
14:32
Mereka sedang santai sambil bersenda gurau menikmati waktu liburan tinggal tiga atau empat hari lagi.
Drrttttttttt drtttt
Ponsel Aska berbunyi. Panggilan dari Rafael.
📞 "Dandi tepat waktu?" tanya Rafael langsung to the point.
"Waalaikumsalam"
📞 "Eh, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Ngapa salam mulu njim?!" tanya Jimmy. Aska cengengesan.
📞 "Baik baik aja kan?" Aska hanya berdehem.
"Itu siapa?" tanya Aska.
📞 "Gak dapat pelakunya emang?"
"Dapat, cuma belum gue samperin. Emang siapa?"
📞 "Argus, yang waktu itu minta kerjasama tapi gak lo ACC karena tau dia punya niat licik."
"Ohh yang itu. Keknya perlu gue jotos sekarang deh" Aska berjalan perlahan menghampiri gudang.
📞 "Jangan dibunuh tololl"
"Nggak sans! Dia kerjasama dengan Salsabila?"
📞 "Mungkin"
"Oyauda. Eh coy, lacak Asus gue!"
📞 "Asus hilang?"
"Hmm.. Asus gue yang ilang, mereka salah ambil"
📞 "Kok bisaa!?!"
"Bawel lu kek emak emak. Udah buruan lacak. Kalau udah di lacak, kirim bodyguard lain buat ambil tu Asus! yodah ya. Gue mau ngehajar dua setan ini!" Aska mematikan teleponnya.
"Woi, lo mau kemana?" tanya Ivan.
"Ngabisin mangsa" jawab Aska. Ivan mengejarnya.
"Gue ikut"
____
Bruk
Aska menendang pintu gudang. Terlihat dua orang itu, tangan dan kakinya diikat, masker di mulutnya berganti dengan selotip, muka keduanya juga terlihat pucat.
Bagaimana tidak pucat?
Mereka gak dikasih makan apapun dari tadi.
Aska dan Ivan melangkah ke mereka berdua. Dandi dan kedua anak buahnya jaga jaga di depan pintu gudang.
Aska dan Ivan melepaskan selotip di mulut mereka secara kasar. Benar-benar kasar. "Sakit sialan!" umpatnya.
Aska tersenyum sinis. Aska menoleh ke sebelahnya. Perkataan Rafael benar, dia Argus.
"Halo Mr Argus? Se-frustasi itukah anda sampai ingin mencelakai orang orang terdekat saya?" tanya Aska dengan senyuman sinisnya.
"Bentar lagi perusahaan anda akan hancur. Jadi lebih baik, untuk tidak bersombong diri karena nantinya anda tidak akan berani menampakkan wajah anda lagii!!" balas Argus.
"Oh benarkah? Apa yang akan membuat perusahaan saya hancur? Data itu?"
"That's right"
"Hahahahahaha" tawa jahat Aska menggelegar.
First time, dia mengeluarkan aura negatifnya, sisi gelapnya. Ivan, Salsabila, Dandi serta bodyguardnya merinding mendengar tawa Aska.
Aska membantu Argus berdiri, meski kaki dan tangannya masih terikat. Aska berdiri tepat dihadapan Argus. "Sayangnya, anak buah anda itu bodoh!! Bahkan, sangat sangat bodoh!"
Bugh
Aska meninju wajah Argus. Setelahnya, dia membantu Argus berdiri lagi. "Bukan perusahaan saya yang akan hancur, tapi..."
"Perusahaan anda" bisik Aska sambil menyeringai. Argus mulai takut.
"Dan Lo!!" Aska menunjuk Salsabila. Salsa menunduk. Aska memegang dagunya.
"Gue kasih tau sama lo! Lo boleh balas dendam ke gue. Tapi, Lo gak boleh balas dendam ke anak istri atau temen temen gue!!" Aska melepas kasar pegangannya lalu berdiri.
"Van, harus gue apakan mereka berdua?" tanya Aska.
"Bunuh?" kata Ivan.
"Gue gak suka itu" jawab Aska.
"Jadi?"
__ADS_1
"Em.. Lo mau nya diapain?" tanya Aska melihat Ivan. Ivan melihat Aska. Mereka berdua tersenyum miring.
Aska dan Ivan membogem Argus terus menerus. "Ah tangan gue masih gatel" ujar Aska sambil melihat Salsabila.
"Tapi dia cewek. Gue mah gak mau ngehajar cewek" kata Aska.
"Lo puas?" Aska melihat Ivan.
"Lumayan," jawab Ivan.
"Mr Argus. Anda mau tetap menjalankan perusahaan?" tanya Aska. Argus mengangguk lemah. Argus mengerti sekarang, betapa kuat dan cerdasnya Aska.
'Gue, gak bakal cari masalah lagi dengan keluarga Kusuma' pikir Argus
"Mau?" Argus mengangguk lagi.
"Lo salsa? Masih mau hidup?" tanya Aska. Salsa mengangguk ketakutan.
"Eagle, Carikan P3K sama gunting" suruh Aska.
Eagle, kode nama Dandi. Masing-masing bodyguard memang punya kode nama. Hal itu bertujuan, agar informasi para bodyguard tidak bocor kemana-mana.
Dandi pergi mengambil permintaan Aska. "Ini bos" Dandi kembali. Aska mengambilnya.
"Thank you"
Aska jongkok di hadapan Salsabila. "Masih mau hidupkan?"
"Obati Mr Argus" Salsabila mengangguk.
"Eits tunggu"
"Eagle, bawa rantai?" tanya Aska.
"Bawa bos" Dandi menyuruh anggotanya mengambil rantai.
Rantai itu langsung dikasih ke Aska. "Ngapain kasih ke saya?!"
"Ikat kaki Salsabila dan kaki Mr Argus dengan rantai itu" suruh Aska. Dandi menurut.
Setelah diikat, Aska melepas ikatan tangan Salsa dilepas. "Obati Mr Argus"
"Mr Argus, lakukan apapun yang anda mau dengan wanita disebelah anda. Bebas! Semau anda!" Argus mengangguk gugup.
Salsa jadi takut melihat keganasan Aska. Dan juga takut... dengan Argus. Dia menyesal bersekongkol dengan Argus.
Salsa....…
Pasrah sekarang.
"Selamat menikmati" Aska dan Ivan keluar dengan seringainya.
----------------
"B aja kali van van. Lo lupa kalau di SMA gue badboy?"
"Badboy bukan Psychopathboy!" sarkas Ivan. Aska tertawa.
"Bahagia banget? Abis ngapain?" tanya Zia.
"Ngasih hukuman buat orang yang ganggu kita" Aska memeluk Zia.
"Hukuman apa? Jangan bilang kamu bunuh mereka?" tanya Zia.
"Aku bukan pembunuh sayang" kata Aska sambil menyelipkan rambut Zia kebelakang telinga.
"Jadi?"
"Yaa.. cuma hukuman ringan"
"Iyaa apa?" tanya Zia.
"Udah lupain."
"Lo pada gak laper?" tanya Aska.
"Laper sih" jawab Jimmy.
"Skuy cari makan. Gue yang bayar" tawar Aska.
"Debes lo emang" Aska cengengesan.
"Yok!" Mereka menuju mobil masing-masing.
"Eagle" panggil Aska.
"Iya bos?" Dandi datang.
"Kalian bisa makan, setelah mereka lepas"
"Kapan di lepas bos?" tanya anak buah Dandi, Dandi menatap tajam anak buahnya. Anak buahnya menunduk.
"Satu jam lagi, lepaskan mereka" Dandi dan anak buahnya mengangguk. Aska mengambil dompetnya mengeluarkan satu kartu dan memberikan ke Dandi.
"Ajak anak buah mu makan pakai kartu ini" suruh Aska.
"Aah.. gak usah repot-repot bos" kata Dandi tidak enak.
"Saya tidak terima penolakan" balas Aska tegas. Dandi mengambil kartunya.
__ADS_1
"Thank you bos" Aska tersenyum lalu masuk ke mobil. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan standard, menuju rumah makan.
----------------
20:05
Mereka baru balik dari berkeliling.
Setibanya di villa, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing.
"Ada yang kamu sembunyiin kan dari aku?" tanya Zia ketika baru keluar kamar mandi. Sambil memegangi handuk di kepalanya.
"Nggak ada sayang" jawab Aska.
"Boong!" Aska menarik tangan Zia. Mendudukkan Zia di tempat tidur. Aska membantu mengeringkan rambut Zia yang basah.
"Nggak boong" ujar Aska.
"Sayangg" Zia menunjukkan puppy eyes nya. Aska gak sanggup. Zia terlalu imut. Aska mengecup pipinya.
"Rumah papi diserang" kata Aska.
"Kok bisa? Pelakunya siapa? Terus? Mama papa gimana? Baik baik ajaaa? Akuuu mau pulangg" rengek Zia.
"Ada kaitannya sama yang ganggu kita tadi. Udah lewat juga. Mami papi baik baik aja, gak luka sedikit pun"
"Kalau balik... Kamu yakin?"
"Kenapa nggak?"
"Gak semua dari kita punya waktu luang. Ini kesempatan untuk kita bisa kumpul reunian, kamu mau sia-siain kesempatan ini?" Zia diem.
"Rap tadi bilang. Harusnya aku gak cerita ke kamu. Biar kamu gak minta pulang gini. Tapi gimana lagi, aku gak bisa bohong sama istri sendiri" jelas Aska.
"Jadi.. kita nikmati liburannya ya" Zia melihat Aska.
"Mereka beneran gak apa apa kan?"
"Nggak apa apa, semuanya baik baik aja"
"Syukurlah" lirih Zia.
"Yaudah, ayok tidur. Capekkan kamu?" Aska berbaring. Zia juga. Aska menarik Zia ke pelukannya.
"Jangan khawatir, gak akan terjadi apa apa" bisik Aska. Zia mengangguk sambil memeluk Aska. Lama kelamaan mereka tertidur dalam posisi yang sama.
×××
"Morning!!" sapa Aska pada temannya. Dia baru keluar dari kamar bersama dengan Zia.
Aska cerah, pelukan Zia di pagi hari, senyuman Zia di pagi hari adalah semangat baginya.
"Cerah amat pak, kayak abis dapat jatah" ledek Ivan.
"Ck. Parah ni anak" balas Aska sinis. Ivan tertawa.
"Kemana kita hari ini??" tanya Qiara antusias.
"Mmm.. istirahat aja gak sih? Netep di villa?" tanya Jimmy.
"Nah setuju, istirahat aja. Biar kalian gak kecapekan" sahut Samuel.
"Gak ada rasa capek sama sekali tuh" sahut Zia.
"Yak betol!!!" Qiara, Ica, Tania, Refiona, Alya kompak.
"Udah istirahat aja sehari" usul Aska.
"Nggak ah, males. Ngapain ke Padang kalau cuma mau istirahat" sahut Ica.
"Seratus perak buat lu ca" kata Zia.
"Perak?! Juta napa si" balas Alya.
"Auk tuh, seratus perak buat apaan? Beli permen aja kagak cukup" sahut Ica.
"Emang parah, duitttt mulu otak manusia kembar ini" ledek Zia. Mereka tertawa bersama.
"Jadi mau kemana?" tanya Aksa.
"Zoo!!!!" Sahut Mereka barengan.
"Untung telinga gua kagak budek ya Allah" keluh Dimas. Ciwi ciwi tertawa.
"Ngapain ke Zoo?" tanya Aska.
"Nyari ondel-ondel!" jawab Zia asal.
"Emang ada ondel-ondel di Zoo?" tanya Ivan santai.
"Gak usah oon oon banget suamikuuu" sahut Ica.
"Ntah ni, heran! Kenapa mendadak goblokk berjamaah?!" sulut Alya. Mereka tertawa.
"Ngapain ke Zoo? Kalau mau lihat monyet di villa juga ada" kata Aska. Zia menatap suaminya.
"Siapa?" tanya Zia.
"Noh Dimas" jawab Aska santai.
__ADS_1
"Sudah gue duga. Gue diem gini. Gue yang kena juga. Emang orang ganteng gak pernah lepas dari bahan bulian" kata Dimas.
"Hahahahaha"