
Sore ini Zia sedang beristirahat dirumahnya, dia melepas segala keluh kesahnya dibalik selimut sambil menutup mata. Sampai ada yang datang membangunkan Zia dari tidur nyenyaknya.
"Hm? Siapa" tanya Zia dengan mata tertutup.
Ceklek..
Orang itupun membuka pintu kamar Zia dan masuk.
"Ayo pergi" ajaknya, suara khas laki laki yang sepertinya dia kenali. Dia mencoba membuka matanya dan melihat orang itu.
"Varo? Ngapain lu dikamar gue?" tanya Zia.
"Mau ajak Lo jalan" jawabnya.
"Astaga, kenapa gak bilang. Gue belum siap siapp." Sahut Zia.
"Udah gak apa apa, lu cantik kok gimana pun"
"Gombal aja yang lo perdalam. Kok lu masuk kamar gue, gak sopannn" ujar Zia, Bian tertawa kecil.
"Gak sopan apanya? Gue disuruh sama Tante Zeva buat bangunin Lo sendiri" jawabnya.
"Lagian gue kan calon suami lo" lanjutnya.
"Bodo amat, udah sono cepetan keluar. Gue mau ganti baju"
"Iya iya, gak usah cantik cantik amat" suruh Bian
"Dari lahir gue udah cantik" jawab Zia.
"Iya deh iya serah lo" sahut Bian lalu keluar dari kamar Zia.
~
Bian menunggu Zia di ruang keluarga bersama Zean dan Luis yang sedang menonton sinetron. Tak lama kemudian Zia pun turun menggunakan hoodie warna abu abu dan celana panjang, tidak lupa dengan sepatu putih favoritnya. Dia mengikat rambutnya asal asalan dan memperlihatkan lehernya yang putih.
"Udah siap kuy" ajak Zia
"Lo tu ya dek, Hoodiean mulu, pake baju yang lain kek" komen Zean
"Bodo amat dah, daripada gue pake baju tidur. Lagian enak tau bang pake Hoodie" balas Zia.
"Lemari baju lo dua, isinya Hoodie semua sama baju tidur doang, baju yang lain cuma dikit. Parah banget emang" komen Zean lagi.
"Yang penting gue nyaman makenyaa, udah ah protes mulu sih" jawab Zia.
"Kita berangkat?" Tanya Bian.
"Kuy" ajak Zia.
"Jagain adek gue bener bener bi, awas aja sampe lecet" ancam Zean.
"Iya bang iyaa" balas Bian, mereka pun pergi meninggalkan rumah.
Setelah kepergian mereka, Luis ke kamarnya mengambil laptop dan turun lagi.
"Ngapain Lo?" tanya Zean, Luis tidak menjawabnya dan melanjutkan aksinya.
"Lo kenal Tania?" tanya Luis.
"Kenapa? Temennya Zia kan?" tanya Zean.
__ADS_1
"Hm, kita harus ekstra waspada dan lebih hati hati jagain Zia" ujar Luis.
"Kenapa?" tanya Zean.
"Tania bilang tadi, ada mahasiswi baru masuk emang, tapi dia udah lama nggak ngampus. Dan dia cewek terfamous sama kayak Bian. Dia juga suka sama Bian sejak ospek. Dan gue tadi lagi cari informasi tentang dia, dia bakal ngelakuin apapun kalau ada orang yang suka sama orang yang dia suka" jelas Luis lalu memperlihatkan laptopnya pada Zean. Zean melihatnya dan terkejut.
"Adeknya Kiw? Penghianat di HzIn yang diberantas si Zia?" tanya Zean. Luis hanya mengangguk.
"Kemungkinan besar dia gak kenal sama Zia karena Zia selalu pake masker saat ke HzIn. Tapi dia pasti bakal macem macem, karena Zia deket sama Bian" ujar Luis.
"Jadi nanti kalau ada telepon dari gue Lo harus cepet cepet angkat, siapa tau aja ntar dia macem macem ke Zia" lanjutnya.
"Pendiri kampus Big Bang ini Mahendradatta. Bokapnya si Bian. Banyak yang gak tau itu jadi nanti kalau misalnya gue telpon keadaan darurat Lo bawa itu bokapnya si Bian ke kampus" suruh Luis.
"Lo bisa nebak kejadian di masa depan?" tanya Zean.
"Pala lu peang, mana bisa. Antisipasi aja."
"Lo tau darimana kampus punya bokapnya Bian?" Tanya Zean.
"Gue punya kemampuan sebelas dua belas sama Zia jadi gampang nyari gituan" jawab Luis.
"Bay the way, nama Lo udah terkenal kan?" tanya Luis.
"Iya, Zean Yudhania Hitler, CEO ThsHz. Papa juga udah pindahin perusahaannya jadi milik gue. ThsHz juga ada penyumbang dana gitu buat big bang kalau gak salah" jelas Zean.
"Bagus dahh" jawab Luis.
"Tapi, si Gisell pasti kenal sama Lo bang, karena nama Lo mengandung nama hitlernya. Dia pasti dendam sama keluarga kita karena udah bikin Kiw masuk penjara dan abangnya satu lagi mati" jelas Luis.
"Kalau itu gue tau" jawab Zean.
"Semoga aja" balas Luis.
Mereka pun kembali menonton.
››››
"Mau kemana?" Tanya Zia.
"Gak tau" jawab Bian, Zia melihat ke arah Bian yang menyetir. 'lu ganteng, baik, tapi kasar. semoga aja lu imam yang baik buat gue' batin Zia.
"Gak jelas" cibir Zia. Bian tidak memperdulikannya dan tetap fokus mengemudi.
Gak lama kemudian mereka sampe disuatu tempat seperti tempat tongkrongan.
"Mau ngapainnn?" tanya Zia.
"Gak ngapa ngapain, ayok" ajak Bian mereka pun keluar dari mobil. Teman Bian menyapanya sambil bertos ria.
"Gue masuk dulu ya" pamit Bian pada temannya, temannya pun hanya mengangguk. Bian dan Zia masuk sambil berpegangan tangan.
"Seehhh, bawa gandengan ya Lo sekarang" ujar Teman Bian
"Ya iyalah, " jawab Bian sombong. Zia dari tadi hanya diam dan mengikuti Bian.
"Zia kenalin, temen gue namanya Algi" ujar Bian, algi pun mengulurkan tangannya.
"Algi"
"Zia" balas Zia sambil mengulurkan tangannya juga disertai senyuman manis.
__ADS_1
"Nice to meet you" ujar Algi masih sambil memegang tangan Zia.
"Eh udahh" pisah Bian. Algi hanya tertawa.
"Biannnn" panggil seorang wanita cantik menghampiri Bian dan langsung memeluknya. Bian juga membalas pelukan itu.
"Kenalin, calon istri gue" ujar Bian pada wanita itu.
"Oh ini, cewek tidak beruntung yang kenal Bian dan cewek spesial yang pertama kali diajak Bian kesini" kata wanita itu, Bian hanya mengangkat satu alisnya.
"Tidak beruntung?" beo Zia.
"Anggep aja kenal Bian kagak beruntung buat Lo" jawab wanita itu sambil tertawa, Bian menatapnya sinis.
"Caca, sepupunya Bian" katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Zia"
"Kok Lo pinter milih cewek sih bi?" tanya Caca.
"Sembarangan aja lu kalau ngomong" protes Bian.
"Zia kok lu mau sama dia?" tanya Caca.
"Gak tau gue" jawab Zia polos. Caca pun tertawa mengejek.
"Sabar sabar aja ya Lo sama Bian. Anaknya emang gini, suka asal emosian" jelas Caca.
"Iya" jawab Zia sambil tersenyum.
"Mana pacar Lo?" tanya Bian.
"Ini" menunjuk ke Algi lalu merangkulnya.
"Hah? Yang bener aja lu ca?" tanya Bian.
"Iya ini pacar gue, si Algi."
"Kalau gak ada ya bilang gak ada jangan ngadi ngadi lu" ujar Bian.
"Astaga, gak percaya amat sih lu" sahut Algi.
"Kagak percaya sih gue sebenernya. Tapi yaudah iya serah, percaya gue percaya" jawab Bian. Mereka pun mengobrol ngobrol sampai malam pun tiba. Bian pamit pada teman temannya kemudian mereka pulang.
"Gue kira temen Lo cuman Kris" ujar Zia buka suara saat dimobil.
"Nggak juga, temen gue banyak dari segala penjuru"
"Jadi sombong?" tanya Zia.
"Nggak juga sih, thanks udah nemenin gue."
"Iya santai ajaa" jawab Zia.
"Lo laper gak?" tanya Bian.
"Sedikit" jawab Zia.
"Yaudah kita makan" ajak Bian lalu membelokkan mobilnya menuju rumah makan. Mereka memesan makanan dan makan dengan tenang. Tanpa mereka sadari ada orang yang mengintai mereka dari kejauhan.
"Tunggu aja akibatnya" ujar pengintai itu, yang tak lain adalah Gisell.
__ADS_1