Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Kamu kesambet apa sih?


__ADS_3

Setelah sedikit perdebatan antara betina dan jantan, akhirnyaaa jantanlah yang menang.


Mereka semua berdiam diri di villa.


Para pria lagi asik dengan gamenya.


Sedangkan ciwi ciwi duduk dengan kegabutan tingkat tinggi yang melanda.


"Gue gak pernah segabut inii ya lordd" keluh Zia.


"Ah gue juga!" sahut Ica. Alya melihat ke arah cowok cowok.


"Dengan santainya mereka enak enak main game acuhin kita!" kata Alya sinis.


"Bener bener kampret emang" lanjut Refiona.


"Jadi kita ngapain ini? Asli gue gabut akut!" tanya Qiara.


"Drakoran aja kuy, nonton akang Min-ho," pinta Zia.


"Nah boleh tuh, nonton pake apa btw?" Tanya Tania.


"Liat di hp salurin di tv, gampang itu" sahut Ica.


"Pake hp siapa?" tanya Refiona.


"Em"


"Aaa.. pake hpnya master Aska aja" usul Qiara.


"Yoda bentar gue ambil" Zia pergi menuju kamarnya mengambil hp Samsung Aska. Aska main game pakai hp iPhonenya.


Zia kembali sambil melihat histori YouTube Aska.


"Eh apa apaan ini?!" tanya Zia.


"Kenapa?" tanya Ica. Zia menunjukkan ke Ica.


"Hukum poligami, cara selingkuh gak ketahuan, cewek seksi Amerika, cewek seksi Jepang, cewek seksi sedunia... Wah gila gila apa apaan ini?!" tanya Ica.


"Wah parah ini mah parah, gak jelas ini. Gila" sahut Qiara.


"Masih saya pantau belom saya tabok" kata Zia kesal.


"Kenapa kalian?" tanya Samuel yang baru datang.


"Noh temen lo, si Aska! Gila!!" jawab Alya.


"Apa gue?!" tanya Aska.


"Sok merasa gak bersalah pula!!" sulut Ica.


"Gue gak tau apa apa woi!" balas Aska sambil menghampiri mereka. Zia menunjukkan hpnya tepat di depan muka Aska.


"Gak nampak sayang" Aska memundurkan ponselnya. Lalu membaca histori YouTube nya.


"Eh? Sumpah demi apa, aku gak ada buka itu sayang. Ivan itu" kata Aska. Ica menatap datar Ivan.


Ivan yang ditatap Ica melihat ke arah Aska. "Kagak usah ngadi-ngadi lu monyet! Bukan gueee!!" balas Ivan ngegas.


"Aaaa.. Dimas itu Dimas" ujar Aska.


"Emang sengklek ni otak manusia satu! Gue pegang hp lu aja kagak ada, somplak!" jelas Dimas.


"Akui ajaa! Gakk usah nyalahin orang!!!" Zia menatap sinis Aska.


"Sayang, sumpah demi sate Padang yang kita makan tadi, aku gak ada cari begituan di yutub" kata Aska.


"Kenapa jadi sate Padang oon?!" tanya Jimmy.


"Gak tau, gue laper" jawab Aska. Zia perlahan-lahan menghampiri Aska.

__ADS_1


"Ica, Alya, Tania, Qiara, Refi. Bantu gue gebukin manusia ini"


"Dengan senang hati" jawab mereka kompak lalu bangkit.


Zia menatap Aska dengan tatapan maungnya. "Aingg maccccaaaan!! Hajaarr ziaaa" kata Dimas sambil tertawa.


"Njib bantu gue kek," rengek Aska.


"Jujur!! Jujurr sekarang!!"


"Nggak sayang, sumpah bukan aku. Dihati aku cuma ada kamu"


"Sisanya di WA Zi!!" sahut Jimmy.


"Eh nggak kampret" Aska menatap sinis Jimmy yang tertawa ngakak.


Teman cowoknya yang lain juga sama, mereka tidak ada membantu sedikit pun, bahkan mereka menertawai Aska.


"Laknat emang lu pada" cibir Aska. Aska kembali melihat Zia yang terlihat seperti singa betina kelaparan.


"Nggak sayang nggakk sumpah deh" Zia mendekat ke Aska menggelitik Aska. Kelima teman Zia juga ikut ambil bagian dalam penyiksaan Aska.


Para jantan yang melihat Aska cuma ketawa cengengesan. "Huh" mereka berhenti.


"Dasar! Semua cowok emang sama aja!" kata Zia. Aska bangkit lalu mengunci pergerakan Zia dengan menyudutkan Zia di dinding.


"Sumpah demi apapun sayang, aku gak ada searching begituan di yutub. Kamu juga taukan, selama disini aku gak ada pegang Samsung? Itu bukan aku sayang" Aska berbicara dengan suara serak serak macho dan lemah lembut.


"Kalau bukan kamu siapa?!" tanya Zia dengan muka datar.


"Rap? Atau siapa? Suer deh, aku gak tau sayang. Bisa aja noh si Ivan atau Dimas. Ah.. kalau nggak Aksa" jawab Aska.


Puk


Puk


Puk


Tiga bantal sofa melayang keudara mengenai Aska.


"Fitnah mulu sih" kata Ivan. Aska cengengesan.


"Aaawaas" Zia mendorong Aska dengan tenaganya. Aska pun geser. Zia kembali ke tempatnya.


Ting tong.


Bel berbunyi.


"Gue aja yang buka" Zia berjalan menuju pintu utama.


"Siapa?" Orang itu diam. Zia mendongak.


"Anda siapa?" tanya Zia pada orang misterius ini.


Aska datang memeluk Zia dari belakang lalu mengendus-endus Zia.


Zia memainkan kakinya menginjak kaki Aska. "Aww" ringis Aska. Dia tetap melakukan hal yang sama.


'gak sadar ada tamu apa gimana ni orang?!' tanya Zia dalam hatinya.


"Siapa sayang?!" Aska mendongak. Pria berpakaian serba hitam dengan masker serta sarung tangannya.


Aska mengambil earpiecenya dari saku baju.


"Eagle, kunci gerbang. Kepung dari depan pintu utama" ujar Aska.


"Ada apa bos?" tanya Dandi.


"Ada penyusup" Dandi yang bersantai di halaman belakang, menyemburkan kopinya karena terkejut.


Dia bergerak membawa senjata api. Diikuti anak buahnya.

__ADS_1


Dengan cepat pistol tertodong di kepala pria ini.


Pria misterius ini mengangkat kedua tangannya. Satu tangannya pun membuka masker. "Mr Argus?!" tanya Aska.


"Maaf membuat anda terkejut Mr Aska" katanya. Aska mengode Dandi menurunkan senjata.


"Anda mau apa?!" Aska maju menyembunyikan Zia dibelakang tubuhnya.


"Hanya ingin mengembalikan ini" Argus memberi Asus ROG Aska. Aska mengambilnya perlahan.


"Maafkan atas kelakuan saya dan anak buah saya. Saya benar-benar minta maaf" kata Argus menunduk.


"Saya mudah untuk membenci orang, tapi sulit untuk memaafkan. Kali ini, saya maafkan anda. Saya harap ini bukan sebuah drama atau syuting konten di YouTube" ujar Aska.


"Ini bukan drama. Saya sungguh-sungguh. Terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan" Aska tersenyum sekilas.


"Kalau begitu, Saya pergi dulu. Maaf mengganggu waktu anda" Aska mengangguk. Argus pergi perlahan. Dandi memperhatikan gerak-gerik nya sampai benar-benar keluar dari kawasan villa.


"Kalian kembali lah, semua aman" suruh Aska pada bodyguardnya. Mereka menunduk lalu kembali.


Aska menarik Zia masuk kembali ke dalam villa. "Nanti dia drama gimana?!" tanya Zia.


"Itu nggak drama, aku liat sendiri di matanya gak ada kebohongan. Santai aja sayang" kata Aska.


"Aku mau check hp kamu, nanti dia pasang macam macam kan bahaya" Aska menyodorkan ponselnya. Zia langsung mengotak-atiknya dengan serius.


Drtttt.. ddrrrttt..


iPhone mahal Aska berbunyi. Panggilan dari Rafael.


📞 "Assalamualaikum, udah balik kan?"


"Waalaikumsalam, hm. Kenapa dia yang anter sendiri?!"


📞 "Nggak tau. Kemaren gue udah suruh bodyguard yang kasih tapi malah dia yang mau anter, ntar balik gue check"


"Udah di check bini gue nih" Aska mulai bermanja-manja dengan Zia seperti memeluknya dari belakang serta mengecup lehernya.


"Gak usah betingkah!" kata Zia, Aska cengengesan.


📞 "Lo kapan balik bos?"


"Lusa, kenapa?"


📞 "Buruan balik dah, gue mau married"


"Kapan?"


📞 "Sabtu mingdep"


"Nah gitu dong! Kan gak digantungi mulu adek ipar gue" Rafael cengengesan dari sana.


"Kantor aman?"


📞 "Aman"


Aska kembali melakukan hal yang sama pada Zia. "Askaaa, is betingkah bener si" protes Zia. Aska gak perduli,dia malah menggigit telinga Zia.


"Aww" Zia meringis kesakitan lalu berbalik menatap Aska yang cengengesan.


"Lasss--- cup~" omongan Zia terhenti karena Aska mengecup bibirnya.


📞 "Bos laknat emang!" Rafael mematikan teleponnya. Aska memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Kamu cantik banget hari ini" goda Aska.


"Kemaren kemaren gak cantik gitu?!"


"Bukan gitu sayang. Hari ini tu kamu cantiknya luar biasa. Auranya menggelegar" jawab Aska.


"Kalau mau ngerayuu gak mem--- cup~" kedua kalinya.

__ADS_1


"Gemesnyaa istriku" Aska langsung memeluk Zia.


"Kamu kesambet apa sih?"


__ADS_2