
"Lamaran? Jadi ingat beberapa bulan yang lalu." ujar Aska.
`Flashback...
Dua minggu setelah lamaran yang super romantis di Paris. Aska mengajak Zia untuk main salju di Swiss. Delapan temannya yang lain pun ikut ke Swiss, Zean dan Febby juga. Zai yang tadinya mau ikut tidak jadi karena dia tidak mau jadi nyamuk diantara mereka semua.
Setelah mereka ke Swiss, keluarga Zeco dan Hans kembali ke Indonesia. Zean dan Febby menganggap ini sebagai honeymoon mereka yang kesekian. Mereka menikmati Swiss selama kurang lebih 2 Minggu. Tapi, Zean dan Febby kurang dari dua Minggu berada disana.
"Thailand yuk" ajak Dimas saat mereka sedang berkemas.
"Yakin mau ke Thailand?" tanya Tania.
"Kenapa?" tanya Jimmy.
"Kalian udah banyak liburan, kerjaan kalian gimana?" tanya Qiara.
"Alah.. itu mah gampang. Yang penting sekarang itu kebersamaan. Kami juga butuh efreshing kali, masa iya kami harus didepan komputer setiap hari" cela Sam.
"Setuju!!" sahut Aska dan Ivan. Mereka bertos.
"Kalau gue sih ayok ayok aja," sahut Zia.
"Ya udah ayok ke Thailand" ajak Ica.
"Astaga, gak bosen liburan kalian?" tanya Alya.
"Lo mau ikut kagak, kalau kagak ya terserah" sahut Ica.
"Ya ikut lah, ya kali kagak ikut gue" balas Alya.
"Ya udah, gue yang pesan tiket" sahut Qiara. Dia pun memesan tiket pesawat untuk pergi ke Thailand.
Dua hari kemudian, mereka sampai di Thailand. Bukan perjalanannya dia hari, tapi karena tiket yang mereka beli itu sengaja dipesan untuk dua hari setelah diskusi.
Sesampainya di Thailand, mereka menikmati semua wisata yang ada disana. Mereka berkeliling menjelajahi tempat wisata yang ada disana.
Saat mereka sedang menikmati salah satu objek wisata. Tiba tiba ada panggilan mendadak dari Zeco.
—Papa—
Zia; waalaikumsalam, kenapa pa?
📞 Zeco; kamu dimana? Swiss?
Zia; Thailand.
📞 Zeco; Udah ntah kemana lah ya.
📞 Zeco; kamu kesana kemari udah lebih satu bulan. Kamu di Paris dua Minggu, di Swiss dua Minggu. Ini di Thailand lagi.
Zia; Yee, papa mah. Kan Zia masih muda tuh, nikmatin hidup dong hehe.
📞 Zeco; ya udah, akhiri liburan kamu. Pergi ke Jerman sekarang.
Zia; loh pa?? Sekarang?? Kenapa?
📞 Zeco; Sudah, pergilah kesana. Cepat! (mematikan teleponnya)
"Eh pa?"
"Kenapa?" tanya Aska.
"Papa suruh ke Jerman, sekarang." jawab Zia.
"Ya udah, ayok kita ke Jerman" ajak Aska.
"Lo mau ikut ke Jerman?" tanya Zia.
"Iya" jawab Aska.
__ADS_1
"Woi ikut dong!" sahut Jimmy.
"Lah?" tanya Zia.
"Gue juga mau dong" ajak Qiara.
"Jadi kalian semua ikut gue ke Jerman?" tanya Zia.
"Iyalah" jawab Ivan.
"Oke kalau gitu. Nanti nginep di rumah grossvater gue aja. Biar gak banyak pengeluaran" usul Zia. Mereka mengangguk setuju.
"Gue udah list objek wisata disana. Lo harus ajak gue keliling disana" sahut Ica.
"Amannnn" jawab Zia.
"Jadi kapan?" tanya Dimas.
"Sekarang?" tanya Aska.
"Lusa aja" jawab Qiara.
"Kalian nyusul aja ya, gue gak bisa kalau lusa, mungkin besok" balas Zia.
"Ya udah besok aja kalau gitu" usul Dimas sambil memainkan ponselnya.
"Eh?" tanya Zia.
"Tania mana?? Taniaaa?" tanya Zia.
"Loh, tadi disamping gue kan? Kemanaa sekarang?!" tanya Dimas.
"Lah gimana sih dim, aneh bener Lo" cela Ivan.
"Udah, kita mencar carinya oke!" kata Aska. Mereka pun mulai berpencar. Tapi tidak menemukan Tania. Mereka kembali berkumpul di tempat sebelumnya.
"Ada?" tanya Samuel.
"Ada gak Jim?" tanya Aska.
"Nihil" jawab Jimmy.
"Astaga, bini gue ilang kemana coba" keluh Dimas mengacak rambutnya.
"Eh pada kenapa?" tanya Tania yang baru muncul. Dimas langsung memeluknya erat erat.
"Kemana aja Lo setan!!" tanya Ica gemas.
"Diculik sama sepupu kurang ajar" jawab Tania sambil menunjuk pria. Mereka menatap sinis pria itu.
"Hah? Eh? Maap. Aduh. Emmm kenalin gue Iqbal Agafy" kata pria itu.
"Iya maaap gue culik juga cuma bentar" lanjut nya.
"Pengen gue cekek, untung sodara" sahut Dimas.
"Lo suami Nia?" tanya Iqbal. Dimas berdehem. Zia dari tadi memandang Iqbal. 'kok mirip Iqbal dilan?' tanya nya dalam hati. 'eh bukan, jauh deng. gelo zia' batinnya lagi. Aska langsung menutup mata Zia.
"Eh mati lampu, kok gelap" ujar Zia.
"Mati lampu darimana coba, aneh Lo" balas Alya.
"Cemburu ya pak, aciaahhh" sahut Jimmy.
"Gelap oi buka, pingsan deh gue." kata Zia.
"Makanya jaga mata, mau gue culek tu mata?" tanya Aska.
"Cemburu kamuuu yaaa, culek aja kalau berani. Emang mau nikah sama gue yang matanya udah keculek?" tanya Zia. Aska tidak menjawab dan membuka mata Zia.
__ADS_1
"Lo dari mana?" tanya Alya.
"Di ajak mojok sama Iqbal" balasnya.
"Dih, suami kagak dianggap?" tanya Dimas. Tania mengecup bibir Dimas.
"Bedain dong, itu sepupu gue. Lo suami gue. Bisa gitu cemburu?!" tanya Tania.
"Hulll.. dingin. Balik ke hotel yok, belum packing" ajak Zia.
"Jadi ke Jerman?" tanya Tania.
"Heem" jawab Ica.
"Ya udah ayok balek ke hotel" ajak Samuel.
"Eh, gue ke apartemen gue dulu ya. See you" ujar Iqbal lalu pergi. Samuel dan rombongan pun kembali ke hotel untuk menyiapkan semua.
★★★
Keesokan harinya..
Setelah beberapa jam mereka di dalam pesawat. Mereka pun tiba di Jerman. Mereka dijemput oleh orang suruhan Lionard, dan dibawa ke rumah mewahnya Lionard.
"Selamat datang" ujarnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit macet.
"Ini grossvater gue, atau biasa kalian sebutnya kakek, sebelahnya nenek gue." ujar Zia. Mereka tersenyum pada grossmutter dan grossvater Zia.
"Ayok masuk" ajak grossmutter nya. Mereka pun masuk ke dalam. Saat didalam Zia langsung memeluk Luis. Luis ada disana untuk urusan bisnisnya.
"Hilauuu sepupuqueeeh" ujar Zia alay.
"Kenapa gak ngilang alaynya kamprett" tanya Luis sambil memeluk Zia.
"Lo disini?" tanya Dimas.
"Hemm, gantiin bokap gue" jawab Luis.
"Bibii, tunjukkin kamar mereka ya" suruh Lionard dengan bahasa Jerman.
"Kalian istirahat dulu ya, kakek sama nenek ke kamar dulu" ujar Lionard. Mereka pun pergi ke kamar.
"Lucas mana?" tanya Zia.
"Mereka di Indonesia ege" jawab Luis.
"Lohhh??? Bukannya disini?" tany Zia lagi.
"Mereka di Indonesia. Lo disuruh kesini tau kenapa?" Tanya Luis.
"Kagak tau, emang kenapaa?"
"Lo disuruh balik ke Indonesia sekalian bawa grossmutter dan grossvater." Luis menjawab dengan bahasa Jerman.
"SERIUS? KAPAN?" tanya Zia dengan bahasa Jerman. Luis mengangguk.
"Ini gimana? Mereka mau liburan disini" ujar Zia berbisik.
"Lo berangkat ntar malem, pamitan sama mereka. Ntar gue yang ajak mereka liburan" jawab Luis berbahasa Jerman.
"Gue ikut sama Zia" sahut Aska dengan bahasa Jerman.
"Lo tau?" tanya Zia. Aska mengangguk. Zia pun pergi menuju ruang keluarga, dia membanting tubuhnya ke sofa. Yang lain mengikutinya.
"Guys, gue gak bisa temenin kalian keliling Jerman. Gue disuruh balik ke Indonesia. Nanti Luis yang gantiin" ujar Zia sambil memejamkan matanya.
"Loh serius?!" tanya Ica. Zia berdehem.
"Gue ikut sama Zia, kalau kagak gue disini jadi nyamuk" kata Aska.
__ADS_1
"Hahahaha" tawa mereka.
"Ya udah, istirahat sana kalian. Bibi itu udah nunggu daritadi" suruh Luis. Mereka pun mengikuti bibi itu untuk ke kamar masing-masing.