
Jangan lupa baca sampe abis π
Oh iya guys, ini akhir. Tapi ntar masih ada satu chapter pemberitahuan sekuel. Jadi jangan di unfav dulu yaw hehe :^
____________
Aska bergegas kembali ke big home Hitler setelah menerima panggilan tadi.
Panik!
Aska sangat-sangat panik. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Namun, dirinya kurang beruntung saat ini. Aska terjebak diantara kemacetan kota.
Tak ada pilihan lain bagi Aska selain berlari menuju rumah. Aska pun keluar dari mobil.
"Dandi, mobil saya kejebak macet. Nanti jemput, alamatnya saya sharelock!"
Aska mematikan panggilan teleponnya lalu berlari sekuat tenaga menuju big home.
Jarak antara letak kemacetan dengan big home tidak terlalu jauh. Sehingga, dalam waktu lima belas menit Aska tiba di big home.
"Mi.. mi ada apa?" tanya Aska sambil ngos-ngosan.
"Akhirnya kamu datang. Zia nak Zia"
"Iyaa Zia kenapa mi?"
"Zia di culik"
"HAH?!"
"Iya nak, tadi Zia di depan tiba-tiba diculik pake mobil hitam"
"Arahnya kemana?? Cctv??!"
"Cctv rusak nak. Sepertinya sudah di rencanakan"
"Arahnya ke sana" Zeco menunjuk arah barat.
Aska lari lagi menuju arah yang ditunjuk Zeco.
Dia hampir saja tertabrak saat nyebrang, namun hanya hampir belum tertabrak.
Yang hampir menabrak Aska adalah supir taksi. Aska pun memberhentikan mobil itu dab mengendarainya. Sedangkan sang supir menjadi penumpang.
Beberapa menit kemudian, Aska tiba di sebuah bangunan tua. Aska mendapatkan alamat dari Zean.
"Pak. Saya gak bawa uang cash, jadi nanti bapak telepon saya aja. Berapapun bakal saya bayar nanti" Aska pun pergi meninggalkan sang supir yang hanya mengangguk pasrah.
Tanpa senjata apapun, Aska masuk ke dalam bangunan. Bangunan itu seperti labirin. Aska bingung harus ke arah mana.
Indera pendengaran Aska yang tajam mampu menangkap suara teriakan sang istri. Aska pun berlari lagi mendekat ke suara itu.
Tepat di satu ruangan. Terdengar jelas teriakan tersebut. Aska masih di depan pintu ruangan dan mendengar sesuatu. "Diam! Diam atau kau akan mati bersama suamimu itu"
"Aagh.. jangan bunuh istri saya"
'Hah? Apa apaan?' batin Aska.
Aska membuka pintu. Tak ada satupun yang melihat kearahnya. Disana memang ada seorang wanita memegang pistol, dan juga dari bentukan tubuhnya mirip seperti Zia.
Aska tidak bisa melihatnya jelas, karena wanita itu berlindung dibelakang tubuh... Aksa.
Dan penembak itu.. Salsabila.
Tiba-tiba..
Dorrrrr!!!
"Aggghhhhhh"
"Askaaaa"
"Pergilah.. pergi tinggalkan aku. Agh... Tinggalkan aku. Selamatin diri kamu"
"Nggak Aska nggak! Hiks hiks.. aku nggak mau kemana mana. Aku disini, aku disini temenin kamu."
'ini.. ini mimpi. ini mimpi itu. ini gak mungkin. tapi kenapa aksa..?' otak Aska bekerja keras.
"Zia, jangan ngeyel. Aku mohon pergi. Selamatkan dia, baby kita"
"Aku gak mau Aska!!! Lebih baik aku ikut mati sama kamu sekarang"
"Tembak gue. Tembak sekarang!"
"Baiklah, bersiap siap, gue hitung satu sampe tiga,"
"Satu"
"Dua"
"Tiiiiβ"
"JANGANNN!!"
Semua menoleh ke Aska. Kecuali wanita itu, dia hanya mengintip.
"Aksa.. menjauhlahh menjauh!"
"Ziaa.. ziaa itu Aksa. Itu aksa. Aku Aska!!"
"We udah lah ya? Pegel nodong pistol" keluh wanita bermasker itu.
"Hah?"
Dor dor dor!!!!
"Happy birthday to you! Happy birthday to you! Happy birthday happy birthday happy birthday Askaaa!!"
"Selamat ulang tahun sayang" Zia muncul sambil membawa kue ulang tahun diikuti yang lain.
"I- ini maksudnya apaan? Kalau kamu Zia dia siapa?" Aska menunjuk wanita yang disandera tadi.
__ADS_1
"Hai kak, happy birthday! This is prank brother" itu Yuka.
"Hah?"
Semua tertawa melihat ekspresi Aska.
"Lupa ya kalau nambah umur?" tanya Zia. Kue yang dipegangnya berpindah tangan.
"Jahat kamu jahat!! Bercandanya tuh gak lucu!!" Air mata Aska nyaris keluar.
Lagi-lagi mereka tertawa.
"Cengeng amat sampe nangis" cibir Ivan.
"Lo juga"
"Haiii happy birthday"
"Aishh.. jahat!!"
"Ututu" Zia memeluk Aska sambil tertawa.
"Makanya gak usah ngeprank! Di prank balik kan" Zia melepaskan pelukan, Aska pun menatapnya sinis.
"Udah rencana sejak kapan hah?"
"Seminggu yang lalu"
Flashback β³
"Gue mau balas prank Aska di ultahnya"
"Seminggu lagi kan?" Zia mengangguk.
"Caranya?"
"Bawa mimpinya. Jadi, mimpi itu nyata tapi just prank"
"Yakin lo?" tanya Zai.
"Iyaa"
"Mama papa bantu dikit lah ya"
"Gue juga minta tolong sama Yuka ntar dia yang lakoni gue yang dubbing. Pokoknya kece pranknya"
"Nggak yakin, gue malah mikirnya aneh ni prank" ujar Ivan.
Zia tertawa.
"Jadi pranknya gimana?" Zia menceritakannya dari awal hingga akhir.
"Terus guna gue ke kantor dia apaan?"
"Ya kagak ada sih. Kan dia demen ikan itu, jadi gue penasaran juga dia pilih siapa. Meskipun keliatan jelas dia bakal pilih gue"
"Terus ngapa di coba Bambang?!"
"Gapapa lah"
"Yaudah iya!!"
Flashback off β
"Make a wish dulu dong kalian berdua" Aska dan Aksa pun berdoa dalam hatinya lalu meniup lilin di masing-masing kue.
"Makasih ya sayang" Aska mengecup kening Zia. Aksa juga melakukan hal yang sama pada istrinya.
"Apa rasanya di prank seperti ini pak?" tanya Zai.
"Rasanya.. anj1ng banget!!"
"Ahahahahahah"
____________________
Tiga bulan terlewati begitu cepat. Tak ada masalah apapun dalam kehidupan rumah tangga Aska dan Zia kecuali perdebatan kecil antara mereka.
"Aku pergi dulu ya" pamit Aska. Dirinya ingin pergi ke Singapura hari ini.
"Aku ikut lahh yaa" rengek Zia.
"Sayang.. aku cuma dua hari kok. Bentaran doang. Nanti aku pulang, disambut sama baby oke?"
"Janji dua hari no lebih!"
"Iyaa"
Cup~
"Aku pergi yaa"
"Tiati" Aska tersenyum lalu masuk ke pesawat pribadi nya. Zia tersenyum sambil melambaikan tangan.
Setelah dirasa pesawat tak nampak, Zia kembali masuk ke big home.
Zia memang lebih sering di big home sekarang, bermain dengan Frizy yang usianya lebih dari tiga bulan.
"Kak ponakan gue cewek ato cowok?" tanya Zai.
"Mana gue tau" jawab Zia.
"Lah kok oon gitu sih?" Tanya Zean.
"Gue gak cek kelamin, biar lahirnya murni gapake tebakan" jawab Zia.
"Gue tebak ni anaknya banci" ujar Zai.
"Tunggu siap gue lahiran, gue tebas kepala lo pake samurai" ancam Zia. Zai tertawa.
"Adek kakak ribut mulu. Heran liatnya" Zeva tiba-tiba muncul bersama dengan Frizy.
"Mama tau sendiri anak bungsu mama pengen di sentil ginjalnya" jawab Zia.
__ADS_1
"Sejak kapan ginjal bisa di sentil?" tanya Febby.
"Dah lama kak. Masa iya kakak gak tau? Kan kakak dokter" ujar Zia.
"Gosa dengerin, dia gak waras" ujar Zean.
"Abang laknat"
"Hahaha"
"Sinii, Frizy sama onty cantik" Zia merentangkan tangannya ingin menggendong Frizy.
"Nggak usah betingkah. Ponakan gue kenapa-kenapa ntar" cegah Zean.
"Lebay amat sii, biasanya juga gak pa-- Aaahh.." Zia memegangi perutnya.
"Ziaa??"
"Aghh...."
"Zia mau lahirann!!" ujar Febby.
Zai berlari mengeluarkan mobil dari garasi, Zean menggendong adiknya, Zeva memberikan Frizy pada Febby lalu pergi mengikuti Zean.
Mereka berempat menuju rumah sakit langganan.
"Jangan lupa telepon bang Aska" ujar Zai.
Zean pun mengambil ponselnya.
βAskaaβ
π "Assalamualaikum bang kenapa? Rindu?"
"Waalaikumsalam, gak ada waktu untuk ngelawak. Cepat pulang, bini lu mau lahiran"
π "Gausah ngaco. Mau ngeprank gagal lo mah"
Zean mengarahkan ponselnya pada Zia, terdengar suara Zia sedang kesakitan.
Aska mematikan teleponnya, dia pun menyuruh pilot memutar balik pesawatnya.
β¦
"Gimana Ziaa?" tanya Aska panik, dia baru tiba di rumah sakit.
"Masih di dalam" Aska nyelonong masuk. Dia menggenggam erat tangan Zia.
Sampai akhirnyaaaaaaa...
Oek oekk oekk
Bayi itu lahir.
Tunggu..
Bukan cuma satu, ternyata ada lagi!
Zia berjuang kembali mengeluarkan anak kembarnya.
Tujuh menit kemudian, bayi itupun keluar. Perawat membawanya untuk dibersihkan.
Aska mengecup kening Zia terus-menerus. "Makasih sayang.. makasihh. Makasih udah lahirin kedua anak kita tanpa kurang sedikitpun" ujar Aska.
"Dua?" tanya Zia. Aska mengangguk. Zia tersenyum lebar.
"Kembar ternyata" gumamnya.
"Sebentar ya" Zia mengangguk lemah. Aska menghampiri anak kembarnya berniat untuk mengadzani keduanya.
Setelah selesai, dia kembali pada istrinya. Ternyata istrinya tertidur.
"Gimana??" tanya Zeco.
"Kembar pi"
"Kembar?? Wow!! Kelaminnya??" tanya Zai. Aska menunjuk kebelakang mereka, disitulah bayinya berada.
"Subhanallah comelnyaaaa cucuku" puji Alice.
"Sepasang" Aska mengangguk.
Zia terbangun karena mendengar keributan. Semua menatap Zia sambil tersenyum, Zia juga tersenyum.
"Namanya siapa nih?? Jangan bilang gak punya nama" cibir Zean.
"Namanya udah ada dong" ujar Zia.
"Berarti tau dari awal"
"Nggak juga. Kemaren tu sepakat sama Aska, kalau cowok yang kasih nama Aska. Kalau cewek yang kasih nama Zia" jawab Zia.
"Jadi namanya?"
"Cewek apa cowok dulu nih?" Tanya Zia.
"Ribet emang hidup lu" Zia tertawa.
"Yang cewek dulu deh ya. Kan lahirnya cewek duluan" usul Aska.
"Oke. Yang cewek Zia kasih nama Asya. Asya Zhafira Syuhaila Kusuma"
"Widihh bagus juga tuh" puji Hans.
"Yang cowok?" tanya Alice.
"Yang cowok namanya Azril. Azril Kenzi Stevano Kusuma"
"Asya dan Azril"
"Ahh kiyudnyaa.." mereka semua gemas melihat anak mereka berdua. Aska dan Zia tetap ditempatnya sambil berpegangan tangan.
"Lo hebat kak" puji Zai.
__ADS_1
"Gue tau" jawab Zia sombong.
"Dasar Ciwi Barbar" Zia pun tertawa.