Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Suatu rencana


__ADS_3

Mereka berhasil melihat rekaman CCTV yang isinya obrolan tidak biasa antara kepala sekolah dengan sang anak. Zean dan ketiga anggotanya tadi kini menuju ke rumah Zean.


Setibanya di sana, tanpa babibu, Zean langsung mengambil laptop dan memutar rekaman CCTV yang dapat mereka pindahkan tadi.


"Pa... maafin Nabil, ya. Nabil punya alasan ngelakuin itu semua, Nabil gak suka sama itu orang, dia pernah buat Nabil malu, pa..." suara Nabila membujuk papanya.


"Papa tidak pernah mengajarkan kamu berbuat licik Nabila. Walaupun kamu punya alasan untuk perbuatan kamu itu, papa tetap kecewa sama kamu."


Nabila mulai berpura-pura menangis. "Maafin Nabil, paa.. Nabila mohon, maafin Nabil...." bujuknya lagi. "Kata maaf gak bisa mengembalikan semuanya, Nabila. Bagaimana dengan rekaman CCTV ini? Kamu bisa menanganinya?"


"Papa hanya tinggal bilang CCTV tidak berfungsi saat itu atau papa bisa bilang tidak menghidupkan CCTV di hari itu. Jadi, Nabila mohon, maafin Nabil yaa. Bantu Nabila juga buat hapus CCTV bukti di kelas dia...."


"Hadehh.. Nabila, Nabila. Yaudah, papa bakal selesaikan ini semua," Nabila tersenyum sumringah. "Makasih ya, pa.. Nabila mau ke kamar dulu." Nabila memeluk papanya sekilas lalu pergi.


CCTV terhenti di situ. Ketiga teman Zia melihat ke arah Zean. Tampak dirinya sedang emosi, tak terima dengan apa yang baru saja di tonton.


"Apa rencana lu selanjutnya, bang?" tanya Aska membuka topik untuk mencairkan suasana. "Karena bukan sekali dua kali dia ganggu adek gue, gue bakal kasih pelajaran yang bertubi-tubi."


"Caranya gimana, bang?"


"Kalian kan siswa asli yang sekolah di sana, pergi ke Dinas Pendidikan, laporkan semua ini. Kalau ada yang lain, yang bersangkutan sama kasus ini bilang juga sekalian. Suruh mereka untuk TIDAK mempekerjakan kepsek bodohh ini di mana-mana. Gue yakin lusa kepsek ini pasti bakalan keluar dari sekolah kalian," jawab Zean penuh dengan rasa emosi. Mereka diam sembari menganggukkan kepala.


"Di antara kalian dia suka sama siapa?" tanya Zean gantian. "Gak ada, bang. Tapi gue rasa dia masih suka sama Zai."


"Oh iya, adek gue itu mantannya. Anak kepsek itu tadi, bakal gue buat dia malu bertepatan dengan pemecatan papanya." Mereka bertanya-tanya. "Gimana caranya, bang? Bukti kita gak kurang?" tanya Dimas.


"Bukti pastinya yang ada di CCTV kelas. Tapi gue yakin, pasti udah diambil sama merekaa," sahut Ivan. Semua terdiam sejenak, memikirkan cara.


"Aiyaa anjirr, gue baru inget. Lu pada tau lemari yang ada bolongan kecil? Sebenarnya itu ada CCTV rahasianya, punya gue. Karena semenjak kita bolos bareng Zia gue narok CCTV di situ."


"Buat apa lu tarok di situ?" tanya Dimas bingung. "Ntah gue sendiri lupa," jawab Aska berasalan. "Daripada tanya kenapa gue taro situ, mending sekarang kita liat aja."


Zean yang setuju langsung memulai pergerakan. Kini mereka berempat di dalam mobil menuju rumah Aska. Isi CCTV-nya dapat dilihat di laptop Aska.


Setibanya di sana, mereka tonton bersama. Semua terbukti benar, nampak tercetak jelas tampang Nabila di situ. "Kan bener dugaan gue. Btw, bang, gue juga punya bukti tentang kecelakaan Zia." Aska mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman suara saat ada Shinta di kantin.

__ADS_1


"Sialann."


"Udah cukup sampe di sini dulu hari ini. Kalian balik ke sekolah sekarang gue anter, ayo." Tanpa membantah, mereka kembali mengikuti Zean. Di mobil penuh keheningan, semua bergulat dengan pikirannya masing-masing.


Sampai akhirnya, Zean bersuara. "Lu pada bisa bantu gue cariin orang baik tapi tampangnya jahat?" tanya Zean. Mereka kebingungan. "Buat apa, bang?"


"Sesuai perkataan gue, gue bakal buat itu anak malu. Jadi ntar gue suruh si Zai buat ajak dia ke cafe. Terus nanti di minumannya bakal kita kasih obat tidur. Setelah dia tidur, kita bawa dia ke hotel. Buat dia seolah-olah lagi jadi wanita malam."


"Ajak sahabatnya Zia kerja sama juga. Biar mereka yang foto semuanya. Kalau fotonya udah ada, salah satu di antara kalian tempelkan di mading sekolah. Untuk membuat semua sempurna kita butuh cowok yang gue bilang tadi, biar keliatan beneran ada cowoknya. Kalian bisa cariin, kan?"


"Boleh juga tuh. Nanti tentang cowoknya aman, bang. Gue yang bakal cari," jawab Aska. "Kalau semua rencana berhasil, gue bakal turutin kemauan kalian. Dengan syarat jangan yang aneh-aneh. Paham?"


"Anjayy. Siap, paham."


"Terus itu tentang Dinas Pendidikannya gimana, bang?" tanya Ivan. "Sekarang aja. Gue lupa tadi," Zean pun langsung memutar balik mobilnya, mengantarkan mereka bertiga ke tempat tujuan.


Di Jerman, Zia dan Luis baru saja pulang. Memang agak malam, di sengaja agar tidak ada yang melihat keadaan keduanya. "Nah untung udah sepi," kata Luis dengan bahasa Jerman.


Luis menuju ke kamar, Zia jalan mengikuti, ia berniat untuk membantu mengobati sepupunya itu. Saat tiba di dalam, Luis menatap Zia heran. "Sejak kapan kau bisa bela diri?"


"Seperti yang paling jago saja kau. Tapi baiklah, kapan-kapan ajarkan aku bagaimana cara berkelahi yang benar. Terimakasih sudah membantuku ya, Zia, mulai tadi pagi sampai sekarang," ujar Luis menatap Zia yang sedang mengobatinya.


"Ya. Untung aku sepupu yang baik hati, mau membantu karena tidak tega melihat sepupuku terluka. Hadehh, lain kali kau harus bisa melawan dengan baik ya."


"Iya, kekasihku," jawab Luis menggoda. Seketika itu juga, Zia menyikut perut Luis dengan keras, membuat Luis meringis kesakitan. "Auwhh.. sakit, Ziaa. Niatmu ingin mengobati atau membuatnya tambah parah?!" Zia tertawa.


"Kau aneh. Kita ini saudara, bodohh! Dan aku lebih suka kita menjadi sepupu daripada menjadi sepasang kekasih yang ujungnya putus dan sakit hati. Sudahlah karena ini sudah selesai aku mau ke kamar, aku ngantuk. Tidur yang nyenyak, Luis. Selamat malam~" Zia tersenyum lalu meninggalkan kamar Luis.


"Sungguh beruntung orang yang memilikimu, Zia. Yang kau katakan tadi benar, lebih baik kita jadi sepupu karena aku tidak ingin kehilangan dirimu nantinya."


...—·—...


Pagi harinya di Jerman. Zia menuruni tangga dengan wajah tersenyum sumringah. "Guten morgen!" sapa Zia di meja makan.


"Tumben bangun pagii?" tanya Yossie. "Humm, Zia juga bingung kenapa bisa berhasil bangun jam segini."

__ADS_1


"Memang harusnya terbangun, suara alarmmu itu sangat kuat sampai terdengar ke kamarku. Kau tidak sakit telinga mendengarnya?" Zia menggeleng. "Aku membunyikannya pelan, apa beneran sampai ke kamarmu?"


"Iya benar."


Zia memicingkan matanya. "Aku tidak percaya."


"Tidak percaya juga tidak masalah."


"Kau tidak meyakinkan aku? Kau berbohong yaaa?!" Luis menghela nafas lalu melihat ke arah Zia. "Maumu apaa?? Ngajak berantem?"


"Kau akan kalah," jawab Zia santai. "Kau menantangku??!"


"Aihh, sudahlah. Ini masih pagi, Zia, Luis. Hentikan pertengkaran kalian, mari kita makan sekarang." Mereka memulai sarapan dengan penuh keheningan.


"Pulang jam berapa kalian tadi malam?" tanya Zeco membuka topik kembali sehabis makan. "Zia tidak melihat jam, paa."


"Aku baru menyadari hal ini setelah memandang wajah kalian. Kenapa ada luka di sudut bibir? Kalian bertengkar??" tanya Lee.


"Oh tentu tidak, vater. Ini hanyaa kegigit saat makan tadi malam. Dan tanpa sengaja terkena duri ikan sampai sedikit luka seperti ini," jawab Luis ngarang.


"Jangan berbohong."


"Itu benar, grossva. Luis juga terpeleset kemaren saat hendak membantu Zia yang hampir terjatuh, maka dari itu mukanya jadi seperti itu. Semakin jelek." Luis diam, menatap Zia kesal.


"Yasudah kalau begitu. Baguslah kalau kau bisa menjaga sepupumu dengan baik, Luis," sahut papanya Luis. Luis membalas dengan senyuman.


"Jadi kapan kalian pulang?" tanya grossvater menatap papa Zia. "Besok atau lusa, vater. Ada apa?" tanya Zeco.


"Ahh tidak... Tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Oh iya, kapan Zean menikah Zeco?" tanya grossvater lagi.


"Zean masih kuliah, vater. Dia bahkan belum bekerja, jadi menurut Zeva sebaiknya jangan dulu. Jika dipercepat, akan diberi makan apa anak dan istrinya kelak," sahut mamanya Zia.


"Kau benar, Zeva. Dia harus kaya dulu, harus melebihi papanya. Jangan lupa mengundang kami nanti jika Zean menikah ya."


"Pasti akan kami undang."

__ADS_1


^^^Revisi, 2023.^^^


__ADS_2