Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Ternyata...


__ADS_3

Di basecamp Triplebad. Lima belas menit lamanya Dimas dan Ivan menunggu sampai akhirnya Aska datang memasuki basecamp.


"Lama banget lu! Karatan gue nunggunya," omel Dimas langsung. "Ya maap, gue juga udah ngebut biar cepet, tapi tetep aja lama."


"Terus ini ngapain suruh ngumpul? Kenapa juga lu minta share lokasi rumah Zia ?" tanya Ivan beruntutan. "Sabar monyett. Gue haus, lu nanya ngebut banget. Satu-satu napaa." Aska pergi ke dapur, mengambil minuman di lemari pendingin lalu kembali lagi.


For you information. Basecamp mereka itu sebuah rumah yang di dirikan Aska dengan uangnya sendiri, yang mengetahui rumah itupun hanya mereka bertiga dan Samuel.


Rumah itu terbuat dari kayu dengan desain interior yang cukup luar biasa. Isinya lengkap, ada dua kamar tidur dan kamar mandi, juga ada beberapa baju Aska di salah satu kamarnya, untuk persiapan jika Aska tidak pulang ke rumah. Oh iya ada kulkas juga tapi isinya berbagai minuman favorit mereka.


"Kenapa sihh? Cepet deh ahh, lama banget lu. Udah penasaran guee," omel Dimas lagi. Aska berhenti minum, "Zia hampir di tabrak mobil tadi."


"Haaaa?" Dimas dan Ivan kompak.


"Kok bisa?? Terus sekarang keadaannya gimana? Siapa yang nabrakk? Kejadiannya gimanaa?" tanya Ivan beruntutan lagi. "Satu-satu anyinggg. Dibilangin satu-satu gak sabar amat!"


"Btw, Ka... itu kaki lu berdarah." Aska melihat sekilas kakinya kemudian melepas jaket. "Cuma dikit doang, gak kerasa juga."


"Kok bisa sih? Jelasin kronologinya."


"Gue tadi belom pulang. Waktu udah di parkiran sekolah, gue liat si Zia nyebrang. Dari kejauhan juga gue liat ada mobil laju banget dan mobilnya mau nabrak Zia. Gue lari nyamperin Zia, Zia ketangkep terus gue peluk, gue tarik ke pinggiran. Mungkin kaki gue luka karena kebentur batu atau apa tadi, gak kerasa juga."


"Fuckkk, siapa yg ngelaku–" belum siap Dimas ngomong langsung di potong Ivan. "Bukti ada gak?" tanya Ivan berusaha santai.


"Gue gak punya, abangnya ngeliat mungkin dia punya bukti."


"Kalau ada abangnya kenapa gak nolongin dah?" tanya Dimas gantian. "Gak tau. Abangnya bilang kan ada lu, gitu katanya sambil nunjuk gue."


"Terus, Zia gimana??"


"Udah gue anter pulang. Tangannya luka tadi, tapi udah gue obatin di UKS sekolah."

__ADS_1


"Lu pada tau ini plat mobil siapa?" tanya Ivan beberapa menit diam. Dirinya meminta bukti pada Zean. "Gue gak tau. Lu tau, Ka?"


"Plat mobil gue sendiri juga gak tau apalagi punya orang." Aska memperhatikan foto bukti dengan jelas. "Coba lu zoom itu foto." Ivan pun menurut dengan apa yang di katakan Aska.


"Itu di kacanya ada tulisan Jepang, tulisannyaa itu....." Aska menghentikan kata-katanya dan melihat lebih jelas kata apa yang di tuliskan di situ.


"Apa tulisannya?" Dimas gak sabar.


"Nabila Putri."


"Hah? Jadi Nabila dalangnya?" tanya Ivan. "Lu yang bener. Kalau salah baca nanti jatuhnya jadi fitnah," sahut Dimas.


"Pinjem hp lu deh, hp gue mati." Dimas pun memberikan ponselnya.


Aska membuka Google. Dirinya menerjemahkan nama 'Nabila Putri' dari bahasa Indonesia ke bahasa Jepang. Dan ternyata benar, translate by google dan tulisan di mobil itu sama.


"Gue gak salah teman-teman." Aska menunjukkan hasil translate. "Inget kejadian di kantin gak? Gue rasa Nabila dendam gara-gara itu," prediksi Aska.


"Ah.. iya bisa jadi. Terus gimana ini?"


"Lu makin hari makin beda ye, Ka. Apalagi semenjak ada Zia. Setau gue, lu anti banget yang beginian. Dan ngerasa gak pernah mau ngurusin hidup orang," ujar Dimas menggoda.


"Setiap orang ada perubahan, lagian dia itu beda gak kayak cewek lain yang suka manja sama cowok."


"Alah alasan!"


"Btw, ini gak mau di jenguk anaknya?"


"Gak usah, jangan. Gue tau Bang Zean pasti sembunyiin ini dari bokap-nyoka nya. Kalau kita ke sana pasti bakal ketahuan," jawab Ivan. "Sekarang kita pantau aja, gimana kelakuan Nabila selanjutnya."


...—·—...

__ADS_1


Di rumah Nabila, Mika dan Shinta sedang bermain. "Gagal lagi, gagal lagi. Aghh sial! Kenapa Aska harus nolongin dia sih?" tanya Nabila penuh emosi.


"Dia itu punya kekuatan super apa gimana coba? Gagal mulu rencana lu!" sahut Mika. "Gak tau gue. Heran banget liatnya."


"Zia itu cantik pake banget, ya jelas lah dia banyak temennya, banyak yang nolongin dan juga banyak yang suka," ujar Shinta tanpa rasa bersalah. "Temen lu itu gue atau Zia?"


"Dua-duanya sih. Kan sama aja, lebih tepatnya dia kakak kelas gue," jawab Shinta benar-benar santai. Mika langsung menoyor kepala Shinta. "Tololl."


"Apaan siii? Sebenernya kalian itu kenapa? Dia gak buat masalah, kan? Kenapa harus kalian jahatin terus? Kenapa kalian usik mulu dia? Otak di mana otak? Hah? Keliatan banget kalah saing."


"Gue keluar dari geng. Gue capek ngadepin lu yang suka semena-mena sama gue. Terserah lu mau lapor kepsek suruh ngeluarin gue, gue gak peduli. Mending gue dikeluarin dan jadi orang baik, dari pada gue di sekolah itu jadi orang jahat! Gue pergi." Shinta pun pergi meninggalkan rumah Nabila.


"Dia kenapa sih, kok berubah?" Nabila menggelengkan kepala. "Gue gak tau, pusing gue liatnya."


...—·—...


Di kediaman keluarga Zia. Zia bangun dari tidur bertepatan dengan Zai yang masuk ke kamarnya. "Lah gue kok di sini? Kan tadi gue di mobil." Zia kebingungan.


"Eh, alhamdulillah udah bangun. Lu ada yang sakit, kak?" tanya Zai balik tanpa menjawab pertanyaan Zia. "Ish. Gue nanya malah nanya balik."


Dua menit setelahnya, Zean masuk. "Udah bangun? Ada yang sakit gak, dek?" tanya Zean serupa dengan pertanyaan Zai. "Abang dan adik Zia yang ganteng, Zia baik-baik aja, Zia gakpapa kok."


"Itu tangannya masih sakit gak, kak?" tanya Zai lagi. "Njirr, kok gue merinding kalian begini."


Zean menghela nafas. "Gak usah pura-pura. Bang Ze sama Zai udah tau. Zia hampir di tabrak, yakan?" Zia terkejut. "Tau dari mana? Aska ya? Aduh.. jangan kasih tau mama papa ya bang, plisss."


"Iya nggak abang kasih tau. Lain kali hati-hati. Udah, mandi sana. Pake baju lengan panjang biar gak keliatan lukanya nanti sama mama papa."


"Okee, otwww."


"Abang sama Zai tunggu di bawah ya, jangan lama."

__ADS_1


"Siap boss!"


^^^Revisi, 2021.^^^


__ADS_2