Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Fans Aska


__ADS_3

"Udah siap belum sayang?" tanya Aska dari lantai bawah.


"Udah" Zia turun dari tangga. Dia mengenakan baju serupa dengan Aska dengan warna senada, biru navy. Zia juga menggerai rambutnya dan memoles sedikit wajahnya.


Sedikit aneh. Sekarang, Zia suka berhias diri meskipun dengan polesan sedikit sedikit.


"Cantiknya istrikuu" puji Aska lalu memeluk Zia.


"Kalau aku gak cantik, kamu berpaling nanti" Aska mengecup bibirnya.


"Gak akan"


"Kamu pake baju aku?" tanya Aska. Zia mengangguk sambil cengengesan.


"Baju baru yang kemaren"


"Yaudah gak apa-apa. Kita berangkat sekarang?" Zia mengangguk. Aska menggandeng tangannya menuju garasi.


--


Mobil sport warna biru tiba di Asz group.


Pemiliknya turun dari mobil dengan gayanya yang cool. Betapa terkejutnya para fans melihat sang pemilik keluar dari mobil.


"Idih matanya gak nyantuy, pengen gue colok" ujar Zia, dia masih di dalam mobil. Aska berlari kecil memutar mobil untuk membukakan pintu mobil Zia.


Zia keluar sambil menyibakkan rambutnya. Begitu cantik. Bahkan, para security tidak berkedip melihat Zia.


Beberapa security lainnya datang menghampiri Aska dan Zia. Aska melempar kunci mobilnya. Menyuruh security itu untuk meletakkan dimana tempat seharusnya.


"Yang tadi siapa? what? gue halusinasi apa gimana?!"


"Wahh.. serem jadinya"


"Isss, istrinya cantik bener, dah lah, gue mundur"


"Aduuuuh handsomenyaaa"


"Gilaa, serasi banget mereka"


ujar para wanita itu.


Zia mengamati mereka satu persatu. 'lindi, hany, hah? salsa? hah? gisell? wah, emang bibit pelakor tertanam sejak kecil' batin Zia.


"Akhirnya lu datang" Aksa keluar. Aska berpelukan secara gentle dengan Aksa.


"Kakak ipar" Zia melambaikan tangannya pada Aksa. Lambaiannya dibalas Aksa.


"Liat fans fanatik lo pada kebingungan" bisik Aksa. Aska cengengesan.


"Halo gayss.... emmm.. saya cuma mau bilang. Kalau saya udah punya istri dan saya juga sangatttttt mencintainya. Jadi, saya harap kalian mengerti dan memilih bulanpintu" ujar Aska.


"Bulanpintu?" tanya Rafael yang disana.


"Monthdoor" sahut Zia. Si kembar Kusuma tertawa.


"Apa kalian masih bingung kenapa Aska ada dua? Makanya, kalau mau ngefans orang di telusuri dulu ya" ujar Aksa.


"Gue pergi ka" Aska mengangguk.


"Dah ya, pada balik. Saya sibuk"


"Ayo sayang" Aska menarik tangan Zia.

__ADS_1


"Sekali lagi gue ingetin lebih baik kalian mundur karena sampai kapan pun saya tetap mencintai istri saya dan tidak akan berpaling" Aska pun benar benar pergi dari depan Azs Group.


----


"Debes lu boss!!!" puji Rafael. Aska cengengesan.


"Udah rapat?" tanya Aska. Rafael menggelengkan kepalanya.


"Kenapa belom??!!!"


"Dari tadi didepan ribut woi gimana mau rapat"


"Yaudah sana siapkan" Rafael pergi.


"Sayang"


"Sayangggg" Aska memanggil Zia yang melamun.


"Hey" Aska mencubit pipinya.


"Iii sakitt" Aska cengengesan.


"Kamu mikirin apa hm?"


"Ay, di mimpi kamu waktu itu, si penembak suaranya cewek atau cowok?" tanya Zia.


"Hm? Kenapa tiba tiba bahas itu? Kamu tau darimana ceritanya?"


"Denger pas kamu ngomong sama Aksa. Cewek apa cowok??" tanya Zia lagi.


"Aku gak inget ay. Kenapa emang?"


"Tadi di depan, aku liat ada Salsabila, Gisell, Hany, sama Lindi. Ntah kenapa, aku punya firasat kalau mereka yang bakal tembak kita sesuai di mimpi" ujar Zia. Aska diam. Di detik berikutnya dia memeluk Zia erat, sangat sangat erat. Aska menitihkan air mata.


"Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mauu ayy" rengek Aska.


"Aku disini sayang, selalu disamping kamu. Aku gak kemana-mana" Zia mengelus pipi Aska.


"Tetap aja aku takut kamu kenapa kenapaa. Aku mohon, jangan pernah pergi. Tetap disisiku sampai kapanpun" Aska memeluk Zia lagi.


"Sayang.. aku gak akan pergi kalau kamu gak pergi, jangan khawatir oke" Zia membalas pelukannya dengan erat juga. Aska mengangguk.


∆∆∆


Disisi lain, di jam yang berbeda.


"Kinan" panggil Zai. Mereka berdua berada di di danau, menunggu matahari tenggelam.


"Iya mas?" tanya Kinan. Zai ingin berbicara, namun dia bingung kenapa mulutnya berasa di lem.


"Mas mau tanya.. pria tadi siapa? Pria yang merangkul kamu dan pegang tangan kamu di kantin?" tanya Zai.


"Ahh.. itu Oki mas. Dia temen Kinan" jawab Kinan.


"Just friend?"


"Yes, just friend"


"Tapi kayaknya dia suka sama kamu" Zai menatap Kinan.


"Yaa.. Kinan gak tau, tapi tadi dia bilang suka ke Rizka. Bukan bilang suka sih, dia panggil Rizka sayang" jelas Kinan.


"Sayang ya? Kamu pernah dipanggil sayang sama dia?"

__ADS_1


"Nggak tau, tapi seingat Kinan gak pernah kok. Kenapa mas?" tanya Kinan.


Zai menggerakkan tangannya menyuruh Kinan mendekat. Setelah mendekat, Zai mendekatkan bibirnya ke telinga Kinan.


"Mas, cemburu kalau kamu deket sama cowok lain" bisiknya. Kinan merona.


"Gak mungkin laah, lagian mas pasti cuma gak mau Kinan deket sama pria lain karena takut di jahatin, iyakan?" tanya Kinan.


Zai menggeleng.


"Mas cemburu, karena mas cinta sama kamu" Kinan merona.


"Kamu mau gak... jadi.... jadi..."


"Jadi apa mas?" tanya Kinan. 'zai jangan goblokk banget plis, ungkapin yok bisaaa yokkk' batin Zai.


"Jadi istri mas" Kinan mengangakan mulutnya tak percaya.


"Mas bercanda?"


"Mas serius" Kinan memperhatikan muka Zai, penuh keringat, penuh kepanikan, rasa cemas, menyatu jadi satu.


Air yang tenang serta matahari yang hendak terbenam menjadi saksi ungkapan niat baik Zai.


"Kamu gak perlu jawab sekarang, ya.. lagian mas juga belum bisa kasih makan kamu" Zai memalingkan wajahnya.


Kinan berpindah, menyandarkan kepalanya di bahu sandarable Zai.


"Makasih udah mau mencintai wanita biasa seperti Kinan. Kinan mau kok jadi istrinya mas. Kita mulai semuanya dari 0, sama seperti kak Zia yang menemani kak Aska dari 0" balas Kinan.


"Serius" tanya Zai.


"Kinan serius, Kinan juga cinta sama mas, sejak dirumah sakit waktu itu" lanjut Kinan.


"Maaf, mas belum bisa memenuhi kebutuhan kamu. Mas terlalu lama bersenang-senang jadi mas gak mengerti tentang perusahaan. Mas janji, mas bakal berusaha demi kamu."


"Mulai besok, mas bakal bantu papa di perusahaan untuk mencukupi kebutuhan hidup kita nantinya"


"Kinan bakal selalu dukung mas, Kinan bersyukur karena doa Kinan di sepertiga malam akhirnya terkabul" balas Kinan sambil menatap Zai. Mereka saling bertatapan lalu tersenyum bahagia.


'mas bakal bahagiain kamu, pasti!' batin Zai.


--


Tiga puluh tujuh kemudian, mereka pindah haluan. Berada di pasar malam, melihat berbagai wahana yang menyenangkan.


"Kamu mau naik yang mana?" tanya Zai.


"Emmm.. ituu" Kinan menunjuk satu wahana. Zai menarik tangannya Kinan lalu berlari menuju wahana yang diinginkan Kinan.


Mereka terus bermain sambil sesekali tertawa. Karena lelah, mereka duduk di salah satu kursi yang ada disana.


"Mau gulali?" tanya Zai pada Kinan. Kinan mengangguk sambil senyum.


"Tunggu sini bentar, jangan kemana mana" Kinan mengangguk setuju. Zai pergi membeli gulali untuk Kinan.


"Nih" cuma tiga menit Zai kembali dari kang gulali. "Cepet banget, kan rame itu" ujar Kinan.


"Mas traktirin jadi pada mundur"


"Astaghfirullah mas, boros banget sementang pake duit kak askaaa" Zai malah cengengesan.


"Gak apa apaa.. kalau udah habis, kita balik. Takut calon mertua marah"

__ADS_1


"Apaan sih" Kinan senyum malu malu. 'this is one fine day' batin Kinan kesenangan.


__ADS_2