ki, kamu mau kuliah lagi?" tanya Zia.


"Tadinya mau kak, tapi Kinan gak mau memberatkan beban ayah sama bang fael." jawabnya murung.


"Kamu umur berapa? Jadi kamu tamat SMA doang?" tanya Zia lagi. Kinan mengangguk.


"Kinan masih 19 tahun kak" jawabnya. 'kinan 19 tahun. Mas crush 23, gue 22 berarti Zai 21' fikir Zia.


"Kalau kakak pulang, kamu ikut ya. Kamu kakak biayain kuliah" tawar Zia.


"Se- serius kak??" Zia mengangguk.


"Zi lo serius?" tanya Rafael, dia sudah selesai mengobati Aska.


"Bukan sombong rap. Ehem. Ada mas crush ntar yang bayarin" balas Zia.


"Buset dahhh, ngebebanin kalian. Gak usah deh ya" pinta Rafael.


"Lo mau jadikan adek lo apa? Mau lo nikahin? Biarin aja dia kuliah, nanti sambilan kerja di kafenya Zia." sahut Aska.


"Nah bener, kita emang sehati mas" Zia mendukung ucapan Aska. Kinan memeluk Zia.


"Makasih ya kak, semenjak ada kakak. Kinan jadi gak kesepian" kata Kinan.


"Santai aja, kamu udah kakak anggep sebagai adek kakak sendiri" jawab Zia.


"Gue gak nyangka sih, bini lo yang barbar plus lo yang cuek punya hati" ledek Rafael.


Pletak!!


Lemparan sendal mendarat sempurna dikepala Rafael. Pelakunya adalah Kinan.


"Abang tuh ya, kalau ngomong gak di saring dulu. Asallll aja" ceramah Kinan. Aska dan Zia tertawa.


"Kamu mau temenin kakak gak?" tanya Kinan yang sedang merapikan kotak obat.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Kinan.


"Ketemu adek kakak, dia ganteng tau."


"Eh tunggu.. jangan bilang kakak kuliahin Kinan ada maksud tertentu" Kinan memicingkan matanya.


"Nggak Kinan, kakak serius mau kuliahin kamu gak pake maksud apapun" kata Zia.


"Perencanaan yang sempurna" balas Kinan sambil nyengir lalu pergi menuju kamarnya. Zia dan yang lain tercengang lalu tertawa.


\=\=\=\=\=


"Hola adek" sapa Zia.


"Eh darimana lu? Muka lu kok udah gak bonyok lagi? Lo kenapa sih?" tanya Zai bertubi-tubi.


"Jangan bacot deh ah"


"Gue bawa sesuatu buat lo"


"Apaan?" tanya Zai cuek.


"Ini dia, kenalin. Adeknya Rafael" Kinan mengeluarkan wajahnya, tapi menunduk. Zai tidak berkedip memandangnya.


"Ha- halo, aku Kinanti Syahira Pangestu adik nya kak Rafael Anji Pangestu" Kinan masih menunduk.


Zia, Aska dan Rafael, melihat mereka dari sofa sambil memakan buah.


"Zai kedip!!" teriak Aska.


"Eh, kenalin gue Zai Ananta" balas Zai.


"Bukan fakboy dia mah, yakin aku" sahut Aska.


"Ya udah, biarkan mereka berdua. Ayok lanjutin tugas" ajak Aska.


"Tugas apa monyong?" tanya Rafael.


"Waria" jawab Aska. Mereka pun beranjak.


"Calon bu dokter, kami tinggal dulu ya. Jagain nih manusia blangsak. Kalau ada apa apa, telepon kakak" pesan Zia. Kinan mengangguk.


"Jangan macem-macem lu Zai" ancam Aska.


"Santai bang" balas Zai cengengesan.


"Kalian mau kemana sih?" tanya Zai.


"Mau ketemu sama war–" mulut Kinan dibekap abangnya.


"Nasib punya adek yang jujur" gumam Rafael.


"War apaan sih? Dari tadi war war mulu?" tanya Zai.


"Gak usah dipikirin, ingat kesehatan mu. Kalau udah sembuh Zia sama Aska bakal kasih tau kok" ujar Rafael.


"Iya abang ipar, eh astaghfirullah" sahut Zai sambil menutup mukanya. Kinan diam saja.

__ADS_1


"Ya udah kami pergi dulu" pamit Aska, Zai dan Kinan mengangguk. Mereka pun pergi.


~


Diruangan VIP Zai.


"Kinan, bisa tolong ambilin itu" Zai menunjukkan Hoodie Zia. Kinan beranjak. Memberikannya sambil menunduk.


"Kamu kenapa nunduk terus sih?"


"Kata ayah kinan, gak boleh saling pandang sama yang bukan muhrim" jawab Kinan. 'hyaaaa!!! bang Aska sama kak Zi pinter banget cari adek ipar' batin Zai.


"Oo gitu, kamu kenapa mau kesini?" tanya Zai.


"Kinan bosen dirumah terus, Kinan juga butuh udara segar" jawab Kinan lagi.


"Rumah sakit bukan tempat udara segar" Kinan gugup.


"Gak usah dijawab aku bercanda kok" kata Zai.


"Keadaan kakak gimana?" tanya Kinan.


"Udah lumayan mendingan karena dijenguk kamu" jawab Zai. Kinan merona.


"Kamu umur berapa? Tinggal disini sama siapa?"


"19 tahun kak, Kinan disini sama ayah. Tapi ayah dipindah tugaskan ke luar kota"


"19 tahun? Berarti kamu kuliah?" tanya Zai.


"Kinan gak kuliah kak, Kinan gak punya biaya. Kinan gak mau nyusahin ayah sama bang fael" jawab Kinan jujur.


"Tapi kak Zia baik, dia mau biayain kuliah Kinan kalau Kinan ikut tinggal sama abang" Kinan mendongak, mata mereka bertemu. Kinan kagum melihat manik mata Zai, begitupun dengan Zai.


"Ma - maaf kak," Kinan kembali menunduk.


"Gak apa apa. Jangan panggil kakak dong"


"Jadi? Kakak kuliah semester akhir kan? Tuaan kakak daripada Kinan."


"Panggil mas, atau abang. Kalau kamu panggil aku, zia sama yang lain dengan sebutan kakak, kita bingung nanti"


"Eh iya mas"


~


Didalam mobil


"Modus banget Zai, astagaaa!!" protes Zia. Mereka punya kamera cctv dan penyadap suara diruangan Zai, untuk memantau kondisi Zai sekaligus jaga jaga jika waria atau anak buahnya datang. Aska dan Rafael malah ketawa mendengar protesan Zia.


"Ngapa lu berdua ketawa? Gue malah takut si Zai blangsak macem macem" keluh Zia.


"Gak boleh suudzon sama adek sendiri" sahut Rafael.


"Rap, kok lu santai sih? Bukannya dia adek satu satunya yang paling berharga bagi Lo?" tanya Zia.


"Iya, dia wanita berharga satu satunya dihidup gue setelah si pecinta karir pergi. Gue santai karena gue tau, seluruh anggota keluarga Hitler gak sejahat itu." jawab Rafael.

__ADS_1


"Gue bersyukur dia ketemu lo berdua. Dia lebih ceria. Setahun belakangan dia selalu murung karena gak bisa kuliah. Gue bilang, gue bisa biayai kuliah dia. Tapi dia masih tetep bilang gak mau ngerepotin. Eh giliran tawaran lo dia malah langsung mau"


"Semoga aja di tempat barunya dia punya temen"


__ADS_2