Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Tengkar


__ADS_3

Dorrrrr!!!


"Aggghhhhhh"


"Pergilah, pergi tinggalkan aku. Agh... Tinggalkan aku. Selamatin diri kamu"


"Nggak Aska nggak! Hiks hiks.. aku nggak mau kemana mana. Aku disini, aku disini temenin kamu."


"Zia, jangan ngeyel. Aku mohon pergi. Selamatkan dia, baby kita"


"Aku gak mau Aska!!! Lebih baik aku ikut mati sama kamu sekarang"


"Tembak gue. Tembak sekarang!"


"Baiklah, bersiap siap, gue hitung satu sampe tiga,"


"Satu"


"Dua"


"Tiiii–"


-


"JANGANNN!!" teriakan Aska membangunkan Zia.


"Sayang! Sayang! Mas crush!! Bangun!!!" kata Zia. Aska bangun dan langsung terduduk. Dia melihat ke Zia lalu memeluknya.


"Kamu mimpi apa? Hm?" tanya Zia. Aska diam masih sambil memeluk Zia. Beberapa bulir air berwarna bening jatuh tanpa diminta.


"Kamu mimpi apa? Jangan apa?" tanya Zia. Zia melepas pelukannya lalu menatap Aska. Mengelap air mata Aska.


"Kenapa nangis sih?" tanya Zia.


"Bukan apa apa" jawab Aska, lalu pergi menuju kamar mandi.


"Kenapa itu anak?" tanya Zia. Zia membereskan tempat tidurnya lalu turun kebawah membuatkan sarapan.


Dikamar mandi, Aska masih membayangkan mimpinya. Mimpi buruknya. Mimpi yang dia takut akan kenyataan suatu hari nanti.


"Siapa? Siapa penembak itu?" tanya Aska bingung dia berdiam diri sambil menikmati air yang mengalir.


"Lindi? Bian? Atau musuh yang lain?" tanya Aska lagi.


"Aaaahh.. kenapa ini menjadi teka-teki yang sulit" keluh Aska.


β€”


"Udah turun, makan dulu" suruh Zia sambil tersenyum. Aska membalas senyumannya.


"Kamu mimpi apa tadi?" tanya Zia.


"Bukan apa apa, mimpi buruk doang" jawab Aska.


"Zia.."


"Aku mohon sama kamu ya. Kamu nurut sama aku mulai sekarang. Jangan membangkang. Turuti semua perkataan aku. Bisakan?" tanya Aska.


"Kamu kenapa sih kok aneh?"


"Gak usah tanya kenapa! Bisa kan?!" tanya Aska sedikit membentak. Zia terkejut karena dibentak. Gelas yang ditangannya dia banting ke meja hingga pecah. Tangannya terluka, tapi dia tidak perduli.


"Gue selalu turutin lo setiap hari. Kenapa gue tanya kayak gitu lo malah bentak gue?! Gue tanya karena gue perduli! Gue takut lo kenapa kenapa. Tapi apa jawaban lo? Benar benar mengecewakan!" balas Zia. Dia berlari menuju kamarnya dengan darah yang bercucuran.


"Zia.. ziaaa!! Ziaaa" teriak Aska.


"Kenapa jadi gini sih?!" tanya Aska makin pusing. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Rafael.

__ADS_1


β€”RAPβ€”


Aska; gue gak ke kantor hari ini. Lo handle semua.


πŸ“ž Rafael; kenapa? Ada masalah.


Aska; gak. Kalau ada tamu lo yang wakili, bilang gue lagi gak enak badan. Kalau ada berkas yang harus ditanda tangani lo suruh aja letak dimeja gue. Kalau butuh cepat, antar kerumah gue. ( Mematikan teleponnya )


"Mbak! Mbak!!! Mamang!!" teriak Aska.


"I- iya den?" tanya Mbak Jum.


"Bersihkan ke kacauan ini" suruh Aska. Dia pun berlari mengejar Zia.


"Serem banget ya, mbak. Takut saya" kata mang Iruh yang membantu mbak Jum. Mbak Jum diam sambil membersihkan pecahan kaca dengan hati hati.


~β€’


"Zia.. sayang.. buka pintunya. Maaf.. maaf aku bentak kamu. Buka pintunya ya. Sayang" bujuk Aska sambil mengetuk pintunya.


"Sayang, aku mohon. Buka pintunya ya" pinta Aska terus menerus. Dia kebawah mencari mang Iruh.


"Kunci serep dimana?" tanya Aska.


"Dikamar den Aska. Kan kemaren den Aska ambil belom dibalikin" jawab mang Iruh.


"Ah siall" keluh Aska. Dia kembali naik dan memilih menggedor pintu. Karena kekuatannya pintu berhasil dibuka.


Dia tidak melihat Zia di dalam kamar.


"Zia.. Zia sayang" panggil Aska. Aska mencari ke sekeliling kamar. Tapi tidak menemukan apapun.


Aska mengarah ke kamar mandi, tapi terkunci. Dia mendobraknya, dan lagi lagi berhasil.


Dia melihat Zia yang berendam dengan baju yang digunakannya tadi, Zia memejamkan mata dan mukanya pucat.


"Ziaa" panggil Aska. Aska menghampiri Zia.


~


Zia tersadar dari tidurnya.


"Kamu udah bangun?" tanya Aska. Dia mengenakan baju santai. 'bukannya dia ke kantor tadi?' tanya Zia dalam hatinya.


Melihat Zia yang diam, Aska mendekat lalu memeluknya begitu erat.


"Maafin aku bentak kamu ya, aku gak sengaja. Aku takut kamu kenapa kenapa. Aku takut suatu hari mimpi aku terjadi. Aku minta ma–"


"Maafin aku juga. Aku tadi kasar sama kamu" potong Zia.


"Kamu gak salah, aku yang salah" ujar Aska sambil mengelus pipi Zia.


"Kamu bukannya kerja?" tanya Zia.


"Nggak males." jawab Aska simple.


"Bos mah emang beda" balas Zia.


Drrrttt... Drrtt...


"Ribut ah asow"


"Apaan sih" tanya Zia sambil cengengesan.


"Si rap. Dah dikata kagak kerja juga" Aska membiarkan ponselnya.


"Angkat dulu" suruh Zia.

__ADS_1


"Kalau ini nggak penting tu anak aku pecat, bener deh" Aska langsung mengangkat panggilannya.


β€”RAPβ€”


Aska; udah gue kata gue kagak kerja tuan rap.


πŸ“ž Rafael; ada CEO perusahaan tetangga, mau kerja sama, orangnya disini maunya ketemu sama lo.


Aska; yaudah ACCin aja.


πŸ“ž Rafael; ogah cok! Kalau ada apa apa gue yang lu salahin. Lu kan kek gitu, kebiasaan.


Aska; yaudah 5 jam lagi gue sampe sana.


πŸ“ž Rafael; kelamaan goblokk


Aska; ahhh bodo amat! (mematikan teleponnya)


"Kenapa?" tanya Zia.


"Tau tuh si rap, katanya ada CEO perusahaan tetangga, mau kerja sama. Orangnya dikantor" jawab Aska kembali merebahkan tubuhnya.


"Ya udah kenapa malah rebahan?! Ayok ke kantor" ajak Zia mulai bergerak.


"Sekarang?"


"Besok sayang! Ya sekarang lah" balas Zia.


"Yaudah iya ayok"


"Perusahaan siapa yang ribet siapa" ujar Zia.


()Β·()~()Β·()


"Selamat datang tuan, nyonya" sapa para pegawai. Zia tersenyum sedangkan Aska dengan gayanya yang dingin dan SOK cool. Padahal emang cool dia mah:)


Mereka berdua langsung menuju ruang pertemuan yang ada di dalam gedung.


"Maaf terlambat" ujar Aska saat masuk. Aska dan Zia sudah duduk ditempat masing-masing tanpa melihat siapa orang yang ada didepan mereka.


"Bvm Invesion" Aska membaca namanya. Zia langsung mendongak menatap Aska.


"Kenapa?" tanya Aska.


"Itu.. perusahaan.. b-bian" bisik Zia. Zia dan Aska langsung melihat ke arah CEO bvm.


"Senang bertemu dengan kalian lagi, bisa kita saling bekerja sama?" tanya nya santai. Tampilannya sekarang seperti CEO pada umumnya, bukan lagi seperti gembel.


Oh iya, tidak lupa pula disampingnya ada Lindi. Yaa.. dengan pakaiannya yang selalu kekurangan bahan.


"Kita profesional saja. Saya tidak ingin membawa urusan pribadi dalam dunia pekerjaan" kata Aska bijak.


"Seperti yang anda ketahui, Asz group selalu me-acc sebuah kerja sama setelah dua Minggu perundingan. Jadi, akan saya kabarkan pada perusahaan anda dua Minggu lagi" lanjut Aska.


"Tidak bisa dipercepat? Bukan kah kita dekat dan harusnya lebih mudah?" tanya Bian.


"Saya tidak ingin pilih kasih dalam segala hal. Seperti yang saya katakan tadi, saya tidak ingin urusan pribadi tercampur aduk dengan pekerjaan ini."


"Kalau anda berkenan atau pun anda ingin berubah pikiran. Anda bisa menghubungi tuan Rafael, dia asisten saya" Aska berkata sambil tersenyum. Begitupun dengan Zia. Pandangan Lindi tidak henti hentinya menatap Aska. 'pengen gue culek tuh mata' batin Zia.


"Saya rasa pertemuan kita cukup sampai disini. Karena masih ada banyak hal yang harus saya kerjakan." Aska berdiri dari kursi kebesarannya.


"Ah terimakasih atas waktunya" balas Bian. Aska tersenyum. Aska dan Zia menunduk lu pergi meninggalkan ruangan.


"Sok keren banget sih?!" kesal Bian.


"Emang keren, dia ciptaan Allah yang sangat sempurna" sahut Lindi.

__ADS_1


"Mata lo buta" cela Bian lalu pergi.


"Ehh pak bos mah" Lindi mengejar Bian.


__ADS_2