Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Pergi


__ADS_3

Tepat jam 12:00 Ivan dan kawan kawannya mengantarkan Aska yang ingin pergi ke Amerika.


"Hmmm... Guee.. pergi dulu ya" ujar Aska.


"Iya, take care ya bro." Jawab Dimas. Memeluk Aska.


"Apaan peluk peluk ni anak biawak" tanya Aska, semua orang tertawa mendengarnya.


"Jangan lupa hubungin kami ya!" suruh Qiara sambil tersenyum. Aska hanya membalas senyumannya. Dia berharap ada Zia disini.


"Jangan sementang lo di negara lain lupain Indonesia" ujar Ivan sinis.


"Iye bacott!" balas Aska.


"Jangan lupa pulang kalau liburan. Siapa tau bisa reuniann!" sahut Sam.


"Iye iyee, pada bacot banget ih" jawab Aska.


"Lah lo ngapa jadi alayy begook?!" kata Dimas, Aska hanya cengengesan mendengarnya.


"Yaudah kalau gitu gue masuk dulu ye! Byee" ujar Aska lalu masuk ke pesawat, mamanya juga sudah ikut masuk. Tertinggal Hans yang masih diluar.


"Makasih ya kalian udah mau temenan sama Aska yang berandal gitu. Makasih udah buat dia berubah," ujar Hans.


"Eh iya sama sama om, hati hati ya om!" sahut mereka. Hans hanya tersenyum lalu masuk ke dalam pesawat.


'gue berharap ada keajaiban munculnya Zia disini. Tapi semuanya mustahil' batin Aska. Dia pun menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Pramugari yang melihatnya langsung baper. Aska tidak mengetahui itu karena dia memejamkan matanya.


"Mama papa ngapain ikut ngantar Aska? Emang papa gak sibuk?" tanya Aska pada orang tuanya


"Mama papa ingin bertemu kakek dan nenek Aska" jawab Alice.


"Sesibuk apapun papa, jika berurusan dengan kalian berdua papa akan mengorbankannya. Karena kalian yang terpenting bagi papa"


"Papa doyan gombal" jawab Aska sambil sedikit tertawa.


"Iya terserah kamu bilang papa gombal atau apapun. Yang penting kamu bisa tersenyum hari ini. Yahhh karena gak ada gadis tuan Hitler kamu jadi gak semangat ya" ujar papanya, Aska terkejut.


"Apaan pa, wah kalau ada dia Aska makin gak sanggup pergi sih pa" jawab Aska.


"Hm? Yakin? Dari tadi tu kamu selalu mengharapkan kedatangannya padahal mustahil karena dia diJerman" jawab mamanya.


"Tenang nak, nanti kalau dia mau nikah sebelum janur kuning melengkung kamu masih bisa nikung. Untuk nikung kamu perlu persiapan untuk membiayai makannya. Jadi kesimpulannya, kamu harus berjuang dulu untuk mendapatkan dia. Jodoh gak kemana mana kok nak!" sambung papanya.


"Mama ngomong apaan sih? ngaco banget dahh, papa juga kok nyambungnya ke nikah pulaa?" tanya Aska. Kedua orangtuanya hanya mengangkat bahu dan tertawa kecil. 'Semoga lo bisa bahagia Zi, tunggu gue pulang' batinnya.


Di Jerman.


Zia sedang menikmati pemandangan dari lantai atas sambil meminum minumannya. Entahlah perasaannya hari ini aneh. Pikirannya selalu mengarah ke Aska Aska dan Aska. Sampai sampai dia tidak sadar ada Zai disampingnya.

__ADS_1


"Lo kenapa kak?" tanya Zai.


"Eh?! Ha? Nggak kenapa kenapa kok" jawab Zia.


"Hayoloh lo mikirin apaan?" tanya Zai. 'aska' batinnya.


"Gue bingung, gue ke Rusia atau netep di Indonesia" jawab Zia berbohong.


"Semua keputusan itu ada di Lo kak, apapun keputusan yang Lo pilih, gue, mama, papa, sama bang Zean pasti bakal dukung kok"


"Tapi gue saranin mending lo di Indonesia,"


"Kenapa?" tanya Zia sambil menatap Zai.


"Meskipun Lo bar bar, suka malu maluin gue tapi gue gak mau jauh dari Lo. Gue gak mau lo kenapa kenapa" jawab Zai.


"Sa ae anak monyet" sahut Zia sambil tertawa.


"Jadi gimana sekarang masih bimbang?" tanya Zai sambil tersenyum melihat Zia.


"Nggak.. mungkin" jawabnya


"Yaudah kalau gitu Lo besiap! Papa ngajakin kita ke rumah sakit lagi liat adek bayii" suruh Zai, mereka sekarang dirumah untuk bersih bersih sekalian istirahat.


"Iye, udah sono lu keluar gue mau mandi" suruh Zia.


"Cepetan!"


_______


Sesampainya dirumah sakit. Zia langsung menuju kearah baby Lucas.


"Hai adek ganteng" sapa Zia, Lucas yang melek saat itu hanya tersenyum.


"Wah wah, lihat lah. Dia tersenyum padamu" ujar Luis.


"Kau lupa siapa aku?"


"Iya aku lupa kau siapa?" tanya Luis


"Aku? Eh iya aku siapa?" tanya Zia. Semuanya hanya tertawa mendengar perkataannya.


"Keluarga Hitler memang selalu mendapatkan putra." Ujar Grossvater Zia.


"Beruntung sekali kamu yang mendapatkan anak perempuan" lanjutnya berbicara pada Zeco.


"Bagaimana caramu mendapatkan Zia Zeco?" tanya Lee.


"Hmm? Aku tidak tahu bagaimana, kau tidak mendapatkannya mungkin karena kau kurang berusaha kak" jawab Zeco.

__ADS_1


"Aku merasa bersyukur memiliki anak perempuan sepintar dia. Walaupun kelakuannya melebihi anak laki laki" lanjut Zeco.


"Papaa" panggil Zia menatap tajam Zeco.


"Keponakan onkel yang paling cantik" kata Lee.


"Syut syutt" suruh Zia.


"Kalau kamu meminta sesuatu dan papamu tidak mengizinkannya bilang pada Onkel. Onkel yang akan melakukannya untukmu" suruh Lee. Tiba tiba Zia teringat sesuatu. Dia melihat ke arah Luis sambil tersenyum senyum membuat semua orang terheran.


"Kenapa?" tanya Luis pada Zia.


"Luis punya adek" jawabnya dijeda.


"Lalu?" tanya Lee


"Kau tau jalan pikiranku Luis?" tanya Zia. Luis berfikir.


"Aaah iya aku tau"


"Ada apa? Kenapa Zia?" tanya Yossie.


"Luis kuliah di Indonesia?" Tanyanya. Lee hanya mengangguk. Zia pun kesenangan.


"Lo gak jadi kuliah di Rusia?" tanya Zean


"Nampak kali niat lo mau ngusir gue" jawab Zia ketus.


"Serahlah." lanjutnya lalu meninggalkan ruangan baby Lucas.


"Wah kacau. Princess merajuk" sahut Zai.


"Ulah Lo tuh bangg!" tambah Zai.


"Gue cuma nanya" jawab Zean.


"Pertanyaanmu menyakitkan" jawab Febby.


"Aku tidak tau itu menyakitkan" jawab Zean panik dan merasa bersalah.


"Kenapa denganmu Ze?" tanya Lee.


"Iya?" jawab Zeco dan Zean bersamaan.


"Bukan kamu adik, anakmu" jawab Lee.


"Aku juga tidak tau onkel, aku hanya bertanya." jawab Zean


"Aku aneh melihat Zia tadi. Dia seperti banyak pikiran sampai sampai dia tidak menyadari kehadiran ku disebelahnya" jawab Zai.

__ADS_1


"Kamu harus membujuknya kembali, sebelum dia berubah menjadi Ice Princess yang anti disentuh." Suruh Zeva.


"Ahh aku merasa bersalah. Tau akan seperti ini aku tidak akan bertanya" ujar Zean lalu keluar mengejar Zia.


__ADS_2