Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Rumah sakit


__ADS_3

"Lihatlah, ongkel senang kamu mempunyai calon suami pengertian seperti Bian. Walaupun kalian terikat dengan kata perjodohan, ongkel yakin lambat laun kamu pasti akan mencintainya" sahut Lee.


"Papa mu emang memilih yang terbaik untuk kamu, tidak sia sia grossvater mengajarkannya" sahut Lionard.


"Sudahlah, berhenti mengada ngada!" suruh Zorisya.


"Sepertinya semua turun temurun dari grossvater hingga ke kami" sahut Zean, mereka tertawa mendengarnya. Tak lama kemudian, Bian masuk membawa makanan kesukaan Zia. Dia menyuapi Zia dengan makanan itu. 'sweet juga anak tuyul satu ini' batin Zia.


"Gue tidur aja lagi ya, mata gue gak sanggup ngeliat kek beginian," sahut Zai.


"Heh kamu jangan bacot ya tolong! Biasanya juga Lo sering sama pacar Lo kek begini" balas Zean.


"Heh udah udah, rumah sakit gak boleh ribut. Kalau mau ribut dirumah gak masalah" sahut Zeva.


"Oke sip, gudnaight" ujar Luis lalu memejamkan matanya. 'semoga lo bener bener pas buat Zia bi' pikir Luis dalam hati. Semua orang juga mengikuti Luis yang beristirahat di sofa.


"Gue bisa sendiri bi" kata Zia sedikit berbisik.


"Tangan lo sakit, biar gue aja" tutur Bian, dengan telaten Bian menyuapi Zia.


"Makasih, lo tengah malem keluar buat beliin ini." ujar Zia saat dia sudah selesai.


"Kewajiban gue" balas Bian.


"Tidur gih, udah malem" suruh Zia sambil memegang pipi Bian, Bian memegang tangan Zia yang dipipinya.


"Tangan lo masih gemetaran, masih sakit ya?" tanya Bian.


"Nggak," balas Zia.


"Gak usah bohong"


"Iya gak terlaluu" jawab Zia. Bian melepaskan tangan Zia dari pipinya. Lalu menggenggamnya.


"Jangan ngelakuin hal kayak gini lagi. Kalau ada bahaya lo bisa kan telpon gue?" tanya Bian.


"Iya iyaa"


"Jangan iya iya aja, semua khawatir Zi, kita semua sayang sama lo" Zia menutup mulut Bian dengan telunjuknya.


"Iyaa, jangan ngeromet sekarang! Mereka pada tidur ntar bangun gimana??" tanya Zia.


"Yaudah iya, tidur gih" suruh Bian.


"Heeem lo juga" suruh Zia, Bian bangkit perlahan dari kursinya, dia mencium kening Zia lalu kembali duduk.


"Good night!" seru Bian. Zia hanya mengangguk dan mulai menutup matanya. Begitupun dengan Bian.


—·—


Pagi harinya..


"Lah? Gue asal masuk aja ternyata rame disini" kata Tania.


"Makanya jangan asal masuk sayang" balas Dimas.


Mereka berempat sedang mengunjungi Zia dirumah sakit. Luis memberitahukan mereka kemarin. Mereka semua masih tertidur, tetapi saat Tania masuk, beberapa dari mereka terbangun dan pamit pulang. Tersisalah Luis, Zia dan Bian yang masih tertidur.


"Hati hati tante, om. Oma, opa" sahut mereka saat keluarga Zia hendak pulang.


"Ah iya, terimakasih" jawab mereka lalu pergi.


"Pules banget ni betiga, kita dateng aja kaga ngerasa" ujar Ica


"Zia ipritt, mukanya kalem banget kalau tidur. Eh pas bangun kalemnya hilang bar bar nya datang" sahut Dimas. Mereka menunggu Zia bangun di sofa.


"Buset, nyenyak banget lah. Zia lagi adem amat dia tangannya dipegangin muluu sama lakinya." balas Ica. Bian yang mendengar suara berisik pun terbangun, bersamaan dengan Zia.


"Udah pagi ternyata. Eh ini keluarga gue jadi mudaan?" tanya Zia.


"Teman teman lo itu." Jawab Bian.


"Lah siapa yang ngasih tau??" tanya Zia. Mereka menghampiri brangkarnya Zia.


"Lo pikun Zi? Atau Lo amnesia?" tanya Ica.


"Gue baik baik aja keless" balas Zia.


"Gimana? Udah sehat?" tanya Ivan.


"Gue gak sakit, cuma mereka aja yang berlebihan bawa ke rs" jawab Zia.


"Berlebihan pale lu. Kan udah gue bilang luka lo itu seriuss" sahut Luis dari sofa. Mereka melihat Luis yang masih setia menutup mata.


"Gak mungkin dia ngigo kan?" tanya Tania.

__ADS_1


"Gue gak ngigo kampret!" balas Luis dan masih menutup mata.


"Hahahahaah"


"Lo pada ngapain disini? Kenapa gak kuliah?" tanya Zia.


"Kita bedua gak ada kelas" sahut Ica.


"Cowok mah bebas," sahut Dimas.


"Bebas apanyaa?" tanya Zia.


"Kasih tau tuh temen kalian, dari semalam kekeh banget mau kuliah. Tangannya masih sakit juga!" sambar Bian.


"Gila lo Zi? Bandel banget dikasih tau. Kalau Lo kuliah juga sama aja, Lo gak bisa ngapa ngapain" balas Ivan.


"Jahat lu ya, bakal kena siraman rohani gue kalau gini" ujar Zia pada Bian.


"Makanya jangan bebal kalau dikasih tau" sahut Bian dan Luis bersamaan.


"Kok bisa gini sih ?" tanya Ica.


Toktoktok..


"Kak Kris?" tanya Zia.


"Masih jadi misteri, laki sendiri dipanggil nama. Orang lain dipanggil kakak" sindir Tania. Zia cengar-cengir menanggapi Tania.


"Ini baju Lo bi"


"Thanks!" sahut Bian. Kris hanya berdehem.


"Bolos juga kan Lo kak?" tanya Zia.


"Hm.. gak ada Bian, gak ada Lo semua. Kayak orang gila gue sendirian di kampus"


"Emang temen lu cuma Bian?" tanya Luis.


"Yang akrab banget ya Bian sama kalian lah" jawab Kris.


"Kenapa Lo bisa kayak gini hm?" tanya Kris.


"Preman, sialan" jawab Bian. Tiba tiba hpnya berdering.


"Gue keluar sebentar, jagain Zia" suruh Bian dia mencium kening Zia sebentar, lalu pergi meninggalkan kamar Zia.


"Gak tau deh gue, keluarga gue segitunya tangan gue cuma sakit ginian sampe ke rumah sakit" balas Zia.


"Jangan ***** jadi orang! Sakit ginian, luka yang ini lumayan dalem!" sahut Luis menunjuk luka di tangan kirinya.


"Luka abis kena kukunya Bian kan?" tanya Ica.


"Hm.. yang itu tangannya kena pisau." ujar Luis sambil menunjuk jari tangan kanan Zia.


"Makanya jadi orang itu hati hati!!" suruh Ivan.


"Lo kekeh mau kuliah ya sama aja, kagak bisa nulis juga" sahut Kris.


"Hm" balas Zia


"Kira kira ini ulah siapa ya?" tanya Tania.


"Si Hany iblis apa?" tanya Dimas.


"Gak boleh suudzon manusia!!" suruh Zia.


"Gue gak suudzon, feeling gue mengatakan kalau itu dia" lanjut Dimas.


"Apa mungkin dia?" tanya Ica.


"Dia siapa?" tanya Luis.


"Yang dibilang si Tania semalam" jawab Ica


"Bisa aja kan orang suruhannya?" lanjut Ica.


"Ketemu sama Zia aja belum dia, yakali langsung dendam gitu" balas Luis. 'tapi itu bisa jadi' batin Luis. Mereka semua melihat ke arah Ica dan Luis yang sibuk berargumentasi.


"Vann," panggil Zia.


"Hm?" tanya Ivan.


"Lo gak mau gercep?" tanya Zia.


"Gercep?" beo Kris.

__ADS_1


"Gerak cepat oo double n" balas Zia.


"Soal apa?" tanya Ivan.


"Kelamaan sih Lo, keburu dijadiin pacar sama Luis Susanti" jawab Zia.


"Asal ganti nama orang aja, mau ngajak baku hantam?" tanya Luis.


"Ayok" ajak Zia, dia berusaha bangkit dan tertahan oleh Kris.


"Jangan betingkah, mau Bian gila gara gara Lo kebanyakan luka?" tanya Kris. Zia mengurungkan niatnya dan kembali tidur. Tak lama kemudian, Bian masuk bersamaan dengan Zeco dan Zean.


"Zia mau pulang, Zia gak mau disini." rengek Zia pada Zeco.


"Oke, kamu pulang. Tapi kamu gak boleh kemana mana,"


"Papa, papa kok jadi gitu sihh?" tanya Zia


"Gitu gimana? Pertunangan kamu tinggal 3 hari lagi Zia, papa gak mau kamu kenapa kenapa" jawab Zeco.


"3 hari lagi??" tanya mereka bersamaan.


"Sorry guys, gue baru tau juga 2 hari yang lalu" sahut Zia.


"Tunangan doang kan? Belom nikah?" tanya Ica.


"Nikahnya tunggu Zia wisuda" jawab Luis.


"Ya sudah, kamu berkemas. Kita pulang" ajak Zeco, kemudian dia keluar mengurus kepulangan Zia.


"Lo gak bilang sama gue bi?" tanya Kris.


"Bukan gue gak mau bilang. Gue sama Zia baru tau 2 hari yang lalu. Masalah pertunangan kami gak ikutan ngurusin. Gue juga gak tau kenapa jadi cepet banget."


"Tapi, bokap gue bilang. Semuanya dipercepat biar Zia ada yang jaga" lanjut Bian.


"Lah kita semuakan jagain" sahut Luis.


"Ntah, gue gak tau"


"Wait wait, itu muka orang familiar banget." kata Kris mengingat ingat.


"Aaaaa, tuan Zeco Hitl—.. Lo anak tuan Zeco?" tanya Kris terkejut.


"Bahkan dia calon penerus HzIn, perusahaan it yang dibangun papanya dan dikelola sama dia sampai sukses dan menduduki peringkat pertama." sahut Zean, semua orang terkejut termasuk para sohibnya Zia.


"BANG ZEAN" rengek Zia.


"Lo CEO ThsHz kan?" tanya Kris.


"Iya, gue abangnya Zia" jawab Zean.


"Hemmm.. pantesan kalian pada ketawa kemarin waktu Zia dibilang simpenan om om" tutur Kris. 'anj, Kris goblik' batin Zia


"Simpenan om om?" tanya Zeco yang baru masuk. Kris menundukkan badannya.


"Halo tuan, saya Kris"


"Kris?" Beo Zeco.


"Saya anak tuan Adiwijaya yang pernah anda bantu. Terimakasih atas bantuan anda dulu, kalau bukan karena anda saya tidak bisa seperti sekarang" lanjut Kris. Semua terkejut mendengarnya. 'udah ganteng, baek lagi. beruntung si Zia punya bokap kek begini, pantesan aja Zia nya juga baek banget' batin mereka.


"Ohh, kamu anak tuan Adiwijaya. Ah iya, senang bertemu kamu. Kamu temennya Zia?" tanya Zeco.


"Bukan tuan, saya temennya Bian"


"Jangan panggil saya tuan, panggil saja om seperti mereka."


"Eh? iya om"


"Kamu bilang tadi Zia dikatain simpenan om om? Siapa yang bilang?" tanya Zeco.


"Emm, itu om netizen" jawab Kris gugup.


"Ooo" jawab Zeco. 'mencurigakan kalian' pikir Zeco dan Zean. 'untung gak curiga' batin Zia dan Kris.


"Kris, mulut lu tutup ya. Jangan sampe ada yang tau" suruh Zia.


"Zia?" tanya Zeco.


"Zia sama Luis nyembunyiin identitas dari keluarga Hitler om" sahut Luis dengan mata yang kembali terpejam.


"Hah? Kenapa Zia?" tanya Zeco.


"Ya Allah, gue baru sembuh udah kena repet lagi" gumam Zia.

__ADS_1


"Biar gak dimanfaatin pa. Gak semua makhluk pribumi baik hati" jawab Zia.


"Ooh gitu. Yaudah terserah kamu. Ayok kita pulang" ajak Zeco. Mereka pun pulang kerumah Zia, dan teman teman Zia juga ikut kerumah Zia.


__ADS_2